
" Hasta, Haryy mengundang kita untuk makan siang bersama,dan sekaligus ia mengundang kita ke acaranya dia." Ucap sang Ayah mengawali obrolan kecil di pagi hari.
Hasta enggan untuk menyahutihya,dia hanya terdiam dengan menikmati sepotong roti dengan tak berselera.Sang Ayah menghentikan makan nya,lalu menoleh ke arah Hasta yang masih terdiam.
" Hasta kamu dengar Papah ?" tanya sang Ayah menatap lurus putranya.
" Eh iya pah!!" sahut Hasta terlihat kaget.
" Pagi-pagi sudah bengong." ujar sang Ayah heran.
" Tau nih pah,akhir-akhir ini Hasta sering bengong sendirian" sela sang Mama seraya menuangkan teh manis ke cangkir sang suami.
" Kenapa Has,kamu ada masalah ?" tany sang Ayah melanjutkan kembali kegiatan sarapan nya.
Hasta menggeleng.
" Apa pasilitas dari Papah masih kurang ?" tanya kembali sang Ayah.
" Engga pah. " sahut Hasta pelan.
" Mama merasa khawatir melihat sikap kamu sedikit berbeda,biasanya kamu itu sering cerita sama Mama kalau ada apa-apa. " sang Mama menimpali.
" Tidak Mah,Hasta baik-baik saja." ucap Hasta tersenyum hambar.
" Atau jangan-jangan anak Papah ini sedang patah hati lagi," celoteh sang Ayah melirik putra kesayanan nya tersebut dengan tersenyum menggoda.
" Ah Papah so tahu!!" ucap Hasta kecut.
" Tapi Mama perhatikan memang kamu sedikit berubah Has,malahan dari kemarin selera makan kamu mama perhatiin kurang bagus." ucap sang Mama menatap bijak.
" Di kampus kebetulan lagi banyak tugas Pah,Mah" balas Hasta berusaha terlihat baik-baik saja.
" Nanti siang jangan lupa ke kantor Papah ya!." sela sang Papah dengan cepat.
" Ada apa lagi sih Pah ?" tanya Hasta mulai terlihat bete.
" Kan papah barusan bilang,jika nak Harry ngundang kita untuk makan siang, sekalian juga dia ngundang kita ke acara pestanya dia." jelas sang Ayah begitu santai.
" Pestaa ?" tanya Hasta penasaran.
" Iya,pesta,Papah enggak tau pesta apa itu." ujar sang Ayah seraya mengelap mulutnya dengan tisu.
Hasta menatap penasaran ke arah sang Ayah.
" Mah,Papah berangkat dulu ya." pamit sang Ayah sambil beranjak pergi.
Hasta masih terdiam,pikirannya sedang menduga- duga atas pesta tersebut.Perasaan gelisah pun berhasil mendominasi pikirannya.
Pestaa ???
Hasta termenung mencoba berpikir keras.
Apakah benar jika Renata akan tunangan,atau menikah ??
Oh my God !!
Hasta menggeleng merasakan kepalanya terasa berat.
..................
Acara Makan siang
Hasta terlihat duduk berdampingan dengan sang Ayah, Raut wajahnya terlihat tidak begitu menikmati dengn apa yang sedang terjadi.
Di hadapannya nampak Harry dan Renata duduk berdampingan dengan jarak tak jauh,Hasta masih terdiam ia enggan untuk ikut dalam obrolan,ia hanya memilih menyimak obrolan hangat antara Harry dan sang Ayah.
Tak jauh berbeda dengan Renata,ia pun hanya terdiam dan menyimak obrolan hangat antara Harry dan Pak Bram,Ayah dari Hasta.
Renata terlihat sedikit canggung dengan sesekali dia membenarkan posisi kain penutup kepakanya,bahkan sepertinya dia terlihat tidak begitu berselera untuk menyentuh hidangan yang berada di hadapannya tersebut.
" Hass kamu dari tadi kok bengong saja,lagi ada masalah ?" tanya Harry dengan menatap penuh ke arah Hasta.
" Oh tidak,aku baik-baik saja" jawab Hasta seraya melirik pendek Renata.Renata menunduk dengan perasaan tak menentu.
__ADS_1
" Oya Pak Bram,saya sengaja mengundang bapak dan Hasta untuk makan siang karena ada hal yang ingin saya sampeikan." ucap Harry menoleh ke arah Renata.
Renata hanya terdiam membagikan pandangannya dengan tersenyum tipis ke arah Hasta serta pak Bram.
" Oya nak Harry,saya merasa penasaran atas undangan yang nak Harry sebutkan tadi malam itu." ujar Bram membalas.
" Iya pak Bram,saya mengundang Bapak serta Hasta untuk hadir di pernikahan saya nanti." jelas Harry tersenyum hangat.
Hasta tercekat mendengar pernyataan Harry tersebut.
Braakkk....
Seperti ada yang retak di dalam hati pria tampan tersebut,setelah mendengar penuturan dari Harry.
Hasta menatap tajam ke arah Renata yang masih terdiam dengan menatap dalam Harry yang masih berbicara.
Sudah kuduga....
Hasta menelan kuat slavinanya.
Ia telah menduga jika Harry benar-benar akan menikahi Renata.
Rasa mual,penat,pusing,bahkan vertigo tiba-tiba bertumpuk menjadi satu d kepalanya, penglihatanya mendadak berkunang-kunang bahkan terasa lebih dari itu,mengeblurr akan semua pandangannya.
Semenderita ini kah ketika mengetahui orang yang teramat ia cintai akan menikah dengan orang lain.
Hasta menggeleng sempurna mengusir rasa sakit yang bertumpu di kepalanya.
" Wahh selamat dong nak Harry kalau begitu, kabar yang sangat menggembirakan" seloroh Bram ikut merasa bahagia atas kabar tersebut.
" Beruntung sekali perempuan yang akan di nikahi oleh kamu na Harry." ungkap Bram seraya menoleh Hasta yang sibuk mengosok-gosok kedua telapak tangannya seperti orang yang sedang kedinginan.
" Loh Has,kamu kenapa ?" tanya sang Ayah menatap cemas.
" Gak ngerti Pah,tiba-tiba saja Hasta merasa demam." jawab Hasta dengan melirik kecik ke arah Renata.
Renata mengalihkan pandangannya lalu menatap Hasta dengan penuh tanda tanya.
" Gak tau pah ,tiba-tiba saja meriang kaya gini " bisik Hasta terlihat tidak nyaman,badan nya terlihat gemetaran.
" Kamu kenapa Has ?" tanya Harry yang ikut menatap ke arahnya dengan penasaran.
" Tidak apa-apa Har,aku baik-baik saja" ucap Hasta mengusap-ngusap tengkuknya dengan sedikit gugup.
Rasanya Hasta ingin menghilang detik itu juga dan lenyap dari pandangan Harry dan Renata undangan pernikahan Harry cukup menjebol daya imun tubuhnya sehingga dia merasa demam seketika.
...................................
Bony membagikan pandangannya keseluruh ruangan Caffe tersebut,ia sedang mencari sosok sabatnya,dan tak berapa lama,ia pun menemukan sosok tersebut lalu tanpa berpikir panjang ia pun segera bergegas menghampirinya.
" Akhirnya gue menemukan lo !gue cari-cari elo, tau-taunya di sini."
sapa Boni seraya menepuk pelan pundak Hasta yang lagi sibuk mengaduk jus kesukaannya.
Hasta menoleh.
" Kok lo tau gue di sini ?" Tanya Hasta heran.
" Insting seorang sahabat itu selalu tau jika cs nya sedang berada dimana ?" balas Bony dengan percaya diri.
" Lebay banget sih loh..." sahut Hasta tersenyum kecut.
" Eh,kok tumben loh ke Caffe sini lagi ?" tanya Bony menatap penasaran sang sahabat.
" Lagi pengen aja." jawab Hasta singkat.
" Lagi pengen apa sedang merindu dengan seseorang." Boni terlihat menggoda Hasta dengan menggerak-gerakan kedua alisnya dengan penuk makna.
Hasta melengos dengan perasaan jengah.
__ADS_1
" Berisik lo !" desisnya pelan.
" Mas !! caffucino satu ya !!" teriak Bony cukup keras,ke arah pelayan yang melintas tepat di hadapannya.
" Renata mau nikah Bon." ucap Hasta dengan suara lirih.
" Terus,apa pentingnya buat gue ?" tanya Boni sedikit acuh.
" Gue hanya ngasih tau lo aja." balas Hasta dengan nada kecewa.
" Gue sih gak kenal dia,lo ngasih tau gue juga,gue gak akan hadir." ujar Boni dengan santai.
Hasta terdiam,entah kenapa respon dari sahabatnya sedikit membuat dia kecewa.
Bony melihat jelas perubahan dari raut wajah sahabatnya itu yang terlihat kecewa begitu dalam.
" Elo sedih,patah hati dan kecewa ?" tanya Bony menatap lurus Hasta yang terlihat muram.
Hasta menarik napas panjang,seolah ada beban yang begitu berat ia rasakan.
" Yaa namanya juga orang yang gue sayang denger dia mau kawin sama orang lain ya gue sedih lah,nyesek lah Bon." balas Hasta terdengar parau suaranya.
Sejenak Bony menatap iba kepada sahabatnya tersebut,sesungguhnya ia merasakan apa yang sedang Hasta rasakan.
ia pun mengakui jika kali ini ia melihat Hasta benar-benar sesedih ini patah hati karena cinta.
" Gue paham,dan gue berharap lo bisa nerema kenyataan ini Has,bahwa enggak semua yang lo mau harus lo dapatin." tutur Bony dengan bijak.
Hasta menegakan tubuhnya dengan terlihat menahan sesak di dada.
" Gue enggak nyangka sedikitpun kalau gue harus ngalamin patah hati dan kecewa yang sedalam ini." ujarnya dengan terbata.
" Lo gak usah khawatir,cewek masih banyak Has, gue yakin di balik rasa kecewa lo akan ada kebahagiaan menanti diri lo" ucap Bony menguatkan seraya menepuk-nepuk pundak Hasta untuk tetap tegar.
" Makanya lo harus segera move on,si Tania aja dengan cepat ia bisa ngelupain lo,masa lo yang nyakitin dia,lo enggak bisa " jelas Bony berapi-api.
" Dan dia akan segera bahagia dengan cowok pengganti lo,dan seharusnya lo juga bisa move on dari Renata." ucap Boni berusaha menguatkan sahabatnya tersebut.
Hasta menggeleng dengan perasaan yang sulit di artikan.
" Menyimpan sebuah persaan yang mendalam itu sama saja halnya dengan menunda langkah lo buat bahagia." ujar Bony kembali menguatkan Hasta.
" ............"
Hasta terdiam hanya menatap dalam Bony yang sedang berbicara kepadanya dengan penuh bijak.
" Gue yakin,seyakin- yakin nya jika elo adalah laki laki yang kuat bro !! lo tengil tapi lo gak cemen.." ujar Bony cengengesan.
" Bisa aja loh!!" sela Hasta dengan tersenyum tipis melihat tingkah sahabatnya tersebut.
" By the way elo hadir kan di nikahin nya Tania ?" tanya Boni mengalihkan pembicaraan, Hasta hanya mengangkat kedua pundaknya dengan malas.
" Tapi Has....,," sela Bony mengantung menghentikan ucapannya seraya berpikir
" Tapi apa ??" Hasta mengernyit.
" Ternyata kalau di pikir-pikir hidup lo ngenes juga ya Has." ujar Bony seraya mengisap minuman caffucinonya yang baru saja di antar sang pelayan.
" Maksud lo ?" tanya Hasta sinis.
" Mantan lo mau married,ehhh gebetan lo maried juga,elo sama-sama di tinggalin nikah, gimana ga ksakit jiwa lo . " selorih Boniy tertawa lepas melihat nasib malang yang menimpa sahabatnya.
Bola mata Hasta membulat setelah mendengar ejekan sang sahahatnya.
" SIALAANN LO !!!.." serapah Hasta seraya melempar sedotan ke arah bony yang masih tertawa puas.
" Ini keren untukdi buat sebuah kisah,Play Boy kena batu nya." ujarBony cekikikan.
" Asli gak lucu,lawakan lo garing." sergah Hasta semakin kesal melihat sikapnya Bony.
" Siapa pula yang ngelawak,orang gue serius,coba aja lo pikir betapa malangnya nasib lo sekarang,kisah kasih yang terkandass haa...haa...," Bony semakin menjadi-jadi,hingga Hasta merasa geram di buatnya.
" Puas lo ngetawain gue ?" tanya Hasta mendilak.
__ADS_1
" Selama gue kenal dengan elo,kali ini gue melihat elo semenderita ini,biasanya kan cewek-cewek tuh yang suka menderita ama elo,sekarang lo boleh nangis termehek-mehek atas kisah lo ini." kembali Bony berkata dengan masih di selingi canda tawa.
Hasta menggeleng,merasakan kebenaran yang di ucapkan sahabatnya tersebut.