
PUKUL 08.00 WNT
Mereka mulai bergerak menuruni gunung Snowpeak, mereka berjalan cukup santai dan melihat pemandang alam yang ter bentang luas dari ketinggian 4666 Mdpl. Bagai melihat hamparan permadani hijau berhias kabut putih tipis sungguh pemandangan yanh sangat indah.
Perjalanan turun tak begitu menyulitkan mereka, selain mereka lewat jalur resmi, mereka juga tak lagi harus bergelantungan mengantungkan nyawa mereka pada seutas tali carnmantel.
Mereka berjalan pada siang hari dan malam harinya mereka beristirahat. Pada hari kedua pukul 16.30 mereka sampai di batas vegetasi, tempat dimana mereka mendirikan tenda waktu berangkat.
"Kita istirahat dan mendirikan tenda disini." ucap Arya.
"Siap ndan." ucap Rafi dan dengan cepat menyuruh anggotanya mendirikan empat tenda untuk istirahat dan satu tenda dapur.
"Kak Arya disini ada jaringan internet, saya akan mengirim file video pemanjatan puncak salju pada kantor pecinta alam." ucap Nandhita.
"Ya secepatnya file itu terkirim lebih bagus, karena aku merasa bersalah waktu berangkat pendakian tidak memberi kabar terlebih dahulu." jawab Arya tegas.
Mendengar percakapan Arya dan Nandhita. Elya mengeluarkan Apple MacBook Pro 15 Inch dari daypacknya.
"Nandhita pakai ini saja sekalian aku juga mau lihat videonya." ucap Elya sambil memberikan Apple MacBook Pro 15 Inchnya pada Nandhita.
Nandhitha menerima Apple MacBook Pro 15 Inch dari tangan Elya lalu memasukan sebuah memori card dan memutar sebuah file video dalamnya.
"Teman-teman yang mau melihat perjuangan kak Arya dan kak Elya silahkan." ucap Nandhita pada team pendaki yang berada disana, sesaat setelah ia mengirim file ke kantor pecinta alam dan memutarnya.
Mereka pun berkumpul melihat video yang berada di layar monitor Apple MacBook Pro, sesaat menahan nafas dan sesaat kekudian menghembuskan secara perlahan, ketegangan terlihat nyata diwajah-wajah mereka yang melihat setiap adegan dalam video.
"DRRRTTTT DRRRTTTT"
Ponsel Arya bergetar tanda ada panggilan
"KLIK"
Arya menerima panggilan itu.
"Kak Arya..!! selamat ya..!? kak Arya jahat mendaki puncak salju gak bilang-bilang, selama ini juga pengen mendaki kesana tapi tak ada temannya..!? kalau tau kak Arya dan kak Elya kesana aku past ikut.." suara Devi nyrocos saat panggilan diterima Arya.
__ADS_1
"Ha.. ha.. ha.. dasar anak gunung, ngomong itu satu-satu jangan nyocos kayak lokomotif..!? tapi terima kasih ucapannya." jawat Arya.
"Sekarang siapa yang anak gunung sejati hayoooo..? kaka tu yang anak gunung, eh sekarang sudah sampai mana..? perkiraan sampai hutan larangan kapan..?" tanya Devi kemudian.
"Sekarang kita lagi ngecamp di batas vegetasi, perkiraan.. tut..tuuut..tttuuutt." belum sempat Arya menyelesaikan ucapannya sambungan terputus. Arya melihat ke layar ponselnya yang ternyata jaringan putus.
"Hmmm jaringan hilang, Jack pasang pesan ke penjaga hutan larangan perkiraan dua hari lagi kita sampai, nanti kalau ada jaringan otomatis terkirim pesan itu, ponselku low batt." perintah Arya.
"Siap ndan ini saya juga sudah memberi tahu mereka." jawab Jack.
"Bagus Jack, sekarang kita kembali ketenda masing-masing dan beristirahat, besok kita harus menuruni tebing itu kalau memutar terlalu banyak waktu yang kita butuhkan, yang berarti kita membutuhkan stamina yang fit." ucap Arya.
Satu komando yang tegas dan mereka semua mengikuti komando itu. Malam belum begitu larut namun karena kondisi mereka yang letih mereka pun sudah terlelap.
Rasa lapar membangunkan Rafi lebih awal, dia melihat jam dipergelangan tangannya yang menunjukkan pukul 03.30 WNT. Dengan cepat ia bangun dari tidurnya, tanpa rasa malas ia bergegas menuju tenda dapur.
"Aku akan memasak untuk mengisi perutku dan menyiapkan makanan untuk semua teman-teman." ucap Rafi dalam hati. Dengan cekatan Rafi mulai memasak, seperti seorang koki ahli dengan cepat ia menyelesaikan semua masakannya dan bersanmaan dengan itu Jack dan Elya keluar dari tenda.
"Kak Elya..?" Jack menyapa Elya.
"Siapa yang memasak Jack..? saya kira kamu yang masak." ucap Elya.
" Bukan Jack, tu Nandhita masih tidur..! dia terlihat kecapekan Jack..? Hmmmmm harum banget aroma masakan ini..?" ucap Elya sambil melangkah menuju tenda dapur dan melihat siapa yang memasak. Sedangkan masih tetap diam didepan tendanya.
"Rafiiii.. harum banget aroma masakanmu..?" ucap Elya saat melihat siapa yang memasak.
"Hmmm hhh.. kak Elya mengagetkan saja..? kakak terlalu memuji masakan saya biasa saja kok kak..? mungkin karena kita lagi lapar saja, saat mencium aroma masakan jadi tambah harum..?" jawab Rafi sekenanya. Elya tak menyahuti ucapan Rafi hanya kepalanya saja yang mengangguk-angguk.
"Kakak mau mencicipi masakan Rafi..?" tanya Rarfi kemudian.
"Nanti saja Raf.. biar teman-teman bangun dan makan dulu aku dan kak Arya belakangan." jawab Elya dan melangkah meninggalkan Rafi.
Kemudian Elya mendekati Jack yang masih mematung didepan tendanya.
"Jack bangunkan teman-teman, sudah pagi waktunya kita siap-siap melanjutkan perjalanan." perintah Elya dan tanpa menunggu jawaban Jack dia pun masuk kedalam tendanya sendiri untuk membangunkan Arya dan Nandhita.
__ADS_1
Yang ternyata Arya da Nandhita sudah bangun, bahkan mereka sudah merapikan tempat itu.
"Maaf aku bangun agak kesiangan, jadi mungkin kita berangkat agak kesiangan, aku belum memasak." kata Nandhita.
"Tenang Nandhin..? Rafi sudah memasak buat kita pagi ini." jawab Elya.
"Memang pendaki harus mandiri, kalau tak mau kelapan, baguslah.. kalau Rafi sudah memasak." kata Arya.
Lima belas menit kemudian, semua anggota team sudah berkumpul di tenda dapur, mereka mulai memasukkan makanan kedalam mulut mereka masing-masing.
PUKUL 08.00
Arya memimpin rombongan menuruni tebing curam, satu persatu pendaki melewati karmantel tempat mereka bergantung saat itu.
Ya hanya seutas tali dengan diameter 10,2mm mereka mengantungkan nyawa mereka, uang atau harta benda lainnya tak berguna saat seperti itu, tak ada sikaya atau simiskin yang ada saling mendukung, tak ada pangkat atau kedudukan semua sama. Sama-sama bergantung pada sebuah tali karnmantel 10,2mm.
Tepat tengah hari mereka semua sudah berhasil melewati jalur terexstrem pada pendakian saat itu.
"Kita lanjut saja kak, perkiraan sebelum gelap kita sudah sampai Danau Gondo Arum." ajak Nandhita.
"Baiklah kita lanjut perjalanan, kita ngecam di Danau Gondo Arum." ucap Arya.
Mengunakan kompas tiga dimensi Arya masih memimpin rombongan, sejauh ini tidak ada rintangan dalam perjalanan mereka. Matahari pun telah digantikan redup sinar rembulan yang mulai tertutup kapas-kapas kelabu yang mulai bersiap meneteskan airnya, saat rombongan sampai di Danau Gondo Arum.
Aroma harum bunga Kantil seakan menghipnotis jiwa-jiwa lelah para pendaki. Setelah selesai mendirikan tenda mereka langsung terlelap tanpa peduli perut mereka minta diisi.
Pagi harinya masih seperti hari-hari sebelumnya selesai sarapan dan membersihkan sampah mereka bersiap melanjutkan perjalanan.
"Mudah-mudahan perjalanan kita lancar, dan nanti sebelum malam kita sudah sampai hutan larangan, Untuk memulai perjalanan berdo'a mulai." ucap Arya memimpin do'a.
Dengan khusuk sambil menundukkan kepala masing masing dari mereka memohon keselamatan dan kelancaran perjalanan mereka pada Tuhan Yang Maha Esa.
Dan perjalanan mereka berlanjut..
...CREATED, 2022...
__ADS_1
...~°• CINK's eL A •°~...
..."Aku mendaki gunung bukan untuk menaklukkannya. Tapi aku mendaki gunung untuk mengenal kebesaran dari Sang Maha Pencipta, dan gunung itu telah menjawabnya."...