SANG PENDAKI

SANG PENDAKI
RIANI TERJATUH


__ADS_3

Rombongan pun bersiap mengikuti komando Verra. Perjalanan masih terbilang lancar hingga.. .. ..


"BRUUUUUAAAAK"


Batu yang dipijak Ani bergerak membuatnya hilang keseimbangan dan terjatuh.


"Awwwwww sakit." ucap Ani sambil memegangi kepalanya yang mulai mengeluarkan banyak darah.


Arya memeluk erat tubuh Ani sambil berteriak panik, dalam sekejab banyak orang berdatangan dan membantu mereka.


Arya berlari menuruni jalan berbatu terjal sambil menggendong tubuh Ani dalam pelukannya.


"Beri saya jalan cepat." ucap Arya sambil berlari menuruni jalan berbatu terjal sambil menggendong tubuh Ani dalam pelukannya.


Tiga puluh menit berlari tanpa henti hingga sampai kedalam Lamborghini dan menuju rumah sakit terdekat.


Selama perjalanan Arya sesekali memperhatikan Ani, tangannya terus menutupi luka yang masih terus mengeluarkan darah, membuat Arya bertambah panik.


Sebenarnya Ani terjatuh tidak terlalu keras namun karena kepalanya membentur tebing batu yang runcing membuat luka robek di kepalanya lumayan parah.


"Ani, sebentar lagi kita sampai, tahan ya..?" ucap Arya begitu lembut memperlakukan Ani. Rasa bersalah karena tidak sigap menangkap Ani yang terjatuh di sampingnya waktu itu membuat dirinya merasa bersalah.


"Maafkan saya, ini semua salah saya kenapa tidak cepat mensngkap tubuhmu saat terjatuh." ucap Arya, tanpa sadar terus mengusap lembut pipi Ani.


Perlakuan Arya yang begitu lembut dan sangat manis membuat Ani terharu dan meneteskan air mata.


Arya yang melihat Ani menangis semakin panik dan khawatir.


Arya semakin mempercepat laju Lamborghininya, dia menginjak pedal gas semakin dalam tak menghiraukan keselamatannya.


Tak menunggu lama akhirnya mobil sampai di lobby rumah sakit, Arya segera keluar dari Lamborghini dan mengendong tubuh gadis itu dan berlari membawa Ani memasuki ruang UGD.


Arya masih menunggu diluar ruang UGD, saat ini Ani masih mendapat penanganan medi dari dokter.


"Andai tadi aku dengan cepat menangkap tubuh Ani kejadian ini tak mungkin terjadi" gerutu Arya masih menyalahkan dirinya sendiri.


DRRRRRTTTTT DRRRRRTTTT


Ponsel Arya bergetar tanda ada panggilan masuk.


"Kak Arya gimana kabar Ani..?" tanya suara Verra setelah Arya menerima panggilan itu.


"Masih penangganan dokter di UGD, Ver.. semua ini karena kelalainku, aku tidak cepat-cepat menangkap tubuh Ani." jawab Arya masih menyalahkan diri sendiri.


"Okey kami segara kesana..!?" jawab Verra dan memutus sambungan telepon.


Saat Arya masih menyalahkan dirinya sendiri, dokter yang tadi menangani Ani keluar dari ruang UGD.


Arya dengan buru-buru menanyakan keadaan Ani kepada dokter itu.


"Dokter bagaimanaa keadaan teman saya..?" tanya Arya khawatir.

__ADS_1


"Ada beberapa memar di punggung dan bahu pasien dan luka sobek dikepala akibat benturan, tapi sudah kami tangani dan sejauh ini kondisinya tidak terlalu mengkhawatirkan, tak perlu rawat inap setelah ini boleh pulang," jawab dokter itu.


"Hmmmmmm..?" Arya menarik nafas lega mendengar penjelasan dokter.


"Apa saya boleh masuk melihat kondisinya sekarang," tanya Arya lagi.


"Silahkan..!? harap jaga ketenangan," kata dokter itu lalu melangkah pergi.


Arya melangkah pelan menuju ranjang tempat Ani terbaring. Luka dikepalanya sudah dijahit dan dibalut perban dan gadis itu sedang terlelap.


Arya duduk dikursi dihadapan Ani yang berbaring miring, dia mengusap lembut rambut Ani dan mengecup pipi gadis itu.


"Maafkan aku yang tidak bisa menjagamu," ucap Arya lirih.


"Tok tok tok" pintu ruang UGD yang diketuk


Arya menoleh dan terlihat Elya, Verra dan Black. Pandangan mereka beradu terlihat penyesalan di wajah Arya. Elya yang melihat itu.


"Sudahlah kak itu semua sebuah kecelakaan, Elya sudah mendengar ceritanya, jadi jangan terlalu menyalahkan diri kakak sendiri." ucap Elya menghibur kakak tersayangnya.


"Kata perawat juga tidak begitu mengkhawatirkan, hanya menunggu Ani bangun kita sudah boleh pulang," sambung Black.


"Hmmmm benar, kata dokter juga begitu Black..? cuma Ani jatuh didekatku dan aku tidak bisa menyelamatkannya, bodohnya aku," ucap Arya masih menyembunyikan rasa aneh di hatinya.


"Ndan saya kedepan dulu, saya sudah lega melihat keadaan Ani, aku mau beli kopi apa komandan mau," ucap Black sambil melangkah pergi tanpa menunggu jawaban Arya. Sementara itu Ani mulai membuka matanya.


Melihat itu Elya dan Verra mendekat.


"Udah baikan Kak..!" jawab Ani.


"Ver..!? ayo ikut aku menyelesaikan administranya," ajak Elya pada Verra.


"Ayooo" jawab Verra singkat sambil mengikuti langkah Elya keluar ruangan.


Melihat mereka meninggalkan ruangan Arya mengusap lembut lagi rambut Ani.


"Maafkan aku yang tidak bisa menjagamu." ucap Arya penuh sayang.


Melihat Arya yang begitu lembut dan menyayanginya ada perasaan senang dan ingin menjahilinya.


"Aww sakit sekali." ucap Ani sambil memegangi luka dikepalanya.


Arya mendekatinya lagi, dan dengan reflek Arya kembali memeluk gadis itu untuk menenangkannya.


"Kak Arya khawatir ya sama keadaan saya." ucap Ani menggoda Arya yang masih memelukannya.


Segera pelukan itu dilepas Arya, dengan heran ditatapnya gadis itu yang telahmengerjainya.


"Cup" Arya mengecup bibir gadis itu.


"Itu hukuman buatmu yang telah mengetjaiku" kalimat yang keluar dari mulut Arya dengan mengelus lembut rambut gadis itu.

__ADS_1


Ani membeku kehilangan keberanian.


"Kakak jahat, telah mencuri bibir saya." Ani histeris menerima perlakuan Arya yang diluar dugaannya.


"Rasain memang enak di kerjain." Arya mencoba membalas kata-kaya Ani dengat santai seolah tanpa beban.


"Permisi tuan dan nona ? administrasi sudah dilunasi, dan kondisi nona Ani sudah baik, nona sudah diperbolehkan pulang." ucap suster menengahi mereka.


"Baik, terima kasih." jawab Arya singkat.


"Ayo, istirahatlah dirumah, dan awas kalau mengerjai saya lagi, bukan hanya kecupan sekali tapi kecupan sampai aku puas." Arya berbicara dengan santai seolah-olah itu hal yang biasa baginya.


Sementara Ani merasa dirinya disetrum dengan ribuan volt mendengar ucapan Arya yang dengan santai itu.


"Ayo, apa aku harus mengendongmu lagi untukkeluar dari sini ? ucap Arya lagi.


"Tidak, tidak aku bisa jalan sendiri," Ani berkata sambil melangkahkan kakinya meninggalkan Arya yang masih berdiam diri.


Arya mengikuti langkah Ani yang keluar dari ruang UGD menuju parkiran. Disana Ani disambut oleh Elya, Verra dan Black.


Dan mereka pulang dari rumah sakit itu Arya satu mobil dengan Elya, sedangkan Black, Ani dan Verra satu mobil yang lainnya.


"Kak Arya kapan kita akan berangkat ke kota baya..? tanya Elya saat mereka sudah berada dalam Lamborghini.


"Ini masih bulan tujuh, tapi setelah pembangun Villa di hutan larangan selesai kita secepatnya pindah kesana." jawab Arya sambil menekan gas melajukan Lamborghininya keluar dari komplek rumah sakit.


"Apa kamu sudah mengurus surat pindah sekolah." tanya Arya.


"Belum, tapi bila kita akan segera ke kota baya aku akan segera mengurusnya." jawab Elya.


" Iya kita memang harus segera membicarakan ini secepatnya dengan pihak sekolahan." ucap Arya kemudian


Setelah beberapa lama melaju akhirnya sampai di pavilyun, Arya sudah memarkiran Lamborghininya digarasi biasanya ia memarkir.


Arya keluar dari lamborghini, berjalan memutar menuju pintu dimana Elya duduk, Arya membuka dan menggenggam tangan Elya dan memintanya turun.


"Ayo turun kita sudah sampai, kamu istirahal di pavilyun apa mau pulang..?" ucap Arya sambil membimbing adiknya turun dari Lamborghininya.


"Udah jam 00.15 WNT kak..? Elya nginep sini aja ya..?" jawab Elya sambil bergelayut manja di pundak kakaknya.


Mereka berdua terlihat sangat mesra, kalau ada yang melihat pasti mengira Arya dan Elya adalah pasangan kekasih, karena setiap kebersamaan mereka selalu menampilkan adegan yang romantis. Padahal di hati mereka murni tak ada peerasaan lain selain hubungan saudara kembar identik yang saling terkait.


...°•°•°•°•°•°•°•°...


...CREATED, DES 2021...


...~°• CINK's eL A •°~...


...°•°•°•°•°•°•°•°...


...setiap kata adalah do'a, setiap do'a tidak harus dengan kata-kata....

__ADS_1


__ADS_2