
Empat belas pendaki memulai perjalanan menyusuri jalan setapak, dengan memanggul beban masing-masing tak kurang dari 15 kg. Tegap langkah mereka, dan pantang mundur menghadapi segala cuaca.
Tiga jam sudah mereka berjalan dengan trek datar kadang menanjak tinggi, kini mereka menghadapi jalur yang tidak mudah. Tebing yang terjal yang terkadang diselimuti kabut dan hujan sekarang ikut serta menghadang mereka.
Dinding terjal menghadang kami, batunya licin lantaran tersapu air hujan. Arya dan Elya bergantian merayap menggapai pelataran di atas untuk memasang tali tetap atau fix rope agar rekan lain bisa naik dengan ascender. Carriel-carrriel mereka tarik ke atas dengan katrol kecil yang disangkutkan di celah batu dengan paku tebing.
Perjalanan menegangkan seperti itu mewarnai pendakian mereka hingga dua jam ke depan. Tak hanya menghadapi suhu udara yang sangat dingin, terkadang mereka juga menemukan sisa kotoran binatang di celah-celah tebing yang mereka lewati.
Mereka baru menyadari telah melewati dinding setinggi 75 meter dengan kecuraman 80-90 derajat. Kelelahan dan kedinginan mulai menghantui mereka.
Namun semangat mereka kembali bergelora tatkala melihat sebuah daratan dari balik kabut. Menyusuri tebing punggung barat lembah gondo arum, mereka melewati dua jurang kecil dengan karnmantel dan karabiner.
Pukul 12.30 WNT mereka berhasil menjejakkan kaki di sebuah dataran. Aroma harum semerbak menyambut kedatangan mereka.
"Ini ndan yang saya bilang LEMBAH GONDO ARUM, sebenarnya medannya tidak terlalu sulit bahkan cenderung datar untuk sampai di batas vegetasi gunung Snowpeak, namun kita selalu gagal membuat jalan setapak, dan juga lembah ini sering membuat kita tersesat mutar-mutar di satu tempat." ucap Jack menjelaskan.
"Iya ndan bahkan kita pernah satu hari hanya mengitari sebuah danau yang sangat luas dan ditengahnya ada sebuah gubuk yang berdiri dibawah pohon yang sangat besar." ucap salah seorang pendaki.
"Danau Gondo Arum." gumam Nandhita namun didengar oleh semua yang ada disana.
"Kamu mengenal danau itu..?" tanya seorang pendaki terkejut.
"Ya..!! apa kalian masih ingat jalan kesana..?" tanya Nandhita yakin.
"Pasang tenda disini, kita istirahat sebentar disini." ucap Arya tegas.
Semua pendaki menuruti perintah Arya, mereka membuka carriel dan mengeluarkan tenda lalu memasangnya. Dua tenda dan sebuah tenda besar telah berhasil mereka dirikan.
"Ganti pakaian kalian dulu dengan yang kering dan hangat, cuaca disini sangat dingin tidak bagus pakai pakaian yang basah." ucap Arya, setelah dia sendiri sudah berganti pakaian.
Lagi-lagi tanpa perintah dua kali merekapun menuruti perntah Arya. Hanya butuh beberapa menit mereka berganti pakaian dan berkumpul kembali dengan Arya di tenda yang paling besar.
__ADS_1
"Jack kamu masih hafal jalur menuju Danau Gondo Arum." tanya Arya.
"Masih ndan, aku sudah memasang banyak STRINGLINE di sepanjang jalur menuju danau itu." jawab Jack.
"Kira-kira berapa jam jarak tempuhnya..?" tanya Arya lagi.
"Satu jam dalam kondisi kering ndan, gak tahu kalau kondisi basah seperti ini." jawab Jack dengan pasti.
"Nandhita gimana..? kita lanjut apa ngecam disini dulu..? sekarang kondisi hujan masih turun dan jalur belum pasti." tanya Arya pada Nandhita.
"Sekarang kondisi hujan, pendakian tentu sangat lambat, perkiraan waktu yang dibutuhkan satu setengah hingga dua jam dan sekarang jam 13.45 WNT, masih ada waktu kak, dengan catatan kita berangkat secepatnya." ucap Nandhita.
"Kita akan berangkat jam 15.00 WNT mudah-mudahan hujan sudah reda, sekarang kita masih punya waktu satu jam lima belas menit untuk istirahat dan bersiap-siap." ucap Arya dengan tegas.
PUKUL 15.15 WNT.
Hujan yang mengguyur tinggal rintik-rintik kecil, genangan air di cekungan tanah masih terlihat jelas. Rombongan memulai perjalan lagi. Masih ditemani samar aroma harum. Arya selaku komandan team tak henti-hentinya menyemangati mereka.
Berbagai penampakan mulai mereka alami.
Bermula dari kompas yang tak berfungsi yang jarumnya terus berputar atau tak bergerak sama sekali, hingga suara-suara aneh dan asing yang muncul, suara yang memanggil-manggil nama salah satu dari mereka bahkan ada suara tawa yang melengking jauh dan dalam. Namun mereka tetap melanjutkan pendakian.
Mereka sudah terbiasa mendaki gunung. Mereka sudah mengerti konsekuensi setiap perjalanan yang mereka lalui. Mereka menyadari dunia ini juga di huni oleh makluk yang tak kasat mata. Mereka sudah berjalan sangat lama, seharusnya mereka bahkan sudah sampai danau gondo arum.
Arya melihat teamnya sudah sangat kelelahan, dan menyuruh mendirikan tenda. Namun mendadak mereka dikejutkan dengan suara gamelan di kejauhan. Aroma bunga KANTIL yang tercium oleh hidung mereka semakin beraroma sangat harum.
"Aroma bunga kantil yang pekat ini menandakan kita sudah sangat dekat kak." ucap Nandhita di tengah suasana aneh itu.
Mendengar ucapan Nandhita tak ada yang menjawab, Arya hanya mengangguk pelan, suasana begitu mencekam saat itu. Mereka seperti masuk ke dimensi ruang dan waktu yang lain.
"Maaf kak Arya, biarkan saya yang memimpin jalan sekarang." ucap Nandhita lagi sambil berjalan kedepan memimpin rombongan.
__ADS_1
Sesaat setelah Nandhita memimpin sebuah danau terbentang didepan mereka. Air yang jernih memantulkan cahaya rembulan dibalik samar rerimbunan pohon yang mengeluarkan aroma harum bunga kantil. Ditengah danau ada sebuah daratan disana berdiri angkuh sebuah pohon yang sangat besar dan dibawahnya ada sebuah rumah yang tidak terlalu besar.
"Danau Gondo Arum dan ditengah danau itu adalah Pohon Bunga Kantil yang sudah hidup ratusan ribu tahun." bisik Nandhita pada Arya dan Elya.
"Malam ini kita ngecamp dan dirikan tenda disini." ucap Nandhita pada team.
"Jack dan semua team..!! Lakukan apa yang diperintahkan Nandhita." perintah Arya dengan tegas.
"Dan gunakan Air danau untuk memasak dan membasuh badan kalian, namun satu hal jangan buang kotoran dalam air danau." ucap Nandhita lagi sambil mengambil air danau dengan kedua telapak tangan dan meminumnya.
Seperti di perintah Arya dan Elya pun mengikuti apa yang dilakukan Nandhita, ada sensasi segar saat air danau masuk kedalam tenggorannya, rasa capek dan lelah setelah menempuh perjalan hilang dan tergantikan rasa nyaman dan tubuhnya terasa sangat bugar.
"Aneh namun ini nyata." gumam Elya.
"Jack setelah selesai mendirikan tenda, suruh mereka memasak dan isi semua tempat air minum yang sudah kosong dengan air danau ini." perintah Arya.
"Siap ndan." jawab Jack singkat disela-sela kesibukannya mendirikan tenda.
Empat tenda sudah selesai di dirikan. Setelah selesai memasak dan mengisi perut mereka yang sejak pagi belum terisi makanan. Akhirnya merekapun terlelap dalam dekapan sunyi rimba raya.
PUKUL 00.00 WNT.
Arya terjaga ada sebuah tangan dengan lembut mengoyang tubuhnya yang membuatnya terbangun. Matanya terbelalak kaget saat melihat siapa yang membangunkannya.
...CREATED 1 FEBR 2022...
...~°• CINK's eL A •°~...
...“Saya melambat saat mendaki. Irama alam lebih santai. Matahari terbit, bergerak melintasi langit, dan Anda mulai menyelaraskan dengan ritme itu."...
...~• JOHN MACKEY •~...
__ADS_1