
" RENATA...!" panggil Hasta lumayan cukup keras, sehingga membuat Renata sedikit terkejut.
Renata yang baru saja keluar dari kamar hotelnya menoleh ke arah suara tersebut.
" Mau pergi kemna ? " tanya Hasta menghampirinya.
" Aku mau keluar sebentar,pak Harry menyuruhku untuk membelikan sesuatu." jawan Renata tersenyum lembut.
" Kenapa sih gak dia aja yang keluar, beli sendiri gitu?emang nya elo pelayan dia ?" tiba-tiba Hasta merasa kesal dengan sikap Harry yang seenaknya memerintah Renata.
" Ya aku Sekertaris nya dia Has,jadi kurasa wajar saja jika dia butuh seseuatu sama aku." jelas Renata dengan sikap dingin.
" Elo di butuhkan ketika dalam masalah pekerjaan,urusan luar pekerjaan itu beda cerita." sela Hasta mencoba mengejar Renata yang terus berjalan.
" Aku tidak keberatan di perintah oleh pak Harry,selama perintah itu masih dalam batas kewajaran." sanggah Renata.
Hasta terdiam,jawaban perempuan itu terlalu cerdas hingga membuat Hasta bungkam.
Renata mempercepat langkahnya lalu meninggalkan Hasta begitu saja.
" Sitthh !! " Hasta merasa geram.
Ia semakin di buatnya penasaran atas sikap Renata yang begitu loyalitas terhadap Bosnya tersebut.
Hasta nampak gelisan dengan menghisap dalam sebatang rokok di tangannya,lalu perlahan asap dari rokonya di keluarkan dengan penuh kenikmatan,di ulangnya hinga berulang-ulang sehingga tak terasa Rokonya kini tinggal menyisakan abu.
Rasa cemburu yang kian timbul di dalam hatinya terasa membuat seisi kepalanya berdenyut hebat,entah kenapa perasaan nya di penuhi rasa kesal yang tak berkesudahan.
Terlebih dia harus melihat dengan mata kepalanya sendiri akan kedekatan Harry dengan Renata yang kini semakin akrab.
" Pagi pah !" sapa Hasta yang baru terbangun dari tidurnya dan ia terlihat badmood.
Ia menghampiri sang Ayah seraya menggaruk-garuk kepalanya.
" Jam segini kamu kok baru bangun ?" tanya sang Ayah seraya membolak balikan koran yang sedang di bacanya tersebut.
" Semalam hasta gak bisa tidur pah,jadinya nongkrong sendirian di balkom depan." ucapnya seraya menghempaskan selimutnya jauh-jauh.
Sang Ayah menggeleng atas tingkah putranya tersebut.
" Oya Pah,apakah kita masih lama di sini...?" tanya Hasta seraya turun dari tempat tidurnya.
" Dua hari lagi kita pulang,hari ini ada penundaan jadwal.Dan nak Harry menambah jadwal untuk penijauan, lumayan sepertinya projeck kita akan berjalan dengan baik. ucap Sang papah mengabaikan Hasta yang terlihat bermalas-malasan.
" Kenapa harus ada penundaan jadwal segala,bikin tambah lama saja." gerutu Hasta terdengar kesal.
" Hari ini nak Harry ada acara bersama sekertarisnya."ungkap sang Ayah santai.
Hasta tercekat lalu menatap kaget sang Ayah.
" Mereka ada acara ??" tanya Hasta syok.
" Iya mereka lagi ada acara,kenapa ?" tanya sang Ayah menatap heran atas reaksi kaget putranya tersebut.
" Kamu sepertinya kaget mendengar mereka adq acara ?" tanya sang Ayah memicingkan matanya ke arah putra kesayangan nya tersebut.
Hasta melengos dengan sebal.
" Mereka akrab banget,sepertinya mereka bukan sekedar Bos sama sekertaris saja pah." ucap Hasta seraya mengambil secangkir kopi panas yang sudah di siapkan oleh pihak hotel.
" Mereka mau ada hubungan apapun gak ada urusan kan sama kita,toh itu privasi mereka." jelas sang Ayah santai.
" Itu yang bikin Hasta ingin pulang duluan pah" ucapnya terlihat suntuk.
Sang Ayah tercekat,semakin menatap curiga ke arah putranya tersebut.
" Loh kenapa,tiba-tiba kamu ingin pulang duluan?kamu tidak suka melihat keharmonisan nak Harry dengan sekertarisnya itu ?" tanya sang Papah menatap dengan penuh curiga.
" Jenuh saja!!" jawab Hasta terdengar ketus.
" Jenuh apa cemburu ?" goda sang Ayah menatap lucu sikap putranya.
Hasta melirik sang Ayah dengan penuh isyarat.
Bram terkekeh melihat putra semata wayangnya terlihat menekuk wajahnya,sepertinya dia memahami atas sikap putranya tersebut.
" Sudah lah pah,jangan menatap seperti itu." ucap Hasta gusar.
" Kamu ini ya,gimana mau menjadi seorang penerus perusahaan papah jika semangat kerja kamu kendor kaya gini,baru liat kemesraan nak Harry dengan Sekertarisnya udah ciut,apa jangan-jangan kamu diam-diam naksir sekertaris nak Harry." tanya sang Ayah tersenyum semakin membuat Hasta serbasalah.
" Papah nih terlalu mengada-ngada,Hasta boring,lebih baik pulang lah ke Jakarta." balas Hasta dengan sesekali menyeruput kopi panas tersebut.
" Heu,terlalu payah kamu Has," decih sang Ayah sembari menyimpan korannya di atas meja.
"Hasta kuliah lah pah..." jawab Hasta dengan asyik mengacak-ngacak rambutnya lalu menatap ke arah cermin besar yang terpasang di dingding kamar hotel tersebut.
" Kuliah kamu juga enggak selesai-selesai. Memangnya kamu mau kuliah terus,mau sampe kapan,hidup harus ada progresnya jangan gitu-gitu saja,piye to ?" ucap sang Ayah cukup heran dengan sikap Hasta yang memiliki sipat pembosan.
" Sudah lah pah,Hasta balik sendiri saja gak usah nunggu pulang bareng Papah." ucap lagi Hasta dengan nada pelan.
"Baru kemarin kamu bilang tiga hari cepat amat, baru sehari saja kamu sudah minta pulang,gak konsekwen kamu itu." ucap sang Ayah geleng-geleng kepala.
" Tiba-tiba saja Hasta merasa jenuh." balas Hasta mengiba.
" Terserah kamu saja,setadinya papah ajak kamu kesini buat nemenin papah,biar kamu paham dengan pekerjaan Papah ini,eh malah pengen balik,Hasta,Hasta." guman sang Ayah seraya bangkit dari tempat duduknya lalu meraih baju jasnya yang tergantung.
Hasta hanya terdiam,entah kenapa baginya situasi ini sangat membosankan,terlebih dia harus melihat Renata yang terus menerus berada di samping Harry.
__ADS_1
Keinginan dia menemani sang Ayah hanya ingin bertemu dengan Renata,dan menjadikan momen ini untuk bisa mengungkapkan isi hatinya,tapi kenyataan tidak sesuai dengan ekspetasinya,semua harapan itu pupus bersama kehadiran Harry yang tak pernah jauh dari samping Renata.
Back to JAKARTA
Tidak perlu menunggu lama,Hasta sudah kembali ke Jakrta dengan membawa perasaan kecewa terhadap Renata yang tak pernah mau peduli dengan perasaannya.Ada rasa ingin menyudahi akan hasratnya untuk mendapatkan hati seorang Renata.
Namun apalah daya hati kecilnya selalu terus menujunya bahkan selalu berkeyakinan,jika ada harapan besar untuk bisa mendapatkan hati seorang Renata walau entah kapan.
Hasta terdiam merutuki perasaanya sendiri.
" Hati lo benar-benar gak peka Ta, apa emang lo bukan buat gue?" guman Hasta dengan nada kesal bertanya akan perasaanya sendiri.
Entah harus bersikap gimana lagi agar bisa mendapatkan tempat di hati seorang Renata.
" Gila,sampai kapan gue ngemis-ngemis akan perasaan ini." gumannya lagi dengan nada sedih.
Tiba-tiba dia di kejutkan dengan Ponselnya yang berdering nyaring,lalu ia pun segera merogoh Smartphone yang berada di dalam saku celananya tersebut.
Dilihatnya nama Renata memanggil.
Renata is Calling............
Sejenak ia menatap lekat ke arah layar Ponselnya tersebut,ada rasa gamang untuk menjawab panggilan tersebut.
Ponselnya masih terus berdering,ada berbagai pertanyaan meliputi otaknya.
Niatnya ia ingin mengangkat panggilan tersebut namun tiba-tiba ponselnya mendadak mati ketika hedak mengangangkatnya,Hasta mengangkat tinggi pundaknya ketika melihat daya ponselnya lemah.
Hasta kembali terdiam,ia larut dalam lamunan panjangnya mengulang kisah panjang sebelum dirinya termakan dengan perasaannya sendiri.
Sebelum dia masuk dalam jeratan asmara yang membuat dirinya harus menyerah,hanya sekedar mendapatkan cintanya seorang Renata.
Padahal jauh ingat kebelakang sana, dahulu dirinya begitu mudahnya menaklukan hati para kaum hawa, hati para wanita yang telah terbuai dengan bujuk rayu serta pesona nya dengan begitu sangat mudah.
Bahkan banyak perempuan yang sudah wala wiri mengisi relung hatinya.
Dengan begitu mudah dirinya menebar benih-benih cinta kesetiap hati para perempuan yang tidak bisa menolak akan daya pesonanya.
Wajar jika ketampanan nya di pergunakan semaksimal mungkin untuk mendapatkan banyak hati para perempuan.
Entah perasaan apakah itu sebenarnya.Hanya napsukah?,apa mungkin cinta sesaat ?atau hanya ego semata yang menguasai dirinya,hingga ia merasa lebih beruntung atas memiliki pesona yang tak semua para lelaki miliki.
Tidak menutup kemungkinan jika ia merasa bangga telah di anugrahi kelebihan yang mutlak dari TUHAN yang maha Esa,jika dirinya terlahir dengan ketampanan yang permanen,serta dia terlahir dari kekuarga yang sangat berada.
Namun sepertinya itu tidak serta merta meluluhkan perasaan hati seorang Renata,ia masih terus berpikir akan kekurangan apa yang ada pada dirinya,sehingga Renata sedingin itukah persaannya terhadap dirinya, mengapa begitu sulitnya ia menaklukan hati seorang Renata.
Hingga berbagai cara telah dilakukan nya,akan tetapi Renata begitu biasa saja menanggapinya.
Rasa lelah mulai menghinggapinya, namun entah kekuatan macam apa yang ada di dalam hatinya,sehingga selalu menyemangatinya untuk terus mengejar cintanya seorang Renata,dan beranggapan jika cinta sejatinya adalah Renata.
Tetapi sayang,itu semua tidak berlaku dengan seorang Renata,entah apa yang membuat dia tidak sama sekali tertarik terhadap seorang Hasta Mantan sang Playboy.
" Kebanyakan bengong tar elo kesambet janda kaya loh !" Bony membuyarkan semua lamunan panjangnya Hasta.
Hasta melengos melihat kedatangan sahabatnya tersebut.
" Demen banget sih elo bengong-bengong sendirian."ucap Bony dengan tersenyum menyeringai.
" Dan elo demen banget bikin lamunan orang buyar." balas Hasta dengan sedikit kesal.
" Wes,elo lagi ngelamun jorok ye,ampe gondok gitu." ucap Bony dengan penuh canda.
" Pala lo peang,ngelamun jorok,mana ada gue ngelamun jorok." balas Hasta sengit.
" Kali aja lo lagi ngelamun main di comberan,itu kan jorok juga boy." ucap Bony makin senang melihat sahabatnya emosi jiwa atas sikapnya.
Hasta tidak membalas hanya membuang muka dengan kesal.
" Eh,elo kemaren ke Surabaya habis ngapain ??" tanya Boni mengalihkan pertanyaanya dan duduk di samping Hasta.
Hasta menoleh sahabatanya itu dengan ekspresi heran.
" Kok lo tau,gue ke Surabaya ?" tanya Hasta sedikit kaget.
" Tau lah,sebagai seorang sahabat sejati elo,gue pasti tau lo berada dimana saja.Disini elo ada aja gue ta." jawab Bony dengan bangga.
" Bangga lo !" balas Hasta mulai kesal kembali.
" Elo traveling gitu kesana ?" tanya Bony penasaran.
"................"
Hasta tidak menjawab dia hanya tersenyum kecut.
" Gue hanya nemenin bokap dinas." balas Hasta pelan.
" Tumben-tumbenan lo mau nemenin bokap lo dinas, " guman Bony meledek.
" Hanya iseng aja gue. " jawab Hasta singkat.
" Iseng apa karna ada Renata ??" tanya Boni kembali menggoda.
Hasta melengos ada rasa sesak jika harus mendengar nama perempuan itu di sebut.
" .........,,,"
Hasta menarik napas panjang dengan raut wajah terlihat muram.
__ADS_1
" Kenapa lo?kayanya berat amat tuh beban ?" tanya Boni dengan terus meledeknya.
" Gue gak tau lagi harus berbuat apa buat ngedapetin hati cewek itu " jelas Hasta terdengar berat akan nada suaranya.
Bony mulai menanggapi serius akan ekspresi sahabatanya tersehut.
" Kenapa lagi sih ?"
" Kayanya tuh cewek emang gak ada persaan sama sekali Bon sama gue." ucap Hasta lirih.
Sontak Bony tertawa lepas mendengar lirihan nya Hasta.
Hasta menyoroti sahabatnya itu dengan perasaan bingung sekaligus kesal.
" Haa haa haa...,yang bilang ada perasaam siapa ?? kan dari awal gue udah bilang sama elo itu, si Renata itu enggak ada perasaan apapun terhadap elo,
lo nya aja yang so ganteng,lo pikir,elo samaain dia dengan cewek-cewek yang pernah lo tembak." jelas Boni dengan raut wajah serius.
" Gue tau itu Bon, tapi seengganya gue sudah berusaha untuk ngedapetin hati dia." sanggah Hasta membela diri.
" Tapi nyatanya tuh cewek gak ada respek sama sekali terhadap lo,itu artinya jika cewek itu memang gak ada perasaan sama elo, ngerti kan lo ?" jelas Boni merasa jengkel atas sikap Hasta yang masih belum yakin jika Renata tidak peduli akan perasaanya.
Dia pun mulai merasa iba melihat sikap sahabatnya i⅞tu yang telah benar-benar melakukan berbagai cara hanya untuk menyampaikan rasa cintanya terhadap seorang Renata.
Hasta terdiam,merasakan setiap ucapan sahabatnya itu mematahkan semangatnya.
" Sumpah !!! baru kali ini gue melihat lo seprti ini." ucap Bony menatap sedih sang sahabat.Meski Hasta tergolong pria yang masa bodoh akan perasaan perempuan,namun kali ini ia tidak sampai hati harus melihat keputus asaan sahabatnya tersebut.
Bony menggeleng,seolah-olah ia paham jika akan ada masanya seorang Hasta harus kena batunya.
" Gue yakin,jika Renata bukan yang terbaik buat lo.." ucap Boni singkat.
Hasta menoleh ke arah Bony yang menatapnya dengan penuh rasa iba.
" Tapi gue sayang dia." jawab Hasta lirih.
" Elo sayang dia,tapi dia gak sayang lo, elo mau apa ? jangan memaksakan perasaan yang gak mungkin dipaksakan,dan cewek itu emang gak suka ama lo,kalau dia emang suka sama elo,pasti dia ada respon sama lo Has." ucap Bony kian terlihat khawatir atas sikap keras kepalanya Hasta.
" Entahlah..." ucap Hasta pelan.Kini tatapannya menerawang jauh ke langit yang tinggi.
Bony menggeleng,merasa tak waras jika menghadapi orang buta cinta.
" Tania mau Married." sela Bony menoleh Hasta.
" Baguslah..." jawab Hasta singkat.
Bony mengernyit melihat respon sahabatnya yang datar bak jalanan tol.
" Udah gitu doank ??" sela Bony terlihat strees menatap sahabatnya yang tak berselera sama sekali.
" Terus gue harus gimana ??" tanya Hasta menatap frustasi.
Lagi-lagi Bony menggeleng kian Depresi.
" Bersyukur Tania bisa married coba kalau masih pacar sama lo, tau kapan dia bisa married yang ada lo buat ngebatin dia. " ucap Bony sedikit mengolok-olok Hasta.
Hasta tak bergeming.
" Lihat diri lo men,elo masih belum bisa move on dari Renata."ucap Boni terlihat gusar.
" Apa sih bagusnya tuh cewek,heran gue bikin seorang Hasta Mati segan Hidup tak tenang..." celoteh Bony dengan penuh penekanan di setiap kalimatnya
" Mati segan Hidup tak mau Bon.." Hasta melirik sahabatnya itu dengan perasaan malas,ia membenarkan ucapan Bony yang salah.
" Terserah lo aja." balas Bony makin dongkol.
Hasta tersenyum pahit seraya menatap pasrah sahabatnya tersebut.
Hasta menghela lalu mengalihkan pandanganya ke arah yang lain.
" Dia emang gak cantik Bon,dia juga gak seksi tapi dia udah bikin gue ngerasa nyaman jika di dekat nya, dan gue ngerasa kangen jika gue gak bertemu bahkan jauh dengan dia." ujar Hasta dengan penuh penghayatan.
Bony bergidik melihat sikap sahabatnya tersebut.
" Semua orang yang sedang jatuh cinta yaa kaya gitu omongannya,kangen,nyaman,rindu lah,hah lagu lama !! " balas Bony semakin terlihat Bete.
" Nyaman,nyaman aja ,sayang dia gak nyaman deket lo !!
ayo lah Has masih banyak cewek yang lebih dari seorang Renata." ujar Bony berusaha membangkitkan kembali semangat Hasta.
"Lo gak akan bisa ngerasaain apa yang gue rasain saat ini " sanggah Hasta mulai kesal dengan omongan Bony yang begitu menyepelekan akan perasaannya.
" Lo pernah kepikiran gak ?perasaan cewek-cewek yang udah lo selingkuhin ,yang udah lo tinggalin dengan begitu saja ? yaa seperti inilah !! seperti apa yang lo rasakan sekarang ini?" jelas Bony menatap tajam ke arah Hasta.
Hasta tertegun mendengar ucapan Bony yang begitu menampar keras perasaannya,Hasta menggeleng dirinya tau persis rasa patah hati itu seperti apa, rasanya sakit dan kecewa itu seperti apa, Tapi bukan berarti Renata harus menjadi alat atau perwakilan dari para perempuan yang telah dia sakiti untuk membalas dendam atas luka yang dia tanam.
" Elo hanya buang-buang waktu, kalau lo masih mempertahankan perasaan lo terhadap Renata, sementara di luaran sana masih banyak peluang buat lo bahagia,gak mesti sama Renata kan Has ?
lo pikir-pikir lagi deh,logika lo itu sudah ke tutup sama perasaan lo sendiri." ucap Boni berusaha untuk menyemangati kembali sang sahabat.
" Gue yakin lo bisa Has,membuka persaan lo buat yang lain,dan cewek itu bukan hanya Renata doang.Gue tau nyali lo selama ini,dan sekarang nyali lo malah angus semenjak lo ketemu si Renata." jelas Bony berusaha menyadarkan mimpi semu nya seorang Hasta.
Hasta terdiam,ya ada benarnya juga akan semua kata-kata yang telah Bony ucapkan,saat ini dia terlalu dalam menaruh perasaannya terhadap seorang Renata,padahal jika di pikir sekali saja,Renata memang bukanlah satu-satunya perempuan yang membuatnya merasa spesial, jauh sebelum Renata hadir,ia telah dibikinnya jatuh hati dengan beberapa perempuan cantik tapi entah kenapa hatinya begitu terpaut erat terhadap seorang Renata.
........................................
__ADS_1