Sang Penggoda

Sang Penggoda
AJI SAKA


__ADS_3

AJI POV 🔞🔞


Flashback On


Aji itulah panggilan ku, usia sudah tidak muda lagi, sudah kepala empat. Aku menikah dengan Siska karena dia mampu menjadi pendamping hidup ku. Tapi ternyata salah, dia berani bermain di belakang ku. Mereka bercanda dan tertawa. Dan aku mengetahui itu dari Tiara. Tiara memang ibu dari putraku, tapi sejak dia kembali, hasrat ku kembali untuk menyentuhnya, walau kami tanpa ikatan. Tapa sadar, Siska ada di depan pintu kamar, karena pintu kamar tak terkunci dan sedikit terbuka. Adegan mesum terjadi.


"Aaaaaahh, mmmmp" racau nya


"Iya sayang, enak nih" racau ku


Aku dan dia tenggelam dalam kenikmatan surga dunia, dan menikmati intim nya tanpa sadar pintu kamar terbuka dan tanpa sehelai benang di tubuh ku.


Braaakkk


Sura pintu di gebrak


"Mas, apa yang kau lakukan?" dengan nada tinggi.


"Bukan apa-apa" jawab ku


"Mas mesum di kamarku, apa kau gila?" dengan nada tinggi, ekspresi wajah marah.


"Dia menggoda ku" aku memegang tangannya, agar dia memaafkan ku.


"Lepaskan aku" dengan penuh kemarahan.


Plaaak


Tamparan itu mendarat di wajah siska. Membekas dan pasti terasa perih.

__ADS_1


"Sayang, besok aku kembali" sambil membelai wajahku.


cup


FLASHBACK off


Setelah Siska memaafkan Aji, bukan berarti Aji tak main belakang. Aji kini menjadi liar dan bahkan jarang pulang. Kalau pulang pun penuh kissmark di lehernya. Sisma selama 3 bulan masih pura-pura diam. Padahal dia tau semua gelagat sang suami.


"Besok aku gak pulang, di suruh sama bos ke pulau M" ucapku


"hmmm" Siska menjawab dengan dingin


Plaaakkk


Tamparan lagi, Siska menangis. Peringati suaminya menjadi kasar. Bahkan kekerasan fisik maupun lisan selalu dia lontarkan sejak bertemu dengan Tiara.


"Aku berangkat dulu, mungkin aku tak kembali" ucap Aji.


"Iya" kalimat pendek yang terucap dari mulutnya.


Tamparan lagi tak terelakkan, bukan kalimat itu yang aku inginkan, karena aku sudah lelah, aku memukulnya, aku tak peduli dengan luka. Mba Tiwi datang melihat luka sekujur tubuh Siska.


Flashback On


"Aku tuh pergi, bukannya bilang hati-hati malah jawba singkat" ucapku


"Apa ada yang salah? setiap kali kau bertemu dia, kau selalu memakiku, bahkan melukai ku" Siska dengan nada marah.


"Buat apa wanita sepertimu, tak berguna" aku yang memaki Siska

__ADS_1


"Tak berguna katamu? Apa kamu sudah buta?" ucap ku


"perekonomian keluarga saja kau tak becus di andalkan, gajimu saja tak keluar jika kau tak penuhi target penjualan" Siska yang meluapkan emosi.


JLEB


Plaaakkk


"Tampar lagi, sekalian bunuh aku" tanpa sadar kaca meja rias remuk akibat di tinju siska.


"Kenapa?" Matanya seperti membunuh ku.


"Baik, kita sebaiknya bercerai, dan mobil, sudah aku atas namakan ibunya anak-anak" ucapku penuh penekanan


Bhuuggg


Kepalan tinju menghantam perutku.


"Itu tak seberapa, buat apa yang akan aku lakukan" ucap Siska.


Aku tak menyangka Siska berani memukulku


Bbbuuuugg


Tinju mendarat di pipi ku, dan menyebabkan memar.


Flashback off


Akhirnya aku pun berpisah, dan jika bertemu, Siska marah, bahkan pernah mengancam ku akan bunuh diri. Terdengar oleh tetangga sebelah ku, tapi memar tubuh Siska pun terlihat oleh tetangga mereka Bu Nina. Wanita sepuh itu.

__ADS_1


__ADS_2