SANG PENDAKI

SANG PENDAKI
DANAU GONDO ARUM #2


__ADS_3

PUKUL 00.00 WNT.


Arya terjaga ada sebuah tangan dengan lembut mengoyang tubuhnya yang membuatnya terbangun. Matanya terbelalak kaget saat melihat siapa yang membangunkannya.


"Nandhita, ada apa..?" tanya Arya kaget.


"Ya kak Arya, kita harus secepatnya ke rumah yang ada ditengah danau itu." ucap Nandhita.


"Baiklah mari kita pergi kesana." ucap Arya sambil membangunkan Elya.


Akhirnya mereka bertiga menuju tepian danau dan bersiap untuk berenang menuju kerumah yang ada ditengah danau. Namun sebuah keajaiban muncul tiba-tiba ada sebuah jembatan transparan terbentang tepat diatas air danau.


"Mari ikuti saya kak..? ucap Nandhita sambil melangkahkan kakinya melewati jembatan itu.


Arya dan Elya mengikuti dibelakang Nandhita yang seolah-olah mereka berjalan diatas air danau yang jernih, lima menit kemudian mereka sampai didepan rumah tengah danau. Nandhita mencopot kalungnya ada sebuah anak kunci sebagai liontinnya. Dia mengunakan anak kunci itu untuk membuka pintu.


KLIK KREEEEKKKEEEEET


Pintu rumah itu terbuka, persis seperti yang mereka bayangkan, sebuah rumah yang benar-benar berada di pedalaman, tidak ada listrik, bahkan perabotan yang berada dilam rumah benar-benar lawas dan terlihat sangat kuno.


"Nandhita bagaimana kamu mempunyai kunci rumah ini..?" tanya Elya penasaran, dan pada saat yang bersamaan dari dalam rumah keluar seorang kakek berpakaian seperti biksu.


"Kakek..?" ucap Nandhita,


Mendengar Nandhita memanggil seseorang Arya dan Elya menoleh ikut melihat siapa yang disapa Nandhita.


"Biksu Ishak..?" kata mereka serempak.


"Ya Nandhita, Tuan Arya Nona Elya saya saat ini hanyalah manifestasi dari diri saya, saya hanya bisa bertahan selama satu jam disini." jawab Ishak.


"Tuan Biksu ini tempat apa dan kenapa team saya tidak bisa membuat jalan setapak disini..? bahkan sudah berbulan-bulan bekerja." tanya Arya.


"Ini adalah Lembah Gondo Arum, dan pusat lembah ada disini Danau Gondo Arum, kenapa teammu tidak bisa membuat jalur disini..? karena tempat ini tersegel oleh Pohon Kantil ini, pohon kantil atau cempaka putih ini yang melindungi tempat ini. Jadi tak seorang pun bisa membuat jalur di lembah ini, termasuk saya dan Tuan Arthur. Namun saya punya ini untuk memudahkan kalian keluar masuk lembah gondo arum. Ini terimalah." ucap Ishak sambil memberikan sebuah kotak kayu pada Arya.


Arya menerima kotak itu, bau harum kayu cendana tercium masuk kedalam hidungnya.


"Bukalah..!!" perintah Ishak saat Arya sudah memegang kotak kayu itu.


Arya membuka kotak itu sebuah kompas kono dengan cassing emas terlihat klasik namun indah.


"Itu adalah kompas TIGA DIMENSI sebuah kompas yang bisa digunakan dalam segala dimensi ruang dan waktu yang jarumnya hanya menunjuk satu arah yang akan kalian tuju." Ishak menjelakan.

__ADS_1


"Ya saya mengerti, jadi sekarang apa yang harus kami lakukan..?" tanya Arya kembali.


"Yang perlu kalian lakukan sekarang hanyalah menuju puncak snowpeak, dan berendamlah kalian berdua di disana dan lakukan penyatuan seperti di puncak dewa, jadikan Nandhita asisten utama kalian, aku sudah mempersiapkannya dan telah memberinya banyak pengetahuan padanya yang akan berguna bagi kalian dimasa yang akan datang." ucap Ishak lagi.


"Baiklah kami akan menjadikan Nandhita asisten utama kami, namun jaeab satu lagi pertanyaan yang mengganjal di hati saya. apa hubungan Biksu dengan Nandhita..?" tanya Elya penasaran.


"Nandhita adalah cucuku dia lahir beberapa jam setelah kelahiran kalian dan untukmu Nandhita sudah saatnya kamu mengabdikan ilmu yang kuberikan padamu." ucap Ishak, bersamaan dengan memudar dan menghilangnya wujud manusianya.


"Iya kakek, Nandhita akan melakukan seperti yang kakek perintahkan." ucap Nandhita.


"Jadi benar seperti dugaan kita, kamu pasti punya hubungan erat dengan Biksu Ishak," ucap Elya.


Nandhita membungkukan badan pada Arya dan Elya.


"Hamba akan mengabdikan diri hamba pada Tuan dan Nona Nugraha, terimalah salam hormat hamba," ucap Nandhita.


"Berdirilah dan jangan panggil kami dengan sebutan Tuan dan Nona panggil kami dengan Kakak seperti sebelumnya, usia kita cuma bebeda beberapa jam saja. Kita adalah rekan tidak ada atasan atau bawahan." ucap Arya tegas sambil membimbing Nandhita berdiri.


"Saya tidak berani Tuan, keluarga Nugraha telah banyak membantu keluarga saya. Jika saja saat itu Tuan Arthur tidak mengulurkan tangannya, sudah dapat dipastikan keluarga kami sudah musnah dan tak ada lagi keturunan kakek Ishak yang tersisa." ucap Nandhita.


"Kerjakan saja sesuai permintaan kak Arya atau kami tidak akan menerimamu, dalam kehidupan kami." ancam Elya.


Semangat dimata Nandhita mengejutkan Arya dan Elya, karena perkataan itu tidak dapat dikatan oleh orang di zaman modern sekarang ini. Nandhita lebih terlihat seperti prajurit yang siap mengorbankan diri demi tuan yang ia lindungi. Seperti prajurit yang dibesarkan di zaman kuno. Satu hal yang ada dipikirannya adalah untuk tetap menjaga tuannya bahkan ia sangup untu mengorbankan dirinya sendiri.


"Na.. begitu kan lebih enak didengar dan di lihatnya." ucap Arya.


"Ayo kita kembali ke tenda kita kak..? sebelum ada yang menyadari kalau kita kesini." ucap Nandhita.


Mereka tersadar kalau mereka sedang berada di rumah tengah danau, Arya dan Elya saling berpandangan lalu menganggukkan kepala.


"Ayooo.." ucap Arya dan Elya hampir bersamaan.


"Mari..!!" ucap Nandhita, lalu melangkahkan kakinya keluar dari rumah yang di ikuti Arya dan Elya.


Setelah mengunci kembali pintu rumah itu, mereka meninggalkan tempat itu melewati jembatan transparan yang mereka lewati sebelumnya. Dan langsung menuju kedalam tendanya untuk sekeder terlelap memejamkan matanya.


Sebelum matahari pagi menyapa bumi, Jack sudah lebih dulu bangun dan bersiap untuk memasak supaya nanti Arya dan teamnya bangun sarapan sudah siap dan mereka bisa lebih cepat berangkat. Jack keluar dari tendanya dan bermaksut menuju tenda dapur.


"Nandhin.. kenapa kamu disini..?" tanya Jack angkuh.


"Memasak..!!" Nandhita menjawab pertanyaan Jack dengan acuh.

__ADS_1


"Baiklah mari saya bantu," ucap Jack masih datar.


"Ahh.. tak usah repot-repot, sayu sudah terbiasa melakukan ini kok." tolak Nandhita yang masih dengan mode acuh.


"Ya sudah, aku berpesan berhati-hatilah, biasanya ditengah hutan jam-jam seperti saat ini banyak hewan berkeliaran," ucap Jack menakut-nakuti.


Nandhita menjadi sedikit jengkel pada Jack, bukannya membantu malah menakut-nakuti.


"Teganya dia cuma berbasa-basi." gerutu Nandhita dalam hati.


Jack berjalan meninggalkan Nandhita sendiri. Tapi bukan menuju tendanya, dia berhenti di depan tenda dan duduk dengan santai.


Dengan kesal Nandhita berjalan meuju tempat Jack yang duduk dengan santai.


"Ambilkan air..!! dari pada cuma duduk santai melihat orang memasak." suruh Nandhita, keningnya mengeryit melihat Jack senyum-senyum, perasaan tak nyaman setiap melihat Jack senyum-senyum seperti itu.


Jack kembali memasang mode datarnya.


"Kau membutuhkan batuanku..?" tanya Jack.


"Iya mau apa tidak..!!" Nandhita makin kesal dengan tingkah Jack.


"Ya udah sini saya ambilkan, bilang dari tadi kalau butuh bantuan." dengan acuh Jack mengambil wadah air dai tangan Nandhita.


"Jack kamu mulai menyukai saya ya..?" kesimpulan Mala dalam hati, senyum terkembang di bibirnya.


"Kenapa senyum-senyum..?" tanya Jack saat kembali dari danau mengambil air.


"Suka-suka sayalah kenapa situ ngatur-ngatur." jawab Nandhita ketus.


"Gak usah senyum-senyum didepan saya, sekarang ayo kita memasak, keburu matahari terbit." Jack salah tingkah menghadapi Nandhita yang membuatnya jatuh cinta.


Akhirnya merekapun memasak menggunakan dua kompor portable, dan tanpa banyak bicara mereka memasak dengan cepat.


...CREATED, 1 FEBR 2022...


...~°• CINK's eL A •°~...


..."Jika kamu ingin lebih dekat dengan Tuhan....


...Maka memanjatlah tebing-tebing yang tinggi dan curam, hingga terasa ajalmu hanya tertinggal pada ujung-ujung jemarimu."...

__ADS_1


__ADS_2