
Semuanya langsung berbisik satu sama lain melihat wanita itu. Tatapan nya begitu tenang dengan senyuman kecil di wajah.
Tapi, Helen tau senyuman nya merupakan sindiran keras, mengapa kau kemari? kenapa orang asing di sini? mungkin itulah di pikirkan wanita itu.
"Ehem, mungkin saya harus tau dulu nama anda ? bukannya tidak sopan jika kita tidak memperkenal kan nama?." Helen mengulurkan tangan ke depan.
"Helen." Helen mengabaikan wanita itu.
"Oh, nama yang bagus. perkenalkan saya Ires." Ucap nya.
Ires langsung melanjutkan kembali pembicaraan nya "Tujuan? apa tujuan mu?." tanya tegas Ires tanpa merasa takut pada Helen.
"memilih dua pilihan." Jawab Helen.
"Dua pilihan?." Ires terlihat bingung dengan memiringkan sedikit kepalanya.
"Pertama menyerah dan serahkan kerajaan ini."
"Lalu yang kedua?." sela Ires
"Kedua membunuh kalian semua nah, silahkan pilih salah satu nya!." pinta Helen .
"Kau bercanda ? Aku yakin kedua nya bukan pilihan yang baik dan lagi pula kita masih memiliki ratu kecuali dia telah mati." Ujar Ires.
"Ya, benar dia telah mati tewas di bunuh Naga itu sebabnya aku datang menawarkan dua pilihan ini. sekarang mereka menuju ke mari dan aku yakin sebanyak apa pun yang kalian kerahkan itu masih mustahil untuk mengalahkan mereka." Jelas Helen.
"Memang seberapa banyak Naga yang akan menyerang? Kalau hanya 3 atau 5 kami mungkin masih mampu jadi, menurutku percuma saja kami menerima tawaran mu benarkan, kalian?." Ires menatap mereka.
Mereka mengangguk setuju dengan ucapan Ires tapi, Helen langsung berbicara "Sekitar 300 Naga." seru Helen.
"Ap ... apa ?." Betapa terkejut nya Ires tak bisa berkata apa-apa lagi.
Suana menjadi ribut berisik. di kala kepanikan Helen memukul lantai menggunakan pedangnya hingga lantai bergetar.
"Aku tidak bisa berlama-lama lagi menunggu kalian mengambil keputusan." Helen mengangkat pedang nya.
"Tunggu, apa yang akan terjadi jika memilih yang pertama?." Tanya Ires.
"Kami akan melindungi kerajaan ini terlebih dahulu baru setelah itu kita lanjutkan lagi diskusi ini." Jawab Helen.
Ires mau tidak mau harus menyetujui nya. jika ingin kerajaan ini aman karena pesan dari kakak nya mendiang raja menyuruh Ires menjaga kerajaan dengan baik dan melayani ratu walau dia membenci ratu itu.
"Baiklah, Aku pilih yang pertama bagaimana dengan kalian?." Tanya Ires.
__ADS_1
"Kami juga pilih yang pertama." ucap salah satu perwakilan mereka.
"Oke, aku akan memasang barrier dan mengamankan orang-orang di kerajaan juga penduduk." Helen pergi dari situ dengan prajurit nya.
barrier skill yang kuat membuat mu mendapatkan pelindung seperti dinding keras dan kokoh yang tak terlihat tapi jika di lihat dari mata mana ( Sihir) maka barrier itu akan terlihat.
Kuat tentu saja skill ini sangat berguna di saat bertemu lawan yang kuat atau lebih dari satu. kau mungkin lengah dengan pertahanan karena itu skill ini dapat menggantikan pertahanan mu.
Dari semua orang di altair, Helenlah yang memiliki barrier paling kuat. sebesar apa pun yang dia buat itu tidak akan mengurangi ketahanan barriernya.
Tapi sekali lagi sebuah skill pasti memiliki kekurangan nya dan kekurangan dari barrier ini adalah dari dalamnya.
Jika Helen memasang pelindung seluas kerajaan ini maka banyak orang di dalam nya itulah kenapa Helen membawa prajurit untuk melindungi nya kerena selama barrier yang di pasang aktif di situlah Helen melemah.
Sebagian kekuatan nya di salurkan pada barrier itu jadi bisa saja ada orang yang membunuh nya dari dalam barrier. dia sendiri tidak bisa merasakan aura musuh di karena kan keterbatasan energi.
barrier di pasang membentuk mangkok yang di balik. semua nya telah di himbau untuk tidak keluar gerbang karena serangan Naga.
"Semua nya jangan lengah! perketat penjaga kalian." Jerit Helen.
Semuanya menjawab "Baik."
di tempat nya berbeda sebuah pertarungan sedang terjadi.
Ternyata, mereka Naga yang akan menyerang kerajaan tetapi, sedang di hentikan oleh
wakil Mentri pertahanan militer Hiranda bersama unit pasukan nova gold yang di ketuai Ayaka.
"Bagaimana apa kau bisa membunuh mereka?." Sindir Hiranda.
"Jangan menanyakan pertanyaan bodoh, Hiranda." Jawab ketus Ayaka.
Ayaka laki-laki bersifat tegas. dia sangat kaku dan dingin layak nya es. Seorang yang di beri jabatan sebagai ketua ini dia mempunyai metode khusus untuk melatih pasukannya.
Pasukan nya berkisar 500 yang secara aktif dia latih siang dan malam. Saat ini ia membawa 100 pasukan saja.
"Hanya seratus saja, kau sungguh pelit ya, Ayaka."
"Jangan banyak bicara! Kita di sini harus menjalan tugas dengan benar." Ayaka berlari ke arah para Naga menyerang mereka satu persatu dengan pedangnya.
"Mengejutkan sekali, jadi ini sifatnya ya?." Hiranda menyerang Naga juga.
Para Naga terkejut belum pernah melihat seorang yang kuat seperti mereka. para Naga menyemburkan api dan es kepada Pasukan itu.
__ADS_1
Tidak satu pun dari mereka yang tumbang walau luka-luka di sekujur tubuh semakin banyak.
Di saat para Naga lemah pasukan itu dengan cepat menyerang kelemahan mereka yaitu leher.
Walau agak sulit untuk melukai bagian leher tapi mereka berhasil menusuk leher Naga hingga darah berceceran membasahi bilah pedang.
( info : Jadi di leher Naga ada yang nama nya inti sihir harusnya sih inti energi tapi, karena mereka Naga buatan jadi inti energi di ganti jadi inti sihir yang di kumpulkan di leher. karena leher merupakan jalur yang mudah untuk sihir itu menjalar ke urat urat Naga)
Ini membuat para Naga terdesak dengan cepat walau mereka untung di jumlah tapi, tidak di kelincahan dan ketangkasan pasukan.
Hiranda mendecakkan lidahnya memandang para Naga yang terpukul mundur "Ck. ck aku tidak bisa mempercayainya bahwa mereka mudah sekali di kalahkan."
"Jangan bicara seperti itu dulu! kita tidak tau apa yang akan terjadi nanti." Ayaka tidak bertarung lagi dan hanya berdiri melihat pasukan nya.
"Tentu saja, lagipula tugas ini cukup menyenangkan dari pada menghitung kacang hijau."
"Hiranda pasti selalu di hukum Helen?." Tanya Ayaka yang fokus pada peperangan di depannya.
"Mau bagaimana lagi dia orangnya seram." Hiranda memandangi pasukan itu.
Mereka berdua hanya berdiri diam melihat pertarungan di depan. angin sepoi-sepoi berhembus menerpa rambut dan wajah.
"Sialan, kenapa mereka sekuat ini? jika begini aku tidak punya pilihan lain selain, melakukan itu." ketua Naga memejamkan mata.
Tubuhnya mengeluarkan asap. Ayaka menyadari bahwa Naga itu akan meledakkan diri dengan seluruh kekuatan.
" Hiranda! Cepat!." Teriak Ayaka .
"Iya." Hiranda mengeluarkan sebuah skill.
"Pasukan mundur!." Ayaka menyuruh mereka mundur dengan berteriak sekeras mungkin.
Pasukan mundur dengan cepat ke belakang Ayaka dan Hiranda. untung saja Ayaka menyadari dengan cepat hal itu.
"Triple shield." lirih Hiranda.
Buarrrr.....
Ledakannya begitu besar selepas Hiranda berhasil memakai skill. ledakan tersebut membuat seluruh yang di sana tersapu bersih hingga membuat lubang besar.
"Ugh, untung saja kau menyadarinya meski pun ledakan itu tidak membuat kita mati tapi tidak dengan pasukan." Hiranda bergumam.
"Tugas selesai. kita hanya perlu melapor saja."
__ADS_1