Sang Play Boy

Sang Play Boy
Sang Playboy episode 29


__ADS_3

NINA masih terdiam dengan tatapan kosong,ia berusaha untuk tetap terlihat baik-baik saja di hadapan Hasta, walaupun di dalam hatinya berkecambuk berbagai perasaan yang luar biasa menyiksanya.


" Nina,kita harus kompak dalam menolak perjodohan ini, gue mohon !! katakan sama Ayahmu bahwa kita ini bersahabat." Ungkap Hasta memohon dengan lembut ke arah Nina.


Nina mengigit bibir bawahnya,dengan menahan perasaan yang sulit di kendalikan.


" Aku coba bicarakan hal ini dengan Ayahku..," sela Nina dengan sesekali mencuri tatapannya ke arah Hasta.


" Kita adalah sahabat Nin,gue gak mau hubungan gue lo serta Renata rusak hanya gara-gara perjodohan ini." ucap kembali Hasta seraya menatap lurus ke wajah Nina.


Nina menunduk entah apa yang harus di katannya,kenapa ia harus ikut dilema dalam permasalahan ini ?


Nina membatin.


" Nin please !!bantu gue kali ini saja buat ngebatalin perjodohan ini. " Ucap Hasta memelas.


Nina menatap seksama wajah pria tampan tersebut,rasanya ia tak sampai hati melihat pria ini mengiba di hadapannya.


" Akan aku usahan Has, semoga Ayahku bisa membatalkan perjodohan ini." Selanya dengan suara agak tertahan.


Nina terlihat berusaha untuk tidak menatap lebih lama matanya Hasta.Sementara Hasta masih lekat menatapnya berharap Nina membalasan tatapannya.


" Gue harap lo bisa ngertiin perasaan gue Nin, karena lo tau kan,jika gue menganggap lo adalah sahabat baik gue." ujar Hasta menatap dalam Nina.


Nina hanya tersenyum datar menatap kaku ke arah Hasta, ada yang rembes di dalam hati kecilnya tatkala dirinya mendengar kata-kata yang di ucapkan Hasta, Nina sadar betul jika dirinya tidak akan bisa berharap lebih dari seorang Hasta.


Dia hanya sekedar sahabat baiknya saja tak lebih bagi seorang Hasta.


" Aku tau perasaan kamu Has,tidak akan ada perjodohan di antara kita." ucap Nina tersenyum getir.


Ironis memang ia harus ikut berjuang demi kebahagian seorang Hasta,laki-laki yang selalu menaungi hatinya hingga saat ini.


" Thank's Nin,elo udah mau ngertiin gue dan bantuin gue." ujar Hasta meraih tangan Nina.


Nina tersenyum menatap lekat tangan pria itu yang menggengamnya erat.


Ada yang tak biasa ia rasakan ketika tangan itu menggenggamnya erat.


Kenapa harus seperti ini ? Perasaan ini tak akan pernah terbalaskan.


Nina menepi,menatap dengan perasaan nanar,ironis memang,ia harus menjaga dua hati yang saling mencintai,sedangkan dia harus menderita akan perasaanya sendiri.


Nina hanya mengangguk membalas ucapan terimakasih Hasta.


" Hmm,gue antar lo pulang yaa Nin,soalnya ini udah malam Nin !!" ucap Hasta seraya menengok jam yang melingkar di tangan kirinya.


" Tidak usah Has,aku pulang sendiri saja.." Tolak Nina seraya merapihkan satu persatu barang miliknya.


" Gak papa Nin,geu anter lo pulang ya !!" sanggah Hasta cepat.


" Tapi Has..., " sela Nina menggantung.


" Lo nolak niat baik gue ??" tanya Hasta menatap teduh kearah Nina.


Nina terdiam rasanya ia tak mampu untuk menolak tawarannya Hasta.


" Baiklah !" ucap Nina setelah mempertimbangkannya.


" Gitu dong,elo gak usah nolak kebaikan gue." ujar Hasta seraya mengacak rambutnya Nina.

__ADS_1


Nina tersenyum,rasanya momen seperti ini telah lama ia lupakan,ke dekatan Hasta dengan dirinya memang begitu akrab,Nina berusaha untuk menghindari tatapan Hasta yang perlahan berhasil mendebarkan jantung hatinya.


" Ayo !! " Ajak Hasta seraya beranjak dari tempat duduknya lalu berdiri menatap Nina dengan tersenyum manis.


Dan senyuman itulah yang selalu menggetarkan hatinya Nina,rasanya ia tidak bisa menghindar lagi akan perasaannya yang kian besar terhadap Hasta.


Perasaan yang selalu menyelimuti hatinya sejak dulu.


Nina tersadar dari lamunanya tatkala Hasta mencolek tangannya dan mengajaknya untuk bergegas pulang.


" Kok malah bengong sih,elo mikirin apa lagi ?" tanya Hasta pelan.


Nina terhenyak,lalu ia pun hanya menggeleng dengan mengulum senyuman hampa,kenyataan ini mematahkan kembali harapannya untuk bisa memiliki hati seorang Hasta,pria tampan yang menawan.


Nina sangat yakin jika setiap mata para perempuan di luaran sana akan terpana menatap ketampanan seorang Hasta,bahkan bisa jadi para perempuan tersebut akan langsung jatuh hati tidak terkecuali dirinya.


Nina menyadari aka hal itu,ketidak mungkinannya untuk bisa memiliki Hasta membuatnya sadar diri,bak sebuah bintang di langit yang tinggi tidak akan bisa ia raih.


Hasta terlihat sudah melangkah terlebih dahulu lalu tak lama kemudian Nina pun segera berjalan mengikutinya,seraya mendekap buku di dadanya Nina berusaha mengejar langkah nya Hasta.


" Yahh ujan Nin...!! " ujar Hasta menoleh Nina yang baru saja menghampirinya.


Nina menghentikan langkahnya lalu menatap keluar Caffe sana, hujan turun begitu deras sehingga bmenghentikan langkah mereka untuk menuju pelataran Caffe tersebut.


Sepertinya mobil Hasta terpakir cukup jauh dari pelataran Caffe tersebut.


" Yaahh hujannya deras lagi,mana gur parkir di sebrang sana." guman Hasta pelan namun cukup terdengar jelas ke telinga Nina.


" Aku pulang pake Taxsi saja Has." Ucap Nina melirik Hasta yang masih menatap ke arah luar.


" Kan gue bilang,elo pulang bareng gue aja,lo kan gak bawa mobil kan ?" ujar Hasta.


" Nin, Lo gak suka ya kalau gue anterin lo pulang, ?" Tanya Hasta dengan menatap lurus ke arah Nina,tatapan yang penuh ancaman.


Nina menggeleng rona wajahnya berubah memerah,tatapan itu membuatnya semakin tak berkutik.


" Tapi Has,masalahnya ini hujan." ucap Nina singkat.


Hasta tidak menyela ia hanya tersenyum dengan nakal, tanpa menghiraukan penolakan Nina yang secara halus.


Beberapa saat mereka masih berdiri berharap hujan reda, namun sepertinya hujan semakin deras dan suasana di sekitarnya semakin terlihat sepi,beberapa lampu dari ruangan Caffe tersebut sudah dimatikan,tinggal beberapa lampu taman yang masih menyala.


Para pengujung Caffe tersebutpun satu persatu mulai meninggalkan tempat tersehut,dimana tempat mereka bernongkrong ria.Waktu berjalan kian merambat.


Hasta sejenak melirik ke arah Nina yang sedang mendekap beberapa buku di dekapannya,dengan menatap asyik ke rinai hujan yang begitu deras.


Selintas Hasta menyaksikan wajah gadis tersebut,bayang-bayang dari lampu yang tak begitu terang,namun ia mampu melihat jelas akan raut wajah gadis tersebut.


Bulu mata yang lentik terkesan begitu natural membingkai matanya yang sayu, hidung yang tidak terlalu mancung namun mampu menambah kesan khas natural wajah-wajah asli wanita Asia,kecantikan Nina yang Natural membuatnya berbeda dari sosok Nina dahulu.


Sosok Nina yang dulu memanglah tidak begitu menarik di matanya Hasta,mungkin karena gayanya yang tomboy dan cuek terkesan Nina terlihat biasa-biasa saja.


Namun lai dulu lain sekarang,yaa memang terlihat ada yang berbeda dari sosoknya,kali ini Nina terlihat begitu anggun dan kecantikannya begitu natural.


Nina terlihat mengusap-ngusap telapak tangannya ke arah lengan bajunya seraya menahan hawa dingin yang mulai menyapa tubuhnya.


Tanpa berpikir panjang,Hasta membuka jaketnya lalu dengan spontan ia memakaikannya ke tubuh Nina yang sedang kedinginan.


Sontak Nina menoleh dan menatap penuh reaksi ke arah Hasta.

__ADS_1


Nina menatap lekat wajah pria tampan tersebut,entah kenapa kejadian ini begitu sangat istimewa baginya,bahkan ia merasa di perhatikan oleh seorang Hasta,seketika hatinya di buatnya meleleh oleh perlakuannya Hasta.


" Pake aja, biar lo gak kedinginan !!" ucap Hasta seraya membenarkan baju jaketnya supaya menutup sempurna di badan nya Nina.


Nina terdiam hanya menatap Hasta yang masih menyungging senyuman manisnya.


Hasta kembali menatap ke arah hujan yang belum mau reda.


Beberapa menit kemudian Hasta dengan repleks menarik tangan Nina dengan mengajaknya berlari kecil menerobos Rinai hujan yang terlihat hanya rintik-rntik saja namun cukup bisa membuat basah.


Mereka berlari di tengah rinai hujan yang membuat suasana seketika menjadi terasa romantis.


Nina belum sepenuhnya sadar jika gengaman tangan Hasta mampu menciptakan halusinasinya yang istimewa.


Hasta segera membukakan pintu mobilnya untuk Nina agar tidak terlalu lama kehujanan,ia menyuruh Nina untuk segera masuk kedalam mobilnya.


" Makasih Has !!" Ucap Nina tersenyum lembut.


Hasta tidak menjawab dia hanya mengangguk lalu tak lama ia berlari mengitari mobilnya sebelah kanan.


" Huh... !! kalau gak di terobos kapan redanya nih ujan." Ucap Hasta menyandar di kursi mobilnya lalu ia pun menoleh Nina yang duduk di sampingnya.


" Baju lo basah Nin ?" tanyanya pelan.


" Tidak terlalu Has.." jawab Nina terbata.


" Pake saja dulu jaketnya, biar lo gak masuk angin." ujar Hasta seraya menghidupkan mesin mobilnya,lalu beberapa saat kemudian mobil Hasta pun perlahan melaju meninggalkan pelataran Caffe tersebut.


Nina masih terdiam menatap ke arah luar jendela kaca mobil,entah kenapa ia masih membayangkan kejadian istimewa yang baru saja di alaminya.


Meski ini adalah hal biasa,namun bagi dirinya peristiwa ini begitu terkesan bagi dirinya.Nina masih belum bisa percaya jika sikap Hasta terhadap dirinya bisa sepeduli itu. Tak terbayangkan sebelumnya jika Hasta akan mengajaknya berlari di bawah Rinai hujan dengan menggenggam erat tangannya,tentu saja adegan ini hanya terjadi di cerita-cerita novel atau adegan sinetron lainya.


Lebay memang,hingga terlalu menanggapi dengan perasaan bucin,tapi sumpah demi apapun,kejadian ini memang membuatnya sangat bahagia.


Nina membatin dengan mengulas senyuman.


Perasaan bahagianya ini tak ayal membuat perasaan Nina kembali berharap untuk dicintai Hasta walau pun hanya sesaat.


Hening....


Sejenak mereka hanya saling terdiam menatap ke keluar laju kendaraan dengan berbagai pikiran satu sama lain.Hasta masih fokus menatap arah laju kendaraannya sementara Nina masih hanyut dalam buayaan kebahagian yang begitu terasa ajaib.


Ketika Hasta memegangi tangannya dan mengajak dirinya berlari menerobos deras hujan yang turun ada kebahagiaan tersendiri baginya dan itu sulit di ungkapkan dengan apapun.


Nina hanya tersenyum manis seraya membuang jauh tatapannya keluar sana,sepertinya dia merasa gila dengan sikap perhatiannya Hasta.


Entahlah.....


Nina sulit melupakan kejadian yang singkat ini,meski hanya berlari di bawah rinai hujan,namun baginya kejadian ini begitu berkesan.


Hasta menoleh ke arah Nina,kedua alisnya terangkat tinggi setelah melihat raut wajah gadis itu yang seketika terlihat berbinar-binar.


" Nin,elo baik-baik saja ?" tanya Hasta menatap curiga.


Nina terhenyak saat pertanyaan Hasta membuyarkan lamunannya.


" Oh,aku baik-baik saja." jawabnya dengan menyurutkan senyumannya.


Hasta menggeleng melihat sikap sahabatnya tersebut.

__ADS_1


............................Bersambung


__ADS_2