Sang Penggoda

Sang Penggoda
13.Orang asing


__ADS_3

Meisya langsung turun dari mobilnya berlari menuju Davin yang berada di ambang pintu.


"Davin,bunda mencarimu nak"Ucap Meisya memeluk putranya dengan erat.Meisya takut kehilangan anak satu-satunya ini.


"Maaf bunda,buat bunda cemas.Davin kira bunda sibuk,Jadi Davin pulang sendiri di anter sama om Alex"Ucap Davin.


"Lain kali jangan pulang sendiri Davin,kita sekarang tinggal di tempat lain gak seperti dulu.Bahaya sayang.."Jelas Meisya.


"Ia bunda,Davin akan menunggu bunda sampai bunda datang jemput Davin"Ucap Davin.


"Davin di antar sama om Alex"Ulang Davin.


"Jangan terlalu akrab dengan orang asing Davin"Ucap Meisya menarik pergelangan tangan Davin sambil berjalan menuju kamarnya.


"Tapi dia baik bun"Ucap Davin yang sepertinya Meisya tidak mau mendengarnya.


****


Pagi yang indah,aroma udara yang segar tanpa polusi.Awan menunjukkan warna terbaiknya.Meisya memandang ke arah luar di jendela kamarnya masih menggunakan baju tidurnya.Hari ini dia bangun awal sambil menyeduh teh manis yang sesekali ia teguk sambil memandang gedung-gedung yang tinggi.Apartement Meisya berada di tengah perkotaan.


Tak sengaja mata Meisya memandang ke arah apartement mewah dan elit yang berada di depan apartementnya.Seorang pria muda memandang Meisya.Meisya mengerutkan dahinya.Pria yang sepertinya keturunan Asia itu melambaikan tangan ke arah Meisya.


Meisya hanya memandang tertegun,apakah dia melambaikan tangan kepadanya?Meisya melirik ke kanan dan ke kiri,namun sepertinya dirinya tidak menemukan sesosok orang lain selain dirinya yang tengah berada di jendela.


Pria tersebut,masih tersenyum kepada Meisya lalu menunjuk Meisya.Sepertinya pria tersebut mau bilang kalau dirinya menyapa Meisya bukan orang lain.


"Apa?Aku???"Batin Meisya sambil telunjuknya menunjuk ke dadanya sendiri.

__ADS_1


Pria tersebut mengangguk dan tersenyum memandang Meisya,sedangkan Meisya tidak menggubris,memilih meninggalkan pojokan jendela kamarnya.


"Pria aneh"Batin Meisya menuju ke dapur untuk memasak.


***


Sepulang sekolah Davin duduk menunggu Meisya.Hari ini dia tidak akan pulang sendiri lagi,walaupun harus menunggu bundanya sampai lama.


Pria yang sama bernama Alex menghampiri Davin,Mengapa pria tersebut lalu lalang di sekitar sekolahnya??


"Hy..Davin?"Ucap Alex menyapa Davin yang duduk.


"Om Alex..."Davin menoleh,menyapa Alex dengan senyuman merekah.


"Kau menunggu orang tuamu,menjemputmu?"Tanya Alex sambil duduk di samping Davin.


"Om Alex lagi istirahat,kantor om Alex tidak jauh dari sini"Ucap Alex dengan pakaian kantornya,Dia terlihat lebih mempesona dan tampan.Kedua tangannya menyelusup kedalam ke dua saku celananya.


"Oh..apa om Alex bekerja di gedung yang besar itu?"Tanya Davin sambil menunjuk gedung yang menjulang sangat tinggi.Gedung tersebut sangat besar mencakar langit.


"Ia benar"Ucap Alex mengangguk.


"Wah..nanti Davin kalau sudah besar mau bekerja di sana juga,buat bahagiakan bunda Davin"Ucap Davin tersenyum ke arah gedung pencakar langit itu,pikirannya sedang mengukir masa depannya.


"Kenapa hanya bunda?ayah tidak?"Ucap Alex tidak mengerti,Alex masih belum tau kalau bundanya dan ayahnya sudah tidak bersama lagi.


"Ee..Ayah Davin,Davin gak tau ayah dimana om.Yang temenin Davin hanya bunda.Bunda yang selalu bekerja keras besarin Davin.Davin sangat menyanyangi bunda,kalau besar nanti Davin akan suruh bunda duduk di rumah saja.Davinlah yang akan bekerja keras"Jelas Davin.

__ADS_1


Bukan dirinya tidak merindui ayahnya.Namun ia menahan rindu,demi melihat bundanya tidak cemas dan bahagia.Ia tidak mau mengungkit masalah ayahnya.Dia tau kalau ayahnya sudah sangat jahat kepada bundanya.Dulu Davin mendengar bundanya menangis bercerita dengan neneknya.


Sebenarnya Meisya yang sewaktu pulang kerumah orang tuanya,Davin diam-diam mendengarnya bersembunyi di dekat pintu kamar.


Davin mendengar semuanya.Walaupun dirinya masih anak berumur 6 tahun waktu itu.Tapi Davin sedikit mengerti apa yang terjadi kepada orang tuanya.


"Maaf Davin,om baru tau..kamu anak pintar ya"Ucap Alex terkesan dengan ucapan Davin yang begitu tulus.


Di tengah-tengah perbincangan mereka,mobil Meisya terhenti di depan Davin dan Alex.Meisya turun dari mobilnya.Dan sepertinya ia tidak menyukai orang asing yang berada di dekat anaknya.Dan jika di ingat-ingat pemuda tersebut sama dengan pemuda yang berada di depan apartementnya yang pernah melambaikan tangan kepada dirinya.


"Sayang,maafkan bunda.Bunda terlambat lagi menjemputmu"Ucap Meisya memeluk putranya.


"Ia gak papa bun.."Ucap Davin tersenyum dan memeluk bundanya dengan hangat.


"Ayo Davin masuk ke dalam mobil"Ucap Meisya menarik pergelangan tangan Davin dan tak menghiraukan pemuda yang mulai tadi tersenyum ke arahnya.


"bye..bye..om Alex.Makasih sudah temenin Davin"Ucap Davin menoleh dan melambaikan tangannya kepada Alex.Meisya sudah bilang jangan dekatin orang asing.Tapi nasehatnya kali ini seperti gak di dengar oleh Davin.Sejak kapan anaknya jadi pembantah?


"Bun..tadi itu yang namanya om Alex.Dia baik dan tampan kan bun"Ucap Davin berbicara kepada bundanya yang fokus menyetir.Meisya mengingat-ngingat pemuda yang mungkin sebaya dengan Meisya atau lebih muda darinya beberapa tahun saja.


"Davin,bunda pernah bilang kan..jangan bicara atau dekat-dekat dengan orang asing"Ucap Meisya mengingatkan anaknya kembali.Ini Amerika negara besar.Apalagi Davin yang masih kecil,pasti banyak orang yang ingin mengincar anaknya yang polos ini.Kita tidak tau kan orang yang baru kita kenal itu baik atau tidak.Lebih baik jangan mengenalnya.Eros saja yang sedekat itu dan Meisya yang mengenalnya sangat lama ternyata Iblis yang menyamar menjadi malaikat.Meisya sangat mewanti-wanti.Apalagi seorang pria.Ia tidak menyukainya sama sekali.Tepatnya Meisya sudah menutup hatinya dan fokus membesarkan Davin saja.


"Tapi om Alex baik bun"Ucap Davin sangat polos.Meisya diam tidak melanjutkan pembicaraannya,sebelumnya dia tidak pernah marah kepada anaknya.


"Bunda marah ya..Jangan marah dong bun,Davin janji tidak akan dekat-dekat dengan orang asing lagi"Ucap Davin memohon agar bundanya tidak marah.


"Janji???"Ucap Meisya memastikan anaknya tidak berbuat seperti itu lagi.Meisya sangat mencemaskan putranya.Apalagi sewaktu Meisya mencari anaknya yang ternyata pulang terlebih dahulu.Dia sangat merasa kehilangan.Davin adalah penyemangat hidupnya.Meisya hanya tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak di inginkan kepada putra semata wayangnya.

__ADS_1


"Janji bun"Ucap Davin tersenyum kepada Meisya.Meisya sedikit menoleh kepada Davin,benar saja senyumannya adalah pencair hatinya yang masih gundah,penghilang kalbu yang masih sakit.Tidak ada tujuan lain selain membesarkan putranya sebaik mungkin yang ia bisa.


__ADS_2