
Sudut Pandang Tiara
Tiara, itulah panggilan akrab ku. Aku terjun ke lembah hitam sudah hampir 10 tahun. Berawal dari ketidak puasan aku terhadap suamiku yang memiliki uang yang minim, atau bahasa anak muda jaman sekarang kere. Awalnya jalan dengan seorang pria, dan pria tersebut setiap kali kencan, 1 juta bisa aku dapatkan dalam sekejap. Semakin lama aku semakin terbuai, dan membiarkan para lelaki kaya itu menjamah tubuhku.
Semakin lama semakin terbuai, dalam kenikmatan itu, aku memiliki uang banyak yang bisa di buat membeli makeup, perhiasan, serta rumah pun bisa aku dapatkan. Aku memutuskan untuk bercerai dari Aji karena ekonominya tidak menunjang sama sekali. Bahkan segi ranjang pun tak mencukupi batin ku. Akhirnya pun kami bercerai, dan anak-anak aku tinggalkan begitu saja. Alasannya karena aku bekerja di cafe, dan itu ada di sebuah pulau di Indonesia.
Suatu ketika, Ryan mengabari aku, dan mengatakan dia merindukan aku. Aku yang tak pernah peduli dengan dia, yang penting wajahku tetap cantik, body ku tidak boleh ada lemak sedikitpun.
"Ma, kapan pulang" ucap Ryan di ujung telepon.
"Mungkin nanti pas lebaran, kan Mama perlu izin sama bos dulu biar nanti lebaran bisa kumpul lagi" dengan penuh hati hati aku pun menjawab.
"Ma, jangan lama-lama kalo cari uang, nanti Mama sakit" ucap Ryan dengan penuh perhatian padaku, sedikit pun aku tak terenyuh dengan sikap Ryan.
Aku mematikan sambungan telepon tersebut, lalu merebahkan diri. Aku pun tertidur nyenyak, malam ini aku putuskan untuk tidak melayani tamu untuk sementara.
Setiap hari aku melayani pria tersebut dengan sukarela, mereka membutuhkan kepuasan batin di bandingkan pasangan mereka. Setiap bercinta aku rawat mahkota ku, karena mahkota ku aset ku saat ini. Hingga tak terasa sudah empat tahun berlalu, dan aku mendengar mantan suamiku kini sudah menikah lagi. Aku tau dari Ryan, dan ibu sambungnya menurut Ryan, sok peduli, sok ngatur, dan mengekang kebebasan dia. Aku pun Menemui istrinya Aji setelah satu tahun pernikahan, ternyata cantik, polos, dan sepertinya dia tak jauh beda dengan anak pertama ku.
"Hai, selamat ya udah move On dari aku" ucapku.
"Hahahaha belom juga, cuma sedang berusaha aja nih move on" canda Aji.
"Wah, daun muda nih" ledek ku pada Aji.
"Begitulah" jawab nya singkat.
"Oh Tante mantan istrinya Om Aji yah" ucap wanita itu dengan polos.
"Iya, kenalin aku Tiara mantan istrinya suamimu" aku berusaha meredam emosi karena di panggil Tante, lalu tersenyum seperti terpaksa.
"Pah, nanti aku menginap di sini ya" nada ku penuh keyakinan.
__ADS_1
"Silahkan, tapi kau tidur dengan Ryan" ucap Aji.
"Silahkan tak masalah" aku yang tak mempermasalahkan tidur dimana yang penting tidur.
Ketika aku ganti baju, Aji datang menghampiri aku, dan mengatakan ingin ngobrol dengan ku. Dan aku pun ngobrol mulai basa-basi, dari mulai masalah pekerjaannya hingga masalah rumah tangga yang masih mulus bak jalan tol.
"Mah, aku Minggu depan mau pindah rumah, sekalian mau beli mobil Avanza" ucap Aji. Seolah pamer dan mengejek ku, aku dari situ pun punya siasat untuk menghancurkan rumah tangga mereka.
"Pindah kemana?" tanyaku
"Pindah ke perumahan Bumi Taman hijau" Terangnya.
Aku yang ingin sekali menghancurkan semuanya. Karena baru setahun pernikahan sudah mampu membeli rumah dan mobil. Aku tak terima, karena ketika aku menikah dulu, keuangan ku tidak pernah cukup. Dan akhirnya aku meninggalkan mereka begitu saja.
"Wah banyak uang dong" ucapku dengan mata berbinar-binar.
"Gak juga, ini hasil kerja kita berdua, selama ini dia juga kerja, sambil buka toko online" Tukas Aji.
Aku menyusun rencana, Aji harus jadi milikku, tak masalah meskipun jadi yang kedua. Aku masih menyembunyikan semua tentang pekerjaan, yang sebetulnya uang ku lebih besar dari mereka. Tapi tak apa, yang penting uang masuk setiap hari.
Aku setiap pagi datang pulang pun sore, begitu setiap hari, dari mulai ngobrol ringan hingga tak terasa kami tidur bersama. Karena Siska sibuk mencari tambahan uang untuk Ryan sekolah. Begitu tiap hari, kami bergulat di kamar itu, hingga suatu saat Siska datang, dan kami belum selesai melakukan ritual hasrat kami.
"Sayang Aaahh enak sayang" aku mendesah nikmat. Kenikmatan masih di ubun-ubun.
Braaakkk
Pintu pun terbuka, sedang kami masih menikmati pergumulan. Siska berteriak
"Sedang apa kalian?" Teriak Siska
Tanpa basa-basi, aku pun mengatakan bahwa aku menikah lagi dengan Aji. walaupun secara siri.
__ADS_1
"cih.. Tak tau malu" ucapku.
Mereka bertengkar hebat, dan bahkan Aji tak segan-segan memukul Siska. Siska keluar dengan luka lebam. Dan di depan ada mbak Tiwi, yang melihat Siska seperti ini menangis, karena sang adik tak pernah kasar seperti ini.
Siska pun akhirnya memutuskan untuk menginap di rumah mbak Tiwi. Kami bergumul tak pernah ada letih, istirahat sebentar dan akhirnya lanjut lagi sampai letih. Entah berapa kali melakukan kenikmatan itu.
Siska pun mengambil baju seragam dan mengambil tas dan berkas. Tapi yang dia lihat di kamar bukan suatu hal yang wajar. Buat Tiara itu hal yang wajar, aku tersenyum penuh kemenangan. Akhirnya bisa menumpas wanita itu dan merampas milik nya. Dan setelah itu membuang 'si tua bangka' Aji. Aku hanya ingin semua yang wanita itu miliki. Walaupun sebetulnya rumah itu atas nama Siska, mobil pun sama. Semua atas nama Siska. Gimana caranya harus segera pindah tangan, dan dengan cara Aji jadi boneka nya. Karena Aji selalu mendengar kan apa kataku.
"Sayang, sepertinya rumah itu gak bagus deh, lebih baik kamu jual aja, toh Siska gak akan marah, apa lagi itu pakai uang kamu sayang" memohon dengan nada memanja, dan bergelayut di leher Aji.
"Baiklah, aku jual rumah itu, dan aku cari rumah baru untuk kami" Aji pun tak menyadari maksud Tiara.
"Sayang, mobil nya buat aku aja, kan sayang gak pernah di pakai" rayu Tiara.
"Mobil ini, kamu pakai aja, nanti biar aku beli lagi kalau ada rezeki, biar Siska pakai yang lama" ucap aji.
"Yes... Akhirnya berhasil menaklukkan atm berjalan ku" batin Tiara.
Siska setiap hari kecuali weekend selalu saja kerja hingga sore, dan dia pun memutuskan untuk ikutan tes, dan ternyata berhasil. Setelah pengumuman tes calon pegawai pemerintah, Siska di tempatkan di kota B dan ada di pusat kota. Semenjak itu aku makin intens berkunjung ke rumah lama ku, dan makin sering berhubungan***, uang gaji Siska aku pakai untuk minum whisky, meskipun kecil, untuk 1 botol whisky tak masalah. Toh Mas Aji pun suka. Siska pun geram atas tindakan ku, dan mengambil semua fasilitas yang suka berikan, ATM Siska di blokir, dan no Aji ketika mabuk di buang, dan sertifikat rumah itu. Aku simpan di bank, serta BPKP mobil. Uang rumah dari sisa penjualan pun Siska ambil. Masuk rekening deposito. dan Aji tak tinggal diam, dia mengusir dan serta memukul pakai benda tumpul, bahkan tak puas Aji pun memukuli badan Siska hingga lebam, aku bersorak gembira tentu ini yang aku inginkan.
"Kamu lebih baik keluar dari rumah ini" mengusir secara kejam. Biar bagaimanapun aku ingin ibu nya anak-anak bahagia.
"O iya, mulai hari ini kita cerai"
JLEGERRRR ⚡⚡⚡
Siska pergi dan tak kembali, itu yang aku harapkan.
**BERSAMBUNG
\*\*\*\*TBC**\*\*\*\*
__ADS_1