Sang Penggoda

Sang Penggoda
18. Davin


__ADS_3

Alex sampai di rumah dengan sangat lemas,namun di urungkan ketika melihat Davin dengan senyum sumringahnya.Alex tidak ingin dirinya terlihat begitu menyedihkan melihat Davin bahagia walaupun sel kangker terus menggerogoti tubuh kecilnya.


"Davin mau mau makan apa hari ini?"Tanya Alex,ia sungguh lupa dengan makan siang Davin.Biasanya Alex selalu berkunjung ke rumah makan untuk memesan makanan buat Davin.Karena rasa khawatirnya Alex menjadi lupa.Tak masalah,dia bisa order bahkan memasak untuk Davin.Toh,Alex biasa memasak sendiri.Tapi menurut lidahnya,masakannya tidak begitu buruk.


"Davin pengen makan masakan om Alex."Ucap Davin,Alex mengernyitkan dahinya.Masakannya hanya untuk di makan sendiri.Dia usahakan untuk memasak enak buat Davin.


"Baiklah,tunggu di sini ya.Davin maen game dulu.ok!"Ucap Alex bergegas menuju dapur.


Alex mengambil sayuran yang berada di lemari pendingin,dia mengambil pisau lalu memotongnya menjadi bagian-bagian kecil.Dapurnya yang minimalis namun dengan interior yang mewah dan alat masak yang canggih.Alex bisa leluasa untuk memasak.Alex memiliki Apartement ini lantaran dekat dengan kantornya ini.Rumah asli Alex sangat besar dimana kedua orang tuanya berada.Bukan Alex tidak mampu membeli rumah untuk disinggahi seorang diri,namun Alex lebih menyukai Apartement karena hanya untuk persinggahan saja,sebenarnya Alex lebih lama berada dalam kantornya.


Beberapa menit kemudian,bau masakan menyeruak di hidung Alex yang sedang memasak bahkan terdengar di hidung Davin.Alex menyiapkan hidangan dengan semenarik mungkin.Agar Davin memakannya dengan lahap.


"Davin sudah siap,silahkan makan pangeran!"Ucap Alex menyilahkan kursi untuk Davin.Davin terkekeh dengan sikap Alex yang sama persis dengan sikap bundanya.Meisya sering memanggilnya dengan pangeran.Jika mengingat keinginan Davin untuk menjadi besar dan mampu membuka pintu mobil untuk mempersilahkan sang bunda,rasanya itu tidak akan terjadi.Davin sepertinya tidak mampu menepati janjinya.


Davin tersenyum kepada Alex,mencoba memakannya.Masakan Alex begitu lezat sampai di lidah namun tidak begitu dengan perutnya yang menolak.Davin mencoba menelan semampunya sampai habis.Terlihat Alex begitu bahagia mampu membuatkan makanan lezat yang ternyata cocok di lidah Davin juga.


"Om Davin ke toilet dulu ya,mau pipis"Ucap Davin sambil menahan isi perutnya yang ingin keluar.


"Mau di anter om,Davin?"Tanya Alex.


"Tidak perlu om."Teriak Davin langsung bergegas ke kamar mandi.Akhirnya Davin mengeluarkan semua isi perutnya.Paling tidak baginya melihat Alex bahagia melihat memakan habis makanannya yang lezat itu.Davin tidak ingin membuat Alex cemas.Davin menyiram semuanya hingga bersih.


Sedangkan Alex tau benar,dan mendengar Davin memuntahkan seluruh isi perutnya.Alex merasa sedih dan mengingat perkataan dokter yang katanya Davin akan mengalami mual.Itulah mengapa Davin mengalami penurunan berat badan.Bukan karena merasa masakannya tidak enak.Alex telah menyicipinya beberapa kali.Dan menurutnya tentu sangat pas rasanya.

__ADS_1


Davin keluar dari toilet,lalu tersenyum kepada Alex.Alex tau benar,senyuman itu hanya ingin menutupi rasa sakitnya.Alex begitu terkesan juga sedih,Davin yang masih kecil lebih mementingkan menjaga perasaan orang lain.Dan juga Alex makin bertekad akan menyembuhkan bagaimana caranya.


Suara bel berbunyi,Alex segera bergegas menuju pintu,dan melihat siapa yang datang lewat kamera depan pintu.Ternyata Meisya yang membuat Alex ingin mengatakan kenyataan tentang penyakit Davin kepadanya.Wajahnya terlihat cantik,teduh dan senyumnya yang begitu sangat semangat.


"Davin,anak kesayangan bunda"Ucap Meisya memeluk erat Davin.Alex ingin mengatakannya,namun Davin seperti memohon agar tidak mengatakannya saat berpelukan bersama Meisya.Alex juga masih memikirkan bagaimana cara menjelaskannya.


"Sayang sudah makan?"Tanya Meisya sambil menggosok ujung kepala Davin.


"Sudah bun,om Alex memasak buat Davin.Masakan om Alex tak kalah enak dengan masakan bunda"Jelas Davin berusaha tersenyum.


"Wah,maaf lex merepotkanmu lagi"Ucap Meisya tersenyum sungkan kepada Alex.


"Gak repot kok,aku sering memasak sendiri jika berada di rumah."Jelas Alex.Berulang kali Alex, menjelaskan bahwa Davin tidak pernah merepotkan.Hanya perasaan Meisya saja yang selalu tak enak hati kepadanya.


"Ia ada apa lex?"Tanya Meisya.


"E..gaun Vanya bagaimana?"Tanya Alex.Davin yang semula menunduk,mengangkat wajahnya dan tersenyum kepada Alex.Senyuman itu mampu menenangkan hatinya yang gusar.


"Owh nona Vanya sudah menentukan desainnya.Sedikit lagi akan selesai"Jelas Meisya.


"Ayo bun pulang"Ucap Davin.Tidak seperti biasanya Davin ingin pulang sebelum Meisya memaksanya.Tentu Davin takut jika Alex akan segera mengatakan tentang penyakitnya.


Meisya mengernyitkan dahinya"Tumben anak bunda pengen pulang?"Tanya Meisya.Alex hanya terdiam dan cukup mengerti mengapa Davin ingin segera pulang,Davin takut jika Alex berubah pikiran.

__ADS_1


"Ia,Davin kangen sama bunda.Apalagi bunda pasti lelah"Ucap Davin memeluk bundanya dan mencubit pipi bundanya.


"Baiklah sayang"Ucap Meisya tersenyum lebar.


"Lex kami pulang dulu.Terima kasih sudah menjaga Davin"Ucap Meisya.Sudah beribu-ribu ucapan terima kasih untuk Alex.Alex sampai bosan mendengar ucapan itu.


Meisya dan Davin akhirnya sampai di rumah.Meisya memperhatikan wajah dan kulit Davin yang sangat pucat.Tidak seperti biasanya kulit Davin bisa menandingi kulit putih Meisya.Kulit Davin mirip ayahnya tidak terlalu putih.


"Sayang,kau sakit?"Ucap Meisya memegang kening Davin.


"Ti..dak bun"Ucap Davin begitu was-was.


"Kenapa wajahmu dan kulitmu putih pucat?"Ucap Meisya bertanya-tanya.


"Hahaha...bunda gak mau kalah ya sama kulit Davin"Ucap Davin pura-pura ketawa,menghidar dari kenyataan agar bundanya tidak cemas.


"Ah..tapi tidak seperti biasanya kulit Davin jadi putih lebih dari kulit bunda"Ucap Meisya masuk dalam kamarnya.


"Kan Davin tidak mau mirip ayah,Davin mau mirip dengan bunda."Ucap Davin.Yang tentunya membuat hati Meisya teringat kembali kepada Eros.


"Ia sayang,Davin mirip dengan bunda.Lihat kulit Davin sudah lebih putih dari ayah mirip kulit bunda"Ucap Meisya tersenyum kepada Davin.


"Yey..aku mirip dengan bunda"Ucap Davin.Davin berusaha terlihat bahagia,ketika sakit menggerogoti tubuhnya.Cukup bagi Davin melihat bundanya bersedih atas perceraian dengan ayahnya Eros.Davin tidak ingin melihat Meisya menangis lagi.Davin tidak ingin menambah bebannya.Kalian tau?mampukah anak usia Davin berpikir seperti itu.Tidak ada yang tidak mungkin jika di didik dengan cukup baik.Buah tidak jauh jatuh dari pohonnya bukan.Meisya cukup menjadi orang baik.Begitu pun dengan sang putra.

__ADS_1


__ADS_2