
Pagi itu Elya memarkir Ferrari 488 Pista Spidernya dihalaman parkir sebuah fashion store, saat ia mau membuka pintu, suara keras terdengar menabrak sisi kiri Ferrarinya.
"BRRRUUUUAAAAK"
Seorang pemuda berpakaian lusuh terjatuh dengan sebuah karung yang dia bawa menimpa tubuhnya. Elya dengan cepat melihat kondisi pemuda itu.
Wajah tampan pemuda itu berlumuran darah, bahkan darah mulai mengenai kaos lusuh yang di pakainya, dia tertimpa barang bawaanya saat tanpa sengaja menabrak Ferrari 488 Pista Spider yang dikendarai Elya.
"Maaf nona saya menabrak super car anda, saya telah merusak mobil anda, saya akan bertangung jawab untuk mencicil tiap hari dari upah saya kuli panggul ini asal nona mau memaafkan saya." ucap pemuda itu bergetar ketakutan saat Elya mendekatinya. Elya hanya terdiam ia terus mengamati pemuda itu.
"Ikut saya kerumah sakit." ucap Elya kemudian.
"Tidak usah nona ini hanya luka kecil dan sebentar lagi juga sembuh, maafkan saya ya nona..? pasti saya akan mengumpulkan uang untuk mengganti kerusakan mobil mewah nona." jawab pemuda itu masih dengan mode ketakutan.
"Saya tidak akan memaafkanmu, selama kamu tidak mau ikut saya ke rumah sakit." ucap Elya dengan tegas.
"Maaf nona.. ta..ta..tapi.." belum selesai pemuda itu bicara.
"Tak ada tapi-tapian ayo ikut saya.." ucap Elya sambil menarik lengan pemuda itu masuk kedalam Ferrari 488 Pista Spidernya.
Elya lalu berjalan memutar dan membuka pintu pengemudi lalu duduk dibangkunya. Dia melihat sekilas wajah ganteng pemuda disampingnya yang masih sedikit meringis menahan sakit sambil terus menekan luka dikepalanya.
"SLLLEEERRRRET"
Elya membuka daypacknya, ia mengeluarkan handuk kecil berwarna pink yang selalu dibawanya.
"Gunakan ini untuk menahan darah yang terus keluar dari lukamu." ucap Elya sambil menekan pelan luka di kepala pemuda itu. Tanpa memperhatikan expressi kebingungan pemuda itu, kemudian Elya mengemudikan Ferrari 488 Pista Spidernya menju rumah sakit.
Beberapa saat kemudian. Ferrari 488 Pista Spider telah sampai didepan lobby rumah sakit. Elya segera keluar dan memutar menuju pintu tempat pemuda itu duduk. Membukanya dan memapah dan membawa pemuda itu menuju ruang UGD dengan cekatan.
...*****~°•°~*****...
Elya saat ini masih menunggu pemuda itu diluar ruang UGD. Saat ini pemuda itu sedang menjalani penanganan medis dari Dokter. Elya mengambil ponselnya dari dalam daypac pinknya, ia bermaksut ingin memberi tahu kajaknya tentang masalah ini.
"Hmmmm sial ponselku low batt, mana gak bawa carger lagi..?" gerutu Elya dalam hati.
__ADS_1
Saat Elya masih bingung dengan perasaannya sendiri. Seorang Dokter yang tadi menangani pemuda itu keluar dari ruang UGD.
Elya segera berdiri dan menghampiri Dokter itu, dan segera menanyakan keadaan sang pemuda pada Dokter.
"Dokter bagaimana keadaan teman saya..!?" tanya Elya dengan mode cemas dan khawatir.
"Ada beberapa memar di bahu dan punggung pasien, dan yang paling serius luka dikepalanya akibat benturan benda keras, sudah kami tangani dengan 12 jahitan. Sejauh ini pasien sangat lemah karena banyak kehilangan darah, beruntung stok golongan darah di rumah sakit ini ada, mudah-mudahan setelah mendapat tranfusi darah kondisinya membaik. Mungkin butuh beberapa hari untuk rawat inap disini." kata Dokter menjelaskan.
"Baiklah Dok..! berikan perawatan dan kamar terbaik rumah sakit ini, saya yang akan mengurus semua administrasinya." ucap Elya.
Elya menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlan, ada perasaan bersalah dihatinya.
"Apa saya bisa masuk kedalam dan melihat kondisinya Dok..?" tanya. Elya lagi.
"Silahkan pasien juga belum siuman, mohon jaga ketenangan." Dokter menjawab dan berlalu meninggalkan Elya.
Elya melangkah pelan menuju pemuda itu terbaring. Luka dikepala sudah dibersihkan dan dibalut perban, dan kaos yang berlumuran darah juga telah diganti oleh suster, pemuda itu masih terpejam dalam pingsanya.
"Wajah yang tampan seperti pangeran namun sayang nasibnya tak sebagus wajahnya." ucap Elya dalam hati dan mengedarkan pandangan melihat keadaan ruangan UGD, mata Elya terhenti pada meja kecil disudut ruangan, diatasnya tergeletak dompet kulit hitam yang sudah lusuh dan sebuah ponsel pintar yang layarnya pecah.
Senyum tipis terlihat dibibir Elya melihat itu, dia teringat pertama kali dia bertemu Kakaknya yang saat itu juga memiliki dompet kulit lusuh dan sebuah ponsel jadul. Elya melangkahkan kakinya pelan dan mengambil dompet itu, dia membuka dan melihat isinya, tidak banyak uang didalamnya dan juga tidak ada kartu bank atau kartu kredit didalam dompet itu. Namun bukan itu maksut Elya dia ingin melihat kartu identitas pemuda yang telah dia tolong itu.
Saat Elya sedang melihat kartu identitas sang pemuda dua orang suster masuk dan memberi tahu kalau pemuda itu akan dipindahkan ke ruang rawat inap.
"Maaf nona..!? anda siapanya pasien..?" tanya salah satu suster itu.
"Saya temannya sus..! mohon berikan kamar terbaik dirumah sakit ini. Semua biaya saya yang akan menyelesaikan." ucap Elya.
"Baiklah nona, boleh saya pinjam identitas nona dan pasien ini..?" ucap suster dengan sopan.
"Ini silahkan tapi untuk apa kartu identitas saya..?" tanya Elya sedikit penasaran.
"Identitas pasien untuk data rumah sakit ini, sedangkan kartu idebntitas nona dibutuhkan untuk menyelesaikan semua administrasinya." ucap suster masih dengan mode sopannya.
"Ooooo begitu, baiklah antar saya keruang admistrasi kalau begitu." ucap Elya.
__ADS_1
"Jangan salah pengertian nona..? saya yakin nona mampu membayar semua biaya perawatan disini, tapi ini prosedurnya nona..?" ucap suster merasa bersalah.
"Saya tahu itu, tapi sebaiknya kita keruang admistrasi dan menjamin semuanya beres." ucap Elya sambil melangkahkan kakinya. Sedangkan salah satu suster mau tidak mau mengikuti Elya.
Beberapa saat kemudian Elya sampai di ruang administrasi, yang langsung disambut oleh senyum ramah gadis yang mengenakan setelan profesional putih berpotongan rapi, dia petugas yang melayani administrasi.
"Selamat siang nona..? ada yang bisa saya bantu..?" sapa gadis itu sopan.
"Saya ingin mengurus administrasi teman saya. Kata dokter yang menangani teman saya harus rawat inap beberapa hari disini, jadi tolong beri kami ruangan terbaik yang ada dirumah sakit ini. Ini kartu identitas pasien dan ini kartu penhenal sekaligus ambilkan uang yang dibutuhkan selama perawatan beberapa hari kedepan." ucap Elya sambil memberikan Black Gold cardnya pada gadis itu. Petugas itu menerima Black card yang disodorkan Elya.
"Tunggu sebentar ya nona..? saya proses dulu." ucap petugas itu sopan dan melangkah meninggalkan Elya.
Elya duduk di depan loket, yang pada saat itu tidak terlalu ramai. Beberapa saat kemudian pintu ruang administrasi itu terbuka.
"CEKLEK"
Gadis cantik yang tadi melayani Elya keluar dan diikuti oleh seorang pria paruh baya, mereka langsung menuju ketempat Elya duduk.
"Maaf nona Elya Nugraha, atas ketidak nyamanan anda, Ini kartu anda..? Saya manager keuangan rumah sakit ini. Kami akan menempatkan teman anda pada pavilyun terbaik yang kita punya dan untuk administrasinya sudah lunas untuk tiga hari kedepan." ucap sang Manager dengan hormat sambil mengembalikan black card pada Elya.
"Jangan terlalu sungkan manager, terima kasih, bila pembayaran kurang atau teman saya tiga hari kedepan belum sembuh, silahkan menghubungi Nugraha corp." ucap Elya sambil menerima black cardnya.
"Baik Nona Elya, kami akan menempat dokter terbaik untuk membantu kesembuhan teman Nona." kata Manager itu lagi.
"Okey.. saya permisi dulu..?" ucap Elya sembari melangkah pergi menuju ruang UGD.
Saat dikoridor Elya berpapasan suster yang menemuinya di ruang UGD sedang mendorong STRETCHER°¹¹ dan diatasnya berbaring seorang pemuda yang tergeletak memejamkan mata.
"Nona kebetulan bertemu disini, teman anda akan kami pindahkan ke pavilyun flamboyan, mari ikuti saya..?" ucap suster pada Elya.
"Mari Sus..!?" jawab Elya singkat.
...CREATED, 2022...
...~°• CINK's eL A •°~...
__ADS_1
..."Saya telah mencari cara untuk menyembuhkan diri saya sendiri, dan saya menemukan bahwa kebaikan adalah cara terbaik." [LADY GAGA]...
...°¹¹STRETCHER adalah ranjang transfer pasien yang dapat dengan mudah dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain...