SANG PENDAKI

SANG PENDAKI
GADIS PENJUAL BUNGA


__ADS_3

Namun tiba-tiba..!!..


"Terima kasih Tuan..? terima kasih mawar damaskusnya, apa yang bisa saya lakukan untuk anda..?" ucap seorang gadis yang tiba-tiba memegang tangan Arya dan mencium punggung tangan itu.


Arya menepis pelan tangan lembut itu.


"Jangan berterima kasih pada saya, bunga itu pemberian adik saya ini, berterima kasihlah padanya." ucap Arya sambil menunjuk Elya. Arya pun meninggalkan tempat di ikuti oleh Elya dan Devi. Tanpa memperhatikan gadis yang diam terpaku ditempatnya.


Merasa belum mendapatkan jawaban yang memuaskan hatinya gadis cantik itu segera mengejar pemuda dan kedua gadis yang bersamanya.


Namun dia hanya melihat bagian belakang Lamborghini yang menjauh dari resto itu.


"Sungguh pemuda kaya yang misterius." gumamnya dalam hati.


Sementara gadis itu masih bingung harus berbuat apa, Arya telah sampai di komplek perumahan elit tempat Devi tinggal.


" Apa tidak mampir dulu kak..? ini rumah saya." ucap Devi sesaat setelah turun dari Lamborghini.


"Kapan-kapan aku main kesini, sekarang kakak dan aku ada yang harus dikerjakan." jawab Elya.


"Ya sudah..? oh ya..? dimana sekarang kalian tinggal..?" tanya Devi.


"Kami tinggal di gerbang hutan larangan, main-mainlah kesana kalau pas gak ada kegiatan." jawab Arya sambil melajukan Lamborghininya.


Arya pemuda sederhana dan menaiki Lamborghini membuat semua orang yang melihatnya penuh misterius.


Sesaat kemudian Arya memasuki pintu gerbang hutan larangan, setelah parkir ditempat biasanya Arya dan Elya berniat melangkah menuju villa saat sebuah Jeep Gladiator Rubicon 4WD memasuki tempat itu.


Seorang gadis usia tujuh belasan, mengenakan setelan hitam berpotongan indah, paha lurus berkulit putih bersih mulus dan panjang, sangat menarik perhatian semua orang, pinggangnya yang ramping diatasnya tercetak buah dada yang besar dan montok. leher jenjang dihisi kalung mutira dengan liontin anak kunci emas yang elegan.


Wajahnya cantik halus dan indah, tanpa cacat sedikitpun, kecantikan yang sangat luar biasa.


Ditambah matanya yang berkilau seperti aliran air alami yang tenang dan menawan hati. Bibir merah merekah walau tanpa polesan lipstik sungguh memabukkan


"Tuan mawar damaskusnya mau ditaruh mana..?" ucap gadis itu.


"Oh iya..? bagai mana saya harus memanggil nona..?" tanya Arya bangun dari lamunannya.


"A'ANANDHITA, tuan bisa panggil saya Nandhita," ucap gadis itu.


"Okey..!? Nandhita, kamu taruh dikamarnya Elya karena saya membelikan untuknya." jawab Arya.


"Mari saya tunjukkan tempatnya." ucap Elya.


Arya mengambil dua buket bunga sedangkan sisanya dibawa oleh Nandhita dan dua gadis anak buahnya mengikuti Elya yang berjalan menuntun mereka.

__ADS_1


Sesampainya dikamar Elya, Nanhita dan dua anak buahnya menyusun mawar damaskus sedemikian rupa sehingga saat itu kamar Elya berubah menyerupai sebuah taman mawar damaskus yang sangat indah.


Sedangkan Arya menemui Ani dan Verra.


Arya memberikan satu buket bungga untuk Ani dan sebuket lagi buat Verra.


"Indah banget kak bunga mawar ini..? terima kasih ya kak..?" ucap Ani.


"CUP"


Sebuah kecupan Ani bersarang di pipi Arya.


"Terima kasih kak..? hmmm apakah ini mawar damaskus yang legendaris itu..? benar-benar sesui namanya sangat indah dan mempesona." ucap Verra saat menerima bunga itu.


"CUP CUP"


Dua kecupan Ani dan Verra bersamaan sukses mendarat di pipi kiri dan kanan Arya.


"Sudah-sudah habis pipi aku." ucap Arya bercanda. Arya melangkah keluar dari kamar mereka dan langsung turun ke lantai satu. Disana sudah menunggu Elya dan Dhita serta dua gadis cantik anak buah Dhita.


"Kak Arya mau ditanam dimana..? bunganya ini Nandhita menunggu kakak." ucap Elya.


"Gi mana kalau di danau rumah kayu..? Nandhita ayo ikut saya..? kamu yang lebih tahu dilokasi mana yang tepat untuk menanam mawar damaskus itu..? ajak Arya.


"Ayo.. " kata Arya sambil mengajak Nandhita ke danau rumah kayu.


"Wooouw beatiful..? ini sungguh tempat yang indah kak..? mawar damaskus ini kita tanam disini, dikiri dan kanan jembatan sini saja..? tempatnya bagus, slain tanahnya subur sinar mataharinya juga bagus," ucap Nandhita.


"Arsha, Anjali.. kalian tanam disini saja..?" perintah A'anandhita pada anak buahnya.


"Baik Nona," jawab mereka serempak.


Sambil menunggu Arsha dan Anjali menanam mawar damaskus Nandhita diajak Arya masuk kedalam rumah kayu.


" Nona Nandhita, kalau boleh saya tahu dimana anda tinggal..?" tanya Arya sesaat setelah mereka berdua duduk disofa ruang tamu.


"Hmmmm sebenarnya saya bukan asli dari negara ini, saya baru sebulan disini, saya menempati sebuah rumah kontrakan didekat HARVEST HOTEL 'n RESTO," jawab Nandhita.


Saat mereka sedang asyik mengobrol Arsha dan Anjali masuk menemui mereka.


"Nona Nandhita semua bunga mawar sudah kami tanam," ucap Arsha.


"Bagus, kalau begitu saya pamit pulang dulu kak Arya..? dan untuk perawatan bunga-bunga itu saya usahakan tiga kali dalam sebulan saya akan kesini." ucap Nandhita.


"Terima Kasih sebelumnya, terus berapa biaya yang harus saya keluarkan..?" kata Arya.

__ADS_1


"Semuanya gratis untuk kakak," jawab Nandhita.


"Saya gak mau merepotkan, bilang saja berapa biaya untuk perawatan bunga-bunga itu..? saya gak bisa menerima kebaikan seseorang tanpa saya harus membalasnya." kata Arya tegas.


"Baiklah kalau memang kakak menginginkan itu, tapi biarkan dulu bunga mawar itu berbunga baru saya kasi tahu biayanya." kata Nandhita seolah mengulur waktu.


"Hmmmm baiklah..?" ucap Arya.


"Okey saya dan teman-teman permisi dulu ya kak..?" pamit Nandhita.


"Ya..? hati-hati dijalan." ucap Arya.


Akhirnya Nandhita, Arsha dan Anjali meninggalkan Arya sendirian di rumah kayu. Sementara itu Paman Ben Bibi Resty, Black, Ani dan Verra sedang bersiap-siap untuk kembali ke kota madya sore ini.


Arya masih duduk di sofa rumah kayu, wajahnya nampak datar dan tatapa matanya menerawang jauh kedepan seolah ingin menembus dimensi waktu.


"Siapa dia..? wajah A'anandhita seolah aku telah mengenalnya, tapi dimana..? dan siapa dia..? hmmmm..?" pikiran Arya terus berputar mengumpulkan kepingan-kepingan puzle ingatan yang berserakan dan tak beraturan.


"Gilaaa ini benar-benar gilaaaa.. aku tak bisa menemukan siapa gadis itu dalam ingatanku, namun aku sangat yakin wajah itu aku mengenalnya," gumam Arya yang masih bergulat dengan ingatannya.


"Kak Arya..? ternyata kakak disini..?" suara merdu seorang gadis makin memporak porandakan puzle ingatannya. Arya tersentak bangun dari semua teka-teki yang belum berhasil dia jawab.


"Hmmmmm." suara tarikan nafas yang berat keluar dari hidung Arya.


Elya sudah berdiri disamping sofa tempat Arya duduk.


"Elya apakah kamu memperhatikan wajah Anandhita..? Aku sangat familiar dengan wajah itu, namun aku tidak bisa mengingat sedikitpun siapa dan dimana aku melihat wajah itu..?" tanya Arya pada Elya.


"Iya kak..? aku juga punya pertanyaan yang sama dengan kakak, tetapi kenapa kakak tiba-tiba memikirkan seseorang sampai sebegitunya..?" tanya Elya balik.


Dan Arya pun menceritakan kejadian sebelum Elya datang, Nandhita yang akan merawat bunga damaskus sendiri dan akan datang kesini sebulan tiga kali dan sepeserpun tidak mau di bayar dan itu yang membuat Arya penasaran.


"Dia gadis penjual bunga, tapi kenapa tidak mau menerima uangku saat tenaganya ku butuhkan untuk merawat bunga itu..?" pertanyaan Arya seolah pada dirinya sendiri.


"Ini kota baya El.. kota yang sangat sibuk dan setiap detik berlalu ada harganya, kemampuan dan skil serta keahlian seseorang yang menentukan berapa tinggi harga yang harus di bayar." ucapnya lagi.


"Maaf kak..? saya tahu tentang itu, maksut kakak tak ada yang gratis di kota baya ini kan..?" sahut Elya.


"Tok Tok Tok" suara pintu yang terbuka di ketuk. Arya dan Elya serempak menoleh kearah pintu.


..."CREATED, JAN 2022"...


...~°• CINK's eL A •°~...


..."Masa depanmu diciptakan oleh apa yang kamu lakukan hari ini, bukan besok."...

__ADS_1


__ADS_2