SANG PENDAKI

SANG PENDAKI
HUTAN LARANGAN #3


__ADS_3

Antusias penduduk Kota Baya sangatlah besar, terlihat semakin siang penduduk makin memadati lapangan Hutan Larangan. Mereka ingin melihat langsung wajah-wajah pemuda yang telah menghebohkan jagad maya dengan aksi heroik mereka.


Dan waktu terus berputar tak mau berhenti walau sebentar. Hari terik kian menyilaukan mata. Matahari sampai saat ini masih terus menjadi misteri, dan penduduk kota makin antusias melihat pertujukan didepan mata mereka.


Diatas tribun megah dengan dekorasi mewah yang indah, prosesi penyerahan hadiah dan segudang penghargaan dari berbagai instansi kepada kedua belas pendaki sedang berlangsung, satu persatu telah sukses menarik tepuk tangan dan sorak sorai para penonton.


Suara seorang wanita yang merdu lewat pengeras suara menggema diantara keramain penonton,


"Hadirin sekalian untuk Acara utama kali ini saya perkenalkan dua saudara kembar Arya Nugraha dan Elya Nugraha sebagai komandan kedua belas pendaki yang sekaligus pengukuhan Record Nasional pencapaian titik tertinggi Puncak Salju 4884 Mdpl dengan aksi heroiknya untuk Arya dan Elya silahkan menuju panggung kehormatan," suasana hening layar background belakang panggung menampilkan video saat-saat Arya dan Elya berjuang tak kenal menyerah manjat tebing beku gunung Snowpeak. Seakan andrenalin ikut terpacu melihat adegan itu semua yang hadir diam expresi unik diwajah-wajah mereka tercetak jelas.


Sementara itu Arya dan Elya melangkah menuju panggung, Penampilan mereka berdua yang sangat exclusive langsung disambut tepuk tangan sangat meriah oleh ratusan penonton yang hadir.


Arya yang gagah dan tampan, sedangkan Elya yang anggun dan cantik berhenti dipodium tenggah tribun, mereka melambaikan tangan penoton, lagi-lagi suara gemuruh sorak sorai memecah suasana, penyerahan hadiah, penghargaan serta Piagam Book Record dilaksanakan dan euforiapun mereda.


Rangkaian acara selesai tepat pukul 01.00 WNT. Satu per satu pengunjung dan tamu kehormatan meninggalkan tempat, kini hanya tinggal crew penyiaran yang sedang berkemas dan team kebersihan yang tertinggal disana, suasana hutan larangan mulai kembali sunyi.


Sementara itu di dalam ruang utama Villa Ayah Arthur dan Bunda Anastasya sedang ngobrol dengan Siska, Devi, Black dan kesepuluh pendaki saat Arya yang didampingi Elya dan Any, diikuti Jack dan Nandhita dibekangnya memasuki Villa.


"Ayah Bunda..? maaf kita terlambat." ucap Arya setelah dekat dengan Ayah Bundanya.


"Iya Ayah Bunda..? kami harus memastikan dulu tamu kehormatan meninggalkan lokasi dulu." ucap Elya menambahkan.


"Tidak apa-apa sayang..? itu memang yang seharusnya kalian lakukan." balas Bunda Anastasya.

__ADS_1


"Arya Elya..? tidak apa-apa, duduklah biar lebih enak kita ngobrolnya." ucap Ayah Arthur. Mendengar perkataan Ayah Arthur mereka langsung duduk disampingnya.


"Nona Siska, Devi sekarang sudah berkumpul semua, silahkan apa yang akan kalian sampaikan." perintah Arthur.


"Terima kasih untuk waktunya Tuan Manager, karena tindakan heroik kalian Internal Pecinta Alam ingin merekrut kalian. Jack, Rafi dan sembilan pendaki lainnya. Apakah kalian setuju..?" tanya Ms. Siska pada mereka.


"Siap saya setuju." jawab Jack. Dan diikuti yang lainnya.


"SETUJU" jawab mereka kompak.


"Terima kasih, Devi berikan kartu keanggotaan mereka." perintah Siska pada Devi. Dan Devi memberikan pada Nandhita kartu Berlian, Jack dan Rafi kartu Emas, sedangkan untuk sembilan pendaki kartu Perak.


""Tuan Arthur.. Kak Siska dan Devi terima kasih ini sangat berlebihan buat saya," ucap Nandhita dengan mode serius saat menerima kartu logam berwarna Berlian, kartu itu terasa dingin dan amat berbobot. Bagian depan berpola awan merah dengan aliran yang menyilaukan, sangat berkarakter. Bagian belakang dilengkapi dengan chip dan rangkaian kode terletak pada sudut kanan bawah. Tepat..! persis sama dengan yang dipegang Arya dan Elya cuma beda warna dan kelasnya saja.


"Nandhita kamu adalah satu-satunya asisten yang aku persiapan untuk Arya dan Elya, kalau selama ini mereka sudah punya asisten, hari ini juga aku umumkan bahwa kamu adalah kepala asisten Arya dan Elya, jadi tidak berlebihan jika kamu memegang kartu Berlian." ucap Tuan Arthur dengan mode tegas dan penuh wibawanya.


Semangat dimatanya mengejutkan semua orang yang hadir disana. Karena perkataan itu tidak dapat dikatan oleh orang di zaman modern sekarang ini. Nandhita lebih terlihat seperti prajurit yang siap mengorbankan diri demi tuan yang ia lindungi. Seperti prajurit yang dibesarkan di zaman kuno. Satu hal yang ada dipikirannya adalah untuk tetap menjaga tuannya bahkan ia sangup untuk mengorbankan dirinya sendiri.


Hanya keluarga Arthur Nugraha yang sangat mengerti arti perkataan Nandhita itu. Sedangkan Arya dan Elya sudah mendengar dan melihat sendiri makna kata-kata itu, selama expedisi mereka.


Sedangkan dalam pemikiran orang-orang yang mendengar saat itu adalah sebuah pertanyaan dihati mereka.


"Apakah gadis ini benar-benar dibesarkan sebagai prajurit berani mati sejak kecil..?"

__ADS_1


Dari kata-katanya terlintas makna yang jelas. Satu-satunya hal yang ada dipikirannya adalah untuk tetap setia dan mengabdi pada tuannya, bahkan ia rela mengorbankan hidupnya untuk tuan yang dilindunginya tanpa memperdulikan dirinya sendiri.


Jack yang juga ikut mendengar saat itu, tidak dapat menahan rasa, tubuhnya bergetar dan menggigil mendalami makna dari kata-kata Nandhita.


"Saya sangat mengerti keputusan Tuan Arthur, saya selaku asisten tuan Arya di hutan larangan sangat menerima keputusan ini. Dan saya juga siap mengabdi pada Tuan Muda Arya dan Elya dan mendukung nona Nandhita melaksanakan setiap tugasnya." ucap Jack setelah dapat menguasai dirinya.


Mendengar perkataan Jack kesepuluh pemuda pendaki yang disana mengikuti apa yang dilakukan oleh Jack, mereka menyadari seorang Jack yang sangat arogan dan menguasai hutan larangan saja masih tunduk pada Arya dan Elya, apalagi mereka yang cuma rekrutan Jack.


"Ya.. saya menerima dan memegang kata-kata kalian, namun satu hal yang perlu kalian ingat, kita masih seumuran jadi Aku dan Elya tidak mau kalian memanggil kami dengan sebutan Tuan dan Nona. Panggil saja kami Komandan atau Kakak saja, itu lebih enak didengar dan juga lebih akrab." ucap Arya tenang penuh mengintimidasi yang mendengarnya.


"Siap Komandan." ucap mereka serempak.


"Saya rasa kalian sudah mengerti dan memahimi situasi ini, Aku dan istriku akan beristirahat sekarang. Kalian silahkan lanjutkan obrolan kalian." ucap Arthur dan berdiri dari duduknya dan diikuti Anastasya. Setelah kepergian Ayah Arthur dan Bunda Anastasya, suasana diruangan itu masih terasa canggung dan sangat sepi.


"Sekarang kalian semua disini sudah tahu siapa Saya dan Elya, namun saya minta pada kalian rahasiakan indentitas kami ini. Kita adalah teman, dan kita punya hobby yang sama, kita akan saling membutuhkan untuk mencapai suatu tujuan bersama-sama, Jadi alangkah baiknya kalau tidak ada sekat yang memisahkan diantara kita. Harta dan kekayaan memang sangat dibutuhkan tapi makna persahabat lebih berarti dan bisa mengalahkan semuanya." ucap Arya dengan lembut penuh makna.


Kata-kata Arya yang lembut dan tulus mencerminkan kebesaran jiwanya itu, perlahan merubah suasana ruangan itu. Semua yang berada diruangan itu merasa nyaman dan dihati mereka semakin tumbuh rasa hormat yang makin dalam. Hormat dalam artian sesungguhnya, biasa dalam berperilaku tapi tunduk dan patuh dengan setiap keputusannya.


"Ayooo.. sekarang kita habiskan snak yang sudah disediakan ini, ayooo.. ayooo kita ngobrol sambil makan." ucap Elya memecah kecangungan itu.


Suasana diruangan itupun menjadi kembali lebih hidup dengan candaan dan tawa menyelingi setiap obrolan mereka. Rasa canggung dan dingin sekarang sudah hillang tergantikan suana hangat sebuah rasa kekeluargaan yang harmonis.


...CREATED, 2022...

__ADS_1


...~°• CINK's eL A •°~...


..."Kata-kata itu lebih tajam dari pedang. Majulah Tanpa Menyingkirkan, Naiklah Tinggi Tanpa Menjatuhkan, Jadilah Baik Tanpa Harus Menjelekkan dan Jadilah Benar Tanpa Harus Menyalahkan Orang Lain”...


__ADS_2