SANG PENDAKI

SANG PENDAKI
PEMBENTUKAN SISPALA "AMUBA"


__ADS_3

Sementara itu waktu yang sama di lereng Gunung Legenda.


Rangga sedang prustasi mau berpisah dengan kekasih hatinya, karena Verra akan kembali ke pavilyun pecinta alam bersama Ani. Karena urusan dengan warga sudah selesai dan juga sekolah sudah mau mulai masuk.


"Saya antar sekarang, cepat." dengan posesif Rangga menarik lengan Verra dan mebawanya ke mobilnya.


"Mas Rangga terus Ani gimana..?" tanya Verra, senyumnya terkembang dibibir tipisnya karena dia merasa apa yang diinginkan telah dilakukan Rangga. Sebenarnya Verra ingin pulang ke pavilyun diantar Rangga tapi Verra gengsi berterus terang.


"Kenapa senyum-senyum, Ani biar bawa ferarri non Elya sendri." ucap Rangga saat mereka sudah berada dalam mobil.


"Suka-suka sayalah, kenapa juga kamu maksa-maksa saya." ucap Verra ketus.


"Gak usah senyum-senyum didepan saya, apa kamu tidak tahu aku sedang marah, cepat pakai sabuk pengamanmu kita akan segera berangkat." Rangga menjadi salah tingkah menghadapi Verra yang menurutnya unik.


Tak lama mobilpun melaju di jalanan yang sepi di ikuti ferarri yang dikendarai Ani sendirian.


Rangga dan Verra memang pasangan yang unik, saling suka, saling sayang namun sama-sama keras kepala dan sedikit mengandalkan egonya. Mobil pun terus melaju dan sampailah di pusat kota.


"Di simpang lima ambil arah kanan ya mas." Verra menunjukkan arah kemana Rangga harus melanjutkan laju mobilnya.


"Hmmm" hanya gumaman yang keluar dari mulut Rangga.


Akhirnya merekapun sampai dipavilyun pecinta alam. Setelah memarkirkan mobil pada tempatnya Rangga,Verra dan Any langsung menuju pavilyun utama untuk menemui Arya.


Setibanya mereka di pavilyun, mereka disambut oleh Arya yang telah menerima pesan dari Any, tentang kedatangan mereka.


"Selamat datang di tempatku Ga..?" ucap Arya menyambut kedatangan mereka.


"Akhirnya aku bisa menjejakkan kakiku di pavilyun ini ndan..? pavilyun pecinta alam yang sempat menghebohkan dunia karena penghuninya yang telah mencatatkan rekor yang tak pernah terpecahkan selama puluhan tahun." ucap Rangga memuji.


"Ah itu terlalu berlebihan, ini hanya sebuah pavilyun, tapi kalau kamu pingin lihat-lihat silahkan, kamu adalah asistenku jadi sudah pasti pavilyun ini dan fasilitasnya bisa kamu gunakan, kecuali ruangan pribadiku di lantai tiga. Verra antar Rangga melihat-lihat." ucap Arya kemudian. Verra pun berdiri dan mengajak Rangga melihat-lihat fasilitas pavilyun.


Setelah kepergian Verra dan Rangga, Arya mulai menanyakan teken kontrak dengan warga desa mbalik.


"An, gimana teken kontraknya..? apa sudah beres semua..?" tanya Arya.

__ADS_1


"Seperti yang diharapkan kak, tekken kontrak berjalan sukses dan lancar, seratus lima puluh kepala keluarga telah setuju dan lima puluh kepala keluarga besar membentuk lima aliansi yang siap membantu dan tunduk dengan peraturan NUGRAHA Corp." jawab Any.


"Berarti mulai besok infrastruktur bisa mulai dikerjakan, sebentar saya telpon Elya biar pekerjaan segera dimulai." ucap Arya sambil mengeluarkan ponsel dan melakukan panggilan pada Elya.


"Iya kak ada apa..?" suara merdu dari seberang telpon.


"El..? ini Any dan Verra sudah sampai dipavilyun, mereka melaporkan kalau tekken kontrak sudah deal jadi kontraktor infrastruktur mulai besok suruh memulai pekerjaannya." ucap Arya.


"Siap kak..?" ucap Elya.


"KLIK" panggilan di matikan Arya.


Dari ruangan Verra dengan Rangga keluar dan bergabung dengan Arya dan Ani yang sedang mengobrol santai.


"Luar biasa ndan, fasilitas di pavilyun ini bigitu istimewa, ini benar-benar tempat untuk sang pendaki." ucap Rangga memuji pavilyun.


"Sekarang kalian istirahatlah, nanti jam 19.00 WNT kalian kumpul lagi disini ada yang perlu kita bahas." ucap Arya sambil berdiri dan melangkah meninggal kan tempat.


Arya memiliki karakteristik khas seorang pemimpin yang begitu berwibawa dan kharismatik juga sangat loyal pada bawahannya.


Seiring berjalannya waktu, malam pun dengan angkuh mulai menguasai bumi.


Black, Any, Verra dan Rannga telah berkumpul kembali dengan Arya di Pavilyun.


"Aku mengumpulkan kalian disini untuk membahas masalah SISPALA, keadaan memaksa kita untuk segera membentuk organisasi ini. Kira-kira apa nama untuk SISPALA ini..?" ucap Arya.


"AMUBA sinkatan dari Angkatan Muda Untuk Bakti Alam." ucap Any.


"Bagus apa ada usulan lain..?" ucap Arya lagi.


"Saya kira AMUBA sudah sangat bagus dan cocok, saya setuju." jawab Black.


"Saya juga setuju." jawab Verra.


"Walaupun saya bukan siswa sekolan ini namun saya hadir disini, saya sependapat dengan usulan Any, Angkatan Muda Untuk Bakti Alam selain singkatan nama yang sangat mewakili kaum muda untuk berbakti pada alam, AMUBA juga sangat cocok untuk mewakili organisasi ini, amuba atau Amoeba termasuk ke dalam salah satu makhluk mikroskopik yang tak dapat terlihat dengan mata biasa tanpa alat bantu seperti kaca pembesar, namun mempunyai dampak yang sangat besar terhadap segala aspek kehidupan dan amoeba sendiri berasal dari kata Yunani amoibe yang berarti perubahan. Jadi nama AMUBA juga memberi makna pada kita yang membuat suatu perubahan di sekolah khususnya dan alam semesta umumnya." jelas Rangga panjang lebar.

__ADS_1


"Benaaar kak Rangga maksut saya juga begitu." kata Any.


"Baiklah kalau semua sudah setuju kita namakan organisasi kita dengan AMUBA, dan untuk ketuanya VERRA VERONICA ALAMSYAH bendahara RIANI ANGGARA dan YOGI YOHANNES atau BLACK ant." ucap Arya menunjuk langsung mereka.


"Kenapa mesti saya..? bukannya kak Arya yang lebih cocok jadi ketua organisasi ini..?" sanggah Verra.


"Iya betuuuul" kata Any, Yogi dan Rangga.


"Saya jadi pembinanya, disamping dalam waktu dekat saya harus meninggalkan sekolah kalian juga harus mulai belajar mandiri, kalian harus belajar mengambil keputusan yang tepat sendiri tanpa mengandalkan saya." ucap Arya tegas.


"KAMI SETUJU." ucap mereka serempak setelah mendengar penjelasan Arya.


"Baiklah kalau semua sudah setuju, mulai besok kalian sudah mulai bekerja, para siswa yang sudah mendaftar besok berkumpul di lapangan utama sekolah dan sudah diberi ijin, untuk deklarasinya besok pada saat penutupan MOS." kata Arya.


"Kalau sudah tak ada usulan lain saya anggap masalah AMUBA sudah deal." ucap Arya kemudian.


"Maaf ndan ini keluar dari masalah AMUBA, tujuan saya kesini selain mengantarkan Verra saya juga ingin menyampaikan kalau pembangunan Villa dan Ruko sudah 50%, kalau ada waktu saya mohon komendan mau melihatnya." ucap Rangga.


"Okey saya akan melihatnya lain waktu untuk saat ini saya akan menyelesaikan dulu permasalan disini, tapi sebenarnya masalah pembangunan Villa dan ruko saya sepenuhnya sudah percaya padamu." kata Arya.


"Terima kasih ndan, cuma itu yang bisa sampaikan karena waktu sudah cukup malam saya mohon diri." ucap Rangga.


"Baiklah saya tidak bisa menahan anda tetap berada disini, kalau begitu silahkan." jawab Arya.


"Saya undur diri ndan..? selamat malam." ucap Rangga seraya berdiri dan meninggalkan tempat. Sementara itu Verra mengikuti dibelakangnya.


...°•°•°•°•°•°•°•°...


...CREATED, DESI 2021...


...~°• CINK's eL A •°~...


..."Kedewasaan dapat diartikan kematangan dalam berpikir, bersikap, bertindak dalam mengambil suatu keputusan dengan bijaksana."...


...•°•°•°•°•°•°•°•...

__ADS_1


__ADS_2