SANG PENDAKI

SANG PENDAKI
PENAMPAKAN NAGA DAN PHOENIX #1


__ADS_3

Arya dan Elya saling berpandangan, dari wajah mereka tersirat kebinggungan dan tak mengetahui siapa yang memanggil.


"Ayo kak kita lihat siapa yang memanggil," ajak Elya, sambil melangkah keluar ruangan dan menaiki tangga menuju kuil yang diikuti Arya dibelakangnya.


Sesampainya di kuil mereka melihat seorang biksu duduk bersila di samping batu Naga. Saat Arya dan Elya mendekati biksu. Biksu itu perlahan membuka mata dan tersenyum kearah Arya dan Elya.


Arya dan Elya pun duduk didepan sang biksu.


"Sesuai janjiku, setelah kalian berhasil membuat kuil disini, aku akan membantu kalian menyatukan takdir kalian, takdir dari hewan suci Naga dan Phoenik," kata sang biksu.


"Maaf tuan dari mana anda tahu kami punya takdir naga dan phoenix..?" tanya Arya sopan.


"Namaku Ishak, mungkin kedua orang tua kalian sudah menceritakan tentang kelahiran kalian," kata Ishak.


Arya dan Elya kembali teringat cerita Ayah Bundan, cerita tentang kelahirannya yang ditandai degan gerhana matahari, peristiwa alam yang sangat jarang terjadi bersamaan dengan kelahiran seseorang.


"Kalau benar demikian adanya bagaimana kami harus melakukannya..?" tanya Elya bingung.


"Ikuti saya.. ada tempat yang sangat cocok untuk melakukan itu semua," ucap Ishak sambil berdiri dan melangkah keluar dari kuil. Arya dan Elya pun mengikuti di belakang Biksu itu.


Bulan purnama bulat mengantung diangkasa dan bintang gemintang saling berkedip menarik pesona.


Gemericik air terjun memecah hening suasana, sayup terdengar suara nyanyian daun-daun cemara yang tertiup angin, nada abadi yang tak pernah ingkar janji.


"Arya.. Elya.. buka pakaian kalian," ucap Ishak setelah tiba di pinggiran danau.


"Apaaaa..? kenapa kami harus telanjang..?" tanya Elya, wajah manisnya mulai bersemu merah menahan malu.


"He he he.. jangan salah Elya..? aku tidak menyuruhmu telanjang, aku menyuruhmu membuka pakaian atas saja, pakaian dalamnya tidak usah, itu supaya tanda naga dan phoenix yang ada diperutmu bisa menempel pada tanda naga dan phoenix di punggung Arya kakakmu," jelas Ishak. Mendengar penjelasan Ishak mereka berdua mengerti apa yang dimaksutkan Ishak. Mereka berdua melepas pakaian mereka.


Melihat mereka telah menanggalkan pakaiannya. Ishak mendekat lalu telapak tangan kanannya menempel pada tanda naga dan phoenix di punggung Arya sedang telapak tangan kirinya menempel di tanda naga dan phoenix di perut Elya.

__ADS_1


Arya dan Elya merasakan panas dan dingin saling bergantian menjalar keseluruh tubuh mereka. Nafas mereka mulai memburu tak beraturan.


"Ini bukan sebuah tatto, tapi ini sebuah tanda lahir, kalian sudah dipilih surga untuk menjaga alam ini, Arya sekarang kamu masuklah kedalam danau dan duduk bersilalah dan kamu Elya kamu juga masuklah kedalam danau dan berdirilah dibelakang Arya tempelkan dan satukan tanda lahir kalian, setelah menyatu berkonsentrasilah," kata Ishak dengan mode tegas.


Mendengar perintah Ishak mereka memasuki danau, meskipun air danau itu sedalam dua meter namun mereka tidak tenggelam, mereka seperti melayang dalam air. Arya mengambil posisi duduk bersila dan Elya berdiri dibelakang Arya dengan kedua telapak tangannya memegang pundak Arya.


Mereka mulai berkonsentrasi, dari tubuh Arya samar terlihat cahaya biru sedang dari tubuh Elya terlihat samar keluar cahaya unggu, semakin lama cahaya itu semakin membesar dan semakin terlihat nyata. Cahaya biru membentuk bayangan naga sedangkan cahaya unggu membentuk bayangan phoenik. Kedua bayangan binatang suci itu mulai melayang tinggi keangkasa.


Sedangkan Rangga terbangun dari tidurnya, dia mendengar suara gemuruh seperti badai diangkasa, Rangga melihat keatas dan sebuah pemandangan yang sangat membingungkan dan menakjubkan terlihat diangkasa.


Naga dan Phoenix berkejaran dan menari kompak dengan gerakan alam yang indah. Pemandangan diangkasa sungguh menakjubkan dan sangat mempesona hingga tak dapat dilukisan dengan kata-kata.


Setelah tiga jam mereka berendam, naga dan phoenik pun menghentikan tariannya, mulai menyatu dan kembali menjadi satu cahaya violet yang perlahan sinar itu membungkus tubuh Arya dan Elya. Lalu menghilang dalam tanda lahir mereka.


"Bangunlah dan keluar dari danau sekarang, takdir kalian sudah menyatu, dan kalian sudah menjadi satu, kalian tetap satu ikatan batas jarak ruang dan waktu tidak akan bisa mimasahkan kalian, mendakilah sebuah gunung di kota baya dan berendamlah di kawah beku yang berada dipuncaknya, pada bulan purnama ke tujuh diusia 18 tahun kalian, aku menunggu kalian disana." ucap Ishak dan sosoknya perlahan mulai menghilang.


Seperti bangun dari mimpi Arya dan Elya bangkit dan keluar dari dalam danau, mereka memakai pakaianya dan kembali menuju kuil dan tak ada kata terucap dari bibir mereka,


Saat aroma wangi kopi hitam mengusik penciumannya Arya membuka mata terlihat sosok gadis manis nan ayu berada didepannya.


"Ma kasih adekku tersayang..? eh dimana Rangga tolong panggilin donk..? kata Arya minta tolong.


"Iiiiii..ih kakaaak..? manis-manis kalau ada maunya," ucap Elya gemas dan saat mau melangkah pergi Elya berbalik kembali.


"Eh iya kak..? apa kakak gak merasa kedinginan..? kakak tidur gak pakai baju semalam." kata Elya.


"Gak tuuuu.. aku merasa udara disini biasa, seperti udaraaaaa... "Arya tak meneruskan kata-katanya.


"Di kota kan..? kita berada di ketinggian 3676 mdpl kak, kakak tidur gak pakai baju aneh kan.. ?" sambung Elya.


"Iya ya.. apa kamu juga merasa seperti yang kurasakan saat ini..?" Arya heran dengan dirinya sendiri yang tidak merasakan dingin, bahkan merasakan yaman.

__ADS_1


"Kak coba lihat tanda dipunggung mu," pinta Elya sambil melihat punggung kakaknya.


"Tukan tanda lahir kakak makin indah dan seperti hidup, eh tidak memang ini hidup kak..? tu.. tu... tu kan gambar naganya mengikuti telunjukku..?" kata Elya dengan mode serius.


"Coba lihat.. " ucap Arya membuka t-**** adiknya tanpa meminta ijin dulu.


"Kakak mesuuuuuum." ucap Elya tapi membiarkan kakaknya membuka kaos dan menyentuh perutnya yang langsing dan rata.


"Iyaaaaa ini indah sekali, dan ini burung phonixnya terbang mengikuti telunjukku," ucap Arya penuh takjub sekaligus heran.


"Tok tok tok." suara pintu diketok dari luar.


"Ndan kita turun jam berapa..? ucap Rangga dari luar pintu.


"Masuk Ngga, ada sesuatu yang harus kita bicarakan," kata Arya.


"CEKLEEK.. NGEEEEK" pintu terbuka.


"Ndan apa gak kedinginan..? aku aja yang sudah memakai jaket masih terasa dingin, eh situ malah gag pakai baju," ucap Rangga.


"Hmmmm ya dingin Ngga ini aku mau ganti pakaian saat kamu masuk," ucap Arya mencari alasan.


"Ngga tempat ini butuh orang yang merawatnya, waktu kita mau membuka jalur pendakian ini aku sudah mengurus semua perijinan, bahkan Surat Hak Milik Gunung Legenda ini sudah atas namaku dan Elya, dan jalur sudah jadi, minggu depan setelah diresmikan Bapak Wali Kota, tempat ini resmi terbuka untuk umum, aku menunjukmu menjadi manager disini dan carilah team untuk membatumu terserah berapa orang yang kamu butuhkan. dan aku juga akan membanggun villa di selebelah tempat parkir untuk base camp kalian." ucap Arya tegas dan penuh wibawa.


"Siap ndan, aku akan berusaha menjalankan tanggung jawab ini." kata Rangga dengan mode siap grak.


"Satu lagi, karena kantor kita ada dipaviyun pecinta alam kamu harus memberikan laporan bulanan ke pavilyun." kata Arya tegas.


"Siap, laksanakan," jawab Rangga.


"Karena sekarang sudah jam 09.00 WNT kita siap-siap untuk cerita selanjutnya...

__ADS_1


...CREATED, NOV 2021...


...~°• CINK's eL A •°~...


__ADS_2