Sang Kehancuran Telah Kembali

Sang Kehancuran Telah Kembali
Chapter 40 - Peringatan yang berujung peperangan


__ADS_3

Melene telah sampai di depan gerbang kerajaan emprey. seorang kesatria memberikan tanda pengenal pada penjaga gerbang. tanda pengenal berbentuk sayap putih seperti burung merpati merupakan tanda persahabatan dua kerajaan itu.


Prajurit mengangguk setelah melihat tanda tersebut dan mempersilahkan kereta kuda itu masuk. Melene melihat ke sekeliling wilayah kerajaan itu.


Suasana yang aneh terlihat di mata Melene yang langsung melebar itu. suasana damai manusia dan dark elf, tanpa ada keributan dan kerusuhan sama sekali. benar-benar layak dianggap kota damai.


Melene yang melihat itu hanya bisa menggigit bibirnya dengan wajah mengkerut kesal. Melena benar-benar tidak percaya dan jijik melihat mahluk kotor seperti mereka bergaul dengan manusia.


Para Saint terdahulu bercerita pada saint generasi baru bahwa dark elf adalah mahkluk yang tidak bisa dimaafkan atas perbuatan mereka. meski Saint terdahulu menceritakan hal tersebut seperti sebuah dongeng anak-anak yang terlalu berlebihan dengan menambahkan unsur tidak masuk akal. entah kenapa para Saint generasi baru percaya dengan kisah mereka yang sebagian benar dan sebagiannya lagi tidak.


Melene menahan energi kekuatannya. Melene tidak ingin membuat keributan, karena dirinya kemari murni dengan tujuan menyapa dan bertanya.


Melene sampai di depan pintu kerajaan emprey. Melene dan lima kesatria di samping melihat beberapa orang yang siap menyambut tamu.


"Selamat datang nona Saint. ada keperluan apa anda datang kembali?." tanya orang itu.


"Aku ingin berjumpa dengan Ratu Ires." jawab Melene. nada bicara yang tenang dan berkarisma itu membuat beberapa orang di sana kagum.


"Baik saya mengerti, mari ikuti saya!." jawab orang itu.


Melene di arahkan oleh orang itu ke ruangan kerja Ratu Ires. harusnya orang itu mengantarkan Melene ke ruangan tamu, tetapi Saint memaksa ingin bertemu Ratu Ires di manapun dia berada sekarang.


Pintu terbuka membuat Ires sedikit terkejut, tanpa mengetuk terlebih dulu orang itu mempersilahkan masuk Saint Melene.


Ratu Ires langsung menghampiri Saint lalu memberi salam pada Saint itu.


"Ada apa Saint Melene mengunjungi kerajaan saya?." tanya Ratu Ires yang mempersilahkan Saint duduk.


"Aku ingin bertanya padamu, Ratu Ires?." sorot mata tajam yang berkedip lambat benar-benar membuat Ires gemetar.


"Sudah lama nona Saint tidak berkunjung kemari, benarkan?." tanya Ratu Ires.


Saint berkata "Benar, tapi kamu pasti sudah tau kenapa aku datang kemari kan!."


Kemudian Ires menjawab "Saya tau wahai nona Saint yang terhormat."


Melene langsung mengkerutkan dahi dan menekan giginya. Melene berkata "Jika kamu sudah tau, lalu kenapa masih membiarkan mereka tinggal di sini?." tanyanya.

__ADS_1


Ires tidak berkata apapun dan hanya bisa diam. saat Melene akan berkata, Ires langsung memotong pembicaraannya "Saya tidak bisa mengusir mereka, nona Saint."


"Apa? kenapa?." Melene terheran-heran.


"Saya telah melakukan kerja sama dengan orang lain dan syarat dari orang itu adalah meminta saya untuk mengizinkan para dark elf tinggal di kerajaan ini."


"Permintaan aneh apa ituuuu." sentak Melene yang tanpa sadar terbawa emosi.


"Dengar dulu ucapan saya nona Saint! kami tidak punya pilihan lain selain melakukan itu. apa nona tau pada waktu itu kami hampir diserang oleh mahluk bersayap aneh yang membunuh hampir sebagian penduduk."


"Sebagian penduduk?." kebingungan Melene malah bertambah besar.


"Mahluk itu dengan keji membantai para penduduk tanpa ampun. pada saat itu seseorang yang diutus orang itu berbicara pada saya bahwa mereka akan memberi bantuan dengan syarat diterimanya dark elf masuk kerajaan ini." Ires memasang wajah yang kesal dan marah.


"Tentu mereka menepati janji. lagipula dark elf itu tidak jahat. mereka malah membantu penduduk satu sama lain, meski anda membenci mereka saya tidak peduli sebab ini kerajaan saya dan saya Ratu di kerajaan ini yang berarti saya berhak melakukan keinginan saya."


Mereka berdua berdebat tentang hal ini. kedua belah pihak saling melempari kata satu sama lain, bahkan Melene sebagai Saint mulai kehilangan karisma dalam perdebatan itu.


"Dasar keras kepala." Melene mendecikkan lidah.


Namun dua senjata juga terarah kepada kesatrian itu.


"Saya tidak menyangka kalau nona Saint melakukan tindakan kotor ini dengan menyerang saya secara tiba-tiba." ucap Ires.


"Tidak, kesatria itu menyerang sendiri." kata Melene.


Kepala Kesatria itu ditebas dengan cepat oleh seorang yang memakai topeng. terlihat dua orang bertopeng yang menodongkan senjata api dan pedang pada kesatria tadi.


Mata Melene berkedut. energi besar menyelimuti kedua orang bertopeng itu. suasana berat di mana Melene tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun.


Energi yang aneh dan begitu beser, namun masih bisa terukur itu membuat Melene mengeluarkan energi pelindung diri.


Dua orang itu bisa membantai satu sampai dua kerajaan dengan mudah jika mereka mau. kekuatan yang dapat membuat kekacauan benar-benar membuat dirinya gelisah.


Melene menebak salah satu dari mereka ada orang yang dimaksud Ires. Melene berusaha mempertahankan ekspresinya.


Melene menggunakan skill "energy detector eye" salah satu skill dari ketiga skill utama milik Melene.

__ADS_1


Skill yang menulusuri seberapa jauh potensi dan keahlian seseorang. skill ini dapat mengetahui seberapa besar kekuatan yang dimiliki seseorang. mau secara harfiah maupun non harfiah.


Melene menggunakan skill ini untuk melihat energi kedua orang itu. betapa terkejutnya dia saat melihat energi yang sudah diluar batas kemampuan manusia.


Mereka itu manusia, tapi kenapa mereka dapat menembus batasan manusia. sistem dunia juga tidak berbuat apa-apa pada mereka. ini aneh sekali.


"Aku minta maaf padamu nona Saint, saya tidak bisa menerima permintaan itu meski kau ini sahabat ayahku." Ires menggelengkan kepalanya.


"Jika kau tetap keras kepala, maka aku tidak punya pilihan selain berperang." Melene mengalihkan pandangan pada kedua orang bertopeng.


"Apapun yang anda lakukan saya tidak akan mengusir mereka." Ires tetap pada pilihannya.


"Kau membuat kesalahan besar Ratu dari kerajaan emprey. aku tidak akan segan-segan membunuh demi keadilan, tapi tenang saja yang aku bunuh itu hanya dark elf. persiapkan dirimu pada peperangan ini. jangan salah paham aku ke sini tadinya hanya ingin bertanya dan memberimu peringatan, tapi kau sangat keras kepala." Melene meninggalkan ruangan itu, juga menyuruh empat kesatria lain membawa jasad kesatria yang mati itu.


"Aku tidak menyangka dua orang aneh itu dapat membunuh kesatria kelas tujuh. apa mereka yang dimaksud oleh Great Goddess?." Melene meninggalkan kerajaan itu dengan banyak pertanyaan dibenaknya.


Sementara itu Ires dengan dua orang di ruangan tersebut menatap satu sama lain.


"Fuh.... hampir saja." Red membuka topeng.


"Aku sangat takut ka.... kalau penyamaran kita terbongkar." ucap Sniper yang membuka topengnya juga.


"Kenapa kalian menyembunyikan wajah?." tanya Ires.


"Aha, itu kami sedikit membuat kekacauan dulu, jadi aku menyembunyikan wajah takut dia mengenal wajah tampanku hehehe." Red dengan percaya dirinya.


"Anu, apa anda yakin akan berperang dengan wanita itu?." tanya Sniper.


"Tentu, lagipun ada kalian yang akan melindungi kerajaan ini." ucap Ires dengan tersenyum kecil.


"Serahkan saja kepada kami! biar kami bantai mereka semua." ucap Red.


"Boleh saya bertanya? kenapa anda memakai topeng bukannya wajah anda tertutup armor?." Ires heran melihat Red.


"Iya ya? maaf aku lupa kalau wajah ini sudah tertutup oleh armor. aku melihat Sniper memakai topeng jadi secara refleks ikutan." jawab Red.


"Keadilan.apa itu?."

__ADS_1


__ADS_2