
Setelah mengantar Elya menuju ruang utama di lantai tiga pavilyun Arya kembali turun, ia menuju tempat Ani tinggal. Hanya butuh waktu lima menit untuk sampai ketempat Ani. Mata Arya menangkap sesosok tubuh yang meringkuk di sudut sofa ruang tamu.
Karena pintu masih terbua, Arya berjalan mendekat, benar saja Ani tertidur di sofa itu, mungkin karena kecapekan atau pengaruh obat yang habis diminumnya membuatnya tertidur disofa itu.
"Heyyy bangunlah." ucap Arya lembut mengguncang tubuh Ani.
Ani yang kelelahan dan juga masih dalam pengaruh obat yang habis ia minum tak bergeming saat Arya mengguncang tubuh mungilnya.
Arya khawatir dengan kondisi Ani saat itu, saat ia memegang dahi gadis itu terasa panas, tanpa pikir panjang Arya segera menggendong tubuh gadis itu menuju kamarnya. Ruangan yang sangat nyaman tuk beristirajat walau tak semewah ruangan Arya di pavilyun utama.
Segera setelah sampai dikamar, Arya membaringkan tubuh Ani diranjangnya.
Arya pun dengan sigapnya saat ini mengompres kepala Ani agar suhu panas di tubuhnya segra turun.
Setelah menyelesaikan semua kegiatannya, awalnya dia memegang tangan gadis itu untuk memastikan suhu tubuh gadis itu sudah menurun. Karena kelelahan dan hampir pagi, Arya pun terlelap dengan kepalanya bersandar di kasur Ani, dan tanganya yang masih memegang tangan Ani.
Pukul lima pagi Ani terbangun dan mengerjapkan matanya, Dia merasakan hangat ditangannya. Ani tersentak kaget melihat seorang pria sedang menggenggam tangannya dan tertidur disampingnya.
Arya terbangun saat merasakan tangannya disentuh seseorang dan menjelaskan semua kejadian semalam. Setelah semuanya beres Arya pamit untuk pulang.
CEKLEEEK
Arya membuka kamarnya dan melangkah masuk kedalam. Arya panik saat tak menemukan Elya sudah tidak ada diranjangnya.
"Kemana Elya, apakah dia sudah pulang dan tidak memberitahuku..?" pikiran- pikiran buruk menghantui Arya karena semalam dia meninggalkan Elya tanpa pamit.
Arya gemetar menahan gejolak dihatinya, membayangkan adiknya pergi setelah mencari dirinya dan tidak menemukannya.
"Kakak kamu sudah kembali..? gimana keadaan Ani..?" sebuah suara menyadarkan Arya kembali ke dunia nyata.
Elya yang baru selesai dari kamar mandi berjalan mendekati dan menyapanya.
Dengan reflek Arya berjalan makin medekati Elya dan memeluknya dengan posesif.
Mata Elya terbelalak tak menyangka akan reaksi dari kakaknya, Elya mendorong pelan tubuh Arya menjauh darinya.
Arya tersadar akan tingkahnya yang konyol. "Ma.. maafkan aku."
"Apa kakak sedang ada masalah..?" tanya Elya dengan mode polosnya.
Arya tidak menyangka jika reaksi Elya begitu polos, dia mengambil kesempatan untukmencari alasan yang tepat.
"Iya sedikit ada masalah dengan Ani, semalam tubuhnya panas jadi terpaksa aku merawatnya dan tidak menemanimu," Arya memberi alasan karena semalam tidak pulang.
"Sudahlah kak, silahkan masuk," ucap Elya menunjuk kamar mandi.
__ADS_1
Arya telah selesai dengan ritual mandinya dan sudah memakai pakaian. Dia melihat Elya sedang berdiri di balkon dengan wajah riangnya.
Lama Arya memandangi wajah adiknya itu, pantulan sinar matahari yang jatuh di belakang punggung Elya membuat gadis itu tampak sangat bersinar, persis seperti sebuah lukisan mahakarya seorang maestro.
Tak ingin melewatkan moment itu, Arya memotret Elya mengunakan ponsel canggihnya.
"CEPREEET"
"Sungguh mahakarya yang indah dan sempurna." senyum terkembang dibibir Arya. Dia langsung mengatur foto itu menjadi wallpapper di ponselnya. Berupa sebuah gabungan dua foto. Foto dirinya yang sedang tersenyum di sebuah tebing dan foto Elya yang baru saja ia ambil.
"Sempurna." ucapnya kembali tersenyum.
Arya berjalan mendekati Elya, dia menyadari Elya tampak sangat cantik kali ini. Wajahnya tampak sangat segar dan pakaian yang ia kenakan sangat cocok dan pas ditubuh rampingnya.
Elya sedikit aneh dengan sikap yang ditunjukkan Arya kepadanya saat ini. Dia berkata lebih lembut dan manis saat berbicara padanya. Bahkan seolah ketegasan dan wibawanya telah runtuh saat ini yang ada tinggal kelembutan dan kasih sayangnya.
"Elya kamu sangat manis dan cantik hari ini, sungguh beruntungnya aku mempunyai keindahan disampingku, kamu sungguh adikku yang termanis." ucap Arya kemudian.
Elya mendengar ucapan kakaknya langsung berjalan mendekati dan memeluknya dengan posesif.
"Ya iyalah, aku juga sangat beruntung punya kakak yang baik hati, gagah dan ganteng sepertimu kak..?" ucap Elya masih dalam pelukan kakaknya.
Mereka hanyut dalam perasaan masing-masing. Saudara kembar yang telah terpisahkan bertahun-tahun akhirnya bisa bertemu dan memulai kehidupan secara bersama-sama. Tak ada konflik ataupun kecemburuan yang dirasa. Berjalan beriringan mengurus bisnis dan menantang masa depan bersama-sama.
DRRRRRT DRRRRRRTTTT ponsel Elya bergetar menandakan ada panggilan masuk.
"El siapa yang telpon..?" tanya Arya.
"Bob, yang mengurusi infrastruktur di desa wisata yang kita bangun mas," jwab Elya.
"Segera bersiap, kita kesana sekarang," ucap Arya berubah tegas dan berwibawa.
Mereka berdua memang sama dalam segala hal, moodnya gambang berubah, gampang terpengaruh keadaan dan sering melibatkan perasaan dalam kehidupan. Baru saja mereka bersantai dan berbicara dari hati ke hati sekarang sudah berubah lagi.
"Huffff." mereka menghela nafas merasa seperti roaler coaster, harus bergerak mengikuti jalur.
m'BELIK TOURIST VILLAGE
Dengan cepat Lamborghini Veneno Roadster Matte Black meluncur dijalanan beraspal mulus yang baru saja selesai dibangun dan berhenti tepat di sebuah bangunan sementara di sebuah proyek pembangunan.
"Selamat datangTuan dan Nona" sambut seorang pria tambun pada Arya dan Elya saat sudah berada di luar Lamborghini.
"Ada masalah apa sehingga kami anda panggil kesini," ucap Arya.
"Silahkan masuk dulu Tuan dan Nona, saya akan menjelaskan setelah kita didalam," ucap Bob sambil membimbing Arya dan Elya memasuki bangunan yang tampak rusuh penuh bahan bangunan disana sini. Setelah memasuki bangunan semi permanen itu ternyata didalamnya terlihat bersih dan luas tampak seperti sebuah ruang rapat yang lengkap dengan proyektor beserta screennya.
__ADS_1
"Begini tuan dan Nona Nugraha, pembangunan jalan tiga hari lagi selesai, dan kita akan memulai pembangunan gedung-gedung seperti yang telah kita rencanakan, akan tetapi saya menemukan lokasi yang sangat bagus untuk tempat rekreasi utama dan belum kita bicarakan sebelumnya." ucap Bob.
"Iya lanjutkan," jawab Arya tegas.
"Saya ingin membangun sebuah MANOR di sana, dengan desain dan gaya seperti yang ada didalam video visual yang team saya buat ini." ucap Boby sambil menyalakan proyektor.
Screen proyektor memproyeksikan rangkaian gambar-gambar yang telah dibuat oleh team Bob dengan detail dan seolah-olah nyata.
Mulai dari pinggiran manor yang menampilkan hiburan-hiburan mewah biasa yang menarik pengunjung dan ketika mulai memasuki manor yang seolah-olah baru saja memasuki dunia yang berbeda.
Ada loteng elegan diatas danau yang indah dengan air terjun didepannya.
Kabut air yang menguap disekitar loteng menciptakan efek yang tampak seperti hamparan pelangi disekitarnya. Bila diprhatikan dengan seksama jika ada orang di dalam loteng seolah-olah orang itu sedang berada diatas awan.
"Sangat indah." gumam Elya melihatnya.
"Ya nona tempat itu adalah tempat utama dalam bagunan ini, saya menamakannya pavilyun mikro, bisa untuk tempat makan keluarga atau hanya untuk sekedar melihat pemandangan disekitarnya," jelas Bob.
"Dan nantinya kita juga akan membangun kolam pemandian air panas yang airnya akan diambil langsung dari sumber air panas di puncak gunung legenda," tambah Bob.
"Okey saya setuju dengan ide bangunan manor itu, saya berharap setelah pembangunan selesai akan tampak lebih indah dari visualnya." ucap Arya.
"Berapa bulan waktu yang diperlukan untuk membangunnya," tanya Elya kemudian.
"Sekitar tiga atau empat bulan, karena pembangunan manor ini membutuhkan tenaga dan seni dari pekerjanya, sehingga kami tidak dapat mempekerjakan sembarang orang," jawab Bob.
"Hmmmm baik tiga bulan saya ingin Manor dapat selesai dikerjakan dengan bagus, indah dan kokoh tentunya." kata Arya tegas mendominasi.
"Baik, baik tuan kami akan segera melaksanakan pembangunannya." jawab Bob.
"Okey saya kira sudah cukup disini," ucap Arya mengakiri rapat.
"Ya tuan, selamat jalan." ucap Bob sambil mengantar Arya dan Elya keluar ruangan.
Sedetik kemudian Lamborghini Veneno Roadster Matte Black sudah meluncur kembali diatas jalan beraspal yang halus dengan lebar hampir dua belas meter itu menuju ke gunung Legenda, kuran 500m dari gunung Legenda jalanan masih separo yang diaspal dan separonya lagi masih tahap pengerjaan.
Arya melambatkan laju Lamborghininya, para pekerja yang sudah hafal memberi hormat dan menganggukkan kepala pada bos mereka.
...°•°•°•°•°•°•°•°...
...CREATED, DES 2021...
...~°• CINK's eL A •°~...
..."Ketika beban semakin berat dan jalan semakin terjal, dan keraguan mulai muncul, setidaknya tujuan masih terlihat."...
__ADS_1
...°•°•°•°•°•°•°•°...