Sang Play Boy

Sang Play Boy
Sang Playboy episode 08


__ADS_3

SEPULANG dari Kampus Hasta sengaja singgah ke kantor sang Papah.


" Siang Ratih,apakah hari ini kantor Papah saya ada tamu ?" Tanya Hasta sembari menyender di meja Ratih dengan menatap genit.


" siang pak Hasta! sepertinya hari ini tidak ada tamu pak !" Jawab Ratih sembari memperhatikan Hasta dari ujung kepala hingga ujung kaki, ada yang beda dengan penampilannya tersebut.


Ratih masih melongo menatap tak percaya ke arah Hasta,ia terkagum kagum akan penampilan putra sang Presdir tersebut.


Kali ini Hasta datang ke kantor sang Papah dengan penampilan yang berbeda.Biasa berpenampilan formal,kali ini ia hanya mengenakan pakaian santainya,Beda dengan beberapa waktu yang lalu,Saat Ia pertama kali datang ke kantor.


Hasta terlihat lebih keren dan Cool dengan penampilan kali ini, Ia menggunakan kaos oblong hitam yang di paduin dengan jaket levis denim belel dan celana senada dengan warna jaketnya tersebut.


" Oya Papah ada di kantor ?" tanya Hasta dengan bersikap lebih cool.


Ratih masih terdiam dengan menatap penuh pesona ke arah wajah Hasta yang terlihat jelas jambang tipis yang menghiasi kulit putihnya tersebut.


sekilas memang wajah Hasta mirip dengan penyanyi Hollywood yang terlihat begitu sangat hansome.Tepat nya Zean malik,ya Zean malik,nyaris ketampananya seperti itu.


Ratih masin larut dalam buaian ke tampanan anak sang Predsirnya tersebut.


" Hallloooo !!" Seru Hasta sedikit meninggikan suaranya setelah melihat sekertaris sang Ayahnya menatap bengong ke arahnya.


Ratih menggerecep dengan perasaan malu.


" Kok bengong ?" tanya Hasta tersenyum lembut.


Ratih terlihat gugup.


" Maaf pak Hasta,sepertinya saya kurang Aqua." jawab Ratih tersenyum kaku.


" Apa mau saya ambilkan Aqua nya ??" tanya Hasta semakin menggoda sekertaris cantik tersebut,sontak sekertaris itu terlihat merona kedua pipinya.


" Ah pak Hasta nih,bikin saya geer saja." Balas Ratih tersipu.


" tidak masalah,biar kamu bisa konsentrasi." Sela Hasta tersenyum simpul.


" Tadi pak Hasta nanya apa ?" tanya Ratih mengalihkan pembicaraan.


" Papih ada di kantor ?" tanya Hasta mengulang dengan sabar.


" Bapak baru saja keluar pak," balas Ratis dengan terus menikmati kegantengannya seorang Hasta dari jarak yang begitu dekat.


Wangi farpum pria tampan itu begitu wangi hingga menguar ke area ruangan.


" Meeting ?" Tanya Hasta melirik Ratih.


" Ada acara mendadak dengan salah satu Custumer perusahaan kita Pak " jelas Ratih dengan tetap terus menatap penuh wajah gantengnya Hasta. 


" Siapa ?" Tanya Hasta memicingkan matanya kearah Ratih yang kembali melongo hinga nyaris tak berkedip menatap ketampanannya.


Hasta menggeleng melihat sikap sekertarisnya tersebut.


Lagi-lagi Ratih tak menjawab pertanyaanya,Hasta di buat kesal kembali.


" Hallo......!!" Hasta mengejutkan Ratih yang masih terlihat bengong menatapnya,lalu Hasta mengoyangkan telapak tangannya tepat di hadapan wajah Ratih.


"Eehh...,Anu Pak, sama Pak Burhan " Ucap Ratih dengan terlihat gugup.


" Rupanya elo masih kurang Aqua." ucap Hasta dengan kesal.


" Habisnya pak Hasta ganteng Banget sih,apa lagi pake baju giniaan,mirip penyanyi luar negri pak." Puji Ratih sembari tersenyum manja.


Hasta menyeringah dan menatap lucu ke arah sekertaris tersebut.


" Masa sih? apa lo punya pena ?" Tanya Hasta sambil menatap penuh goda kearah Ratih.


" Untuk apa ? " tanya Ratih dengan terlihat heran.


" Untuk nyatet nomer Hp kamu... " ucap Hasta dengan repleks keluar naluri gombalnya.


 


" Aaiihhh !! " Ratih langsung tersipu malu dengan raut wajahnya berubah merah merona.


Siapa sih yang tidak merasa bahagia bisa di gombalin oleh anak seorang PREDSIR yang gantengnya hampir nyaingin aktor Hollywood.


" Pak Hasta bisa saja !! " Ucap Ratih tersipu sipu.


"Oya Rat,kamu punya nomer telepon nya pak Harry atau ibu Renata gitu?" Tanya Hasta mengalihkan pembicaraan setelah di lihatnya Ratih mulai salah tingkah kepadanya.


Ia tidak ingin Ratih salah paham dengan gombalannya tersebut.


Sejenak Ratih terlihat berpikir,mengingat seseuatu.


" Yang pemilik perusahaan minuman RITAIL itu pak ?" tanya pelan.


" iya,, benar sekali, ada gak ?" tanya Hasta tak sabar. 


" Sebentar pak saya cek dulu, " ucap Ratih seraya menatap layar komputer di hadapannya dengan raut wajah serius 


 


" Ini pak disini ada nomernya ibu RENATA AVTATA" Ucap Ratih seraya menyodorkan beberapa helai kertas yang bertuliskan no Handphonenya Renata sera Harry.


" Oh nama lengkap dia Renata Avtata pantesan dia di panggilnya Tata ternyata nama ujungnya " Guman Hasta dengan terlihat mengangguk angguk kan kepalanya.


 


Ratih melihat heran atas sikapnya Hasta.


" Kenapa Pak ? apa bapak ada masalah dengan bu Renata ?" tanya Ratih penuh selidik.


" Oh tidak ada apa-apa.Makasih banyak ya Rat informasinya, kamu memang cantik, sangat cantik " Puji Hasta sambil mengedipkan sebelah matanya dengan genit.


 


Sontak membuat pipi Ratih memerah.Ia pun hanya tersenyum bahagia menatap Hasta yang melangkah pergi meninggalkanya. 


___________


Setelah mendapatkan nomer teleponnya Renata,diam- diam ia sering menghubungi perempuan tersebut, di sela waktu senggangnya ia menyempatkan untuk menelpon Renata hanya sekedar untuk mengajak ngobrol atau berbasi basi seputar permasalahan pekerjaan.


 


Akan tetapi,sepertinya Hasta memang harus kembali berlapang dada dengan responan yang diberikan Renata kepadanya, tidak ada yang berubah dari dalam diri seorang Renata, perasaannya tetap seperti dahulu,cuek dan terkesan acuh terhadap dirinya. Renata benar-benar menganggap Hasta epenuhnya sebagai Mitra bisnis dari perusahannya tersebut.


Bagi Renata tidak ada perasaan khusus terhadap Hasta meski terkadang perlakuan Hasta sering terlihat spesial terhadap dirinya.


 


Siang ini cuaca begitu terasa panas,seusai pulang ngampus kini Hasta lebih sering mampir ke kantor nya sang Papah, entah perasaan apa yang mendorongnya untuk selalu mampir ke tempat tersebut.


Sebelum ke kantor Ia menyempatkan diri untuk mampir ke sebuah Restoran yang tak jauh dari tempat kantornya sang Papa,ia berniat untuk mengisi perutnya yang terasa sudah keroncongan.


Pandangan Hasta menyapu ke semua ruangan Restoran tersebut,lalu tak sengaja pandangannya mendarat di sebuah meja tepatnya di pojok ruangan,terlihat seorang pria bersama seorang perempuan tengah asik menikmati makan siangnya.


Hasta mencoba menyimak jelas akan sosok perempuan dengan posisi duduk setengah membelakanginya,dengan rasa penasaran Ia pun perlahan melangkah ke arah pojok ruangan tersebut untuk memastikan jika dirinya mengenali sosok perempuan tersebut.


Setelah cukup jelas pandangannya, Hasta pun dapat melihat jika sosok perempuan itu benar,adalah Renatanyang sedang duduk bersama Harry Bos di perusahaanya,Hasta menatap ke arah mereka dengan gamang.


Mereka memang terlihat begitu akrab satu sama lain,Sesekali mereka tertawa lepas dengan ceria,Hasta masih berdiri menatap ke arah mereka dengan berbagai pertanyaan di benaknya.


Ingin rasanya Ia langsung menghampiri lalu duduk dan bergabung dengan mereka, namun apalah daya Hasta menyadari jika kehadirnya di antara mereka akan membuat mereka terganggu.


dengan perasaan kecewa Ia pun mengurungkan niat tersebut,dan rasa lapar pun seketika lenyap,cacing di dalam perut sana seolah mengerti jika sang tuan sedang di landa perasaan cemburu.


Hasta memutuskan untuk tidak makan siang di tempat itu,ia pun berjalan menjauh dari tempat duduk nya Renata dan memilih untuk mencari tempat duduk yang lain,pria tampan itu berjalan dengan menyisakan rasa penuh tanya di hatinya akan sosok Harry di kehidupan nya Renata.


Beberapa Menit telah berlalu ♧


 


" Kamu !" seru pelan Renata mengejutkan Hasta yang baru saja keluar dari Toilet.


Mereka berpapasan di depan toilet.


Hasta pun menoleh arah Renata yang tak sengaja berpapasan ketika sama-sama keluar dari Toilet.


" Kamu disini, lagi ngapain ?" tanya Renata dengan sedikit ramah.


Hasta menatap heran atas sedikit perubahan sikap perempuan tersebut.


" Hmmm..., mau ke kantor bokap,tapi perut keroncongan jadi mampir dulu buat makan." jawab Hasta dengan tersenyum kaku.


" Nah elo dari mana ?" Balik tanya Hasta menatap dalam Renata.


" Kebetulan tadi aku habis dari kantor Papah kamu,ada beberapa hal yang harus di urus,dan mampir ke Resto ini." Ucap Renata terlihat ceria.


" Oh...,!! " Ucap menggantung.

__ADS_1


" Tadi aku sedikit ada keperluan dengan pak Dandi dan Alhamdulillahnya langsung bertemu,kebetulan Pak Dandi lagi standby juga jadi aku gak perlu lama- lama. " jelas Renata dengan senyuman khasnya yang membuat Hasta candu akan menatapnya.


  " Ohh...," lagi-lagi Hasta hanya itu yang di ucapkan Hasta,hingga membuat Renata sedikit heran atas sikap pria tampan tersebut.


Hasta selalu bersikap over jika bertemu dengan dirinya,namun kali ini ia nampak terlihat tidak bersemangat,sedikit membuat Renata tak enak hati.


" Hmm..,kamu mau gabung bersama? kebetulan aku bersama pak Harry sedang makan siang juga." ucap Renata berbasa-basi untuk menutupi perasaan yang tak enak.


" Oh tidak,thank's...,sorry Ta gue mau langsung ke kantor bokap saja,lagian gue udah makan kok ." balas Hasta menolak ajakannya Renata.


Padahal ini adalah hal pertama kalinya Renata berbaik hati mengajak dirinya untuk bergabung.


" Kamu tidak ikutan ngobrol dulu sebentar.?" ajak kembali Renata membuat Hasta serba salah dengan ajakan nya tersebut,namun Hasta paham jika ajakannya Renata hanya sekedar basa basi biasa saja.


" Engga Ta,makasih atas ajakannya,sorry bukannya gue gak mau,tapi gue takut ganggu !" Balas Hasta terseyum tipis.


Renata mengernyit dengan menapilkan kedua ujung alis tebalnya nyaris bertemu.


" Kok ganggu sih, memang aku sama pak Harry lagi ngapain ?Kita cuman makan siang doang kok. " Jelas Renata dengan masih tersenyum lembut,Yang membuat Hasta semakin terbuai dengan senyuman manisnya tersebut.


" Enggak Ta,makasih banyak atas ajakannya,lain kali saja,hmm...," ucap Hasta dengan perasaan tak menentu.


" Kalau gitu gue duluan yaa !" pamit Hasta dengan tersenyum tulus guna menyembunyikan rasa kekecewaan nya.


" Ok, !" ucap Renata tersenyum simpul.


Renatapun segera beralalu tanpa memperdulikan perasaan nya Hasta.


Hasta menoleh kearah langkah Renata yang menuju tempat duduknya kembali.


Entah kenapa Hasta memiliki perasaan cemburu ketika dirinya harus melihat Renata begitu akrab dengan Harry,dia paham jika seorang sekertaris memang harus selalu ada kapan pun dimanapun untuk menemani atasan nya,tapi kenapa harus Renata yang menemaninya ??pikir Hasta dengan perasaan tak rela.


Dan sepertinya Renatapun terlihat menikmati kedekatan tersebut.Setaunya Renata adalah sosok perempuan yang tak mudah dekat dengan seorang lelaki,tapi kali ini Renata terlihat tidak menjaga jarak dengan sosok Harry,sebagaimana dia jaga jarak dengan dirinya,tak adil memang !!


Rutuk Hasta membatin.


Kegelisaan yang di rasakan Hasta ternyata di rasakan pula oleh Ratih yang diam-diam sedang memperhatikan sikap Hasta sedari tadi.Ratih ikut menatap ke arah Renata.


" Bapak cemburu ya ?" tanya Ratih tiba-tiba mengejutkan Hasta yang dari tadi terus memperhatikan ke arah Renata yang lagi sibuk mengobrol dengan Harry.


" ........"


Hasta menoleh ke arah Ratih yang sedang berdiri tepat di belakangnya,Ratih tersenyum centil.


" So tahu lo !" ujar Hasta melirik kesal ketika perasaannya di ketahui oleh sang Sekertaris Papahnya.


" Saya tidak so tahu pak,tapi saya melihat sikap bapak sedikit berbeda." canda Ratih dengan sedikit terkekeh.


" So tau !!." sela Hasta ketus.


Ratih mengangkat tinggi pundaknya.


" Tadi mereka ada ke kantor ya ?" tanya Hasta menoleh kembali sekertaris nya.


" Ada Pak, cuman sebentar saja " jawab Ratih pelan.


" Mereka ngapain ?" tanya Hasta menoleh Ratih.


" Saya kurang tahu,soalnya ketika mereka datang saya lagi keluar,jadi mereka hanya bertemu bapak Bos dan pak Dandi " jelas Ratih sambil kembali duduk di kursi pengunjung.


"Huuh.....!!" Hasta menarik napas panjang ada perasaan yang tak biasa ia rasakan.


Sementara Ratih raut wajahnya berubah muram ketika ia merasa yakin jika putra Bosnya tersebut memperhatikan Renata dengan sedikit berbeda.


Tidak lama kemudian pak Bram datang lalu menghampiri Harry dan Renata,mereka pun teribat dalam obrolan singkat.Hasta memperhatikannya dengan seksama.


Hasta menoleh ke arah Ratih yang masih duduk di sampingnya.


" Elo kok masih disini,gak nemenin Papah ?" tanya Hasta heran ketika melihat Ratih masih duduk dengan wajah tak semangat.


" Saya disini saja pak,Bapak cuman sebentar bertemu mereka." ucap Renata kian tak bersemangat.


" Yaa kenapa gak gabung saja disana ?" tanya Hasta dengan sikap jengkel.


" Bapak Bos hanya minta waktunga sebentar saja pak,untuk mengecek beberapa Dokumen pengesahan kontrak yang Pak Hasta tanda tanganin beberapa hari yang lalu " jelas Renata dengan raut wajah pasrah.


" Kenapa gak dikantor saja sih?" tanya Hasta gusar.


" Bapak Bos tadi lagi ada acara di luar,dari pada kembali ke kantor lama,yaa jadi ketemuan di Resto ini " jelas Ratih dengan nada jurek.


" Mudah-mudahan projectnya akan segera terrealisasikan pak" ucap Harry sambil menyalamin papahnya Hasta.


" Semoga saja nak Harry secepatnya, dan bisnis kita lancar tanpa ada halangan apapun." balas pak Bram sumeringah.


" Pah !" panggilnya.


" Loh kamu kok ada di sini ? ngapain ?" tanya sang Papah menatap Hasta yang berdiri di sampingnya.


" Dari tadi Hasta disini pah." jawab Hasta seraya melirik Renata yang menatapnya sedari tadi.


" Loh bukannya tadi kamu mau pamitan pulang,kok masih disini ?" tanga Renata menatap heran Hasta.


" Kebetulan pas tadi gue mau keluar,gue liat papah masuk,jadi gue berniat pulang bareng Papah." ungkap Hasta dengan berbohong sedikit.


Renata tidak menjawab dia Hanya membulatkan bibirnya sampe maju kedepan membentuk sebuah hurup vokal, hingga bibir mungilnya terlihat lebih sensual.


Hasta menatap gemas kearah wajah Renata seandainya Renata bersedia memberi kesempatan untuk menjadi pacarnya mungkin Hasta tidak akan melepaskannya lagi.


" Ok pak Bram kalo begitu saya pamit dulu pak, sepertinya sudah mulai sore ni." pamit Harry dengan penuh hormat tak lupa Harry pun membagi tatapannya ke arah hasta yang sedang tersenyum ke arah Renata.


" Has saya pamit dulu " ucap Harry dengan memperhatikan sikap Hasta ke arah Renata.


Hasta hanya mengangguk kaku tidak membalas ucapan Harry,dan tak lama Renata pun segera ikut meminta pamit seraya berjalan menyusul Bosnya tersebut.


" Pasangan yang serasi !" celetuk sang papah memuji kearah Harry dan Renata yang berajalan dengan beriringan.


" Papah tau mereka pasangan kekasih ?" tanya Hasta dengan penasaran.


" tidak juga!" jawab sang papah singkat.


" Lalu kenapa papah bilang mereka itu pasangan serasi ?" tanya Hasta dengan terlihat cemburu.


" Papah kan hanya menduga saja " ucap sang Papah seraya melangkah keluar Restoran dengan di ikutin oleh Hasta beserta Ratih.


" Kok pertemuannya di luar kantor ?" tanya Hasta heran.


" Tadi kebetulan Papah ada acara keluar,jadi dari pada balik lagi ke kantor kita ngadain pertemuan di kuar aja,lagian Papah ada tambahan project lagi Has,jadi tadi itu Papah sempat berunding dengan pak Dandi untuk menambahkan satu cabang perusahaan lagi,kemungkinan beberapa minggu ini Nak Harry beserta Sekertarisnya itu akan kunjungan terus ke kantor kita." jelas sang Papah menuju mobilnya.


" Hanya mereka berdua saja kan pah ?" tanya Hasta dengan rasa penasaran nya.


" Ya iya dong, mereka kan yang berperan penting di projectnya Papah" jelas sang Papah tersenyum. Hasta terdiam,sejenak ia terlihat sedang berpikir.


" Kamu kenapa has.. ?" tanya sang Papah menoleh setelah melihat anaknya sedikit berbeda.


" Tidak apa-apa Pah."jawab Hasta tersenyum tipis.


" Oya,gimana kuliah kamu ?" Tanya sang Ayah seraya membuka pintu mobilnya.


" Sejauh ini,kuliah Hasta baik baik saja pah." balas Hasta pelan.


" Besok kamu ikut Papah ke SURABAYA ya ! " ajak sang Ayah menoleh sang putra.


" Untuk apa Pah ?" tanya Hasta penasaran.


" Kita akan meninjau langsung projectnya nak Harry beserta sekertarisnya. "jelas sang papah sembari mulai menghidupkan mesin kendaraanya.


Banny mengernyit sekaligus bahagia.


" Kita bawa mobil pah?" tanya lagi Hasta.


" Tidak,kita naik pesawat saja,biar cepat."


" Pak Harry dan sekertaris ??" tanya Hasta harap-harap cemas.


" Mereka akan satu pesawat dengan kita." jawab Sang Ahah singkat.


" Yeesss !"


tiba tiba hasta memekik dengan penuh kegembiraan, sedangkan Ratih terlihat mengelus dada seraya memasang wajah sedih,sepertinya pupus sudah harapan dia untuk bisa mendekati anak sang PREDSIR tersebut.


" Kenapa kamu Has?" tanya sang papah heran setelah melihat reaksi sang anak.


" Tidak ada apa-,apa pah, Hasta cuman seneng saja bisa nemenin Papah Ke Surabaya." ungkap Hasta tersenyum lebar.


" Kamu pake apa kesini ?" tanya sang papah menatap kekuar jendela kaca mobilnya.


" Motor Pah " jawab Hasta singkat


" Kalau gitu Papah kembali ke kantor,kamu jadi ke kantor dulu ?" tanya sang Ayah penuh bijak.

__ADS_1


Hasta menggeleng,ke inginan nya untuk ke kantor ia batalkan,dan ia pun memutuskan untuk pulang.


" Hasta langsung pulang saja Pah." Balasnya ceria.


" Ya udah kamu Hati-hati ya." ucap Sang Ayah seraya menutup kaca jendela mobil mewahnya tersebut.


" Assiaapp Bos !!" ucap Hasta terlihat bahagia.


Ke esokannya....


Hasta nampak membagikan pandangan nya,menatap ke seluruh ruangan pesawat tersebut,mata nya menatap satu persatu nomor kursi pesawat tersebut.


" Nomor duduk gue dimana nih??" tanya Hasta seraya menyisir deretan kursi tersebut.


Tak beberapa lama akhirnya dia pun menemukan nomor urutan tempat duduknya.


"Nahh ni dia." ucap Hasta seraya memasukan tas rangselya di atas bagasi pesawat tersebut.


Sang Ayah masih terlihat sibuk mencari nomornya.


" Pah Nomor nya berapa ?kok bisa gak satu kursi kita pah?" ucap Hasta terlihat membatu mencarikan urutan nomor kursi sang Ayah.


" Nah pah di belakang ternyata! " tunjuk Hasta yang turut ikut mencari nomer kusri sang Ayahnya.


" Ternyata Papah satu kursi dengan nak Harry. " ujar Bram sambil segera mengambil duduk.


Hasta mulai mencari-cari keberadaan Renata dimana.


Tak berapa lama kemudian Renata datang dan menghampirinya lalu duduk di sebelah Hasta.


Hasta tercengang setelah perempuan itu duduk di sampingnya.


"Lo duduk di sini ?" tanya Hasta dengan kaget bercampur senang.


" Yeaa." jawab Renata seraya merapihkan tas bawaanya.


" BOS lo ?" tanya Hasta menggantung.


" kamu gak suka jika aku duduk denganmu ?" ucap Renata dengan raut wajah tegas.


" Oh tentu,gue sangat suka itu." jawab hasta dengan cepat seraya tersenyum genit ke arah Renata yang membuang wajahnya keluar jendela pesawat.


" Pesawat take off jam berapa nih ?" tanya Hasta menoleh Renata.


" 07.35 pm " jawab Renata pelan.


" Mudah-mudah nyampe Surabaya aku tidak telat." Guman Renata pelan namun cukup terdengar oleh telinga Hasta.


" Memangnya kenapa kalau telat ?" Hasta menoleh perempuan tersebut.


" Soalnya,sebelum kita ke tempat proyek, aku ada keperluan sebentar dengan pak Harry." imbuh Renata lembut.


" keperluan apa ?"tanya Hasta mulai penasaran.


" Ada sedikit keperluan saja " Balas Renata dengan sikap manisnya.


" Kalian berdua pacaran yaa??" celetuk Hasta pelan.


Renata menoleh Hasta secara refleks,namun sejurus kemudian ia nampak tertawa lucu.


" Pacaran ??pertanyaan kamu ada-ada saja." ucap renata sambil menggeleng.


" Elo sebenarnya udah punya pacar belum sih ?" tanya Hasta dengan menatap lurus ke arah Renata.


Bola mata Renata membulat ketika pria tampan itu menatapnya dengan berbeda.


" Pertanyaan kamu itu terlalu pribadi " jawab Renata mulai sensi.


" Gue serius nanya dan itu harus ada jawaban nya !" ucap lagi Hasta dengan tegas membuat Renata sedikit ketakutan akan sorot matanya.


Renata mengalihkan kembali pandangannya dan berusaha menghindari tatapan tajamnya.


" Harus ya aku jawab ?" ucap Renata balik nanya.


" Dimana ada pertanyaan di situ pasti ada jawabannya." ucap Hasta dengan penuh penekanan.


Renata menatap dalam pria tampan tersebut.


" Kalau aku tidak mau menjawab gimana ?so tak semua pertanyaan harus ada jawaban nya kan?." sela Renata datar.


" Gue cuman nanya elo sudah punya pacar atay belum ?" Hasta mengulang kembali pertanyaan nya dengan intonasi berbeda.


Renata terdiam,lalu menoleh pria yang duduk di sampingnya dengan berbagai perasaan.


" Jika aku belum punya pacar,apa yang akan kamu lakukan ? " tanya Renata singkat,lalu mengalihkan pandangan nya ke arah yang lain,menurutnya padangan Hasta membuatnya serba salah.


" Gue mau jadi pacar lo.Gimana ?" tanya Hasta dengan tanpa basa basi,perkatannya langsung melesat dari bibirnya.


Renata tercekat,sungguh membuatnya terkejut bukan main atas perkataan yang di lontarkan Hasta kepada dirinya.Renata terdiam,di rasa pria ini sedang bercanda dengan dirinya.


Hasta masih menatap penuh ke arah wajah perempuan tersebut.


" Aku tidak suka lelucon mu Hasta." ungkap Renata pelan ia tak ingin menatap pria tersebut yang sedang menatap nya dengan menanti jawaban.


" Gue tidak sedang bercanda," ujar Hasta dengan suara berat.


" Kumohon kamu jangan gila... !"pekik Renata menoleh Hasta.


" Renata,dengarkan gue !dari dulu perasaan ini tak pernah berubah Ta." ucap Hasta dengan raut wajah terlihat serius sehingga membuat Renata terperangah.


" Tapi elo gak pernah mau tau akan perasaan gue." ungkap kembali Hasta dengan nada bicara lebih serius.


" Sudahlah !!jangan membahas masa lalu." sergah Renata seraya sibuk memasang sabuk pengaman.


" Renata....!!" panggil Hasta lirih,ia pun segera meraih tangan Renata dengan cepat.


" Gue serius.Gak main-main dengan perasaan ini." ucapnya pelan seraya menatap dalam ke arah mata Renata.


dengan sorot mata yang teduh Renata membalas tatapan pria tampan tersebut.


Sejenak mereka pun larut dalam tatapan satu sama lain,Renata terdiam lalu ia pun mengalihkan pandangannya ke hal yang lain,semoga saja ia bisa melawan perasaan yang sesungguhnya terhadap pria tampan tersebut.


Memang.....


Ada getaran yang tak biasa di hatinya.


Suara sang Pramugari berhasil membuyarkan keheningan di antara mereka,dan sang Pramugari tersebut pun memberi intruksi jika pesawat akan segera take off.


Hasta perlahan melepaskan gengamannya begitupun Renata menarik perlahan tangannya.


Hening.....


Mereka terdiam menahan sebuah rasa yang telah hadir menggetarkan perasaannya masing-masing.


Renata menatap ke luar jendela pesawat sedangkan Hasta menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi dengan memejamkan kedua matanya.


Ada yang terlepas dari dalam hatinya,perasaan yang selama ini mengganjal di hatinya dan terpendam sekian lama, akhirnya bisa tersampaikan walaupun pernyataan nya tersebut tak ada jawaban yang pasti dari Renata.


Beberapa lama kemudian pesawat sudah berada di atas ketinggian,suasana hening hanya terdengar suara deru mesin pesawat dan beberapa suara panggilan melalui radio peswat.


Perlahan Hasta membuka matanya berasa ada yang berat di pundak sebelah kirinya,lalu ia pun melirik ke arah pundaknya,ternyata Renata tertidur pulas di bahunya.Menyandarkan kepalanya tanpa ia sadari.


Hasta tersenyum dengan penuh rasa bahagia.


Sesampainya di surabaya hasta berserta sang Papah menuju hotel yang sudah di pesan oleh Harry beserta Renata.


" Berapa hari kita disini pah ?" tanya hasta sambil menghempaskan badannya ke kasur yang empuk dengan pasrah.


" Paling lama tiga harian " jawab Bram membuka kopernya.


" acepet amat pah,kita tidak holiday dulu ?" tanya Hasta dengan enteng.


" Memangnya kamu mau ngapain lama-lama disini ?" tanya sang Papah menoleh Hasta yang masih rebahan di kasur.


" Yaa,kita jalan jalan dulu lah Pah refresing otak." selanya sembari mengubah posisi tidurnya menjadi telungkup.


" Papah yang kerja,kok kamu yang mumet minta refresing segala " ucap sang Papah sambil ikut merebahkan badannya di sopa.


" Oya,pak Harry sama Renta dimana pah ?"


" Mereka ada di kamar hotel sebelah " jawab Bram yang terlihat lelah.


" Berduaan saja Pah ?" tanya Hasta dengan terperangah,dengan cepat ia mengubah posisi tidurnya kembali menjadi terduduk di atas kasur empuk tersebut.


" Yaa mana Papah tau,itu urusan mereka mau berdua atau bertiga.Sudah Papah mau istirahat dulu sebelum ke tempat proyek." kata Bram sambil bangkit lalu berjalan menuju kamar mandi.


Hasta termenung,ia mencoba memikirkan hubungan antara Renata dengan Harry.Rupanya ia masih penasaran akan status mereka.


Masa iya mereka tidur dalam satu kamar,mereka bukan suami istri ??

__ADS_1


Hasta bertanya-tanya.Dan seperti inilah sebuah pertanyaan yang tidak ada jawabannya.


♧♧.........................♧♧


__ADS_2