
HASTA terbangun saat tirai kamarnya terbuka, tirai tersebut tersingkap dan sinar mentari pun langsung menyinari ruang kamarnya tersebut.
Sinar terang menyoroti wajahnya,perlahan Hasta membuka matanya lalu menggrecep-grecepkan matanya yang masih terasa lengket.
Sejurus kemudian dia terlihat memicingkan kedua matanya dan mencoba menghalangi matanya dengan kedua telapak tanganya.
" Hasta " panggil lembut sang Mama yang membangunkanya,lalu sang Mama pun duduk di tepi kasur tak jauh dari Hasta.
Hasta dengan susah payah berusaha membuka matanya yang masih terasa lengket.
" Mama..." sela Hasta sambil mengucek matanya,lalu ia pun terbangun.
" Papah sudah cerita sama Mama akan masalah di kantor " ucap sang mama menatap lembut Hasta.
Sejenak Hasta menatap kosong ke langit-langit kamarnya dan tidak beberapa menit kemudian dia pun mengubah posisinya menjadi duduk,di hempaskannya selimut yang menutup sebagian badannya lalu duduk di samping sang Mama.
" Ini semua salah Hasta Ma." ucap Hasta lirih.
" Kok salah kamu,mungkin ini namaya bukan rejeki kita Has, hal seperti ini sering terjadi di dunia perbisnisan nanti juga ada gantinya." ucap sang Mama berusaha membesarkan hati putranya.
" Papah pasti kecewa sama Hasta " ujar Hasta semakin lirih,suaranya begitu berat.
" Tidaklah Has,kamu kan...... ,," ucap sang Mama mengantung.
" Sejak kapan kamu menyukai Renata adik dari na Harry ? " tiba-tiba sang Ayah menyela dengan menatap tajam ke arah Hasta.
Hasta terhenyak atas kedatangan sang Ayah yang begitu saja.Ia pun menoleh sang Mama dengan pikirnya terasa ruyam,matilah dia ketika sang Ayah harus tau permasalahan yang sebenarnya.
" Pah !!." pekik Hasta terdengar datar seraya menggaruk kepalanya tanpa arah.
" Kenapa kamu tidak cerita soal ini ?" tanya lagi sang Ayah seolah-olah menyayangkan jika kontrak pekerjaanya terputus begitu saja hanya gara-gara urusan pribadinya.
" Masalahnya rumit pah." ujar Hasta dengan perasaan tak menentu.
" Sebetulnya papah tidak ingin ikut campur dalam permasalahan pribadi kamu,tapi nak Harry sudah menjelaskan alasan kenapa dia menghentikan kontrak kerja ini hanya karena masalah kamu dengan adiknya.Hasta,sebenarnya ada permasalahan apa yang terjadi di antara kalian,sehingga nak Harry harus memutuskan kotrak pekerjaan ini ?" tanya sang Ayah menatap penuh bijak,ia tidak ingin gegabah dalam bertanya sesuatu yang bisa membebani perasaan putranya tersebut.
Hasta terdiam dengan perasaan kian bersalah.
" Jika Harry benar-benar memutus kontrak pekerjaan ini,tentu saja perusahan kita akan mengalami banyak kerugian Has " jelas sang Papah terlihat ada rasa kecewa yang tersirat dalam di raut wajahnya.
" Maafkan Hasta Pah ! semua ini memang salah Hasta." ucap Hasta tertunduk lesu.
Tak lama di usapnya lembut pundak Hasta oleh sang Mama.
Bram menarik napas panjang lalu dia pun mengambil duduk di sofa yang mengahadap lurus ke arah tempat tidur putranya.
" Hasta salah,Hasta mencintai Renata Pah ? " ungkap Hasta lirih,dengan perasaan yang berat akhirnya Hasta menceritakan asal muasal dia kenal dengan Renata serta permasalahan Tania pun tak luput dari ceritanya.
Hasta mengakui jika akan kesalahan-kesalahan yang telah dia perbuat selama ini.
Dirinya pun berterus terang jika ia tidak melakukan hal yang lebih dari sekedar pacaran saja,setolol- tolonya dirinya Hasta masih bisa bersikap rasional tidak memanfaatkan situasi hanya untuk kepuasaan sesaat.
Tak sebejad apa yang mereka pikirkan.
" Mah,Pah,Hasta melakukan itu semua bukan berarti Hasta bangsat Ma, Hasta hanya ingin mencari yang lebih cocok untuk diri Hasta ini." jelas Hasta dengan suara lirih.
__ADS_1
" Tapi caramu itu salah Has, mana ada perempuan yang ingin d permainkan perasaanya walaupun kita niatnya ingin mencari yang terbaik,bukan seperti ini caranya." sela Mamanya dengan menatap bijak.
" Tapi Hasta tidak melakukan lebih dari itu Ma, Hasta masih punya akal sehat dan Hasta hanya mencari kenyamanan saja. " bantah Hasta berusaha membela diri.
" Tetap saja, apapun itu alasannya bukan seperti itu caranya mencari cinta sejati." sela sang Papah menimpali.
" Ini menyangkut image kamu !, citra nama baik kamu akan terlihat jelek di mata perempuan luar sana yang telah mengenalimu,bahkan perempuan yang pernah kamu sakiti akan bercerita banyak kepada perempuan lain tentang siapa kamu." ungkap sang Ayah dengan intonasi yang berbeda.
Hasta terdiam,tak ada lagi kata-kata yang mampu menyanggah ucapan sang Ayah,semua nya benar,image dia telah buruk di mata perempuan luaran sana.
Bram menghela panjang,ada permasalahan yang rumit di kepalanya setelah tau akan permasalahan yang terjadi.
" Baiklah,Papa akan coba berbicara kembali dengan nak Harry,untuk menarik kembali keputusannya ini,Papah tidak mau juga jika project ini akan terbengkalai begitu saja setelah saham sudah masuk ke perusahan kita,dan seharusnya kita harus berusaha lebih profesional antara pekerjaan dan masalah pribadi.Karena perusahaan kita tentunya tidak mau mengalami kerugian juga kan ?" ucap Bram menatap lurus putranya.
Hasta masih tertunduk dengan perasaan kian tak menentu,ini bukan masalah sepele yang ia abaikan begitu saja.Ini adalah masalah besar yang menyangkut nama baik serta kelancaran perusahan sang Ayahnya.
" Maafin Hasta pah !! masalahhnya jadi rumit begini." ungkapnya dengan nada penuh sesal.
" Ini akan menjadi pelajaran yang berharga buat kamu,supaya kamu bisa lebih menghargai persaan perempuan,yah Papah juga tidak ingin putra Papah satu-satunya akan menjadi jomlowan sejati hanha gara-gara pernah menjadi seorang sang playboy." jelas sang Ayah tersenyum dengan penuh bijak.
Bagi Bram,kemarahan bukan solusi untuk menyeleseikan suatu permasalahan.
" Lagian kok bisa sih kamu bersikap so playboy kaya gitu, perasaan Papah dulu pernah muda kaya kamu,tap gak gini-gini juga. " seloroh sang Ayah melirik istrinya dengan harap-harap cemas.
Sang Mama memesem dengan penuh makna.
" Lupa yaa kalau kirim surat salah kirim isinya ??" sela sang Mama dengan melirik jutek sang suami.
Hasta mengernyit melihat kelucuan yang di tampilkan kedua orang tuanya.
Bram tersenyum kecut ketika istrinya masih ingat akan kesalahan dirinya ketika masa-masa pacaran mereka.
Wajah Bram menciut merasakan malu tak terhingga.
" Yaa itu cuman salah kirim doang Mah,karena lupa kasih nama, tapi nyatanya Papah masih tetep setia kan sama Mama Hingga sekarang." sang Ayah kembali menimpali untuk membela diri.
Sang Mama mendecih dengan manja.
" Alaahhh, memang laki-laki itu sama semua, kamu juga Has mau ikutin jejaknya Papah kamu." ucap sang Mamah sambil menepuk bahu Hasta cukup kencang.
Hasta hanya tersenyum lalu memeluk erat sang Mama dengan hangat.
......................
PERTEMUAN dilaksanakam dengan tertutup antara Ayah Hasta,Bram dengan Harry,sedangkan Hasta hanya menyimak tanpa ikut berbicara,sang Ayah mencoba menyelesaikan permasalahan ini dengan rasional.
Hasta terlihat bersikap lebih tenang,ia berusaha belajar lebih bisa menahan diri untuk tidak berkata arogan serta emosi.
Dia telah menyadari jika permasalahan ini telah mendewasakan dirinya.
Akhir dari sebuah keputusan adalah kesepakatan bahwa Harry mencabut kembali keputusannya tersebut yang secara tidak langsung akan merugikan perusahan besar orang tua Hasta.
Akhirnya Hasta bisa bernapas lega,setelah sang Ayah melakukan negosiasi terhadap keputusan nya Harry.
Namun dari hasil keputusan itu ada hal yang harus di pertaruhkan olehnya.
__ADS_1
Yaa sebuah rasa yang tak bisa lagi dia pertahankan.
" Semoga kita lebih bijak lagi nak Harry dalam memutuskan segala sesuatu yang bersangkutan dengan sebuah pekerjaan,apa lagi menghadapi permasalahaan yang menyangkut masalah pribadi." ujar Bram tersenyum simpul.
Harry mengangguk dengan penuh ekspresi.
" Nak Harry,maafkan Hasta yang telah lancang mencintai adik na Harry,tapi kita semua tau,jika kita tidak bisa melarang akan perasaan mereka satu sama lain. " jelas Pak Bram dengan bijak,ia tidak ingin memperkeruh masalah ini dengan saling menyalahkan.
" Dan saya yakin jika anak saya Hasta juga tidak sejahat apa yang telah orang lain ceritakan tentang dia,dia tidak sebejad itu,ia masih dalam batas yang normal-normal saja,mungkin masa lalu hanya untuk sebuah pelajaran saja,dan kini ia sudah merasa tulus mencintai seseorang,apa salahnya kita memberi kesempatan untuk dia memperbaiki dirinya. " jelas Pak Bram di akhir pertemuannya.
" Yaa pak Bram saya paham akan hal itu, setadinya saya juga tidak ingin melakukan hal ini karna Renata adik saya satu-satunya jadi saya berusaha memberi yang terbaik untuk dia," Ucap Harry di sela,-sela obrolan terakhirnya.
" Sekali lagi atas nama pribadi saya , saya mohon maaf atas ketidak nyamannya, dan saya sudah terburu-buru dalam memberi keputusan ini" ungkap Harry dengan penuh permohonan.
" Gidak apa-apa nak Harry cuman alangkah lebih bijak lagi kita dalam mengambil sebuah keputusan, jangan sampai kita merugikan belah pihak ." ujar Bram tersenyum hangat,sosok Ayah Hasta memang begitu bijak sana serta penyabar.
Dan pada akhirnya mereka pun saling bersalaman tanda permasalahan ini telah usai.
" Gue berharap perasaan ini secara perlahan akan segera hilang,dan gue pun sangat berharap,bahwa gue tidak akan menemukan lagi rasa seperti ini " guman Hasta di dalam hatinya seraya memandang lekat ke arah Harry dan sang Ayah yang sedang bersalaman.
Sepertinya Hasta memang harus berhenti berharap,dan ia menyadari jika dirinya tidak bisa memaksakan kehendak orang lain,biarlah perasaan ini mengalir begitu saja dan meninggalkan hatinya tanpa berkesan.
Mungkin secara perlahan rasa ini akan hilang,namun ia tidak tahu dengan cara apa untuk mengendalikan persaan nya tersebut, dia berharap waktu bisa mengubah perasaan dan cinta yang teramat besar terhadap Renata,karna dia menyadari jika cinta memang tak selamanya harus bisa memiliki.
Apapun yang telah terjadi dalam kehidupannya ini,ini adalah anugrah yang terindah, anugrah cinta yang tak akan pernah termiliki oleh Hasta.
Cinta yang sulit di miliki oleh seorang Hasta,namun dirinya tidak menyesali akan pertemuannya dengan seorang Renata,karena Renatalah yang telah memberinya pelajaran yang sangat berharga, dia yakin ini adalah sebuah takdir,takdir yang tak bisa di tolaknya.
Semua ini pasti akan ada hikmahnya,Renata adalah sosok perempuan pertama yang telah membuat dirinya mampu berubah.
Dan Renata jualah perempuan pertama yang telah menolak cintanya, serta perempuan pertama yang telah membuat hatinya hancur.
Semua hanya mampu untuk di kenang dalam doa dan mencintai nya dalam diam.
Hasta yakin suatu saat nanti dia akan menemukan kembali cintanya,suatu saat nanti akan ada seseorang yang akan menerima dia apa adanya, seseorang yang memiliki hati yang tak pernah membenci dan yang tidak akan mempersoalkan kisah masa lalunya.
.................
" Senyum-senyum sendiri aja sih Has.." tiba-tiba Bony sudah berada di hadapan Hasta dengan membawa dua botol minuman segar.
" ............ " Hasta hanya menoleh lalu ia kembali masih asik menatap layar laptopnya.
" Lo lagi nulis apaan sih?" tanya bony kepo,ia pun menjulurkan kepalanya untuk melihat kedalam layar laptopnya Hasta.
Sejenak Bony menggeleng.
" Sett dahh !! Dia bikin puisi." guman nya dengan nada lucu.
" Ah elo banyak komen. " Ujar Hasta menyikut perut buncit Bony.
" Gue berharap lo harus bisa move on Has, mencintai tanpa memiliki itu ibarat kita kehausan di tengah-tengah gurun pasir,kita dahaga tapi gak biss minum man !! " ucapnya dengan penuh gaya.
" Lebay banget sih lo." ucap Hasta terkekeh melihat gaya sahahatnya tersebut.
" Semua akan baik- baik saja Has gue percaya itu." ujar Bony menatap lekap sang sahabat.
" Semoga !! " ucap Hasta semangat,kini tak ada lagi raut wajah sedih yang menghiasi raut wajahnya tak ada lagi rasa gelisah yang tersirat dalam ekspresi nya.
__ADS_1
Hasta dan bony pun tersenyum simpul mereka akan selalu saling menguatkan walau ujian dan maslah datang silih berganti.