Sang Kehancuran Telah Kembali

Sang Kehancuran Telah Kembali
Chapter 41 - Rencana untuk perang


__ADS_3

Red dan Sniper melangkah keluar ruangan. Ratu yang melihat langsung bertanya pada mereka " Kalian akan kemana?."


"Tentu saja, melakukan persiapan." Red mengacungkan jempolnya.


Sniper melihat ke arah Red "Apa kita perlu pasukan dari Altair?." tanya Sniper.


"Hmm, itu dia yang jadi masalahnya, kalau memang diperlukan aku akan menanyakan tentang masalah ini pada tuan." ucap Red yang terlihat ragu itu.


"Fi akan memberitahu pada kita nanti tentang jumlah pasukan musuh nanti. lagi pula tugas ini akan diurus Ayaka bukan?." jelas dan tanya Sniper.


"Mungkin begitu. ya sudah kalau gitu kami pamit dulu." Red melambaikan tangannya pada Ires.


Raut wajah Ires nampak sedih mengingat kejadian itu. tentang dirinya yang begitu egois dan tak tau diri, meski begitu Ires harus membuang rasa malu tersebut demi tugasnya sebagai ratu.


Di Altair Star baru saja melihat pertemuan Saint dan Seorang ratu melalui layar. Star melihat dan mendengar Saint yang mengajukan perang terhadap kerajaan yang secara langsung dia awasi.


Star hanya tersenyum kecil melihat tingkah Saint yang konyol itu. Saint tidak tau naungan Star lebih luas dalam mencakup berbagai segi keahlian dan skill.


Star juga tau skill apa yang dimiliki Saint itu. mungkin tidak banyak yang Saint punya, namun efeknya sangat berbeda-beda tergantung darimana Saint menggunakan skill tersebut.


"Merepotkan ya!." ujar Star.


"Hm?." Sha hanya bisa melihat Star yang duduk fokus melihat layar.


"Aku yakin kamu sudah memprediksi siapa yang akan menang kan?." tanya Star pada Sha.


Sha segera menjawab "Dari yang saya tau perang ini akan menjadi hal terburuk untuk Saint dan anda."


"Ho, bisakah kau menjelaskan lebih rinci!." Star semakin penasaran dengan ucapan itu.


"Dari masa depan yang ada, bahwa Saint memang akan kalah mungkin akhir terburuknya juga ada, tapi anda juga akan mendapatkan hal buruk yang tidak diduga." Sha menjelaskan itu.


"Hal buruk?." ucapan Sha semakin membuat Star penasaran.


"Dengan bertemunya anda dan Great Goddess."


"Bukankah itu hal yang menarik?." tanya Star yang langsung di jawab Sha "Kekuatan anda dengan Great Goddess adalah satu banding sepuluh tuan."

__ADS_1


"Yah, jadi kau tau tentang itu?." Star memandang pada Sha.


"Itu karena Great Goddess sendiri yang mengatakannya." Sha tidak menjelaskan ucapnya lagi.


Star mulai paham. Star sangat sadar tentang kekuatan pada dirinya. kekuatan yang besar namun terhalang sesuatu yang tidak bisa dihancurkan. sesuatu yang tak terlihat namun kokoh seperti tembok. pelindung yang menghalangi inti kekuatannya hingga dia hanya bisa menggunakan sebagian kecil kekuatannya saja.


Meski begitu Star masih bisa mengalahkan Great angels meski terpukul oleh skill yang tidak dia tau. Star mengambil kertas dan mulai menyusun suatu gambar. gambar lingkaran dengan tulisan aneh di dalam lingkaran itu.


"Kamu tau ini apa?."


Sha pasti sudah tau apa itu. gambar lingkaran yang sempurna dengan tulisan aneh seperti "membatalkan, melambatkan, membalikkan, menghilang." kata berbeda namun memiliki satu tujuan.


"Mantra anti-interference!." Sha lumayan terkejut pada Star yang bisa menuliskan mantra sulit yang bahkan penyihir magus saja kesulitan, belum lagi mantra itu sebenarnya panjang hanya saja Star mengambil kata penting dalam mantra anti-interference.


Sha sangat tau, bahwa sebuah mantra tidak bisa ditulis oleh orang sembarangan. dalam menulis mantra juga harus sesuai dengan buku mantra yang ada, salah-satu kata saja atau mengubah maka yang ada nyawa yang akan melayang.


Sha pernah melihat satu penyihir yang menulis mantra sebelum penyihir itu dieksekusi atas kesalahan pengguna sihir yang berlebihan. dikatakan bahwa mantra dapat membuat-mu perlahan kehilangan energi kehidupan.


Benar-benar ekstensi yang tidak boleh disinggung. kekuasaan, kekayaan, kejayaan,kekuatan, semua dimiliki anak ini. belum lagi bawahan yang setia. hanya julukan ini yang cocok untuknya yaitu bintang tanpa ujung.


Star berbalik melihat pada Sha yang terlihat cemas itu. kenapa Sha bisa berada di sini, itu karena Star yang menjadikan Sha sebagai mata nasib Star. memang Star tidak terlalu percaya dengan ramalan Sha, namun tidak ada salahnya percaya pada perempuan itu.


Dengan ini Sha harus selalu bersama Star setiap waktu. Sha juga diberi waktu istirahat yang cukup dibanding sebelumnya. tugas Sha hanya memberitahu apa yang akan terjadi saja.


Walau dia tidak bisa meramal masa depan lebih jauh, karena terhalang kekuatan Great Goddess yang bertemu dengannya dulu, namun kekuatan ini dapat menjadi bumerang bagi Star jika dia tidak menerima Sha ke dalam Altair.


"Kenapa Sha selalu takut saat melihatku?."


Star bertanya dengan wajah polos yang membuat Sha semakin merinding membayangkan monster di hadapannya yang berbentuk seorang anak.


"Tidak, saya hanya sedikit melamun."


Sha menjawab dengan gugup. wajahnya mengeluarkan setetes keringan di keningnya.


"Apa kau rindu dengan kehidupanmu di bumi Sha?."


Sha yang mendengar itu sontak langsung menjawab " Tentu saja tidak. saya lebih senang dengan kehidupan sekarang, karena ini jauh lebih baik."

__ADS_1


"Aku rasa kau tidak perlu berbohong."


Wajah Sha jelas berbohong. dia hanya berusaha menutupi perasaan takut kepada anak itu.


"Terkadang saya merindukan kehidupan dulu, tapi saya pikir kehidupan sekarang lebih menyenangkan, memang pada awalnya saya merasa dikekang, namun setelah sampai di sini saya dapat merasakan kebersamaan dan kepedulian satu sama lain. walau mereka sedikit galak, tapi mereka juga peduli pada saya dengan memperlakukan saya dengan baik dan mereka tidak pernah memaki dengan ujaran kotor pada saya."


"Aku pikir kamu tidak akan suka berada di sini."


"Saya merasa bahagia diizinkan untuk tinggal di mari, pantas saja nicles sangat suka dan betah."


Sha melihat lalu tersenyum lembut pada Star. dalam senyuman itu seperti ada luka di dalamnya. Star yang tau hanya bisa diam tak bertanya tentang masa lalu Sha karena setiap orang punya hal yang tidak ingin mereka ceritakan.


"Mari, kita lanjutkan tentang rencana mengalahkan kerajaan emprey." ucap Star.


"Baik." Sha melihat ke arah kertas mantra itu.


"Jadi aku cukup tidak hadir dalam pertempuran kan?." tanya Star.


"Jika anda tidak hadir maka Great Goddess juga tidak hadir, dikarenakan Saint sangat dekat dengan Great Goddess begitu dirinya mengetahui identitas anda, maka Great Goddess akan ikut bertindak."


"Aku mengerti, jadi intinya aku cukup tidak usah turun tangan." gumam Star.


"Kita bisa melebihkan jumlah pasukan hingga setengah dari lawan dan menempatkan yang kuat di depan dan lemah di belakang." ucap Sha.


"Apa menurutmu itu saja sudah cukup?." tanya Star.


"Mungkin!."


"Taktik seperti itu sangat membosankan dan mudah ditebak. kita perlu revisi lagi misalnya mengubah jalur perang itu." Star menyeringai.


"Maksudnya, anda ingin membuat pihak lawan seakan merasa menang dengan terpojok-nya pasukan Ratu Ires."


"Kau memang bisa menebak pikiranku Sha. yap, itu benar dengan membuat mereka merasa akan menang kita akan dapat memulai puncak dari peperangan ini dengan mengejutkan pihak lawan terhadap suatu hal yang tidak terduga."


"Jadi itu sebabnya anda menggambar mantra ini tuan?." Sha menanyakan hal itu pada Star.


"Ini akan menarik, mari kita lihat reaksi seperti apa dari Great Goddess yang kehilangan koneksi pada pemujanya itu."

__ADS_1


__ADS_2