Sang Play Boy

Sang Play Boy
Sang Playboy episode 35


__ADS_3

Dilema sang Papah........


 


BRAM pramudita berdiri lurus menatap keluar jendela kaca di ruangannya yang berlantai lima.Dengan secangkir kopi di tangannya ia terlihat mengedarkan semua pandangannya keluar luar bawah sana.


 


Sesekali ia menyeruput kopi yang berada di cangkirnya dengan begitu nikmat,sontak aroma wangi kopi tersebut langsung menyeruak mengisi ruangannya.


Tok tok tok


Suara pintu terketuk cukup keras dan tak lama kemudian di susul Ratih menyembul dari balik pintu dengan senyuman manis.


" Ada apa Ratih ?" Tanya Bram seraya menaruh kopinya di meja.


"Permisi pak ! di luar ada Pak Harry,Beliau ingin bertemu dengan bapak. " ucap Ratih dengan penuh hormat.


" Suruh dia masuk." titah Bram dengan menyeka mulutnya dengan sebuah tisu.


" Baik pak." sahut Ratih mengangguk pelan.


Tak lama Harry pun menyembul dari balik pintu dengan tersenyum hangat.


" Hallo Nak Harry,silahkan duduk !" ujar Bram mempersilahkan Harry untuk duduk di sopa yang tak jauh dari meja kerjanya tersebut.


Harry mengangguk seraya mengikuti arahan dari Bram.


" Apa kabarnya Pak Bram ?" tanya Harry setelah duduk disopa lalu Bram pun ikut duduk di sebrangnya.


" Baik. Alhamdulillah bisa kamu lihat ke adaan saya." balas Bram dengan tersenyum semeringah.


" Syukur Alhamdulillah pak." timpal Harry mangut-manggut.


" Mau minum apa ?teh,kopi atau....?" tanya Bram tak lantas.


" Tidak usah repot-repot air mineral saja pak." jawab Harry tersenyum.


" Sepertinya simpel sekali." balas Bram tersenyum enteng.


" Ratih,tolong kamu ambilkan air mineral untuk pak Harry." suruh Bram menoleh sekertarisnya yang sedari tadi menunggu titahnya.


" Baik pak !" balas Ratih seraya berjalan keluar ruangan.


" Gimana perkembangan bisnis kita Nak Harry?" tanya Bram menatap lurus mitra perusahaanya tersebut.


" Alhamdulillah pak,sejauh ini sudah mulai ada perkembangannya.Dan Alhamdulillah sudah banyak konsumen yang bersedia membeli prodak kita pak." ungkap Harry tersenyum simpul.


" Syukurlah itu yang kita harapkan,siapa tau dengan adanya kerjas sama ini perusahan kita akan semakin lancar dan sukses." ujar Bram tersenyum penuh harapan.


" Aamiin pak.Saya berharap pun seperti itu." Balas Harry dengan terseyum ramah.


" Oya ngomong-ngomong gimana kabarny adik kamu Renata ?" tanya Bram menatap intens.


" Dia baik-baik saja pak.Kebetulan hari ini dia tidak bisa mendapingi saya karena sedang mengurus bisnis barunya." ungkap Harry terlihat bangga akan kesibukan adiknya tersebut.


" Oya ?" Tanya Pak Bram dengan penuh takjub,ia merasa tertarik akan cerita perempuan yang begitu berarti dalam kehidupan putranya.


" Sepertinya adik nak Harry memang berbakat berbisnis." tutur Bram memuji.


" Renata memang dari jaman ia sekolah sudah terlihat bakatnya dalam bidang perbisnisan pak,Sekarang ia lagi mengurus Restoran barunya pak,." jelas Harry dengan tetap tersenyum ramah.


" Oh hebat sekali ! masih muda sudah ada kemauan untuk berbisnis." Ucap Bram dengan nada suara semakin takjub.


" Alhamdulillah pak,Renata memang orangnya pekerja keras dan ia ulet sekali,dia tidak mau mengandalkan siapapun dalam pekerjaannya.Bahkan ia pernah mengelola sebuah Cafe Pak,Tapi sekarang Cafe itu di over alihkan ke sahabatnya.Karena ada permasalah hal pribadi." ungkap Harry dengan sedikit nada kecewa.


" Ya.. ya..,Anak muda selalu tak bisa lepas dari masalah pribadi,justru saya salut.Tidak semua anak muda mau berekcimpung di dunia perbisnisan,Seperti halnya Hasta anak saya.Dia malah lebih suka mengejar cita citanya sendiri ketimbang ikut andil dalam perusahaan orang tuanya." ujar Bram tersenyum enteng.


" Ya semua itu harus ada kemauan dari dalam dirinya masig-masing pak." Balas Harry dengan penuh rasa Hormat.


" Iya betul itu nak Harry,semua tidak bisa di paksakan,termasuk perasaan ?" ungkap Bram tersenyum ironi.


" Perasaan ??" tanya Harry mengernyit tak paham.


" Haaa... Lupakan saja,itu tidak terlalu penting." ucap Bram menghentikan langsung maksud dari ucapannya tersebut.


" Oh ya Pak.Saya kesini sengaja datang mau mengundang bapak ke acara ulang tahun Almarhum Ayah saya sekaligus mengenang hari kepergiannya." Ucap Harry dengan suara lirih.


" Maksud kamu Ayah kamu sudah meninggal Na Harry ? Innalillahi,Saya turut berduka cita yang sedalam dalamnya ya Nak Harry." ungkap Bram dengan perasaan haru.


" Ya Pak terimakasih banyak.Besok malam adalah tanggal ulang tahunnya Ayah saya dan kebetulan mengenang lima tahunnya kepergian Almarhum Ayah saya,dan saya sengaja mengundang rekan-rekan kerja saya beserta Mitra perusahan saya termasuk pak Bram untuk hadir di acara tersebut." jelas Harry dengan menatap dalam mitra perusahaanya tersebut.


" Semoga bapak berekenan hadir." imbuh Harry pelan,ia berharap jika Bram bisa hadir di acara tersebut.


Bram mengangguk-ngangguk ia merasa begitu tergugu atas sikap rendah hatinya seorang Harry.


Andai saja ia tidak terikat dengan sebuah kontrak mungkin saja ia sudah menyetujui Hasta untuk melamar Renata,tapi ia juga tidak bisa melupakan janji-janjinya dulu jika ia harus saling menjodohkan anaknya dengan anak sahabatnya.


" Kamu memang anak yang sangat berbakti kepada orang tua nak Harry,Almarhum Ayah kamu pasti bangga kepadamu." ungkap Bram dengan tersenyum penuh rasa takjub.


" Terimakasih pak atas pujiannya,dan saya berharap Bapak serta Hasta bisa hadir ke acara ini." ucap Harry.


" Ya,ya nanti saya bicarakan ini dengan Hasta." balas Bram menangguk.


" Bapak adalah tamu kehormatan bagi saya pak." Ucap Harry dengan tersenyum haru.


 

__ADS_1


" Ah kamu bisa saja nak Harry,oya kapan acaranya ?" tanya Bram.


" Insyallah Besok malam pak,sekalian ada pengajian juga di rumah saya." Jelas Harry dengan raut wajah bahagia.


" Ok.Mudah mudahan saya bisa hadir." balas Bram dengan tersenyum simpul.


" Silahkan di minum nak Harry !" ujar Bram mempersilahkan Harry untuk minum setelah sekertarisnya itu membawakan air mineral dan menyimpannya di meja.


" Makasih pak." balas Harry mengangguk seraya mengambil gelas tersebut.


Tak berapa lama kemudian Harry pun berpamitan untuk pulang lalu meninggalkan pak Bram yang masih menatap lekat langkahnya.


Bram menarik napas panjang seandainya dia tak ada ikatan kontrak kerja yang di sepakati oleh Harry mungkin dirinya sudah mengijinkan Hasta untuk melamarnya Renata.


Kembali Bram menghela napas begitu panjang entah kenapa perasaanya di hinggapi perasaan dilema yang tak berkesudahan.


Ia sadar jika dirinya lebih mementingkan nasib perusahaanya di banding dengan perasaan putranya tersebut.


....................


 


" Papah pulang !" Seru pelan Bram dengan sedikit melonggarkan dasi yang menginkat di lehernya.


" Tumben Papah jam segini kok sudah pulang ?baru juga jam tiga pah ?." Tanya Rosa sang Istri menyambut kedatangan suaminya dengan semeringah.


" Nanti sore Papah mau ada acara." ujarnya dengan menghempaskan pantatnya kesopa.


" Ada acara apa Pah ?" tanya Rosa seraya ikut duduk dan membatu membukakan jas suaminya tersebut.


 


" Papah mau ke acara ulang tahun sekaligus pengajian mengenang kepergian mendiang Ayahnya Nak Harry.Kita di undang untuk hadir di acara tersebut." jelas Bram seraya menggulung lengan kemejanya.


" Kok mendadak ngundangnya ?" tanya Rosa menatap intens sang suami.


" Kemarin Harry ada ke kantor Papah,dan ngundang Papah,Papah lupa ngasih tau Mama sama Hasta." jelas Bram dengan santai.


 


" Hasta Mana ?" tanya Bram menoleh sang istri.


" Sepertinya Hasta Belum ada pulang Pah ." jawab Rosa pelan.


" Dia pergi ? Kemana ?" tanya Bram penasaran.


" Mama tidak tau dia pergi kemana." jawab Rosa bingung.


" Dia harus ikut juga." Ucap Bram menatap sang istri dengan tatapan lelah.


" Tapi pah,jika Hasta ikut pastinya dia akan bertemu dengan Renata ?" ucap Rosa menatap cemas.


" Walaupun mereka bertemu pasti mereka akan bersikap biasa saja,Papah pastikan jika perasaan Hasta terhadap Renata sudah biasa saja,Hasta tau jika ia akan kita jodohkan." jelas Bram dengan menyandarkan tubuhnya di sandaran sopa.


Rosa terdiam menatap dengan berbagai perasaan.


" Pah,apa kita tidak terlalu egois menginginkan perjodohan ini ?" tanya Rosa menatap dalam sang suami.


Bram menoleh istrinya tersebut dengan tatapan sakartis.


" Egois ??,ini semua demi ke baikan dia dan perusahaan kita.Sudahlah Ma,Mama jangan terlalu cemas,toh Hasta juga perlahan pasti akan menyukai Nina,cinta mereka nantinya akan terbiasa." ucap Bram dengan penuh ke yakinan.


Rosa menghela,ia tak bisa berbuat lebih banyak untuk menolak ke inginan suaminya tersebut.


Meski ia tahu jika hati putranya tertekan dengan sikap keras suaminya namun dirinya sadar jika keputusan itu tidak bisa di tolak.


 


" Nanti jika dia pulang kasih tau Hasta Ma.Biar dia segera siap-siap." Ucap Bram seraya menyalakan televisi lalu menonton sebentar untuk melepas rasa lelahnya.


Rosa menggangguk seraya meraih jas dan tas koper milik suaminya sang yang masih tergeletak begitu saja di atas meja.


 


Beberapa menit kemudian suara deru mesin Mobil Hasta terdengar memasuki pelataran rumahnya,dan tak lama Hasta pun menyembul dari balik pintu dengan wajah terlihat tak bersemangat.


" Hasta." Panggil sang Mama dengan lembut,saat Hasta melewati dirinya.


Hasta menghentikan langkanhnya lalu menoleh ke arah sang Mama yang memanggilnya.


" Kenapa Mam ?" Tanyanya seraya mendekati sang Mama.


" Dari mana saja ?" tanya Rosa hangat.


" Kampus." Jawab Hasta singkat.


" Hmm,Mama mau bicara sebentar." ucap Ros mengandeng hangat putra sematang wayangnya.


" Ada apa Mam ?" tanya Hasta menurut ajakan sang Mama.


" Papah mau ngajak kamu ke acaranya Harry." ujar Rosa tersenyum.


Hasta mengernyit lalu menatap dalam sang Mama.


" Harry,acara apa?" tanya Hasta dengan mengeryitkan kedua alisnya dengan tatapan penuh rasa penasaran.


" Papah kamu bilang,Harry mengundang ke acara ulang tahun mendiang Ayahnya." jelas Rosa dengan lembut.

__ADS_1


" Maksudnya acara pengajian untuk mengenang Almarhum orang tuanya Harry Ma ?" tanya Hasta memperjelas perkataan sang Mama.


" Ya,kurang lebih seperti itu,kamu mau yah temenin Papah pergi !" ujar Rosa penuh harap.


Sejenak Hasta berpikir,lalu sejurus kemudian ia nampak tersenyum lebar.


" Hmm..., Sepertinya undangan ini bisa Hasta manfaatkan untuk ketemu Renata." ujarnya dengan tersenyum penuh arti.


" Mama berharap kamu tidak mencari masalah dengan adanya acara undangan tersebut." ancam sang Mama dengan menatap dalam putranya.


" Tenang saja,Hasta hanya ingin bertemu Renata saja tak lebih." ucap Hasta merangkul sang Mama.


Rosa mendelik dengan perasaan cemas.


" Janji hanya bertemu saja,jangan membuat Papahmu murka." ucap Rosa menatap cemas putranya.


" Hasta sudah melihatnya pun sudah bahagia Ma,apa lagi dapat restu Papah." ungkap Hasta dengan sorot mata yang sulit di artikan


Rosa menghela,ia paham bagaimana akan perasaan putran putranya tersebut.


" Ya udah Ma,Hasta bersih-bersih badan dulu."Ucap Hasta dengan penuh semangat.


" Hasta !" panngil sang Mama resah.


Hasta menoleh menatap penuh tanya.


" Maafkan Mama,Mama tidak bisa menolong kamu." ungkap Rosa penuh rasa sesal.


" Mama tidak perlu minta maaf,Hasta akan berjuang hingga Papah restui hubungan ini." balas Hasta menjawab dengan penuh keyakinan.


" Keputusan Papah kamu tidak akan bisa di tolak sayang." ucap Rosa lembut.


" Sekeras apapun Papah,Hasta yakin Papah tidak sejahat itu terhadap Hasta." ungkap Hasta menatap penuh rasa haru.


" Tapi ini lain ceritanya Hasta,Mama yakin jika kamu dengan Renata tidak akan pernah dapat restu." sela Rosa resah.


" Jika Papah benar-benar tidak merestui,maka Papah adalah sosok Ayah yang sangat egois." ucap Hasta mulai kesal.


" Jangan ngomong kaya gitu.Nanti kedengeran papahmu marah lagi." sela Rosa menepis ucapan putranya tersebut.


" Sudahlah Ma,Hasta pasti bisa memperjuangkan cinta Hasta ini,bahwa Hasta tidak mau di jodohkan !." Balas Hasta seraya melangkah menuju kamarnya.


Rosa hanya menggeleng dengan tersenyum lembut,betapa dalam putranya tersebut mencintai seorang Renata.


................


Hasta beserta sang Ayah sudah hadir di acara undangannya Harry,mereka terlihat duduk di bagian kursi tamu paling depan.Sambutan hangat dari keluarga besar Harry terasa begitu istimewa di rasakan oleh Bram beserta Hasta.


Hasta diam-diam membagikan seluruh pandangannya ke seluruh ruangan tersebut hingga pelataran rumah megahnya Harry yang disulap menjadi ruangan yang begitu syahdu dengan dekorasi bernuansa Broken white.


Di setiap sudut ruangan dan pintu keluar bunga lili berwarna senada dengan dekorasi menambah keindahan nuansa malam itu.


Tania yang menggunakan busana bernuansa putih yang di padukan dengan selendang berwarna gold berdiri dengan anggun di samping Harry sang suaminya.


Tania semakin terlihat cantik rupawan semenjak menikah dengan sosok Harry,pengusaha muda yang kini namanya mulai di perhitungkan di dunia perbisnisan.


Begitupun dengan Harry,ia terlihat begitu menawan dengan menggunakan stelan baju semi koko bernuansa sama dengan sang istri.


Tak luput dari pandangan Hasta Renata berdiri dengan anggun mengenakan busana yang tak berbeda jauh dengan sang kaka ipar Tania.Kerudung berwarna gold menambah kecantikan yang terkesan lebih natural di bandingkan dengan Tania yang menggunakan full make up.


Hasta melemparkan senyuman hangat ke arah Renata yang berpura-pura tertunduk hanya untuk menghindari senyumannya Hasta yang sedari tadi menggodanya.


Renata memilih untuk menjaga jarak,Karena ia tau akan kondisinya saat ini yang tidak memungkinkan untuk memberi reaksi penuh atas sikapnya Hasta.


Seorang Mc mulai memandu acara tersebut dengan sambutan yang begitu formal.Dan rangkaian demi rangkaian acara pun berlangsung begitu khidmat,lantunan ayat-ayat suci Al Quran menggema seisi ruangan.


Sebagai rangkaian penutup acara,Harry berkesempatan untuk memberikan sambutan yang cukup istimewa kepada para tamu yang sudah hadir di ulang tahun sekaligus acara pengajian dan berdoa untuk mendiang Almarhum Ayahnya.Sebagai Putra pertama dari sang Almarhum Ayahnya ia memberanikan diri untuk memberikah sepatah dua patah kata ucapan terimakasih kepada para tamu undangan atas kehadiranya di acara tersebut.


" Sekali lagi saya ucapkan banyak terimakasih atas kehadirannya bapa ibu,sodara semuanya yang telah berkenan meluangkan waktu untuk hadir di acara mengenangnya lima tahun kepergian ayahhanda kami." Ucap Harry dengan rendah hati.


" Sebagai rasa bakti kami kepada mendiang Ayahanda kami,Maka kami izinkan kami untuk memutar kembali beberapa Momen kenangan sang Almarhum Ayahanda kami semasa masih ada di samping kami." Ucap Harry dengan sorot mata yang sendu,rasa sedih itu mulai terasa berat di dadanya.


" Karena kami bangga menjadi bagian dari keluarga besar Atmaja." Ucap Harry dengan tersenyum penuh bangga.


Bram yang sedari tadi menyimak dengan seksama kata sambutan dari Harry sedikit terperangah ketika Harry menyebut nama keluarga besar Atmaja.


Sontak itu membuatnya sedikit penasaran atas sosok Atmaja yang di maksud oleh Harry.


 


" Karena berkat mendiang Ayahanda kamilah yang membuat kami bisa sebesar seperti ini,serta berkat do'anya mendiang Ayahanda kami juga,kami bisa berdiri tegak dengan begitu mandiri." Ucap Harry dengan mata berkaca- kaca.


Semua para tamu undangan yang hadir ikut serta larut dalam momen yang begitu mengharukan,mereka merasa terenyuh akan perkataan yang di ucapkan Harry teruntuk mendiang Ayahnya.Tidak terkecuali Hasta beserta sang Ayah ikut merasa terharu.


Namun entah kenapa seperti ada yang mengganjal di dalam hatinya Bram ketika Harry menyebut nama keluarga besarnya Atmaja,padahal Bram mengenal Harry dengan nama yang begitu lengkap,yaitu Harry Pratama Atmaja.


Raut wajah Bram seperti sedang mengingat sesuatu yang ada sangkut pautnya dengan nama besar keluarga sahabat lamanya yang kini sudah tiada.


Dengan hati yang berdebar Bram mencoba menyimak beberapa foto yang muncul di layar monitor yang terpasang tak jauh dari tempat Harry berdiri.


" Semoga Almarhum ayahanda kami yang tercinta ini di ampuni segala dosa-dosanya serta di lapangkan di dalam kuburnya.Kami selaku putra putrinya yang di tinggalkannya akan selalu mendoakan ketenanganya di alam baka sana.Aamiin Yarobbalalamiin." Ucap Harry dengan mengusap wajahnya dengan kedua telapang tangannya.


Dan di layar monitor tersebutpun terlihat seorang lelaki dengan bertubuh bulat sedang tersenyum hangat ke arah kamera,serta beberapa foto bersama putra putrinya dan foto semasa mudanya.


Sontak Bram tercengang menatap tak percaya atas apa yang di lihatnya di layar Monitor tersebut.


Darahnya tiba-tiba berdesir begitu cepat melaju kepusat jantungnya,matanya melotot nyaris tak berkedip tatapannya tertuju ke arah monitor tersebut.

__ADS_1


..............Bersambung.


__ADS_2