Sang Kehancuran Telah Kembali

Sang Kehancuran Telah Kembali
Chapter 36 - perasaan yang ditolak


__ADS_3

Silvia terkejut saat namanya di panggil Star, ternyata Star sudah mengetahui ada orang di ruangannya dari tadi.


"Ini tidak sopan Silvia, kau tau memasuki ruangan seseorang dan menguping pembicaraan." ucap Star.


"Maafkan saya tuan. saya kemari hanya ingin minta maaf atas kesalahan yang membiarkan penyusup masuk, tapi begitu tuan dan orang itu masuk saya jadi takut untuk keluar." Silvia menunduk.


"Aku kira kamu menyelinap kemari." gurau Star.


"Saya benar-benar ingin minta maaf atau kesalahan saya, tapi tuan bisa menghukum saya atas kesalahan besar itu." wajah Silvia nampak murung.


"Tenang saja, itu bukan kesalahanmu. kau tau bahwa avatar Dewi itu dirancang untuk bertarung sedangkan dirimu dirancang untuk mengawasi secara teliti dan pertahan diri."


"Saya tidak menyangka avatar Dewi dikirim ke Altair." ujar Silvia.


"Mereka memang nekat, tapi aku yakin mereka juga sedang merencanakan sesuatu. aku sebaiknya tidak boleh membiarkan malaikat yang satu itu lolos agar tidak membocorkan diriku." kata Star.


"Kamu jangan merasa bersalah Silvia, karena si kadal itu pasti sudah tau bahwa Altair dimasuki penyusup, lain kali jika ada waktu aku akan menemui mereka." lanjut Star.


"Saya berterima kasih tuan, akhirnya saya merasa lega anda sudah memaafkan saya."


"Aku juga senang, karena kamu menjalankan tugas dengan baik, bahkan sampai tidak beristirahat. kamu harus beristirahat melepas penat, jika kamu tidak beristirahat, maka aku sangat khawatir. ini bukan saran tapi perintah!."


"Baik tuan, kalau begitu saya pamit undur diri." Silvia berjalan menundukkan badannya sampai ke pintu keluar.


Silvia berpapasan dengan Gilda, tanpa melihat satu sama lain. Gilda menundukkan dirinya memberi hormat dan berdiri di samping Star.


"Tuan bolehkah saya bertanya, mungkin pertanyaan ini sedikit tidak sopan?." Gilda memandangi Star yang sedang menulis.


"Bertanyalah!." Jawab Star.


"Saya sangat ingin tau kenapa anda menciptakan kami? dengan tujuan apa anda menciptakan Altair dan kami?."

__ADS_1


Star terhenti menulis saat mendengar pertanyaan Gilda. dirinya memandang kosong kertas yang penuh tulisan itu.


"Aku juga tidak tau, mungkin jawabannya suatu hari akan kalian ketahui sendiri." Star tidak bisa menjawab kalau dia menciptakan mereka dari game.


"Saya akan menantikan jawab itu." ucap Gilda dengan nada yang teramat tenang.


"Ngomong-ngomong bukannya Ayaka ada di kerajaan emprey?." tanya Star.


"Benar tuan, kita tidak tau kapan kerajaan emprey akan berkhianat bisa saja mereka akan melawan kita dengan menggiring opini publik dan mengubah sejarah." balas Gilda.


"Sejarah bisa saja di palsukan oleh mereka. aku rasa keputusan yang tepat mengirim Ayaka ke kerajaan itu. dia sangat bisa di andalkan dengan tugas seperti ini." lanjut Star.


"Jujur, aku sempat kaget saat membaca buku 'Sejarah 3 tahun yang lalu' dimana perbuatan kalian menjadi tragedi terbesar ketiga di dunia."


"Penduduk sangat sembrono dan gegabah. mereka tidak berpikir kelakuan mereka akan berdampak sebesar itu." terang Gilda.


"Aku merasa senang kalau mereka menyayangiku, tapi aku harap mereka bisa mengontrol emosi mereka." lirih Star.


Ayaka yang sifatnya sama dingin seperti Fi tidak pernah memperdulikan bisikan orang-orang di kerajaan, walau terkadang dia ingin sekali mencincang mereka menjadi potongan kecil.


Ayaka tidak pernah sekalipun menolak perintah Ratu Ires selama itu masih termasuk ke dalam tugasnya. dia selalu saja terlihat keren dan cakap dalam melaksanakan urusan kerajaan.


Melihat hal itu Ires menjadi kagum pada Ayaka, namun hari kian berlanjut di iringi berubahnya rasa kagum menjadi cinta.


Ratu Ires sempat ragu untuk mengungkapkan perasaannya, jadi dia selalu menyuruh Ayaka semaunya untuk memastikan apa Ayaka akan terus melaksanakan tugasnya dengan mengeluh atau tidak.


Benar saja Ayaka selalu menerima sifat dan perintah Ratu Ires apapun keadaannya. Ayaka selalu sigap melindungi Ratu saat dia hendak di serang oleh sekelompok keluarga bangsawan yang berkhianat pada kerajaan.


Siapa orang yang tidak jatuh cinta di saat ada seorang laki-laki tampan dan gagah yang selalu melindungi kapanpun tanpa lengah.


Ayaka menjadi populer di kalangan wanita kerena wajahnya yang begitu tampan tanpa ada kekurangan di wajah membuat dia seperti orang dari dunia fantasi.

__ADS_1


Para wanita bangsawan selalu membicarakan Ayaka. mereka benar-benar mengagumi Ayaka layaknya seorang pangeran, bahkan ada klub pencinta Ayaka yang mereka buat.


para wanita menjadi iri dengan Ratu Ires yang selalu di dampingi Ayaka. mendengar hal itu membuat Ires menjadi egois dan berbuat sesuka hati pada Ayaka.


Ires pun berbicara pada Ayaka yang hanya mereka berdua saja di ruangan kerja Ires.


"Star itu pemilik Altair. kota yang menghancurkan sebagian dunia menengah. apa dia sebegitu pentingnya untuk kalian, bukankah jika dia tidak ada masih banyak yang bisa memimpin kota itu. kau juga kayak loh memimpin Altair, apalagi kau ini pintar dan kuat." ucap Ires yang tanpa pikir panjang mengatakan itu.


"Kau harus ingat ini bahwa, aku disini untuk mengawasi dan mendampingi bukan menjadi bawahanmu." nada Ayaka sedikit meninggi.


"Aku tau itu." Ires sedikit terkejut saat Ayaka meninggikan suaranya.


"Kau tau kenapa Altair kalang kabut saat Tuan Star menghilang. dengar baik-baik manusia! Tuan Star yang menciptakan Altair beserta kami. kami ada karena energi kehidupan tuan yang selalu mengalir ke dalam diri mereka termasuk aku. tuan Star juga yang menjadikan aku sekuat ini." bisik Ayaka ke telinga Ires.


Ires yang mendengar bisikan itu hanya diam membeku. dia telah melakukan kesalahan besar dengan mengatakan hal itu tanpa pikir panjang.


"Aku bisa saja membunuhmu di sini dengan mudah. kau pikir siapa dirimu? melihatmu saja membuatku muak, apalagi tingkahmu yang selalu menyuruhku tanpa henti itu. ingat satu hal ini! kau selamat karena dilindungi tuan kami, jika saja tuan memberi perintah untuk membunuh dirimu maka aku yang akan maju dengan senang hati. aku tau kau menyukaiku itu terlihat pada tingkah lakumu. aku sudah punya pasangan kau harus ingat itu sampai tugasku selesai aku selalu merindukannya." Ayaka meninggalkan ruangan itu.


Ires hanya melamun mendengar ucapan Ayaka, bahwa perasaannya di tolak mentah-mentah sebelum dia menyampaikan pada Ayaka.


Ires menitiskan air mata, hingga kertas menjadi basah terkena air matanya. Ires menangis menyesali perbuatannya pada Ayaka. dia begitu malu pada diri sendiri. bagaimana dia akan menatap wajah Ayaka nantinya?.


Ayaka berjalan keluar dan menyendiri di sebuah taman, dia hanya berbohong tentang pasangan. Ayaka hanya tidak ingin Ires terkena terluka saat Ayaka menerima cintanya, sebab orang yang akan menjadi istri Ayaka selain orang Altair akan mati karena habisnya energi kehidupan orang itu di hisap Ayaka tanpa sadar.


Ayaka memiliki yang namanya jantung penghisap. dia harus selalu menghisap energi seseorang ketika berada di dekat orang itu. Ayaka sudah menahan sejauh ini untuk tidak menghisap energi Ires.


kalau begitu kenapa Ayaka yang diutus bukan orang lain?


Ayaka memiliki kepekaan yang kuat terhadap bahaya apapun. dia dapat dengan cepat memberi tahu pada Star saat kerajaan itu di serang, karena indra pendengar dan penglihatan yang tajam membuat dia cocok dalam tugas ini di bandingkan dengan yang lain.


Orang Altair juga mempunyai energi yang begitu besar jadi tidak masalah jika Ayaka menghisap energi mereka.

__ADS_1


Alat penahan jantung penghisap Ayaka sedang di buat oleh Star dan Buko.


__ADS_2