
Mendung hitam berarak merenggut paksa langit biru yang cerah sebelumnya.
~• three months later •~
Tiga bulan sudah pembangun kuil puncak abadi dilaksakan.
Pagi itu Arya, Elya dan Rangga ingin melihat hasil akhir proyek sebelum serah terima.
Gapura besar bertuliskan "PUNCAK ABADI GUNUNG LEGENDA" yang ditopang oleh batu granite putih disisi kiri dan kanan jalan terlihat anggun dan kokoh menyambut kedatangan mereka.
Jalan setapak yang dulu mereka lalui sekarang menjadi jalan yang luas terbuat dari susunan batu hitam yang rata dan halus. Di sebelah kiri jalan ada tanah lapang yang sangat luas. Dan disebelah kanan ada tempat parkir yang sejuk dan asri dibawah rimbunnya pohon-pohon TREMBESI.
Memasuki Tempat Parkir yang asri dan sejuk di sampingnya ada sebuah Kantin disana, bertuliskan "KANTIN PENDAKI", yakni sebuah kantin yang didesain mirip sebuah joglo dengan dinding kayu setengah badan, tempat ini cukup luas dan elegan untuk sebuah kantin.
Berjalan kearah timur ± 10 m ada bangunan lagi, yang tepat berada disini kiri jalan disana tertulis "PONDOK PENDAKI" yakni berupa bangunan tanpa kamar yang luasnya 5x10m tempat untuk menginap sementara pendaki yang mau naik ataupun turun dan di kanan jalan ada sebuah bangunan lagi 5x10m di bagi menjadi dua ruangan disini tertulis "REGISTRATION". Diantara dua bangunan itu ada sebuah pintu gerbang yang kokoh diatasnya tertulis melengkung "SELAMAT DATANG PARA PENDAKI DI GUNUNG LEGENDA"
Berjalan diatas jalan batu yang mulus yang mulai menanjak selama dua jam mereka sampai di gazebo pertama yang berdiri kokoh disisi jalan, ada beberapa gazebo besar disini. Mereka pun memasuki salah satu gazebo itu. Melihat ke bawah di sebelah Barat terhampar pemandangan yang begitu indah yakni Lembah Lali Jiwa.
"Heeemmm, Lembah Lali Jiwa begitu indah dipandang mata," gumam Elya.
"Ini yang aku sampaikan kemaren ndan..? jalan yang kita bangun sengaja tidak melewati Lembah, disamping untuk memperpendek jalur juga menjaga keindahan Lembah, awalnya aku tidak menyangka akan mendapatkan bonus view yang menakjubkan dari sini," kata Rangga.
"Disini beri tulisan GAZEBO LEMBAH LALI JIWA," ucap Arya sambil menunjuk Gazebo yang berdiri ditenggah-tengah.
Setelah merasa cukup beristirahat mereka pun melanjutkan perjalanan. Dari sini jalan yang mereka lalui berupa tangga batu yang tersusun rapi bertingkat-tingkat. Tangga itu tidak terlalu lebar tapi cukup untuk empat orang berjalan berdampingan. Menaiki tangga selama dua jam mereka sampai di tempat yang landai, tempat itu cukup luas dan ada beberapa gazebo yang cukup besar berdiri kokoh disisi kiri dan kanan jalan. Mereka pun memasuki salah satu gazebo itu untuk beristirahat.
"Ini yang dulu komendan tandai dengan tongkat," kata Rangga menjelaskan.
__ADS_1
"Heeeeemmm tempat Elya pingsan ya.." kata Arya.
"Beri nama tempat ini gazebo Putri Tidur," ucap Arya melanjutkan.
"Jangan..!! beri nama Kakak Mesum," canda Elya.
"Iya GAZEBO PUTRI TIDUR cocok buat nama gazebo ini" ucap Rangga.
Mereka bercanda hingga rasa lelah sudah tak terasa. Dan mereka melanjutkan perjalanan.
Trek masih sama tangga batu yang tersusun rapi bertingkat-tingkat dan berliku. Tangga batu yang sama dengan lebar yang sama. Menaiki tangga selama dua jam setengah mereka sampai di tempat yang landai, dan ada beberapa gazebo yang berdiri kokoh disisi kanan jalan. Mereka pun beristirahat disini.
"Dulu apa kita lewat sini..?" ucap Arya.
"Kalau gag salah ini tempat kak Arya pasang STRINGLINE, benar kan kak Rangga..?" kata Elya.
"Iya betul.. dan ini gazebo terakir sebelum kuil" jawab Rangga.
"Benar..!? tangga menuju nirwana, ya.. tangga ini kita kasi nama "TANGGA MENUJU NIRWANA"." ucap Elya semangat.
Mereka terus berjalan menaiki anak tangga, Yang akhirnya mereka sampai di persimpangan tangga, satu arah tangga terus menanjak dan satu arah kekanan agak landai. Arya berhenti sejenak disini.
"Ini yang kekanan kemana..?" tanya Arya penasaran.
"Ini ke arah sumber air panas." jawab Rangga.
Mereka pun berjalan kearah kanan lebih dulu berjalan sekitar lima belas menit mereka mulai mendengar suara gemericik air terjun.
__ADS_1
"Wooouuuw indah banget kak..? teriak Elya, setelah dekat dengan sumber air panas.
"Disinilah pekerjaan yang membutuhkan waktu yang lama, awalnya aku cuma ingin membendung mata air, namun ternnyata tanah disekitar bendungan agak gembur, kita mencoba membuang tanah itu dan seperti inilah jadinya," ucap Rangga menjelaskan.
"Ini indah banget kak..? air terjun dengan danau air hangat dibawahnya seperti dalam dongeng kak, dan ini tidak nampak seperti buatan, sungguh alami dan indah bangeeeet," kata Elya terkagum-kagum.
"Kami mengerjakan tempat ini dua bulan dengan jumlah pekerja 30 orang." ucap Rangga menjelaskan.
"Sudah hampir gelap, yuk kita kepuncak." ajak Arya.
Mereka akhirnya melanjutkan menuju puncak. Menaiki tangga sekitar tiga puluh menit mereka sampai di puncak.
Arya tertegun diam terpaku melihat pemandangan dihadapanya. Sebuah kuil berdiri megah dan indah menutupi seluruh puncak abadi. Bangunan bergaya cina dengan pilar-pilar kokoh batu granite berwarna kuning terang, degan tembok juga terbuat dari granit berwarna kuning gading yang dilengkapi dengan pintu dan jendela khas bangunan cina, model atap yang bertingkat-tingkat melengkung indah, sungguh sebuah kuil yang megah dan indah. Diatas pintu utama bertuliskan "KUIL PUNCAK ABADI "
Memasuki kuil seperti memasuki dunia yang berbeda, Empat pilar utama didalam kuil terbuat dari batuan alam yang bening seperti kaca yang memancarkan sinar putih salju yang berasal dari lampu tenaga surya yang ditanam didalamnya. Dan lampu itu juga terdapat di enam sudut bangunan itu. Di sisi sebelah Barat ada tangga menurun.
"Tangga ini kemana Ngga...?" tanya Arya pada Rangga penasan.
"Itu menuju ruangan bawah, ada tiga ruangan cukup luas dibawah sana, bisa difungsikan untuk tempat tinggal. Dua kamar tidur lengkap dengan ranjang empuk dan perabotan dari batu. Satu ruangan gudang yang menjadi satu dengan dapur lengkap dengan alat memasak. dan semua penerangan disini mengunakan listrik tenaga Surya." ucap rangga menjelaskan.
"Berarti malam ini kita bisa istirahat dan tidur nyenyak disini," ucap Arya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 20.00 WNT. Arya dan Elya berada dalam satu kamar utama dan Rannga berada di ruang lainnya. Saat Arya dan Elya mau membaringkan badan terdengar suara memanggil.
"Aryaaaa.. Elyaaaa.." suara berat seorang pria memangil mereka berdua.
...CREATED, NOV 2021...
__ADS_1
...~°• CINK's eL A •°~...
..."Gunung tinggi menjulang, bukanlah yang menjadi hambatan, melainkan batu kecil di sepatu yang menghambat kita."...