
Siska pun akhirnya mencoba berdamai dengan perasaannya. Aji membuat luka sayatan cukup jelas dan membekas. Yang parahnya tidak ada darah, karena yang terluka itu adalah perasaannya. Kecewa sudah pasti, namun ia tak ingin terlalu lama larut dalam kesedihan.
Tak terasa satu bulan Siska masih saja diam, jika bertemu ia selalu menghindar dari Aji. Aji yang setiap weekend jarang pulang kerumahnya, dan mengetahui dari sang kakak. Aji selalu menginap di rumah istrinya yang baru. Yah, siapa lagi kalau bukan dia, Mutia.
drrrrt drrrrt drrrrt
Hp Aji pun berbunyi, lalu tak sengaja ku angkat. Nomor yang tersimpan atas nama Ryan, setelah di angkat, ternyata Mutia.
"Sayang, nanti kamu datang kan? Sayang nanti antar aku ke tempat kakakmu ya?" rengek Mutia.
Aku hanya diam, tanpa berbicara. Wanita itu terus memanggil dengan sebutan sayang.
"Tuhan, kenapa wanita itu datang lagi? setelah meninggalkan Mas Aji, sekarang ia meminta kembali lagi. Apa salah aku membencinya? apa salah aku memintaMu untuk menghukum mereka? Tuhan bantu aku". lalu ia pun bernafas berat.
beban Siska berat sekali, ia makin merindukan orang tuanya. Dan rindu bermain bersama sang keponakan, yang mulai belajar jalan.
__ADS_1
Untunglah sekolah sedang libur, jadi ia bisa pergi ke kampung halamannya yang ada di kota Pekalongan. Ia pun memutuskan pergi, ia tak masalah kalau suaminya tak memberikan uang, karena ia bisa pergi menggunakan uang pribadinya. Pintu pun ku kunci, jendela pun ku tutup rapat. Akhirnya aku pamit dengan Rahmi, dan Ratih. Kunci ku titipkan kepada mereka.
Mereka mencium aroma perselingkuhan. Tapi ku coba tekankan, semua baik-baik saja, aku menegaskan ke kakak ku, bahwa aku rindu orang tua ku. Rindu keponakan kecilku. Tapi alasan ku tak di terima oleh kakak ku, karena mereka tahu apa yang terjadi denganku, walaupun aku menyembunyikan dari mereka.
Akhirnya aku pulang ke desa, tempat ayah dan ibu berada dengan menggunakan kereta api, dan koper kecilku segera ku angkat, karena ojek pesananku sudah datang dan siap mengantarkan aku ke salah satu stasiun.
Sesampainya di stasiun ku coba mengisi perut dengan mie instan cup. Akhirnya, kereta tujuan Pekalongan pun berhenti, dan aku pun menaiki kereta api tersebut. Lalu kereta api pun berangkat menuju kampung halamanku. Walau sepi, tapi aku suka.
drrrrt drrrrt drrrrt
" Kak, kamu dimana?" ucap pria itu.
"Kenapa kamu gak jawab?" ucap pria itu lagi.
"Maaf aku sedang perjalanan pulang. Tapi sekali lagi kamu siapa? bagaimana kamu dapat nomor ini?
__ADS_1
"Aku Mutia, tau nomor kamu dari mana? tentu saja dari sayangku dong, uuups..makanya jangan harap bisa kembali utuh"
Aji kembali kerumahnya, tapi pintu pun terkunci, lalu Aji mendapati secarik kertas di meja makan. Bahwa Siska pergi untuk mencari ketenangan sementara. Aji masih belum menyadari, bahwa Siska terluka akibat ulahnya. Dan tak pernah menyadari bahwa dia egois. Terlalu mementingkan kepentingan pribadi. Tanpa pernah mengetahui perasaan orang lain. Mutia pun semakin hari semakin bersikap sok berkuasa.
Tapi itu tak berpengaruh kepada keluarga Aji. Bukan hal mustahil membuat dia pergi jauh dari kehidupan Aji. Orang tua Aji sendiri mempunyai beberapa petak sawah, dan tanah, rumah. Semua di serahkan kepada Aji.
Walaupun mereka sudah meninggal dan meninggalkan harta, tapi buat Siska yang terpenting adalah keluarga yang utuh. Apa daya sudah tak bisa, semakin lama semakin retak.
****
JANGAN LUPA UNTUK PENCET TOMBOL LIKE NYA DAN VOTE. MAAF BANYAK TYPOðŸ˜ðŸ˜
UNTUK UP SELANJUTNYA KALAU ADA WAKTU.
TERIMAKASIH SUDAH MAMPIR DI NOVEL PERDANA KU.
__ADS_1