SANG PENDAKI

SANG PENDAKI
SEBUAH PERJUANGAN


__ADS_3

Jack dan Nandhita sudah hampir selesai memasak, saat Arya keluar dari tenda, aroma harum masakan membawanya pergi ke tenda dapur. Melihat Jack dan Nandhita bertingkah aneh namun kompak dalam memasak Arya hanya memperhatikan mereka dan tidak mau menganggu mereka. Dan saat melihat Nandhita menyuapi Jack dengan sepotong kentang goreng untuk mencicipi masakanya.


"Uhuuk uhhuuk." Arya tak mampu menahan tawanya hingga tersedak. Yang spontan membuat Jack dan Nandhita terkejut.


"Kak Arya..?" ucap Nandhita tersipu.


"Komandan..? mengagetkan saja." ucap Jack datar.


"Sudah lanjutkan memasak kalian, setelah itu bikinkan aku kopi, aku mau cuci muka dulu." kata Arya sambil melangkah ke danau


Sementara Arya pergi membasuh muka Jack dan Nandhita saling pandang sangat cangung, Jack berusaha mengalihkan pandangannya dari gadis itu. Rambut panjang Nandhita yang dibiarkan tergerai itu membuat penampilannya sungguh semakin mempesona.


Para pendaki satu persatu telah keluar dari tendanya, menuju danau untuk sekedar mencuci mukanya, asap aroma masakan harum menyambut pagi mereka, ditemani aroma kopi hitam dengan kabut tipis turut serta membersamai.


Hamparan belukar setinggi orang dewasa berdiri dan pohon-pohon cantigi memenuhi setiap sudut mata memandang, embun menggantung indah pada jaring laba-laba yang terajut memikat bak kalung intan permata yang dirangkai oleh maestro paling ternama didunia.


Di tepian danau kupu-kupu menari beterbangan kesana-kemari, ia tak berkata namun mampu memikat hati dan mata setiap yang memandangnya.


Benar-benar pagi yang sempurna.


Setelah semua tim selesai sarapan dan berkemas. Arya fokus mengatur rencana untuk menembus hamparan belukar dan secepatnya meninggalkan Lembah Gondo Arum.


PUKUL 07.30 WNT.


Team mulai bergerak menerobos lebatnya semak belukar, Arya dengan menggunakan kompas tiga dimensinya memimpin rombongan, trek yang cenderung datar membuat pendakian cenderung lancar. Dua jam mereka berjalan akhinya mereka dihadang oleh tebing bersisi terjal dan sangat curam.


"Ini batas akhir Lembah Gondo Arum ndan, kemarin kami sudah menyusuri tempat ini seminggu lebih, berjalan tiga hari kearah Barat dari tebing ini ada sebuah jalur menuju puncak." kata Jack menjelaskan.

__ADS_1


"Aku tidak punya waktu sebanyak itu Jack, berjalan tiga hari baru mencapai jalur terus berapa hari untuk mencapai puncak..? purnama ke tujuh tinggal lima hari lagi." jawab Arya.


"Kita panjat tebing ini saja kak..? walau terjal dan curam saya yakin akan mempersingkat waktu kita," ucap Nandhita.


"Ya baiklah, dan untuk keamanan team kita bagi dua, Elya, Nandhita dan kamu Jack ikut saya memanjat tebing ini. Dan untuk kesepuluh pendaki lewat jalur yang ada dan untuk komunikasi frekuensi HT (handy talky) kita tetap di 143.666 MHz, cepat beri kabar jika ada apa-apa dan Kita bertemu dibawah puncak," ucap Arya tegas.


Akhirnya sesuai perintah Arya. Tean dibagi menjadi dua dan kesepuluh pendaki memulai perjalanan mereka. Hujan kembali mengguyur dengan lebatnya, Namun tak menyurutkan tekat dihati mereka. Arya, Elya, Nandhita dan Jack memulai pemanjatannya dinding terjal yang menghadang mereka, batunya licin lantaran tersapu air hujan. Arya dan Nandhita bergantian merayap menggapai pelataran di atas untuk memasang tali tetap atau fix rope agar rekan lain bisa naik dengan ascender. Ransel-ransel mereka tarik ke atas dengan katrol kecil yang disangkutkan di celah batu dengan paku tebing.


Perjalanan menegangkan seperti itu mewarnai pendakian mereka hingga tiga hari ke depan. Tak hanya menghadapi suhu udara hingga minus dua derajat celcius.


Hari kedua, mereka baru menyadari telah melewati dinding tebing yang terjal setinggi 750 meter dengan kecuraman 70-80 derajat, dua hari penuh mereka bergelantungan di karmantel bahkan untuk sekedar istirahat dan tidurpun mereka tetap bergelantungan di carnmantel, pada hari berikutnya, kelelahan dan kelaparan mulai menghantui mereka.


"Sudah lebih dari tiga hari perutku tidak diisi sepotong makanan. Hanya air yang selama ini masuk lewat kerongkongan. Perutku agak keberatan diisi dengan coklat, keju, cornflake, havermout, dan permen," kata Jack.


"Bertahanlah Jack, lihat itu..? sebentar lagi kita bisa memasak disana Jack." ucap Arya sambil menunjuk Puncak Snowpeak dari balik kabut. Menyusuri tebing punggung Selatan Gunung Snowpeak, mereka melewati dua jurang kecil dengan tali dan karabiner dengan semangat mereka kembali bergelora.


"Tempat ini bagus untuk mendirikan tenda Jack..? dan tinggal melewati satu tebing ini kita sampai di Puncak Snowpeak 4.884 mdpl." ucap Arya sambil menurunkan cariiel dari punggungnya dan diikuti oleh Elya, Nandhita dan Jack.


"Kita ngecamp disini, ini adalah batas akhir pendakian kita, dan biarkan kak Arya dan kak Elya yang memanjat tebing es itu berdua, kita tak akan sanggup menghadapi ke extreman tebing itu." ucap Nandhita kemudian.


"Ya.. kita akan menunggu komandan disini." ucap Jack menyambung perkataan Nandhita.


"Sekarang kita mendirikan tenda dan memasak, perut kita sudah berontak minta diisi yang hangat-hangat." ucap Elya semangat.


"Iyaaaa.. aku juga sudah sangat ingin minum kopi hitam gulanya sedikit." ucap Arya tegas.


Sementara Arya dan Jack mendirikan tenda, Elya dan Nandhita mulai memasak dan merebus air.

__ADS_1


"Kak ini kopi kesukaan kakak." ucap Elya sesaat setelah mereka selesai makan.


Aroma harum kopi hitam menyeruak menembus hidung-hidung mereka, Suhu yang sangat dingin membuat kopi yang baru dibikin tak terasa panasnya.


"Elya waktu kita tinggal satu hari, besok pagi kita harus mendaki tebing es itu. Malam ini kamu harus beristirahat yang cukup." kata Arya.


"Iya kak.. Tebing es selain suhunya yang minus dua derajat juga anginnya sangat kencang, sehingga sampai saat ini belum ada seorang pendaki pun yang mampu mencapai puncak salju." ucap Nandhita.


"Dan itu juga yang membuat kondisi puncak masih penuh misteri, karena belum ada seorang pun yang menjejakkan kaki disana dan foto satelitpun tak mampu menembus kabut yang seolah menutupi tempat itu." ucapan Jack kemudian.


"Yakinlah setiap ada kemauan pasti ada jalan. Dan saya yakin kekuatan Tuhan akan membimbing kita." ucap Arya tegas.


"Iya kak..? Nandhita yakin dan percaya tentang itu, namun kakak harus tetap extra hati-hati, menurut catatan yang saya dapat puncak itu seperti dijaga oleh kekuatan alam, semua pendaki gagal mencapai puncak karena mereka dihempaskan oleh angin yang sangat kuat hingga mereka gagal untuk memanjat sampai puncak." Nandhita menjelaskan panjang lebar tentang kondisi tebing es.


"Saya pernah mencoba memanjat beberapa kali, dan betul kata Nandhita kalau masalah suhu yang minus lebih dari dua derajat celcius saya yakin semua pendaki dapat mengatasi situasi itu, tapi badai yang datang tanpa diduga menghempaskan saya tiap saya ingin terus memanjat untuk menggapai puncak. Saya mencoba beberapa kali hingga logistik saya habis dan memutuskan untuk turun dari tempat ini, namun pengalaman pahit saya tidak cukup sampai sampai disitu, di bawah sana pada batas vegetasi seharusnya saya mengambil jalur lurus namun saya mengambil jalur ke timur hingga saya terjebak di Lembah Gondo Arum berhari-hari hingga suatu hari saya bertemu Biksu Ishak dan mengajakku ke hutan larangan dan menyuruh saya menunggu ndan Arya dan non Elya." cerita Jack mengenang pengalamannya.


"Hmmmmm saya makin penasaran, dengan kondisi disana..?" ucap Elya.


"Okey.. kita akan tahu apa misterinya alam yang menyelimuti puncak salju dengan ketinggian 4884 Mdpl itu besok, sekarang mari kita beristirahat." ajak Arya saat itu.


Akhirnya malam itu mereka beristirahat, Arya berada satu tenda dengan Elya sedangkan Jack dan Nandhita tidur sendiri-sendiri pada sigle tendnya.


...CREATED, 14 FEBR 2022...


...~°• CINK's eL A •°~...


..."Ketika beban semakin berat dan jalan semakin terjal, dan keraguan mulai muncul, setidaknya tujuan masih terlihat."...

__ADS_1


__ADS_2