SANG PENDAKI

SANG PENDAKI
GADIS BERHATI EMAS #2


__ADS_3

Sementara itu di Hutan larangan, Arya sedang panik memikirkan Elya yang pergi dari pagi sampai sore belum pulang dan ponselnya juga tidak bisa dihubungi.


"Elya kemana..? tak biasa-biasanya dia pergi belanja seharian penuh seperti ini." gerutu Arya dalam hati, sambil melangkah menuju Rumah Kayu tempat Nandhita yang letaknya tidak terlalu jauh dari Villa.


"TOK.. TOK.. TOK.."


Arya mengetuk pintu Rumah Kayu setelah ia sampai di sana.


"CEKLEK" pintu dibuka dari dalam rumah.


"Kenapa tidak telepon aja kak..? ada apa..? kok sepertinya serius banget..?" tanya Nandhita setelah melihat Arya yang mengetuk pintu.


"Elya sampai sekarang belum pulang dan ponselnya tidak bisa dihungi, tolong temukan informasi keberadaannya secepat mungkin." Arya berbicara dengan mode serius. Nandhita selain asisten yang selalu menjaga keamanan dan keselamatan Arya dan Elya dia juga mempunyai koneksi dengan badan intelejen negara dengan cukup bagus.


"Siap kak Arya, sebetulnya tadi pagi akan saya temani namun kak Elya tidak mau, katanya cuma sebentar. Siap kak akan cari secepatnya, beri saya waktu setengah jam dari sekarang." ucap Nandhita dengan mode yakin.


"Baik saya tunggu setengah jam dari sekarang, kabar baiknya..!" Arya menjawab sambil melangkah keluar dari Rumah Kayu.


Sesampainya di Villa, Arya duduk didepan Aquarium sambil memandangi Ikan Arwana yang sedang menari-nari, namun pikirannya melayang entah kemana. Bersamaan dengan itu pintu Villa yang tidak tertutup diketuk orang dan Arya langsung menoleh melihat siapa yang datang.


"Sudah dapat kabar Nand..?" suara Arya terdengar berat.


"Sudah kak..!? kak Elya tadi pagi di fashion store kota, Ferrarinya ditabrak seorang kuli panggul, dan kak Elya membawa sang kuli kerumah sakit, karena kepalanya terluka dan berdarah." Nandhita melaporkan temuannya.


"Syukurlah kalau tidak terjadi apa-apa, tapi dirumah sakit mana Elya membawa orang itu..?" tanya Arya.


"Rumah Sakit Harapan Sejahtera dan di pavilyun flamboyan kak..!?" jawab Nandhita.


"Kita kesana sekarang." ajak Arya yang langsung melangkah keluar dari Villanya.


Nandhita mengikuti dibelakang Arya dan terus menaiki Lamborghini Veneno Roadsternya dan diikuti Nandhita yang duduk dibangku penumpang.


Walau jalanan kota baya sangat ramai saat itu, Arya melajukan Lamborghini Veneno Roadsternya dengan lincah dan tanpa hambatan. Tiga puluh menit kemudian mereka sudah memasuki halaman parkir Rumah Sakit itu.


Berbekal informasi yang diperoleh Nandhita, mereka langsung menuju pavilyun Flamboyan setelah keluar dari mobil. Setibanya pada ruangan yang dituju Arya dan Nandhita langsung masuk kedalamnya. Mereka tidak menemukan keberadaan Elya disana, hanya ada seorang pemuda dengan perban dikepalanya sedang memejamkan matanya. Pemuda itu terlelap karena efek obat yang diberikan dokter.


Sementara Arya keluar dari ruangan itu untuk mencari keberadaan Elya. Nandhita tak henti memandangi wajah pemuda yang tertidur diatas ranjang itu.

__ADS_1


"Dirgantara Chen, tapi ada apa..? kenapa dia berpakaian dan berpenampilan seperti ini..? pasti dia sedang menyembunyikan sesuatu," pertanyaan-peryanyaan muncul didalam hati Nandhita.


Disaat Nandhita mau melangkah membuka pintu, bersamaan dengan itu pintu terbuka dari luar, Elya memasuki ruangan itu dengan membawa dua paperbag besar ditanganya.


"Kak Elya..? tadi kak Arya mencarimu apa kamu tidak bertemu denganmu..?" tanya Nandhita.


"Kak Arya sekarang masih berbincang dengan direktur rumah sakit ini dilobby. Tadi aku bertemu denga Kak Arya disana, dan kebetulan direktur rumah sakit ini juga pas disana." ucap Elya menjelaskan.


"Hmmmm ya sudah kalau begitu." ucap Nandhita sambil menghela nafas lega.


"Kak Elya sudah makan apa belum, kalau belum baiknya kak Elya makan dulu, biar pemuda ini saya yang menjaganya." ucap Nandhita lagi.


"Belum sih..? tadi aku mau makan ke kantin gak tega ninggalin pemuda itu sendirian. Ya udah saya makan dulu, nanti kalau ada suster yang kesini suruh mengganti pakaian pemuda itu dengan ini..!? aku tadi sempat keluar sebentar membelikan beberapa stel pakaian untuk pemuda itu." ucap Elya sambil memberikan paperbag pada Nandhita.


"Maaf..? apa kak Elya mengenal pemuda ini..?" tanya Nandhita.


"Tidak..!? aku cuma kasian saja..!? dan apakah kita harus mengenal dulu, baru kita bisa menolong orang yang membutuhkan pertolongan kita..? kata Elya balik bertanya.


"Ya tidak juga sih..! cuma kak Elya menolongnya sampai segitunya, dan pakaian ini banyak banget..? bisa buat modal buka toko..?" ucap Nandhita sambil tersenyum.


"Sudah ahhh..! aku makan dulu nanti kalau kak Arya kesini, bilangin aku kekantin ya..?" ucap Elya.


Mendengar jawaban Nandhita, Elya langsung melangkah keluar dan menuju kantin Rumah Sakit.


Satu jam kemudian Arya dan Elya telah kembali dan memasuki ruangan pavilyun itu bersamaan.


"Gimana kondisinyan Nand..?" tanya Arya.


"Belum bangun kak..?" jawab Nandhita.


"Elya..? sebenarnya gimana kronologi kecelakaan ini..? aku kok jadi penasaran..?" tanya Arya penasaran.


Dan Elya menceritakan dari awal kejadian peristiwa itu, mulai dari ia memarkir Ferrari 488 Pista Spidernya dihalaman Fashion store dan ditabrak pemuda kuli panggul itu dan membawanya sampai ke rumah sakit ini.


"Begitulah kak kejadiannya." jawab Elya menjelaskan.


"Apakah kamu mengenal pemuda itu sebelumnya..?" tanya Arya lagi.

__ADS_1


"Tidak Kak..? Aku menolongnya murni dari hatiku, tidak ada alasan lain kecuali hanya memberikan pertolongan kecil ini." jawab Elya.


"Sifat yang sama, persis seperti sifat Tuan Arthur." gumam Nandhita dalam hati, mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Elya.


"Saya mengerti tindakan yang kamu lakukan, cuma kamu juga harus memperhatikan kondisimu sendiri." ucap Arya menasehati.


"Iyaaa Kak..? Elya mengerti, dan maaf telah membuat Kak Arya khawatir..?" ucap Elya.


Sementara itu sang pemuda yang terbaring di ranjang, sudah terbangun sejak kedatangan Arya dan Elya, namun dia sengaja menahan diri dan ingin mendengar percakapan mereka.


"GADIS BERHATI EMAS, aku harus bisa mengenalnya dan aku harus bisa mendapatkan hatinya." guman pemuda itu dalam hati.


"Hmmmm, aduuuuh..!!" ucap sang pemuda sambil memegang luka dikepalanya.


Arya,Elya dan Nandhita langsung menoleh dan melihat kearah suara itu.


"Gimana keadaanmu sekarang..? aku Arya kakak gadis yang sudah menolongmu." ucap Arya memperkenalkan diri, saat pemuda itu menatap kearahnya.


"Ba.. ba.. baik Tuan, saya sudah merasa lebih baik, terima kasih sudah menolong saya, dan bagaimana saya harus membalas ini semua..?" ucap pemuda itu terlihat sangat kebingungan.


"Sudahlah itu tidak penting, sekarang yang terpenting adalah kamu harus secepatnya pulih dan dapat bekerja kembali." ucap Arya.


"Saya bersedia menjadi budak tuan untuk mengganti biaya di rumah sakit ini, perawatan ini pasti menghabiskan banyak uang Nona, belum lagi saya sudah memecahkan lampu belakang mobilnya, saya tidak bisa menerima ini semua secara gratis, tapi aku juga tidak punya uang untuk mengganti ini semua, jadi dengan segenap jiwa dan ragaku aku akan membayar semuanya ini." jawab pemuda itu dan terlihat keseriusan diwajahnya.


"Aku melakukan ini tidak mengharap balasan apa pun darimu, aku ikhlas melakukan, asal kamu lekas sembuh itu sudah cukup bagiku, jadi tidak usah memikirkan bagaimana caramu membayar." ucap Elya.


"Terima Kasih Nona atas semua kebaikannya, tapi maaf sejak kecil aku telah di didik oleh keluarga saya, tidak ada yang gratis didunia ini. Saya tahu kalian sangat kaya dan tidak mungkin untuk kekurangan apa-apa termasuk uang, jadi kejadian ini saya anggap hutang budi, maka izinkan saya membalasnya saya tidak ingin hutang budi ini menghantui saya sampai mati." ucap Pemuda itu bersikukuh tetap ingin membalas kebaikan Elya.


"Kalau boleh tau, siapa kamu dan dimana kamu tinggal..!?" tanya Nandhita kemudian.


"Saya Dirgantara Chen, saya berasal dari desa sebulan yang lalu dan tujuanku ke Kota Baya ini untuk mengadu nasib dan mencari penghasilan. Namun apalah daya saya cuma bisa menjadi kuli panggul disini. Dan sekarang saya malah merepotkan Nona-nona dan tuan." jawab pemuda itu.


"Sudahlah..! Yang terpenting sekarang kamu harus beristirahat, masalah balas budi atau yang lainnya kita pikirkan besok..


...CREATED '2022...


...~°• CINK's eL A •°~...

__ADS_1


..."Saya percaya bahwa sebanyak yang anda terima, Anda harus memberikan kembali. Jadi sangat penting untuk tidak terlalu fokus pada diri kita sendiri.". [NICOLE KIDMAN]...


__ADS_2