Sang Play Boy

Sang Play Boy
Sang Playboy episode 13


__ADS_3

HARI yang menegangkan


" Loh kok kamu belum siap-siap juga Has ?" tanya sang Mama menatap heran kearah sang putranya,Hasta yang masih terlihat rebahan di sopa.


"Sepertinya Hasta gak enak badan Mam, kok rasanya gak enak banget badan ini Mam..." sahut Hasta mencoba mencari alasan untuk tidak ikut serta menghadiri pesta pernikahannya Harry.


" Serius kamu lagi gak enak badan ?" tanya sang Mama dengan raut wajah cemas.


Hasta menggeliat dengan ekpresi orang kesakitan.


" Iya Mam,sebaiknya Mama sama Papah saja lah yang pergi." ucapnya cuek.


" Yak gak bisa dong Has,kamu harus hadir juga,kamu kan Mitra kerjanya nak Harry,masa kamu gak hadir di pernikahan nya dia" sela sang Ayah seraya mengancingkan kancing lengan kemejanya tersebut.


" Tapi Pah, Hasta merasa gak enak badan." sergah Hasta pelan.


" Papah anter ke dokter dulu,gimana ? mumpung masih ada waktu." ujar sang Ayah tak kehabisan akal.


Hasta terkesiap mendengar sang Ayah menyuruhnya ke Dokter.


" Gak usah deh pah, gak usah ke Dokter cuman gak enakan badan doang kok." jawabnya dengan perasaan kesal.


Niatnya hanya untuk mencari alasan justru sang Ayah menanggapinya dengan serius.


" Lohh,katanya kamu gak enak badan kan ?ya. Papah antar kamu untuk berobat,hal sepele jangan di biasakan di abaikan." jelas sang Ayah dengan santai.


" Hasta cuman masuk angin saja kali Pah." guman Hasta terdengar kesal.


" Makanya kalau cuman masuk angin doang, ayolah kan masih bisa di paksain,kalau emang gak usah ke dokter." ujar kembali sang Ayah.


Hasta terdiam,tak ada lagi alasan untuk menolak permintaan sang Ayahnya tersebut.


" Emang harus ya hadir di pernikahannya Harry,Papah sama Mama kan bisa jadi perwakilan." lagi-lagi Hasta berusaha untuk menolak ajakan tersebut.


" Ya gak enak dong sama nak Hari kalau kita sampe gak datang,apa lagi kamu yang pertama menerima kontrak kerjaan dari mereka." jelas sang Ayah berusaha sabar menghadapi sikap putranya tersebut.


" Iya sayang nanti ,sebaiknya kita hadir saja,nanti sepulang dari pesta pernikahan nya nak Harry kamu bisa istirahat seharian di rumah." ucap sang Mamanya ikut menimpali dengan bahasa yang lembut.


Hasta menghela,mau tak mau ia pun tidak bisa menolak lagi bujukan nya sang Mama.


 


Selama di perjalanan Hasta tak banyak bicara, rasanya jika bukan karena sang Papahnya Hasta sudah tidak mau hadir menyaksikan Harry harus bersanding dengan perempuan yang teramat dia cintai.


Di dalam hatinya ia terus berbicara sendiri meluapkan segala perasaan nya yang telah hancur.


Ia tidak bisa membayangkan ketika nanti dirinya harus mengucapkan kata selamat untuk kebahagiaan Renata.


Sungguh hatinya terasa terbakar oleh api cemburu yang begitu embara di dadanya,lalu dia pun harus menyaksikan wajah sombong yang penuh kemenangan sang pangeran berkuda putih Harry yang telah berhasil menikahi perempuan yang dia sayangi,prasangka itu seakan-akan menari-nari di pelupuk matanya yang membuat dia semakin muak.


 


Suasana pesta terlihat begitu meriah, para Tamu undangan datang silih berganti memenuhi Ballroom yang bernuansa gold glamor di penuhi dengan hiasan yang begitu mewahnya.


Terkesan jika pesta ini bukan pesta biasa.


 


Hasta dengan sang Papah beserta istrinya berusaha menerobos para tamu yang hadir memenuhi ruangan ballroom tersebut,dengan ebraneka ragam busana yang glamor membuat semakin gemerlapnya pesta pernikahan sang Direktur PT RETAIL.


Ahkirnya mereka pun menuju ke arah pelaminan dimana mempelai pengantin menyambut dengan penuh suka cita.


Harry terlihat begitu gagah menawan dengan mengenakan jas berwarna silver,raut wajahnya terlihat begitu semeringah.


Hasta membuang muka,dirinya berharap tidak ingin melihat Renata yang pasti berada dekat dengan Harry.


Perlahan dirinya memperlambat langkah untuk menuju pelaminan tersebut,sedangkan sang Ayah sudah melangkah jauh menuju ke atas pelaminan.


Hasta masih berusaha berperang dengan perasaanya,menahan diri agar terlihat baik-baik saja,ia berusaha menenangkan perasaan nya dari perasaan yang bergemuruh didalam dadanya.


Hasta berusaha menenangkan dirinya agar tidak terbawa oleh suasana yang tidak menyenangkan ini.


" Woy !! gue telpon lo gak di angkat-angkat, rupanya lo udah datang duluan,cie lo hadir juga akhirnya. " tiba-tiba Bony mengejutkan nya dari belakang.


Hasta terperangah lalu menatap Bony dengan bingung.


" Gue pikir elo gak bakalan hadir,eh tau-taunya paling awal datangnya,suiit siitt..." Boni menggoda Hasta yang masih terlihat bingung atas kehadiran sahanatnya tersebut.


" Kok lo di sini ?" tanya Hasta kaget sekaligus terheran-heran.


" Kan gue di undang juga kali, namanya di undang yaa gue hadir lahh,cie cie lo mau ngucapin selamat bahagia yee sama Tania " ucap kembali Boni terus menerus menggoda Hasta yang semakin terlihat linglung.


Wajah pria tampan itu terlihat linglung ketika Bony bisa hadir di pernikahan Mitra perusahaan sang Ayahnya tersebut.


" Tar dulu !!,gue gak paham." ucap Hasta mengernyitkan kedua alisnya.


" Gak paham gimana,udah jelas lo hadir secara diam-diam,elo gak usah pura-pura gitu deh Has." ujar Bony meninju pelan tangan Hasta.


" Maksud gue elo di undang Harry juga ? " tanya Hasta benar -benar penasaran dengan kehadiran Boni di pesta pernikahan nya Harry.


" Wah lo mulai amnesia juga,parah gara-gara patah hati lupa ingatan.Ini pernikahan Tania boss lo jangan pura pura bego dehh masa iya gue hadir di pesta pesaing lo,ada-ada aja lohh." sela Bony cengengesan melihat Hasta seperti orang linglung.


" Taniaaa ???" pekik Hasta sambil mengernyitkan alisnya.


" Iya Tania,ini pesta nya pernikahan Tania Has?lo kenapa sih? jangan- jangan lo kesini dengan gak sadarkan diri lagi." ucap Bony tertawa lucu melihat tingkah Hasta bak seperti orang kehilangan arah.


" Sumpah ini pernikahan nya Harry Bon, yang gue bilang kemaren itu,bokap and nyokap gue datang,tuh mereka lagi di pelaminan " jelas Hasta masih Terlihat belum konek dengan seketiran nya.


Bony kali ini mengernyit,menatap tak kalah bingungnya atas sikap sahabatnya tersebut.


" Maksud lo apa sih,jangan gara-gara pernikahan kita berantem nih ?" ujar Bony mulai kesal.


" Gue tunjukin,yang di pelaminan itu Harry Bon." ujar Hasta kekeh.


Bony menggeleng dengan gusar.


" Noh itu bukanya Tania ??" seru Boni sambil menunjuk lurus ke arah pelaminan tersebut.

__ADS_1


Hasta pun menoleh kearah telunjuk lurusnya Bony yang mengarah ke pelaminan,ia pun menyimak wanita yang berada di samping Harry.


Alangkah terkejutnya ketika ia melihat Tania menggendeng mesra Harry dengan senyumanya yang begitu merekah.


" OH MY GOD !!! " pekik Hasta shok.


" Lo lihat kan itu Tania." desis Bony jutek.


" Tapi Bon, itu cowoknya Mitra kerja bokap gue, nah itu yang gue bilang si Harry,gue pikir dia bakalan nikah sama Renata,tapi kok malah sama Tania?? mereka kenal dimana ?" tanya Hasta tak percaya.


Ia menatap panjang ke arah pelaminan tersebut,sedikitpun ia tidak menyangka jika jalan hidupnya akan seperti ini.


" Haa haa haaa...,,takdir ini memang luar biasa !" sela Bony tertawa lepas.


Entah kenapa rasa perasaan bahagia menyelinap di dalam hatinya Hasta,dirinya yang semula berpikir jika Renata menikah dengan Harry,kini justru ini menemukan kembali secercah harapan untuk bisa memperjuangkan kembali perasaan nya.


" Kok lo malah diam aja ? jangan-jangan lo cemburu ya sama Tania dapet gantinya tak kalah tajir dari lo." ucap Bony menoleh Hasta yang masih terlihat berpikir keras.


" Sebaiknya gue cari Renata." ucap Hasta seraya melangkah pergi.


"Eeh,eh,kok gue di tinggal,Has lo mau kemana? tunggu gue dong !! " teriak Bony cukup keras,sehingga beberapa tamu melirik ke arahnya.


Hasta tidak peduli dengan teriakan Bony,ia segera bergegas mencari keberadaan Renata di pesta tersebut.


Para tamu masih memenuhi area pelaminan, Hasta masih mencoba mencari-cari keberadaan nya Renata.


" Hasta !!!" tiba-tiba sang Ayah memanggil dirinya.


Hasta menoleh dengan air muka yang tak biasa.


" Kamu kemana saja?kamu belum ngucapin selamat sama nak Harry." ujar sang Ayah menghampiri.


" Bentar lagi pah." balas Hasta pelan.


" Sekarang saja kamu ucapin nya." ajak sang Mamah dengan menuntun putranya tersebut menaiki tangga pelaminan.


Hasta menurut tanpa ada perlawanan.


" Hai Has !! " sapa Harry dengan riang serta ramah.


" Selamat Har,atas pernikahan nya. !" ucap Hasta menyalami Harry dengan tersenyum tulus.


" Terimakasih Has." balas Harry penuh suka cita.


Tania yang memperhatikan dari tadi cukup penasaran atas kehadiran Hasta yang rupanya sudah kenal akrab dengan pria yang kini telah menjadi suaminya tersebut.


" Mas,kok kamu kenal Hasta ?" tanya Tania penasaran.


" Dia adalah anak dari Mitra bisnisku. " ucap Harry dengan tersenyum penuh kebahagiaan.


Tania menatap tak percaya jika dirinya menikah dengan seseorang yang memiliki hubungan erat dengan mantan nya tersebut.


" Selamat yaTan !!,semoga elo dengan Harry bahagia sampai hayat." ucap Hasta dengan pelan menyalami sang mantannya tersebut.


" Makasih Has." balas Tania tanpa ekspresi.


" Kamu kenal Hasta juga sayang ?" tanya Harry dengan menatap tenang.


" Harry teman kampusku mas.!" jelas Tania memperkenalkan Hasta ke Harry.


" Oyaa....,jadi kalian teman satu kampus ternyata yaa, enggak nyangka juga ya ? " ucap Harry masih dengan meantap tak percaya.Tania mengangguk seraya menggandeng mesra tangan pria menawan tersebut.


" Semoga kalian bahagia. " sela Hasta mendoakan untuk kebahagiaan Tania dan Harry.


" Makasih atas do'anya Has !" balas Harry seraya menpuk-nepuk tangan Hasta yang masih disalaminya.Hasta mengangguk dengan tersenyum.


" Makasih banyak atas kehadirannya Has !" sahut Tania dengan semeringah,Hasta pun hanya tersenyum tipis seraya mengangguk kecil.


Sungguh semuanya di luar dugaan nya Hasta,jika Tania bisa bersanding dengan seorang pengusaha muda yang kaya raya,yang sebelumnya Tania dengan begitu saja dicampakan oleh nya.


Hasta masih mencari-cari sosok Renata yang sedari tadi netranya tidak melihat keberadaanya.


Mana mungkin dia tidak hadir di pesta pernikahan bosnya,pikir Hasta seraya terus mengamati beberapa tamu wanita yang hadir diruang pesta tersebut.


Sejurus kemudian dia mencoba untuk menyisir di tengah-tengah keramaian para undangan yang hadir.


Hasta terdiam ketika tatapannya terbentur di sebuah taman yang berdekorasi penuh dengan hiasan bunga tulip yang indah,beserta mawar merah yang menambah suasana terasa kian romantis.


Di ujung sudut taman tersebut terpangpang poto Preweeding Tania beserta Harry yang terlihat begitu menawan.


Hasta membagikan pandangannya ke sekitar taman hias tersebut,ada beberapa tamu undangan yang sedang asik mengambil gambar di area tersebut.Pandang Hasta tertuju pada satu tempat,terlihat Renata sedang duduk termenung seorang diri menatap panjang orang-orang yang berlalu lalang di hadapannya tersebut.


Raut wajahnya terlihat begitu berat,entah apa yang sedang di pikirkannya, Hasta pun perlahan mendekatinya.


" Ta !" panggil Hasta pelan namun cukup sampai ketelinga Renata.


Renata menoleh namun sejurus kemudian dia kembali tertunduk untuk membuang jauh pandangannya.


" Lo gak gabung di sana ?" tanya Hasta penuh perhatian.


Renata tidak menjawab dia hanya mengisyaratkan bahwa dia hanya ingin sendiri saja.


" Ok sorry,gue ganggu lo " ucap Hasta seraya berniat untuk membalikan badannya.


" Kamu temukan dimana liontin ini ?" tanya Renata menahan langkahnya Hasta.


Hasta menahan langkahnya lalu perlahan dia memutar kembali badannya untuk menghadap ke arah Renata.


" Liontin itu gue temukan pas lo dingangguin oleh para preman pas waktu itu." jelas Hasta masih berdiri menatap lurus Renata.


" Lalu kenapa kamu kembalikan kepadaku ?" tanya Renata pelan.


" Gue pikir itu punya lo yang terjatuh."


" Liontin itu sudah tak berarti apa-apa lagi bagiku." ungkap Renata menoleh Hasta dengan berbagai perasaan.


Hasta menyeringah menatap Renata dengan berbagai pertanyaan.

__ADS_1


" Apakah semua ini ada hubungannya dengan pernikahan Bos lo itu ?" tanya Hasta dengan penasaran.


Renata terdiam.


" Apakah selama ini lo memendam perasaan terhadap Bos lo ?" tanya lagi Hasta semakin penasaran.


" Pak Harry bukan Bos ku !" ucap Renata singkat.


Sontak Hasta terkejut mendengar ucapan perempuan tersebut.


" Kalau dia bukan Bos lo,lalu siapa ?" tanya Hasta dengan mengerutkan dahinya.


Renata terlihat mengambil napas panjang,lalu menatap lurus ke arah Hasta.


" Pak Harry adalah kakak ku." tegas Renata.


Hasta tercengang mendengar pernyataan nya Renata.


Sulit di mengerti,namun apa kah ini sebuah lelucon untuk dirinya ??


Yaa TUHAN, sandiwara macam apa ini yang membuatku kembali shok merasakannya.


Batin Hasta berseru.


Ini suatu kebetulan ataukah memang takdir yang sudah TUHAN rencanakan untuk gue ?? guman Hasta sibuk membatin.


" Jadi Harry adalah kakak elo,elo sedang tidak bercanda ???" tanya Hasta dengan raut wajah yang benar-benar tak percaya.


Renata menggeleng,ia hanya menjawab dengan sebuah isyarat jika dia sedang tidak bercanda.


" Dan kakak ku menikah dengan mantan kekasihmu bukan?" tanya Renata menatap tajam Hasta yang masih tidak percaya atas kebenaran yang terjadi.


Hasta terlihat kuat menelan slavina nya.


" Yaa,Tania adalah mantan pacar gue, dan elo pasti masih ingat dia kan ?" tanya Hasta dengan ragu.


" Tentu saja aku masih ingat dia, wanita yang sudah menghinaku." ucap Renata dengan sinis.


Hasta terdiam dengan berbagai perasaan.


Dia merasa berada di tengah-tengah drama yang baru saja di mulai akan ceritanya.


" Sulit di mengerti, gue belum bisa sepenuhnya percaya dengan takdir ini." sela Hasta seraya memberanikan diri untuk duduk di samping Renata.


" Aku gak tahu,jika Ayah akan menjodohkan ka Harry dengan perempuan itu." ucap Renata terlihat gusar.


" Jadi pernikahan mereka atas perjodohan?" tanya Hasta menatap penuh makna.


" Ya,Ayah merupakan sahabat kecilnya orang tua Tania,dulu mereka sepakat jika akan menjodohkan anaknya satu sama lain." jelas Renata.


Hasta hanya mendengarkan tanpa berkomentar.


" Tapi kenapa harus dengan Tania ?" tanya Renata dengan nada kecewa.


" Semua udah di atur TUHAN." balas Hasta mencoba membesarkan hati Renata.


" Aku tidak mempertentangkan perjodohan ini,tapi aku menyesali kenapa harus Tania yang menjadi istri kakak ku." ungkap lagi Renata dengan perasaan sedih.


" Kenapa selama ini lo gak bilang jika Harry adalah kakak lo ?" tanya Hasta mengalihkan pembicaraan.


" Aku sengaja tidak menjelaskan siapa sebenarnya Pak Harry ke hal layak publik,karena menyembunyikan identitas nya membuatku nyaman." terang Renata.


" Kenapa itu membuat elo nyaman ?" tanya Hasta kian penasaran.


" Supaya aku tidak merasa terganggu dengan laki- laki yang berniat mendekatiku." ujar Renata tegas.


" Jadi elo merasa terganggu dengan kehadiran gue ?" tanya Hasta menatap tajam.


" Tidak juga," jawab Renata singkat.


" Lalu,kenapa elo selalu menghindar?"


Renata menarik napas panjang,seperti ada tekanan yang begitu kuat di dadanya.


" Entah kenapa rasanya aku sudah tidak ada kata percaya lagi dengan semua ucapan laki-laki di luaran sana,termasuk kamu." jelas Renata lirih,seraya pandangannya menerawang jauh kekerumunan para tamu undangan yang sedang asyik menikmati semua hidangan.


Hasta ikut menarik napas panjang,ada kekecewaan yang begitu dalam di rasakan Renata hingga menyiskan perasaan trauma terhadap lelaki.


" Apakah ada yang pernah menyakiti lo ?" tanya Hasta lirih.


" Aku rasa,ketika seorang perempuan di sakiti atau di hianati makanya dirinya akan sulit untuk kembali percaya." sela Renata menatap dalam Hasta.


Sejenak Hasta terdiam,dan ingatannya kembali akan ke masa lalunya,jika dirinya betapa begitu mudah menyakiti dan membuat kecewa hati para perempuan- perempuan lain, termasuk Tania yang kini sudah menjadi kakak iparnya Renata.


Entah sudah berapa banyak perempuan yang telah menangis karena dia sakiti hatinya bahkan di hianati hanya untuk egonya semata.


" Gue tau,perasaan wanita mudah tersakiti." ujar Hasta berusaha membela diri.


" Dan laki-laki mudah menyakiti." balas Renata tak mau kalah.


Hasta menoleh dengan perasaan tak menentu.


" Termasuk Tania kan,pernah kamu sakitin ??" sela Renata menatap datar.


 


Dekkk....


Hasta merasa ucapan Renata menghujam ulu hatinya.


Dan itu tepat menusuk di sasaran nya tanpa meleset sedikitpun.


" Iya kan Has " tanya Renata mengulang pertanyaan nya dengan menatap penuh tuntutan.


Hasta bungkam dengan penuh segala rasa yang berkecambuk di benaknya,ia benar-benar tak mampu berkata-kata apa lagi,setelah di skakmat oleh perempuan sederhana tersebut.


••••••••••••••••BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2