
..." PAPAH ada meeting siang ini, jadi papah berharap kamu bisa ke kantor." terdengar suara sang Ayah hampir berseru keras di tujukan kepada putranya yang sedang asik dengan Gadgetnya,Bram melenggang keluar kamarnya seraya memperbaiki dasinya....
..." Gak lah pah, suruh pak Dandi saja mewakilkan acara pertemuan nya,soalnya Hasta lagi males ke kantor." balas Hasta sambil merebahkan tubuhnya di sopa....
..." Lohh bukannya kemaren kamu menggebu-gebu ingin hadir di pertemuan nya perusahaan papah, sekarang kok jadi males-malesan gini?" tanya sang Ayah seraya berjalan menuju ruang makan....
..." Hari ini papah akan kedatangan banyak tamu ke kantor,salah satunya nak Harry beserta Sekertarisnya." ucapnya dengan santai....
Hasta hanya melirik,sepertinya ia tidak tertarik dengan apa yang di ucapan sang Ayah.
" Terus Hasta harus apa ?" tanyanya cuek.
" Perwakilan,karena di jam yang sama Papah harus mengadakan meeting dengan pimpinan perusahan lain." jelasnya dengan bijak.
Hasta menarik napas panjang lalu menoleh sang Ayah dengan perasaan enggan.
..." Nak Harry itu hampir seusiaan loh sama kamu, yaahh paling beda dikit lah, tapi dia hebat,sudah sukses di usia mudanya." jelas sang papah memuji Harry dengan begitu takjub....
Hasta melengos,ia merasa jika ucapan sang Ayahnya sedang membuatnya iri.
..." Papah sangat bangga jika memiliki putra seperti nak Harry." ucap sang Ayah seraya menyuapkan sepotong roti ke mulutnya....
..." Gak usah papah bandingkan Harry sama Hasta Pah," balas Hasta mulai tidak suka dengan ucapan sang Ayahnya....
..." Papah tidak sedang membandingkan kamu dengan nak Harry,Papah sedang memuji kinerjanya dia,dia sukses di usia tergolong muda,tentunya itu sebuah prestasi yang sangat luar biasa." jelas sang Ayah dengan tersenyum bijak....
..." Hasta belum berminat untuk kerja." balas Hasta dengan fokus kembali ke layar Gadgetnya....
..." Itulah bedanya kamu dengan nak Harry." sahut sang Ayah pelan....
..." Pah,Hasta jelas berbeda dong dengan patner kerja Papah itu,lagian akan ada masanya nanti jika Hasta berminat untuk kerja dan gak usah dipaksa juga lah pah,semua harus kehendak hatinya." sela sang Mama memberi kode untuk tidak teralalu menuntut Hasta untuk bisa sukses di usia mudanya....
..." Seharusnya ini jadi contoh untuk pergerakan kamu loh Has, bagus-bagus bisa ngikutin jejak dia,yaa seengganya jadi motifasi buat kamu supaya calon istri kamu nanti merasa bangga punya calon suami yang mandiri serta mapan" jelas sang papah sambil menyeruput secangkir teh hangat....
...Hasta tertegun mendengarkan kata-kata sang Ayah,dan kalimat terakhir sang Ayah ucapkan mampu mengahadirkan asumsi lain di pikirannya....
...logikanya mampu menghubungkan apa yang di ucapkan sang Ayahnya dengan sikap Renata....
...Hasta berpikir bahwa kemungkin besar jika Renata menginginkan lelaki seperti sosok yang di sebutkan oleh sang Ayah....
..." Kalau cewek yang mau enaknya saja banyak, gak penting cowok punya duit darimana nya, tapi cewek yang mau berjuang bersama sama itu susah." lagi lagi Sang Ayah menambahkan dengan begitu gamlang....
" Salah satunya Mama kamu ini,ia siap nemenin Papah dari nol hingga sesukses ini,iya kan Mam ?" ucap sang Ayah seraya mengajak tersenyum sang Istri.
..." Loh Papah kok malah kesitu beloknya sih." sela sang Mama sambil melirik Hasta yang masih terdiam....
..."Bukanya begitu kan mah ?" tanya kembali sang Papah melirik istrinya seraya menyuapkan kembali sepotong roti ke mulutnya....
...Hasta melirik ke arah sang Mama dengan tatapan penuh harapan. sang Mamapun hanya mengangkat kedua bahunya dengan tersenyum tipis....
..." Laki-laki itu harus mandiri mau bekerja sendiri kreatif gak cuman modal rayuan gombal doang. " sindir sang Papah sambil menyeka mulutnya dengan sapu tangan tanpa melirih Hasta sesikitpun....
...Entah kenapa tiba-tiba saja ucapan sang Ayah terasa menusuk jantung hatinya dan itu membuatnya bungkam....
...Melihat reaksi sang anak berubah,sang Mama segera mengalihkan pembicaraan supaya sang suami tidak terlalu jauh menyindir putra tersebut....
..." Sudah,sudah sebaiknya papa berangkat dulu,ini udah telat loh pah." ucap sang Mama seraya melihat jam yang melingkar di tangan kirinya....
..." Baiklah,Papah berangkat dulu ! siang ini papah tunggu di kantor Has." ucap sang Ayah seraya menyambar tas koper yang sudah di siapkan oleh sang istri,lalu ia pun berpamitan....
...Hasta hanya terdiam tidak berkata-kata sedikitpun, dia menatap langkah sang Ayah yang berjalan dengan penuh wibawa,begitupun dengan sang Mama hanya tersenyum kaku mengantarkan nya dengan tatapan panjang....
..............................
" Pagi mas Hasta,mas Hasta sudah di tunggu di ruangan !" sapa Ratih langsung menyambut kedatang Hasta yang baru tiba di kantor.
" Ok !" jawabnya singkat.
Ratih mengangguk dengan tersenyum lembut.
" Oya Rat,papah ada ?" tanya Hasta berhenti sejenak.
" Bapak baru saja keluar meeting Pak " jawab Renata dengan sikap mulai biasa saja.
" Lalu yang nunggu gue siapa ?" tanya Hasta menatap lurus ke arah sekertaris cantik tersebut.
" Hmm,Ibu Renata." jawab Ratih cukup berhati-hati menyebut nama tamu yang sedang menunggu putra bosnya tersebut.
Alis pria tampan itu sedikit terangkat,kemudian ia bersikap seolah-olah tak ambil pusing.
" Oh,terimakasih." jawab Hasta singkat tanpa ekspresi apapun.
Hasta berjalan menuju ruangan sang Ayah, seraya berpikir ada hal apa Renata menunggu di ruangannya,ia pun segera bergegas menuju ruangan tersebut.
Di dapatinya Renata sedang asik membolak-balikan sebuah majalah.
Hasta memperhatikan gadis itu dengan seksama.
" Siang Ta !" sapa Hasta sedikit canggung.
Renata menoleh ke arah suara pria tersebut.
" Siang Has ! " balas Renata dengan sikap ramahnya.
" Sudah lama ?" tanya Hasta seraya mengambil duduk di hadapan gadis tersebut.
" Engga begitu juga.." ucap Renata menatap teduh ke arah wajah Hasta.
"Ada hal penting ??" tanya Hasta langsung to the point,nada bicaranya begitu datar.
Sebelum menjawab Renata terlihat tersenyum,menambah suasana terasa hangat.
__ADS_1
" Sebenarnya gak terlalu penting-penting banget sih,cuman mau nanya seseuatu saja, sembari nunggu pak Harry meeting dengan Papah kamu,gak ada salahnya kan aku ngobrol sama kamu." jelas Renata dengan lembut.
DEEEEPPP..........
Mendengar perkataan Renata tiba-tiba saja ada rasa muak yang menyergap hatinya,ketika ia harus mendengar kembali nama Harry disebut oleh gadis sederhana itu.
" Oh cuman nunggu doang." ucap hasta datar dan menatap lurus Renata,ekspersenya terlihat dingin.
" Ya ! apa kamu merasa keberatan ?" tanya balik Renata dengan sorot mata tak kalah tajam dari tatapan nya Hasta.
" Kenapa elo gak sekalian ikut sma Bos lo aja " sela Hasta agak sedikit meninggi nada bicaranya.
" Lo kan Sekertaris dia,dari pada lo di sini buang buang waktu cuman ngobrol sama gue." ucap Hasta makin terlihat kesal.
Renata terlihat tidak paham atas sikap pria tampan tersebut.
" Maksud kamu ?" tanya Renata sedikit aneh melihat perubahan sikap Hasta yang tiba-tiba merasa emosi ke padanya.
" Sudahlah....!"Potong Hasta seraya hendak berdiri dan ingin keluar ruangan.
" Hasta !! kenapa sih ?kok kamu tiba-tiba sewot gitu.?" sergah Renata yang benar-benar tak paham dengan sikap Hasta.
" Gak usah peduli !" jawab Hasta ketus.
Renata semakin terkejut setelah melihat sikap Hasta yang secara tiba -tiba kasar terhadapnya.
" Hasta ...!" panggil Renata dengan cepat.
Matanya membulat menatap sempurna ke arahnya.
Hasta menghela, sesungguhnya ia merasa tak sampai hati harus bersikap kasar terhadap perempuan tersebut.
Namun dirinya tak mampu menahan rasa cemburu yang secara spontan muncul dalam perasaannya,ia tidak bisa jika harus mendengar Renata menyebut nama Harry.
" Hasta tunggu dulu." sergah Renata seraya bangkit dari duduknya,Hasta menoleh lalu menatap tajam Renata.
" Lo mau menjelaskan tentang Bos lo itu ?,sorry gue gak ada waktu." ucap Hasta terlihat cemburu berat.
Renata melongo,semakin tidak mengerti.
" Aku gak ngerti sama omongan kamu itu,aku sengaja kesini cuman mau tanya seseuatu hal,kenapa waktu di Surabaya kamu tiba-tiba pulang?" tanya Renata berusaha sabar atas sikap arogannya Hasta.
Hasta memicingkan matanya lalu tersenyum sinis.
Renata menggeleng melihat sikap angkuhnya seorang Hasta.
" Kamu bisakan berbicara baik-baik,tanpa harus emosi seperti itu !" ucap Renata dengan tetap menatap lembut Hasta yang terlihat masih menahan amarahnya.
Hasta terdiam,ia menyadari akan kesalahannya Renata bukan siapa-siapa bagi dirinya,begitupun dia bagi Renata,dia tidak berhak sama sekali untuk marah kepadanya.
Dengan cepat Hasta menarik napas panjang berusaha menetralkan perasaanya.Entah kenapa perasaanya kembali meleleh ketika menatap sorot mata sendu Renata.
Dirinya mengakui jika Renata begitu mampu mengendalikan sikap arogannya di dalam amarahnya.
Seorang Renata mampu mengendalikan emosi serta pikirannya.
" Aku sengaja kesini karena khawatir,jika kamu kenapa-napa,soalnya kamu tiba-tiba pulang begitu saja." ucapnya dengan lembut.
" Elo bisa khawatir juga sama keadaan gue ?" tanya Hasta dengan menatap sinis.
"Akhhhh lo jangan geer Has... dia cuman khawatir doang belum tentu dia ada perasaan,basa basi saja ! " guman Hasta membatin,ia terus memperahtikan Renata yang masih terlihat santai menatapnya.
" Yaa iyalah Has,apa aku salah jika merasa khawatir terhadap mitra perusahaannya pak Harry,kepulangan kamu kan mendadak hingga aku dan pak Harry merasa heran. " jelas Renata dengan nada mulai cukup tinggi.
" Tu kan cuman di anggap mitra doang, gue yakin ini adalah basa basi dia."
guman Kembali Hasta didalam hatinya.
raut wajah Hasta kembali terlihat murung.
"Harry lagi, Harry lagi." guman Hasta dengan nada kesal
" Kamu kenapa sih Has,setiap kali aku nyebut nama pak Harry kamu sepertinya gak senang ?" tanya Renata menatap lucu.
" Oh,gue gak kenpa-napa kok,oya alesan gue pulang mendadak,gue orangnya gak betahan gampang bosan,jadi gue memutuskan untuk pulang saja. " ucap Hasta singkat.
" Termasuk soal asmara?" sela renata sambil tersenyum tipis menatap penuh makna ke arah pria tampan tersebut.
Sontak saja membuat Hasta menoleh cepat dan menatap tajam ke arah Renata.
" Kenapa kamu memandangku seperti itu ? ada yang salahkah dengan pertanyaanku ?"tanya Renata mulai terlihat judes.
Aargggg.......
Rasanya Hasta ingin menerkamnya lalu mengigit gemas gadis tersebut,sikap Renata benar-benar telah memancing perasaan gemasnya.
" Kenapa lo mempertanyakan tentang asmara gue ?" tanya Hasta menatap penuh tangtangan ke arah Renata,yang terlihat masih tersenyum menggodanya.
" Omongan kamu yang memancing aku untuk bertanya ke arah itu,kamu sendiri yang menjelaskan jika kamu tipe orang pembosan.Yaa tidak menutup kemungkinan jika masalah asmara tidak akan jauh seperti itu." ucap Renata semakin berani menatapnya.
Sontak itu membuat Hasta merasa gemas ingin sekali ia mencubit keras pipi merahnya Renata yang sedari tadi menggodanya untuk meminta di cubit.
" Yaahh gue memang termasuk cowok pembosan termasuk masalah asmara ,tapi tidak dengan lo Ta." ungkap Hasta menatap lembut Renata,perlahan Hasta mendekat ke arah Renata.
__ADS_1
Seketika perempuan sederhana itu langsung berubah sikap,dan itu dapat terlihat ketgangan dari raut wajahnya,serta merta perempuan itu salah tingkah setelah melihat sorot mata Hasta mampu menebarkan jantung hatinya.
Hasta semakin mendekat ke arah perempuan tersebut dengan tatapan nakal,Renata sadar jika di sana hanya ada mereka berdua suasana berubah tegang.
" Maksud kamu apa?" tanya Renata mengantung dan dia mulai terlihat semakin ketakutan.
" Untuk kali ini gue gak akan pernah merasa bosan, gue benar-benar tulus mencintai lo Ta" ucap kembali Hasta lebih dekat lagi jarak di antara mereka. Renata berusaha menghindar dari tatapan pria tampan tersebut.
Tapi Hasta semakin berani menatap Renata dengan jarak lebih dekat lagi.
" Kamu tidak usah mendekatiku dengan seperti ini" sergah Renata hendak menghindari,ia berusaha untuk mengendalikan perasaanya dan tetap tenang.
" Jujur saja,gue sayang lo Ta..!" ucap Hasta lirih dia tidak memperdulikan lagi akan sikap Renata yang mulai terlihat ketakutan, sorot matanya tajam memandang wajah Renata.
Renata terdiam untuk kesekian kalinya Hasta mengungkapkan isi hatinya,kali ini pria tampan itu tidak memberikan kesempatan bagi Renata untuk bisa lolos darinya.
" Setiap kali gue berbicara tentang persaan ini.. lo selalu menghindar, jujur ! gue mau nanya sama elo,apakah elo suka gue ?" tanya Hasta mulai mendekat lagi jaraknya semakin dekat Renata kebingungan dengan sikap Hasta yang semakin nekad mendekatinya.
" .........."
Renata terdiam dia mencoba terlihat tenang meski dalam hatinya begitu sangat khawatir,ia merasa ketakutan jika Hasta akan bersikap yang tidak baik terhadapnya,Renata menunduk seraya menghindari sorot mata tajam Hasta yang seakan-akan ingin menerkamnya bulat-bulat.
" Kenapa diam ?kenapa elo ga jawab pertanyaan gue ?, selama ini gue pendam rasa ini,dan elo selalu mengabaikan perasaan gue begitu saja, kenapa Ta, alesan lo apa mengabaikan perasaan gue ?" tanya lagi Hasta semaki mendekat deru napasnya terasa panas menyapu wajah Renata.
Renata sadar jika posisi badan nya telah begitu dekat dengan tubuh pria tampan tersebut.
Dengan perasaan tak menentu ia mencoba menahan jarak tersebut dengan kedua tangannya,ia berusaha untuk tetap menjaga jarak.
" Hentikan has,, " sergahnya sembari mendorong kuat tubuh pria tersebut.
" Gue butuh jawaban elo !!" ucap lagi Hasta dengan penuh penekanan di setiap kalimatnya.
Renata membuang muka mencoba menghindar.
" Maaf aku tidak bisa Has !jadi, tolong jaga sikap kamu!" sergah Renata seraya kembali mendorong lebih kuat tubuhnya Hasta untuk segera menjauh darinya.
Hasta terdorong cukup jauh,dengan cepat Renata mengatur posisinya,ia pun berniat untuk membalikan badannya dan berusaha untuk menghindar dari hadapan pria tampan tersebut,namun sayang,justru dengan cepat Hasta menarik tangan perempuaj itu dengan begitu kencang,mau tak mau Renata kembali tersungkur di pelukan nya Hasta.
Renata cukup terkejut dengan adegan seperti itu,dan untuk yang pertamakalinya Hasta mendekap gadis tersebut,dengan repleks tangan pria berwajah tampan itu melingkar tepat di pinggangnya Renata, untuk menahan supaya Renata tidak terjatuh akibat tarikan tangannya yang terlalu kencang.
Hidung mancung Hasta yaris bertabrakan dengan Hidung perempuan sederhana tersebut,Hasta begitu pun Renata saling melotot satu sama lain,wajah mereka begitu saling dekatan.
Detak jantung keduanya terdengar begitu jelas merasakan debaran yang tak biasa.
" Jangan pernah lo menghidar dari gue, karna gue yakin lo ngerasain apa yang gue rasain." ucap Hasta dengan setengah berbisik.
" LEPAS !!!! " sergah Renata dengan cepat membuang wajahnya dan kembali mendorong tubuh Hasta dengan kuat.
" Gue tidak akan melepaskan elo,sebelum elo jujur terhadap gue !" bantah Hasta dengan napas yang menderu.
" Hasta !! Kamu jangan lancang." sergah Renata berusaha membenarkan kain penutup kepalanya yang terjuntai ke dadanya.
" Gue cuman butuh satu jawab dari lo Ta. YA atau TIDAK !!" ujar Hasta mendesak akan jawaban dari segala ungkapan perasaanya terhadap Renata. Perempuan itu terdiam dia menatap galak ke arah Hasta yang tidak sama sekali mengendorkan rangkulan nya.
" Tidak !! aku tidak bisa menerimamu dan aku tidak ada sedikitpun perasaan seperti apa yang kamu rasakan terhadapku" jawab renata lantang,sorot matanya terlihat begitu tegas.
Seperti ada yang reruntuhan yang menimpa hebat di dalam hati Hasta.
Jawaban perempuan yang amat dia sayangi itu berhasil memporak porandakan semua harapan indahnya.
Dia harus menelan pahit kenyataan jika cintanya sedang di tolak oleh seorang perempuan.
Untuk yang pertama kalinya dalam sejarah kehidupan nya ia di tolak mentah-mentah oleh seorang perempuan.
Seperti ada sebuah benda berat menghantam kuat tubuhnya.
Rangkulan itu melah seiring runtuhnya perasaan hatinya seorang Hasta.
" Jadi aku minta sama kamu untuk tidak lagi berharap apapun dari ku, aku tegaskan lagi jika aku tidak pernah menyukaimu.Mengertii." ucap Renata dengan segera menjauh dari Hasta.
Tetapi lagi-lagi pria berwajah tampan itu menarik kembali tangan Renata,entah apa yang sedang meraksuki pikirannya sehingga ia merasa tidak puas akan jawaban dari perempuan sederhana tersebut.
Ia seperti kehabisan cara untuk menghancurkan kerasnya hati seorang wanita yang amat dia cintai,Renata terkejut dengan sikap pantang menyerahnya seorang Hasta untuk mendapatkan perasaan nya.
Renata berniat ingin menepis cekalan pria tampan tersebut,tapi sayang cekalan Hasta kali ini lebih kuat.
" Terimakasih atas jawabannya,semoga elo tidak menyesali atas jawaban elo itu." ucap Hasta seraya mengangkat tinggi tangan Renata,lalu tangannya menyimpan sebuah benda kecil di atas telapak tangan Renata.
Perlahan Hasta menyentuh lembut tangan perempuan tersebut yang masih menggantung di udara.
Renata terdiam menatap ke telapak tanganya yang masih terbuka lebar.
" Gue pikir elo memiliki perasaan yang sama,heh tapi sayang semua ini hanya perasaan gua saja,gue keliru atas segala rasa yang gue pendam selama ini.Dan ternyata benar lo gak seperasaan itu sama gue,dan bodohnya gue,gue pikir lo adalah satu- satunya perempuan yang akan bisa merubah segalanya dalam hidup gue,nyatanya tidak !! dan TUHAN berkendak lain atas niat tulus gue ini,ok thank's Renata." ucap Hasta terdengar lirih namun begitu dalam akan segala makna yang terucap dari kalimat tersebut.
Renata tertegun dengan semua pernyataan yang di sampaikan Hasta kepadanya.
Perlahan Hasta menjauh darinya lalu ia pun meninggalkan Renata dengan keheningan nya,perempuan itu terdiam sejenak dan larut dalam sebuah kalimat terakhir yang di ucapkan Hasta untuk dirinya.
Pandangannya teralihkan ke arah telapak tangannya, dengan penasaran ia mengamati sebuah benda yang telah di berikan Hasta di gengaman tanganya.
Sebuah liontin usang berupa hati yang sudah tak bermata itu di lihatnya dengan penuh makna,sontak ia di buatnya tercenung,liontin itu telah mengingatkan kembali perasaanya beberapa tahun yang lalu,perasaan kecewa itu kembali hadir di relung hatinya,dan tak lama kemudian air matanya mengalir deras.
Entah kenapa perasaan nya begitu hancur setelah melihat sebuah liontin miliknya yang selama ini hilang.
..................... Bersambung
__ADS_1