
Pengumuman dipapan sudah tertera. Lettice berhasil menduduki peringkat pertama dan disusul Dallas peringkat kedua.
Sementara itu Star menempatkan posisi ketiga puluh dan Durrel posisi ketiga puluh satu. Tidak ada wajah kecewa diantara mereka berdua, dua-duanya sama-sama puas dengan hasil yang diberikan guru. Keduanya saling menepuk tangan, saat mereka sedang asik melihat peringkat siswa, ledakkan terdengar di halaman depan akademi.
Seluruh siswa berlari melihat sumber ledakkan tersebut, terdapat lubang besar di tanah. Orang berjubah hitam melempari bola berwarna biru kepada murid. Para murid melawan balik dengan sihir, tabrakan visibel membuat area sekitar hancur.
Guru juga turun tangan mengalahkan orang berjubah itu, salah satu dari mereka berteriak. "Berikan bola sihir mana, itu pada kami!"
Kepala sekolah turun tangan, ternyata serangan itu bukan hanya di akademi melainkan di seluruh wilayah kerajaan, Raja sekarang sedang menugaskan prajurit memburu orang berjubah itu.
Star saat ini memisahkan dirinya dengan mereka bertiga. Dia berlari mengejar satu anggota berjubah itu, sampai ke ruangan peralatan sihir. Pintunya terkunci oleh sepuluh lapisan sihir, orang itu mengeluarkan benda seperti jam pasir dan memecahkannya. Dia membuka pintunya berjalan menuju kotak kaca tepat di depan.
Disaat akan memegang kotak itu tangannya seperti tersetrum listrik, ternyata masih ada sihir yang dipasang dikotak itu. Dia mencoba mematahkan sihirnya, percuma saja sihir yang coba dia patahkan adalah milik Star.
"Pencuri berhasil masuk!" Star berdiri di depan pintu masuk.
"Siapa? Bocah sebaiknya kau tidak berada di sini atau hidupmu tidak akan lama lagi!" Kata orang berjubah itu.
"Dasar dungu, kau telah masuk ke dalam jebakkan, loh!" Star menunjukkan ke arah bawah.
Orang itu menundukkan pandangan melihat ke bawah kakinya, ternyata lingkaran sihir peledak telah dipasang di bawah, orang itu tidak bisa bergerak hingga saat dia akan berteriak. BTUPP! Kakinya hancur membuat dia terjatuh dan merangkak meraih kaki Star.
"Akh, sakit dasar kau!" Saat tangannya akan menggapai kaki Star, TAK! Star menginjak tangan orang itu.
Star jongkok dengan tetap menginjak tangan orang berjubah itu, dia menanyakan satu hal.
"Apa niat kalian?"
"Kau pikir kami akan memberitahumu!"
"Aku tanya sekali lagi, apa niat kalian!"
"Mengalihkan perhatian publik agar terfokus pada serangan ini."
" Mengalihkan dari apa?"
"Merebut pedang kepemimpinan dari Raja."
"Hmmm ... aku mengerti, kalau begitu diam di sini, ya!"
"Apa? Kenapa aku menjawab pertanyaannya tadi?"
Star berlari dengan melompat dari satu atap ke atap lainnya, dia menggunakan sihir anti gravitasi. Star juga menyuruh Lettice mengurung orang-orang berjubah di akademi, sebaliknya Star mengurus yang berada di ibu kota dan desa setempat.
Sihir anti gravitasi: membuat badan ringan dan dapat melompat tinggi, meski gravitasi masih terikat tetapi hanya sebagian kecil.
Star mengikuti sekelompok orang, sedangkan Lettice saat ini sedang melawan setidaknya tiga puluh orang berjubah. Lettice meninju tanah hingga terbelah membuat orang berjubah itu masuk ke dalamnya, tanah tertutup kembali setelah mereka semua tak tersisa.
"Sudah lama aku tidak menggunakan kemampuanku." Lettice melakukan hal sama sampai orang berjubah tertelan tanah.
Semuanya terselesaikan, keadaan mulai membaik. Meski akademi terlihat kacau, para murid senang mengalahkan orang berjubah, walaupun sebagian besar dikalahkan Lettice dengan dua kali serang.
Star telah berhasil menangkap salah satu orang berjubah, dan membantai mereka semua hingga seperti tumpukkan gunung kecil. Raja yang menunggangi bersama prajurit melihat Star sedang menyeret orang.
"Nak, siapa yang kau bawa?"
Star tidak berkata apa-apa, dia hanya menyuruh Raja kembali ke kerajaan dan biarkan dirinya yang mengurus pengacau di sini. Raja pun langsung pergi setelah Star menyuruhnya.
Raja tidak bisa menolak perintah Star, percuma saja menolak pada akhirnya tubuh Raja akan bergerak sendiri seperti perintah yang tidak bisa dibantah. Semuanya berkumpul di ruangan tahta, Raja duduk di tahtanya dengan petinggi yang menghadiri atas perintah Raja.
Star menunjukkan orang tersebut, dengan nada yang tegas dia berkata pada mereka semua.
"Dia pemimpin dari kelompok berjubah, jadi kalian bisa tenang untuk masalah ini."
__ADS_1
Mendengar itu semuanya ikut lega, pelaku telah ditangkap. Segera dia dibawa ke penjara bawah tanah untuk diadili nanti. Lettice, Dallas dan Durrel pulang selepas membantu membereskan kekacauan di akademi.
"Kalian sudah pulang." Raja Agey menyambut kedua anaknya.
Camelia memeluk Dallas, Durrel hanya diam. Dia berpikir kapan bisa mendapatkan pelukan dari keluarganya, tidak mungkin itu terjadi apalagi sekarang dia hanya peringkat jauh dari kakaknya.
"Kemari Durrel, kenapa kau diam saja?" Camelia mengulurkan tangannya pada Durrel
"Tidak ibu, aku tidak pantas mendapatkan pelukanmu. Apalagi putramu hanya mendapatkan nilai kecil." Durrel menggelengkan kepalanya.
"Maafkan ibu, kamu pasti sudah berusaha keras. Ibu bersikap begitu agar kamu bisa menjadi anak yang tangguh dan baik, tapi sepertinya itu malah membuatmu berpikir yang lain. Memang sikap ibu salah, ibu takut kehilangan kalian, ibu juga ingin kalian saling mengerti dan peduli." Camelia memeluk Durrel.
"Maaf ibu, kupikir ibu hanya menyayangi kakak. Aku tak punya bakat seperti kakak dan juga tidak sekuat kakak."
"Ibu juga minta maaf."
"Sungguh pertemuan keluarga yang mengharukan, ya?" Lettice mengusap hidungnya.
"Ya, apa kita bisa berbicara di ruangan. Hanya bertiga saja!" minta Star.
"Baiklah, kalau begitu ikuti aku!" Raja menunjukkan ruangan kerjanya.
Begitu berantakan, kertas berserakan beserta buku tidak sesuai tempatnya. Ruangan yang belum dibereskan membuat Star tambah pusing melihatnya.
"Berapa kali membereskan ruangan ini, terlihat seperti ruangan tak terawat." Star duduk di sofa panjang dengan Lettice.
"Tidak ada waktu untuk membereskannya, terkadang istriku yang merapikan, walau sulit menemukan berkas dan akhirnya tidak beres lagi."
"Lettice, bisakah kau bereskan ini!" Perintah Star.
"Oke." Lettice menggunakan sihirnya, cahaya merah mengambang di udara dan melayangkan seluruh benda, lalu menempatkan mereka ke tempat yang seharusnya.
Sekarang ruangan sudah rapi, mereka bertiga melanjutkan obrolan kembali. Raja berkerut melihat sihir Lettice yang indah, ini bukan sihir yang pernah ia lihat.
"Aku rasa ada yang aneh, jadi perlu disampaikan ...." Star menjelaskan keanehannya.
"Tengah malam."
"Kau benar waktu yang pas melakukan pencurian." Raja menganggap perkataan Star ada benarnya juga.
Malam yang mereka tunggu telah tiba, penjaga di kerajaan tidak meningkat. Tidak ada tanda aneh yang dialami penjaga, semuanya berjaga berkeliling tempat penyimpanan itu.
"Akhirnya, benda ini jadi milikku!" Seseorang berusaha mengambil benda itu.
"Aha, sudah kuduga. Kau akan datang kemari!" Star memergoki orang itu.
"Ternyata benar, aku tidak menyangka hal ini akan terjadi." Raja berada di belakang Star.
"Bagaimana kalian bisa ada di sini. Ckck ... " Orang itu panik.
"Jelas sekali, yang tadi hanya pengalihan." ujar Star.
Orang itu membaca mantra, asap hitam muncul menghalangi ruangan hingga tak terlihat.
"Sihir ini akan meledakkan ruangan. Pada saat itu aku akan kabur mengambil benda ini." Orang itu tertawa jahat.
"Tidak semudah itu pencuri. Lihatlah di atasmu!" Star menunjuk ke atas.
"Apa, Na ... Naga hitam. Bagaimana ada di sini."
"Terima kasih telah mengeluarkan kabut ini, jadi mereka tidak akan bisa melihat Naga itu dan hanya kau saja."
Lettice telah mengubah wujudnya kebentuk naga. Tidak bisa keseluruhan dan harus memakai mantra dimensi agar sebagian tubuh Lettice muat. Hanya menatap kepala saja sudah membuat orang itu tersungkur ketakutan.
__ADS_1
Star menggunakan skill keterampilan untuk membuat tali dan mengikat orang tersebut. Dia dibawa ke ruangan yang mana seluruh orang di kerajaan melihatnya.
Prajurit membuka jubah orang itu, tidak menyangka ternyata dia adalah orang kepercayaan Raja—Earl yang menjadi dalang semua kejadian ini.
"Aku tidak menyangka kau melakukan ini!" Raja kesal melihat Earl.
"Hahaha ... aku ketahuan, sekarang kau mau berbuat apa. Akh padahal tinggal selangkah lagi tujuanku, peranku juga telah sempurna. Anak itu memang menyeramkan." Earl tertawa terbahak-bahak.
"Ada apa dengan pikirannya?" Raja Agey heran melihat Earl.
"Aku juga cukup terkejut melihat bawahan dari Raja iblis berada di sini." ungkap Star.
"Raja iblis? " Semua orang resah.
"Hebat, kau bisa menebak diriku. Nak, aku akui kau berbahaya. Maka dari itu bagaimana jika rumahmu yang melayang seperti awan diserang oleh kami?"
"Hei, rumahmu akan diserang!" Lettice telah kembali kebentuk manusia.
"Oh, tidak panik ataupun gelisah. Ekspresi kaku itu benar-benar menyebalkan."
"Apa tujuanmu?" tanya Raja Agey.
"Tujuan? Tentu, aku hanya ingin kehancuran kerajaan ini."
"Kenapa?"
"Kenapa? Kau masih menanyakan kenapa? Ingat saat dulu kau menghancurkan desa bernama Arela?"
Desa Arela, dulu itu menjadi tempat tinggal Earl. Penyakit melanda desa itu, wabah kulit menyebar ke seluruh penduduk, hanya tersisa Earl yang saat itu sedang mencari tanaman obat.
Ketika dia pulang betapa terpukulnya ia melihat seluruh penduduk dibunuh dan dibakar. Pada saat itu Earl tidak bisa keluar berlari ke sana, yang ada dia juga akan dibunuh bersama mereka. Earl melihat Raja Agey yang masih menjadi pangeran pada saat itu.
Earl memeluk tubuh adik dan keluarga yang hangus terbakar. Kesedihan melanda hatinya hingga dia tak punya tujuan hidup, Earl terkena penyakit kulit, dia tak peduli tentang penyakitnya. Rasa dendam yang sangat kuat dan gelap membuat Raja iblis ke dua mendatangi Earl.
Menawarkan sebuah perjanjian, menjual jiwa, perasaan, dan pikirannya pada Raja iblis itu, Earl tak berpikir panjang lagi untuk menerima tawaran tersebut, bagi dia itu adalah kesempatan balas dendam yang tidak akan datang dua kali.
Rencana mulai disusun Earl, menghancurkan tanah yang mengandung banyak muatan sihir negatif, menyedot energi positif agar terjadi ledakkan, seakan meledak secara murni.
Membiarkan dirinya menjadi perwakilan dari kerajaan untuk mengawasi iblis yang sedang berpura-pura menjadi Raja. Rencananya gagal ketika bencana itu dihentikan oleh Star, Earl tadinya akan menggiring pasukan Raja agar sebagian menyelamatkan desa terdekat. Dengan begitu jumlah prajurit menjadi turun.
Rencana yang gagal kemudian dialihkan menjadi penyerang secara berkala di wilayah-wilayah yang akan langsung ditangani Raja, dengan begitu semuanya akan sibuk.
Pada saat itulah Earl akan memanfaatkan kesempatan ini untuk mengambil pedang kepemimpinan terlebih dahulu, pedang itu menjadi pelindung kerajaan membuat Earl kesulitan untuk mencelakai anggota kerajaan disebabkan perlindungan dari pedang.
Semua rencananya gagal total, dia telah menebak anak itu akan mengacaukan segalanya. Star seperti apa dia? Earl begitu memikirkan siapa anak itu?
"Maafkan aku, pada saat itu aku juga merasa bersalah, aku harus menuruti perintah Raja sebelumnya yaitu ayahku." Raja merasa bersalah mengingat kejadian itu.
"Dan kau hanya bisa berkata maaf, setelah apa yang dilakukan. Hahaha ... sialan kenapa? Apa dengan kata maaf kau bisa terbebas dari dosamu. Kesal, marah, tangisan mereka begitu menggema di telingaku. Apa mereka bisa hidup kembali setelah kau mengatakan itu?"
Earl mengoceh tanpa henti, membuat energi jahat berkumpul padanya, tubuh Earl mulai mengalami evolusi secara mendadak. Membesar hingga sebesar kerajaan, memiliki tanduk seperti kerbau, punggung dan lengan baja, badan kurus berkulit kayu.
demon compulsion, dia berhasil ketahap tersebut, membuka skill salah satu demon yang kuat.
curse casting: kemampuan untuk mengeluarkan kutukan abadi yang sengaja menghasilkan kesulitan bagi target. semakin banyak kebencian yang dimiliki untuk korban anda, semakin parah kutukannya.
"Dia malah menjadi iblis, oy." Lettice mengamatinya.
"Ini bukan waktunya senang, Lettice" Star memundurkan langkahnya.
"Jangan kabur, Star." Lettice menarik kerah baju Star.
"Ekh, lepaskan! aku tidak akan kabur."
__ADS_1
"Benarkah, aku tidak percaya padamu. Tetap di sini lindungi orang-orang ini. Biar aku yang melawan iblis itu!" Lettice pergi untuk mengubah bentuknya.
"Kacau sudah." gumam Star.