
HASTA masih mendekap erat tubuh mungilnya Renata,ia mencoba merasakan apa yang dia rasakan di tatapnya sekeliling begitu hening tanpa ada keramean yang mengelilinginya.
Perlahan Hasta melepaskan pelukanya lalu di tatapnya dalam-dalam raut wajah Renata yang sudah terlihat sembab serta lusuh oleh air mata yang terus membasahi kedua pipinya.
" Gue berharap ini bukan sebuah adegan dalam mimpi gue !" ucap Hasta seraya menyentuh kedua pundak Renata.
Renata tersenyum di sela-sela deraian air matanya.
" Aku tidak akan memberimu harapan semu lagi Has ?" ucap Renata lirih.
" Kenapa gue harus butuh waktu yang lama untuk mendapatkan hati lo ? dan kenapa gue harus merasakan patah hati terlebih dulu ketika pada akhirnya lo datang ke gue ?" ujar Hasta menatap kian tak mengerti.Namun sorot matanya terlihat ada kebahagiaan yang begitu luar biasa.
" Aku hanya butuh waktu saja Has,untuk meyakinkan persaaannku ini." jawab Renata sendu, sejenak ia pun terdiam.
Renata terlihat kembali mencoba menahan tetesan air mata yang mulai mengalir kembali dengan deras dan seketika membasahi kembali pipinya.
" Gue gak peduli gimana sakitnya hati ini setelah lo datang dan mengatakan apa yang lo rasakan saat ini." ungkap Hasta syahdu.
" Ta, gue berjanji akan menjadi yang terbaik buat kehidupan lo." ujarnya kembali.
" Kamu tidak perlu berjanji kepadaku, berjanjilah pada dirimu sendiri untuk bisa menjadi yang terbaik buat dirimu sendiri." ucap Renata menatap sembilu
" Gue janji." sela Hasta lirih.
di gengamnya dengan begitu erat tangan Renata,ada rasa haru yang mengalir dasyat dari hatinya menelusuri di setiap aliran darahnya lalu aliran tersebut bermuara di pusaran jantung hatinya.
Bahagia bukan main atas perjuangan yang tak sia sia setelah sekian lama dirinya mencoba meyakinkan hati seorang Renata yang telah mengeras
Renata hanya tersenyum menatap penuh rasa haru ke arah pria itu yang kini sedang menikmati kebahagiaan yang tiada tara.
Namun dibalik aksinya mereka ada sepasang mata yang secara diam-diam sedang menyaksikan kebahagian yang tengah rasakan oleh Hasta serta Renata.
Ia tersenyum dengan penuh kepedihan,hingga tak terasa ada lelehan bening perlahan membasahi pipi mulusnya.
Dia adalah Nina,yang tersenyum getir menatap jauh ke arah mereka yang sedang larut dalam kebahagian satu sama lain.Nina merasa jika dirinya tidaklah mungkin mengabulkan akan angan-angannya untuk mencintai Hasta bahkan hingga berharap bisa memilikinya,itu sangatlah tidak mungkin.
Melihat Hasta akhirnya bisa bersatu saja sudah membuat Nina sangat bahagia,walau di dalam lubuk hati yang dalam sesungguhnya ia tak mampu melihat kenyataan tersebut.
Nina menyeka air matanya,merasakan perasaanya semakin mendalam.Ia pun mencoba menarik napasnya menahan perasaanya utuk tidak terluapkan begitu saja.
Senyum tangis itu kian kontras di raut wajahnya.
" Lo nangis ?" suara Bony mengejutkan Nina yang sedang larut dalam kesedihannya.
Nina tersentak lalu dengan cepat ia segera menyeka air matanya.
" Kamu Bon !! " ucap Nina dengan terbata,raut wajahnya terlihat syok.
" Sudah gue duga,jika lo suka sama Hasta ya ?". tanya Bony menatap dalam ke arah wajah Nina yang terlihat berusaha mengalihkan pandangannya,Nina untuk berusaha menyembunyikan perasaan yang sesungguhnya.
" Itu hanya persaan ku yang dulu Bon,aku bahagia jika pada akhirnya bisa melihat mereka bersatu." ucapnya dengan tersenyum penuh ironi.
" Perasaan itu tidak bisa bohong Nin " sela Boni dengan menatap iba ke arah Nina.
" haa.. haa..., untuk apa aku berbohong.." ucap Nina dengan sedikit teratawa hambar,seraya menyeka air matanya dengan cepat.
Bony menatap lekat ke arah raut wajah Nina yang terlihat berusaha menyembunyikan kesedihannya.
" Gue tau,elo adalah perempuan yang lebih pertama mengenal Hasta,di banding Cindy atau Renata,dan elo pun lebih tau siapa Hasta." ungkap Bony dengan kian tak sampai hati melihat ke adaan Nina yang pastinya hancur melihat kebahagiaan nya Hasta.
" Tapi Renata lebih berhak untuk mendapatkannya, " ujar Nina tersenyum getir,sorot matanya terlihat begitu sulit untuk menepis akan kesedihannya.
" ........."
Bony terdiam dia ikut menatap ke arah Hasta serta Renata yang masih larut dalam kebahagiaanya.
" Elo yakin lo bahagia lihat mereka ?" tanya Bony kembali dengan melempar pandangannya ke arah yang lain.
" Ya kin !!" sela Nina terbata.
Bony menghela lalu menoleh kembali ke arah Nina.
" Jangan membohongi diri lo sendiri,dengan perasaan palsu lo itu." ucap Bony mencoba memaksa Nina supaya jujur akan perasaanya.
Nina membalikan badannya,ia sepertinya ia mencoba untuk tetap menyembunyikan perasaanya,dan ia pun kembali memperlihatkan ketegarannya dengan pura-pura tersenyum dengan penuh makna.Namun sejurus kemudian tak lama ia pun terisak pelan,pundaknya terguncang,dan akhirnya pertahanan perasaanya pun porak poranda, berderai juga air matanya membasahi kedua pipinya.
Rasa sakit itu begitu hitam menyeruak di dalam hatinya.
Bony terdiam tak bergeming,perasaan bimbanh menyelimutinya,betapa tidak ingin rasanya ia memeluk mewakilkan dadanya untuk sekedar sandaran Nina dan memberikan rasa nyaman terhadap gadis itu yang kini tengah patah hati.
" Gue paling gak bisa lihat cewek nangis." ucap Bony yang terlihat salah tingkah melihat Nina semakin terisak.
" Aku tidak apa-apa Bon !! aku kuat !! " sela Nina dengan kembali menyeka air matanya.
" Kenapa sih, elo gak jujur saja sama Hasta dengan apa yang elo rasakan terhadap dia." ujar Bony menyayangkan sikap Nina yang tidak mau berterus terang akan perasaanya.
" Buat aku,mencintai didalam diam,sudah cukup bagiku. " ujarnya lirih.
" Aah Nin,lo teralalu naif " sela Bony menatap nanar ke arah Nina.
" Sepertinya tidak ada gunanya juga jika aku harus jujur akan perasaan ini,toh aku berada di tengah-tengah hati yang saling mencintai,dan dua hati itu kini sudah bersatu,jadi biarlah perasaan aku akan begini adanya. " balas Nina tersenyum dalam
kepahitnya yang tengah ia rasakan.
" Gue berharap lo akan menemukan cinta yang terbaik dari Hasta." ujar Bony mendo'akan Nina.
" Makasih do'anya Bon." ucap Nina lirih dengan mengulas senyuman yang tulus.
" Elo gak pulang ? ini udah larut malam,sebaiknya gue anter lo pulang ya !!" ucap Bony menawarkan kebaikannya.
__ADS_1
Nina hanya mengangguk tanpa menolak tawaran nya Bony.Lalu ia pun berjalan dengan langkah gontai,sementara Bony menatapnya dengan berbagai perasaan iba di hatinya.
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
keesokannya.................
Hasta terlihat sumeringah dengan raut wajah yang begitu sangat berbinar-binar,sesekali ia menengok jam yang melingkar di tangan kekarnya, lalu tak lama ia menatap kembali ke layar ponsel miliknya.
Hampir beberapa menit dia menunggu kedatangan Bony,namun nampaknya yang di tunggu belum terlihat batang hidungnya.Hasta menunggu dengan gusar.
Beberapa menit kemudian, akhirnya Boni pun datang ia menghampirinya dengan raut wajah tak biasa.
" Elo kemana aja sih ?janjian jam sepuluh datang jam berapa,lihat dong sekarang udah jam berapa ? kebiasaan ngaret mulu lo. !!" ucap Hasta dengan nada kesal.
Raut wajah Bony terlihat berbeda menatap dingin sahabatnya tersebut.
" Sorry Has, gue kayanya lagi gak enak badan." jawabnya simple.
" Lo sakit ?? tumben lo sakit." ujar Hasta meledeknya.
" Masuk angin kali gue." sahut Bony seraya duduk di samping Hasta dengan ekspresi datar.
" Bon gue punya kabar baik, dan pasti nya elo akan terkejut mendengarnya." seru Hasta berbinar-bibar.
Bony tidak mersepon ia hanya menggerakan kedua alisnya tanpa ekpresi.
" Gue yakin lo tidak percaya akan kabar baik gue ini." ucap kembali Hasta menatap penuh semangat ke arah Bony.
Bony hanya terdiam pasrah seperti tidak tertarik dengan apa yang mau di sampaikan oleh sahabatnya tersebut.
" Gue jadian sama Renata." ucap Hasta dengan rona wajah berbinar-binar.
Bony tidak memperlihatkan ekspresi kagetnya,justrubia terkesan cuek seraya menekan-nekan kecil leher belakangnya dengan meringis.
" Terus ??" selanya datar.
" Dan elo tau ? semalam gue sama Renata jadian di tempat pertama kali gue ketemu sama dia Bon ! bener-bener gila ini Bon,serasa mimpi gue bisa meluk dia dengan begitu erat " jelas Hasta dengan berapi-api dan kembali ia membayangkan akan kisahnya semalam tadi.
Bony hanya menyimak tanpa ekspersi yang berlebihan sebagaimana mestinya,dan Hasta masih larut dalam sorak kebahagiannya.
" Ternyata gue selama ini gak sia-sia menjaga perasaan dan harapan ini,karna merasa gue yakin jika Renata mencintai gue juga." imbuh Hasta semakin terlihat riang.
Gairah itu kembali hadir menaungi isi hatinya.
" Dan lo bahagia ?" tanya Bony dengan datar namun terdengar nada bicaranya begitu kasar.
Hasta melihat perubahan dari raut wajah sahabatnya tersebut,namun perasaan aneh tersebut ia abaikan,jutsru ia larut dalam sebuah kebahagiaan yang luar biasa.
" Pastinya gue bahagia banget Bon,akhirnya gue bisa ngedapetin cintanya Renata.." ucap Hasta menatap lega.
" Meskipun ada hati yang terluka ?" sela Bony nyeplos.
Senyuman Hasta menyurut dan menatap Bony dengan raut wajah penuh rasa heran.
" Elo tahu ?semalam Nina nyaksiin lo berdua ." jelas Bony dengan perasaan down.
" Apa !!! Nina lihat gue jadian sama Renata ?" tanya Hasta semakin tak mengerti.
" Terus apa hubungannya kebahagiaan gue dengan Nina ? dia teman gue dan juga Renata.Lalu kenapa dia harus terluka dengan kebahagian gue ?" tanya kembali Hasta dengan penasaran.
" Elo gak pernah tau,jika Nina selama ini diam- diam suka sama lo Has " ucap Bony dengan sorot mata yang tajam.Menyoroti sahabatnya itu dengan penuh makna.
Hasta tercengang mendengar penuturan sahabatnya tersebut.
" APA ?? " pekiknya dengan ekspresi bibirnya menganga.Ia tidak berpikir sedikitpun jika Nina menyukainya.
" Semalam dia menangis menyaksikan kalian berdua,dia memendam rasa itu dari dulu ketika lo masih pacaran dengan Jessy,bahkan ketika lo naksir Cindy pun ia rela jadi mak comblang elo. " jelas Boni dengan penuh rasa kecewa.
" Elo tau darimana jika Nina selama ini suka sama gue,lo jangan so tau Bon,lo pasti lagi ngada- ngada kayanya." ujar Hasta teratawa enteng.
" Gue kan pernah bilang sama lo,jika Nina emang suka sama lo,tapi justru lo bersikap acuh seakan-akan gue yang so tau." ungkap Bony dengan begitu yakin.
" Gue tau akan ekspresinya dia ketika bareng elo,dia sangat berbeda sama lo Has, masa elo gak paham,gue aja yang sekedar melihat saja bisa paham." jelas Bony mulai gusar,Hasta terdiam mencoba mencerna omongan sahabatnya tersebut.
" Gue sangat paham dia,dan gue ngerasaan apa yang sedang ia rasakan saat ini, perasaan dia tulus sama elo,tapi apa,sekarang dia justru malah menyatukan cinta lo sama Renata,ia terluka pun tak peduli,demi rasa cinta nya ke elo,dia rela liat elo bahagia dengan orang lain." terang Bony dengan suara kian serak menahan rasa yang bergejolak di hatinya.
" Bon,gue sayang sama Renata,dan gue cinta sama Renata kenapa Nina yang harus terluka ?" tanya Hasta tanpa beban.
" Has,lo benar-benar gak peka !! kadang-kadang elo gak paham dengan apa yang gue omongin , Nina terlebih dulu dia suka sama lo, sebelum Renata hadir di kehidupan elo, lo paham gak sih dengan apa yang gue bahas?" tanya Boni mulai geram.
Tingkat kepekaan nya seorang Hasta jauh lebih dari kata standar.
" Gue paham itu !! tapi kan gue cinta nya Renata bukan Nina." ucap Hasta mulai tersulut emosinya dengan sikap Bony yang mulai uring-uringan terhadap dirinya.
" Jadi mau lo gue harus apa ?" tanya Hasta dengan menatap tajam ke arah Bony yang tengah meredam emosinya.
" Cinta itu tidak bisa di paksakan dan lo sendiri tahu,jika cinta itu gak selamanya harus bisa memiliki kan,kata-kata itupernah lo bilang sama gue juga kan ?" ujar Hasta menatap dengan berbagai perasaan.
" Elo berbicara seperti itu seolah-olah lo tidak pernah ngerasain bagaimana sakitnya ketika patah hati." sela Bony menambahi dengan nada ketus.
Sontak Hasta mulai habis akan kesabarannya.
" Cukup Bon,cukup !! Sebenarnya lo suka ya sama Nina,dari tadi elo ngebahas dia terus ?" tanya Hasta dengan nada gusar.
Bony terdiam seraya membuang mukanya ke luaran sana raut wajah yang mulai memerah menahan rasa yang di pendamnya sejak tadi.
" Kenapa lo membela dia,seolah-olah gue nyakitin hati Nina kalau lo punya perasaan sama dia ,gue gak pernah tau persaan seseorang seperti apa terhadap gue,termasuk Nina,bahkan selama ini Nina fine-fine saja sama gue,ia gak pernah nunjukin kalau dia suka sama gue" jelas Hasta dengan menatap intens wajah sahabatnya itu yang terus menghindari tatapan darinya.
Rahang pria berbadan gembul itu terlihat mengeras menahan rasa yang bercokol di hatinya.
__ADS_1
" Gue menganggap Nina sebagai sahabat selama ini, terus sekarang elo bilang jika dia suka gue, sementara perasaan gue sama orang lain,gue harus gimana ?kenapa dia baru mengatakan perasaan itu sekarang ini,kenapa tidak kemaren-kemaren ketika gue sedang dilema,ketika gue gamang dengan penantia gue ?kenapa Bon,kenapa ? jawab Bon !!" gertak Hasta berbalik nanya ke Bony yang Masih membisu dengan perasaanya yang sulit di jelaskan.
" Elo gak bisa jawab kan ??? Nina hanya sahabat gue tak lebih." ucap Banny mempertegas ucapannya.
" SIIITTTTT !! seharusnya lo lebih tau perasaan Nina dari dulu,dan lo itu gak peka sama sekali akam perasaan dia,apa elo gak bisa ngebedain mana perasaan sabahat dan mana perasaan orang suka,lo gak sadar akan perhatian-perhatian kecil yang di tunjukan Nina terhadap lo,selama lo mengenalinya.Lo sama sekali gak peka kan akan hal itu. " Ucap Bony panjang lebar,akhirnya dia bisa meluapkan unek-unek hatinya.
Hasta menghela,begitu pedulinya seorang Bony terhadap seorang Nina yang selama ini telah di anggapnya seorang sahabat.
" Ok, ok !! jadi sekarang gue harus apa... ?" tanya Hasta terlihat kesal terhadap bony yang bersikukuh menjelaskan akan perasaan Nina terhadap dirinya. Hasta mendongkakkan wajahnya menatap sahabatnya itu dengan tatapan menangtang.
" TERSERAH LOO !!!,gue rasa elo punya perasaan yang harus di gunakan secera benar." gertak Bony seraya beranjak pergi meninggalkan Hasta dengan begitu saja.
Hasta terkejut melihat sikap perubahan Bony yang begitu kontras terhadapnya.
" SIIIÌIIITTT !!" gerutu Hasta dengan penuh emosi.
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
HASTA terdiam tanpa bicara sepatah katapun,sekiranya ia mencoba memikirkan akan perubahan sikap Bony yang begitu drastis terhadapnya,kenapa sahabatany itu lebih mementingkan persaan Nina ketimbang harus ikut bahagia atas kebahagiaan dirinya bisa bersatu dengan Renata.
Dan kenapa Bony justru terlihat kurang senang ketika dirinya tidak sama sekali mersepon akan cintanya Nina.
berbagai pertanyaan berseliweran di kepalanya Hasta.Dan itu berhasil membuat Hasta di buatnya pusing dengan aksi marahnya sahabatnya tersebut.
" Ada apa Has ?" tanya Renata menatap lembut ke arah Hasta yang sedari tadi terlihat kurang bergairah.
" Gue tidak apa-apa Ta !! ." jawab Hasta membalas tatapan Renata dengan teduh.
" Sepertinya kamu sedang memikirkan sesuatu ?" tanya Renata penasaran.
Hasta menghela napas, lalu menatap dalam ke arah perempuan yang paling di kasihaninya tersehut.
" Seandainya kalau gue cerita,yakin lo gak akan marah sama gue ?" tanya Hasta menilik perempuan itu dengan lekat.
Renata tersenyum lembut.
" Kok marah,memangnya ada sesuatu hal yang akan membuatku marah ?" tanya Renata pelan.
" Masalah ini memang ga terlalu pelik buat gue,tapi entah kenapa masalah ini sangat mengganggu pikiran gue." ungkap Hasta membalas tatapan kasihnya.
" Kamu bisa cerita ?" tanya Renata dengan lembut.
" Gue gak tau apa yang sedang terjadi terhadap Bony,sahabat gue,kemaren siang kita sedikit berselisih paham,entah kenapa dia marah sama gue hingga dia pergi dengan begitu saja,dan sampai detik ini ia sulit sekali di hubungi." jelas Hasta dengan resah.
" Kamu berselisih paham apa sama dia?" tanya Renata bijak.
" Ini masalah Nina," ucap Hasta menatap lekat ke wajah Renata.
Renata mengernyit lalu kedua alisnya terangkat tinggi.
" Nina ? " selanya lirih.
" yaa !!lo kenal Nina kan ?" tanya Hasta menatap penuh arti ke arah Renata,perempuan itu mengangguk dengan tersenyum tipis.
" Memangnya kenapa Nina ?" tanya Renata dengan sedikit rasa penasaran.
" Lo tau,kemari malam Nina melihat kita berdua ketika kita jadian." jelas Hasta terbata.
Sebenarnya ia tak ingin membahas masalah ini,namun ia tidak ingin jika Renata akan salah paham akan masalah dirinya dengan Bony.
" Lalu ?" tanya Renata tercekad.
" Jadi Bony melihat Nina sedang menyaksikan kita, bahkan Bony bilang sama gue jika selama ini ternyata Nina suka sama gue." jelas Hasta datar.
Renta mengangguk pelan,ia paham dengan apa yang di sampaikan Hasta barusan.
" Aku tau,jika Nina memang suka sama kamu sejak dulu." ucap Renata lirih,raut wajahnya terlihat sedikit berubah namun ia masih bisa tersenyum lembut,menyembunyikan perasaannya.
" Jadi lo mengehetaui akan persaann Nina ?" tanya Hasta syok.
" Nina sudah banyak cerita tentang persaannya terhadap kamu sama aku Has, dan dia juga yang ngasih tau aku kalau kamu itu sudah berubah, kamu tidak lagi seperti Hasta yang dulu dia kenal. " jelas Renata dengan raut wajah penuh makna.
Hasta terdiam,sejenak dia menatap dalam ke arah wajah Renata.
Kenapa permasalah baru ini muncul di saat yang tak tepat baginya.
" Tapi persaan gue terhadap Nina hanya sebatas sahabat saja Ta,dan itu tak lebih." ujar Hasta jujur.
" Tapi tidak dengan perasaan Nina Has,ternyata selama ia mengenalmu dia mencintaimu sejak dulu,dan aku sempat semakin ragu akan hal itu.Tapi justru Nina lah yang meyakinkan aku atas perasaan kamu itu Has." terang Renata dengan raut wajah tak biasa.
" Ini tidak mungkin." guman Hasta dengan perasaan tak menentu,ia tidak menyangka jika Nina setulus itu menolong dirinya untuk menyakinkan hati seorang Renata untuk dirinya.Padahal Nina sendiri begitu dalam mencinya ditinya.
" .........."
Renata terdiam,mencoba menyimak raut wajah Hasta yang mulai terlihat di landa kebimbangan.
" tapi, gue tidak peduli ,karrna perasaan gue hanya sayang terhadap lo Ta." ucap Hasta sambil menatap kembali Renata dengan penuh cinta.
" Itulah sebabnya aku bingung dengan perasaanku ini,aku takut jika perasaan ini akan berakhir kecewa,dan pastinya akan ada orang yang terluka atas perasaanku ini." jelas Renata dengan terlihat sendu.
__ADS_1
Hasta tercenung,entah kenapa ingatannya terasa di putar kembali untuk menerawang ke beberapa tahun yang lalu,dan ia pun mencoba mengingat kembali akan kisahnya dulu dengan beberapa wanita yang tiada lain teman dekatnya Nina yaitu Jessy.
.............................Bersambung