Sang Kehancuran Telah Kembali

Sang Kehancuran Telah Kembali
Chapter 35 - hal yang mengejutkan


__ADS_3

"Ugh .... sepertinya aku tertidur lelap." Star bangun dari tempat tidurnya mendengar ketukan pintu.


"Tuan apakah saya boleh masuk untuk membantu anda mempersiapkan diri?." tanya seorang dengan nada yang lembut.


"Silahkan." Star berjalan ke arah cermin.


Orang itu masuk. dia mengenalkan pakaian pelayan yang terlihat cocok dengan belahan dada yang agak sedikit terlihat.


Perempuan dengan wajah cantik, terlihat cermat dalam tugasnya itu menghampiri Star dan menundukkan badannya.


"Oh, jadi kamu sekarang yang di tugaskan ya?." tanya Star yang duduk di depan cermin.


Pelayan itu menghampiri Star dan menyisir rambut Star dengan lembut "Benar tuan."


Star di bantu pelayan tersebut bersiap dengan mengenakan pakaian cerah berwarna biru muda di baluti sedikit warna putih.


"Yosh, terima kasih." Star pergi keluar bersama pelayan itu.


"Sama-sama tuan." balas pelayan itu.


Saat di perjalanan tepat tidak jauh dari ruangan kerjanya. dia melihat Gilda yang sedang menunggu.


"Yo, Gilda apa kau dari tadi?." (Star)


"Benar tuan, saya di sini menunggu untuk membantu pekerjaan anda, walaupun tidak banyak membantu." Gilda berjalan mengikuti Star sambil melirik ke arah pelayan itu bahwa tugasnya telah selesai.


Pelayan itu pun mengerti lirikan Gilda dan segera pergi melanjutkan pekerjaannya. Star kembali ke sehariannya seperti biasa menyelesaikan tugas.


Walau, Star sebenarnya tidak suka mengurus pekerjaan seperti ini. dia harus mengerjakan suka atau tidak pekerjaan itu sudah menjadi tanggung jawabnya.


Pekerjaan itu mengingatkan pada kehidupannya dulu sebagai pegawai kantor yang karoshi.


( Note : karoshi istilah jepang yang artinya mati kelelahan )

__ADS_1


Di mana dia hanya mendedikasikan dirinya untuk bekerja sepenuh hidup, tapi malangnya dia malah kelelahan yang membawa pada kematian.


( Note : Sudah pernah di jelaskan di Chapter pertama bahwa Star menerima ingatan di berbagai kehidupan yang artinya dia terus berinkernasi tanpa henti)


"Hmmm." mata Star menatap pada Gilda yang terlihat tenang sedang merapikan tumpukan buku.


Gilda dengan cekatan membersihkan ruangan Star yang nampak kacau itu, sebab ruangan Star tidak bisa sembarangan di bersihkan oleh pelayan biasa tanpa izin dari Gilda.


Gilda sangat mengerti tentang tugasnya sebagai Butler. dia selalu mengawasi pekerjaan yang lain dan mengamati apa itu sudah benar-benar bersih atau masih tidak. bahkan sekecil apa pun debunya akan terlihat oleh Gilda karena matanya yang awas terhadap ruangan.


Di saat mereka sibuk dengan tugas masing-masing terdengar suara langkah kaki yang terburu-buru.


"Tap,tap, tap."


Semakin terdengar jelas oleh mereka berdua, lalu jejak kaki itu berhenti tepat di pintu ruangan Star.


Mata Star melihat ke arah Gilda yang juga melihat ke Star. Gilda menganggukkan kepalanya. dia faham dengan gerakan mata Star.


Gilda membukakan pintunya, terlihat seorang perempuan yang tidak lain adalah Sha. wajah yang tertekan itu memasuki ruangan Star.


"Aku ingin menanyakan sesuatu padamu Sha. apa kau takut berada di sini?." tanya Star yang menghentikan pemeriksaan dokumen.


Mata Sha melihat ke arah Gilda, nampaknya dia takut sifat Gilda sama dengan orang yang lainnya.


"Tenang saja, Gilda itu tidak akan marah. dia cukup tenang dan pintar dalam emosinya." Star peka akan hal itu.


Sha tetap diam. dirinya benar-benar seperti anak kecil yang takut melihat monster. wajah yang berkeringat ketakutan itu berusaha menahan rasa gemetar di tubuhnya.


Star menghela nafas panjang tepat, setelah itu dia langsung berbicara "Gilda bisakah kau pergi keluar! aku ingin berbicara secara pribadi dengan Sha." Star menyuruh Gilda pergi.


"Baik tuan." tanpa membantah Gilda langsung menuruti perintah Star.


Setelah Gilda pergi menjauh Star melanjutkan kembali ucapannya "Mari kita bicara secara tenang di sini." Star menjentikkan jarinya dan ruangan itupun langsung berubah menjadi kosong yang hanya bersisakan sebuah meja dengan dua bangku.

__ADS_1


"Mau minum?." tanya Star dengan wajah tersenyum kecil.


"I.... iy .... iya." Sha terlihat gelisah.


"Tidak perlu takut. kita hanya bicara santai saja." Star menuangkan secangkir teh yang muncul entah darimana.


Sha duduk dengan pelan. matanya perlahan melihat Star yang sedang menuangkan teh dengan wajah seorang anak.


"Aku dengar dari Gilda bahwa kamu di awasi secara langsung oleh Xavier. aku hanya bisa minta maaf Xavier orangnya memang dingin dan pemarah." Star duduk di kursi tepat berhadapan dengan Sha.


"Dia sangat bengis dan sadis. setiap hari saya harus melakukan bekerja yang tidak dapat beristirahat walau hanya sebentar. belum lagi kadang dia suka memukul kepalaku." wajah Sha menjadi muram setelah mengatakan itu.


"Dia memang begitu. yah, kurasa itu dapat melatih mentalmu." timpal Star.


"Padahal ketika di rumah saya biasanya bersekolah, lalu pulang main game atau nonton siaran TV. " sedu Sha.


Star yang mendengar itu langsung mendelik " Apa maksud mu?." tanya kejut Star.


"Anu, saya itu dulunya seorang anak SMA yang mati karena terlalu lelah, tepat setelah saya membuka mata terlihat seorang wanita cantik dengan pakaian serba putih yang di baluti bunga di kepalanya menatap ke arah saya. dia berbicara kalau saya akan di reinkarnasi ke dunia lain dan akan di berikan kekuatan, tapi ada syaratnya yaitu saya harus menuruti perintah apa pun dari wanita itu, jika saja menolak maka siksaan yang akan saya dapat." jelas Sha.


"Berapa kali aku bilang jangan berbicara formal kepadaku. kau inikan bukan orang Altair, juga siksaan apa yang kamu maksud?." (Star).


"Saya pernah melihat seseorang yang di siksaan oleh Dewi itu secara brutal dan kejam. tubuhnya di peras seperti kain cucian sampai seluruh organ tubuhnya berserakan keluar, hanya dengan menunjukan jarinya saja dia dapat membuat orang itu mati mengenaskan membuat aku benar-benar bergidik ketakutan." Mata Sha melotot.


"Dewi? ah, aku faham, kalau begitu apa Dewi itu sudah menghubungi mu?." tanya Star dengan wajah serius.


"Sejauh ini saya tidak mendengar panggilan dari Dewi, anu .... bukannya anda memasang penghalang?." (Sha).


"Oh, iya aku lupa. baiklah kalau begitu kamu boleh melanjutkan pekerjaanmu." Star bangun dan mengembalikan ruangan menjadi seperti semula dengan cara yang sama.


"Ba.. baik... " Sha berjalan keluar, saat dia sampai di depan pintu Sha berbalik dan menundukkan wajahnya "Terima kasih aku jadi lega setelah bercerita pada tuan." Sha dengan cepat membalikkan kembali badannya dan pergi dari sana.


Aku cukup terkejut dengan apa yang di ceritakan Sha tentang dirinya, bahwa dia sebenarnya orang yang berinkernasi dari bumi ke dunia aneh ini.

__ADS_1


Tapi, kenapa aku tidak bertemu dengan Dewi atau Dewa saat mati. malahan aku langsung menjadi avatar game yang selalu aku mainkan ini.


"Semakin di pikirkan semakin rumit ya, Silvia?." Star tersenyum melihat ke arah depan pintu.


__ADS_2