
Suasana diruang aula pertemuan saat itu sangat hidup, semua orang saling berbincang-berbincang dengan sangat akrab, ada senyum disetiap canda mereka dan ada tawa yang menghiasi tiap lelucon diantara mereka. Mereka tidak membedakan kartu apa yang mereka punya karena kemampuan dan potensi mereka yang akan menunjukkan siapa mereka.
"Semuanya..!? maaf telah menunggu saya agak lama." ucap Wira saat memasuki aula pertemuan.
"Kemaren ada peristiwa besar yang terjadi hingga saya mengumpulkan teman-teman pecinta alam." ucapnya lagi sambil menuju tempat duduknya.
Aula pertemuan langsung berubah menjadi tenang, saat mendengar suara berat penuh wibawa Wira Buana. Semua yang hadir langsung berdiri dari tempat duduknya dan memberi salam padanya.
"Salam wakil manager Wira Buana." ucap mereka bersama-sama.
Wira Buana mengangangkat telapak tangannya sambil menganggukkan kepala, kemudian duduk dikursi bagian ujung meja pertemuan sambil melihat kesemua sisi meja pertemuan itu.
Disisi kiri ada sepuluh kursi enam pemegang kartu hitam dan empat pemegang kartu berlian yang punya potensi dan kemampuan diatas pemegang kartu berlian tapi masih dibawah pemegang kartu hitam. Disisi sebelah kanan ada sepuluh kursi yang semuanya pemegang kartu berlian.
"Mari kita bicarakan masalah yang besar yang saya katakan tadi sambil duduk." ucap Wira.
Kedua puluh peserta pertemuan duduk saat mendapat perintah Wira Buana.
"Selamat pagi untuk semua anggota pemegang kartu Berlian dan Hitam, saya mengumpulkan kalian karena kemaren pukul 17.00 WNT, lewat radio komunikasi kita di frekuensi 143.666 MHz saya mendengar ada sekelompok pecinta alam yang telah mencapai titik tertinggi puncak SNOWPEAK, yang artinya legenda puncak tak terjamah hari ini telah terpecahkan. Namun sayangnya kita tidak bisa mengetahui dari mana kelompok pendaki itu..? dan siapa mereka..? Tadi pagi aku menghubungi pos pendaftaran dan perijinan mereka mengkonfirmasi kalau seminggu terakhir tidak ada seorangpun yang ijin mendaki gunung puncak salju." kata Wira menjelaskan.
"Maaf Mr. Wira..? dalam radio apa tidak menyebut nama atau kelompok..?" tanya Siska salah satu anggota pemegang kartu hitam, setelah mengangkat tangan dan berdiri.
"Ada..!? Dalam suara radio kemaren menyebut beberapa nama Komandan Arya, Jack dan Rafi, saya yakin Arya inilah yang telah mencapai titik tertinggi, tapi..? sebentar-sebentar..? Arya..!? apakah dia Anggota kartu hitam kita yang baru..? Arya Nugraha..!?" jelas Wira sambil mengerutkan keningnya menandakan dia berfikir keras saat itu.
Sementara itu Devi mengangkat tangannya dan berdiri.
"Bapak wakil manager maaf..!? saya yakin Arya yang disebut dalam suara radio itu adalah kak Arya Nugraha yang sama." ucap Devi dengan mode sangat meyakinkan.
__ADS_1
"Atas dasar apa saudari Devi meyakini itu..? menurut data di Internal Pecinta Alam, memang Arya ini pemecah rekor tebing tiga bintang, namun dia masih sangat muda..? apa mungkin dia sehebat itu..? belum ada yang bisa mencai titik itu, puncak salju tak terjamah karena ada fenomena alam yang melindunginya. " kata Siska tidak yakin.
"Devi bukannya kamu satu sekolah dengan Arya Nugraha..? apa dia pernah membicarakan tentang rencanya mau mendaki puncak salju sebelum liburan semester ini..?" tanya Wira.
"Benar bapak wakil manager kak Arya memang satu sekolahan dengan saya dan juga sering latihan panjat bersama bahkan sekarang kak Arya dan saudari kembarnya kak Elya sepakat kita angkat menjadi pembimbing dan pembina di SISPALA INTERNATIONAL SCHOOL, namun selama ini kak Arya tidak pernah membicarakan gunung puncak salju, tapi yang membuat saya yakin kalau pendaki itu kak Arya adalah pertama diusianya yang ke 17 dia bisa memecahkan rekor yang tak terpecahkan selama puluhan tahun, dan yang ke dua kak Arya saat ini menetap di hutan larangan, Dan kita semua ketahui hutan larangan itu sendiri adalah kaki gunung snowpeak sebelah Selatan..?, maaf bapak wakil manager apakah ada rekaman suara radio itu saya dapat mengenali suara kak Arya." jawab Devi.
"Maaf karena sore itu saya tidak sengaja mendengar percakapan itu, jadi saya tidak sempat merekamnya." ucap Wira.
"Begini saja bapak wakil manager, mulai besok sampai hari yang belum kita tentukan, kita menugaskan anggota kita di tiga titik pintu pendakian titik Barat, Timur dan Utara untuk menunggu pendaki yang turun dari gunung snowpeak dan khusus untuk hutan larangan saya siap stand by disana." ucap Devi.
"Saya setuju dengan usulan Devi, menurut catatan, jarak tercepat pendakian puncak salju lewat hutan larangan namun wilayah itu milik Nugraha corporation. Jadi yang bisa melewati jalur itu sudah jelas hanya orang-orang Nugraha corporation atau yang tinggal di hutan larangan saja yang bisa melewati jalur itu. Berarti tinggal tiga jalur ini yang perlu kita jaga. Bagaimana pendapat kalian setuju..? Perlu digaris bawahi saya mencurigai kelompok ini berasal dari hutan larangan." kata Wira dengan tegas.
"SETUJU.." jawab semua yang hadir disana, setelah Wira menghentikan perkataanya.
"Baiklah kalau semua sudah setuju, dan untuk pengaturan selanjutnya saya serahkan pada nona Siska silahkan. Dan saya akan pergi ke kantor pencatatan rekor." ucap Wira sambil berdiri dari tempat duduknya dan melangkah pergi.
Rasa penasaran yang menumbuhkan semangat pada setiap orang untuk mengetahui siapa orang hebat yang telah mencapai titik tertinggi puncak salju membuat semua yang hadir sangat antusias dan menerima pembagian jadwal mereka.
Devi tersenyum, dalam hatinya yakin kalau Arya yang telah mencapai titik tertinggi itu.
Sedangkan Siska juga tersenyum sambil melambaikan tangannya.
"Okey sampai disini dulu pertemuan kita, dan untuk yang mendapat giliran jaga silahkan mengkoordinir anggota dibawah kalian, dan selamat bekerja." ucap Siska menutup pertemuan.
Satu komando, dan semua anggota meninggalkan aula pertemuan dan mereka kompak bertekad mengungkap identitas misterius sang pendaki.
...******_°•°_******...
__ADS_1
Hari kedua setelah Arya dan Elya mencapai titik tertinggi puncak salju 4884Mdpl. Suasana di bawah puncak salju terlihat empat belas pendaki telah selesai packing dan membersihkan lokasi, mereka duduk melingkar dan membicarakan rencana menuruni lokasi itu dan mereka juga belum mengetahui kalau pendakian mereka saat ini sedang membuat gempar gedung pecinta alam dan gedung pencatat rekor.
"Hari ini kita akan menuruni tempat ini, kita akan turun melewati jalur barat sesuai informasi Rafi jalur itu agak terjal namun tidak melawati tebing, bagaimana..? ada yang punya usul..?" tanya Arya pada teamnya.
"Saya setuju Ndan, karena kalau kita lewat jalur timur walau jalurnya sedikit landai kita terlalu jauh memutar." jawab Jack.
"Okey masuk, ada pendapat lain..?" tanya Arya lagi.
"Ya kita turun lewat jalur Barat tapi sampai batas vegetasi kita tetap memutar lewat lembah gondo arum, karena tidak mungkin kita keluar lewat pos perijinan jalur Barat." ucap Nandhita.
"Saya setuju usulan kak Nandhita, kita mendaki tanpa seijin pos pendakian mana pun jadi kalau kita turun lewat salah satu pos sangat dimungkinkan itu akan sangat merepotkan kita." Rafi mengeluarkan pendapatnya.
"Ada usulan lain..? kalau tidak, sesuai masukan kalian kita lewat jalur barat dan setelah sampai batas vegetasi kita memutar lewat lembah gondo Arum, dan Jack, Nandhita untuk mencegah hal-hal yang tidak kita inginkan, sewaktu-waktu ada sinyal kirim video rekaman ke kantor pecinta alam dan kantor pencatat rekor." kata Arya dengan tegas.
"Siap ndan.. Siap kak..?" ucap Jack dan Nandhita bergantian.
"Karena sudah semua, sebelum kita berangkat, mari kita berdo'a menurut agama dan kepercayaan kita masing masing. Berdo'a mulai." ucap Arya memimpin do'a.
Dengan khusuk sambil menundukkan kepala masing masing mereka memohon keselamatan pada Tuhan Yang Maha Esa.
Dan perjalanan turun dimulai..
...CREATED, 2022...
...~°• CINK's eL A •°~...
..."Mendaki dan menggapai titik tertinggi bukan hanya untuk mengibarkan sebuah bendera, tetapi untuk menjalani tantangan, menekan keegoisan diri dan juga melihat luasnya dunia yang hanya seluas langkah kita, Maka mendaki dan teruslah melangkah untuk melihat dunia bukan untuk dilihat dunia."...
__ADS_1