Sang Play Boy

Sang Play Boy
Sang Playboy episode 20


__ADS_3

 


PERASAAN Hasta semakin semerawut, dia berusaha berpikir keras untuk menebak alur cerita kehidupnya yang berakhir seperti apa.


Kini justru ia di hadapkan dengan persoalan baru akan sosok Nina yang secara tiba-tiba bisa kenal dengan Renata,betapa tidak ini akan menambah rumitnya persoalan yang di hadapi oleh dirinya.


 


Tanpa ada kehadiran Nina pun persoalan ini sudah terasa rumit,kini Nina kenal dekat dengan Renata


sepertinya masalah ini seakan-akan sedang reunian di kehidupan nya.


Rasanya persoalan semakin komplit yang tengah dihadapi oleh Hasta.


" Gimana Bon ? lo udah ketemu Nina ?" suara bony mengejutkan dia dari lamunan panjangnya.


" Gue belum ada ketemu dia, gimana si Has kampus kita aja beda sama dia. " balas Bony singkat.


" Dia udah gak kuliah lagi Bon." ucap Hasta menjelaskan jika Nina sudah lulus S1.


" Kok elo tau dia udah lulus S1,emang dia ga lanjut S2 ?" tanya Bonya penasaran.


" Dia balik ke Jakarta buat cari pekerjaan." balas Hasta dengan wajah serius.


" Lo ada nomer Wa dia ?gue minta nomor Wa nya aja." ucap Hasta dengan tak sabar.


" Tumben lo butuh Wa dia, ?" sela Boni dengan segera merogoh ponselnya di saku celana nya.


" Buat sepak-speak aja." balas Hasta enteng.


" Ati-ati loh,awalnya speak-speak tar otak ama hati lo tawuran lagi,kaya anak SMA ketemu anak STM hee hee." ucap Bony dengan sikap bercandanya.


" Paling tawuran bentar doang." balas Hasta cuek.


" Bentar gue cek dulu,Wa dia masih aktif atau enggak,gue udah lama gak kontekan sama dia." ujar Bony seraya mengotak ngatik ponselnya tersebut.


Tak berapa lama Bony mencoba mengecek nomor teleponya Nina,dan benar saja Nomor tersebut hanya suara operator yang menjawab.


" Kayanya dia udah ganti nomor Has,mbaknya yang jawab!" ucap Bony dengan raut wajah serius.


" Maksudnya Kaka nya Nina yang angkat telponnya ?" tanya Hasta kurang mengerti atas ucapan Bony.


" Iya.. Mbak operator,nomor yang ada tuju sedang tidak aktif,mohon cari nomor lagi,nomor ini sudah tidak aktif lagi." seloroh Bony dengan wajah terlihat konyol.


Hasta menggeleng melihat kelakuan sahabatnya tersebut yang memiliki selera humor yang tinggi.


" Ssiiiitt !! " guman Hasta terdengar begitu kesal.


" Sepertinya elo penasaran ya, kenapa mereka bisa temenan ? kalau menurut gue,lo sebaiknya gak usah minta penjelasan apapun Has dari Nina,biar Nina sendiri yang akan ngomong tentang Renata,karena gue perhatikan sepertinya Nina ada naroh persaan juga sama lo Has. " ucap Bony dengan sedikit khawatir akan perasaan Nina.


" Yahh elo sok tau lagi.." balas Hasta terlihat menanggapi ucapan Bony dengan lelucon.


" Lama-lama lo sudah kaya paranormal saja Bon." ucap Hasta dengan penuh cemooh.


" Ini serius Has,gue lihat pas waktu dia natap lo,dia kaya gimana gitu, gue perhatiin emang agak berbeda." jelas Bony menambahi.


" Gue gak tau Bon,karena gue gak merhatiin dia sama sekali, sumpah." balas Hasta terlihat acuh.


" Kalau bener dia suka sama lo gimana?karena gue liat reaksi nya dia sama lo itu emang lain.Gue paham sama orang yang ada perasaan sama orang yang gak ada perasaan." jelas Bony berusaha meyakinkan Hasta.


" ........."


Hasta menarik napas panjang dia tidak mau masalahnya kian rumit jikalau Nina bena- benar menyukainya.


" Mudah-mudahan prasangka lo salah." jelas Hasta menatap Bony resah.


Bony hanya tersenyum kaku menatap Hasta yang mulai di landa kegelisahan.


" Apa kita ke Caffe itu lagi Has.." usul Boni cepat.


" Untuk apa ?" tanya Hasta heran.


" Yaa siapa tau mereka suka nongkrong di sana?" ujar Bony.


" Gak mungkin Renata sering kesana lagi,secara Caffe itu sudah bukan milik dia lagi Bon." Hasta menambahi.



" Elo ingat gak waktu karyawan Caffe itu bilang, bahwa Caffe itu sudah di over alih sodaranya !! tapi Bon....." ucapan Hasta menggantung,sejenak ia terlihat sedang berpikir.



" Jangan-jangan Nina sama Renata sodaraan Lagi !" ucap Hasta dengan raut wajah kian cemas.


" Enggak mungkin, si Nina saja ngenalin Renata nyebutnya teman,gak mungkin mereka sodaraan." sanggah Bony dengan yakin.


Hasta kembali terdiam.


" Kok bisa-bisanya yaa ! agak lucu juga ini cerita, yang bikin sekenario ini siapa sih bisaan begini.?" tanya Bony sambil geleng-geleng kepala.


" Sudahlah !! gue udah gak mau ambil pusing gue udah pasrah.Renata mau cinta mau enggak gue udah gak mau peduli." ucap Hasta bersungut.


__ADS_1


" Gaya lo !! jangan sampe gue liat lo bengang bengong mikirin tuh cewek lagi." ancam Bony geram.


Hasta menganggkat kedua pundaknya dengan acuh.


.....................................


 


Renata masih terdiam di hadapan Nina dengan raut wajahnya terlihat murung,dirinya merasa serba salah jika harus jujur terhadap perasaannya sendiri terhadap Nina.


 


Renata tidak bisa berbohong lagi,jika dirinya memang mengakui ada perasaan yang begitu spesial di hatinya yang tumbuh begitu saja kepada sosok Hasta.


Justru dari pandangan pertama rasa itu sudah hadir sehingga tumbuh ketika mereka masih sering bertemu


Terlebih Hasta memang pria menawan yang pernah dia temui, kadang tatapan dan ucapanya selalu membuat Renata terbayang-bayang tapi entah kenapa perasaan itu selalu tertahan di dalam hatinya ketika rasa pilu di masa lalunya seakan terus membayanginya hingga saat ini.


Ketakutan itu selalu mematahkan semangatnya dan membuang jauh perasaannya.


Renata pun dengan berat hati dirinya memberanikan diri untuk bercerita banyak tentang Hasta kepada Nina.


Nina dengan seksama menyimak semua kisah yang di ceritakan Renata.


" Jadi selama ini kamu udah kenal lama dengan Hasta." ujar Nina menatap sendu ke arah Renata.


Renata mengangguk dengan ragu.


" Selama ini perasaan ku ini selalu tertahan Nin. " ungkap Renata.


" Tapi yang aku tau,Hasta tidak sejahat itu,dia baik kok orangnya..." ucap Nina mencoba menyakinkan Renata untuk tidak memandang Hasta sejahat itu.



" Dulu dia memang seorang playboy tapi mungkin sekarang dia sudah berubah kali Ta aku yakin Hasta melakukan semua itu bukan atas napsu dia semata, bisa jadi dia hanya ingin mencari yang terbaik saja di antara sekian banyak perempuan yang dia kenal." kata Nina sambil menatap dalam Renata.



" Karena aku kenal betul siapa Hasta Ta." ujar Nina dengan pasti.


" Ta,jujur saja aku juga sempat suka sama dia Ta , tapi itu dulu ketika dia masih pacaran sama teman aku.." ucap Nina lirih.


Renata tercekat mendengar penuturan Nina sahabatnya.Sorot matanya terlihat penuh tuntutan akan penjelasan dirinya.


" Dulu waktu dia pacaran sama temen aku,Hasta tipe laki-laki yang begitu romantis,bahkan semua cewek yang ada dikampusku hampir semua suka sama dia,termasuk aku.Cuman sayang,waktu itu dia gak ada naksir aku, coba kalau ada naksir aku,aku juga pasti mau Ta, hee....heee." jelas Nina dengan mata berbinar-binar mengenang kembali masa-masa dulu ketika ia masih satu kampus dengan Hasta.



" Lalu sekarang kamu masih suka ya...?" tanya Renata penuh selidik.



" Tapi Ta,apapun masa lalu dia aku yakin jika dia itu sudah berubah kok, kita kan mencintai seseorang itu harus bisa nerima dia apa adanya, begitu pun dia, harus bisa nerima kita dengan masalalu kita." jelas Nina dengan penuh pengertian.


" .......... "


Renata terdiam hanya menatap dalam Nina,dia mencoba mencari kejujuran dari sorot mata Nina sahabat barunya yang dia kenali lewat pekerjaan barunya tersebut.


" Dengar Ta,jika posisi kamu di balik,kamu jadi Hasta, dan Hasta jadi kamu,gimana perasaan kamu ketika dia harus nerima masa lalu kita yang pernah menjadi seorang playgirl, ?" tanya Nina menatap dalam Renata.


Renata menggeleng dia tak tau harus menjawab apa,ia hanya mampu menatap kosong ke arah Nina.


" Aku yakin,jika Hasta sudah berubah Ta.lagian katanya kalau cowok nakal lagi bujangnya tar kalau udah nikah gak bakalan macam-macam lagi,konon katanya." ucap kembali Nina mencoba meyakinkan hatinya Renata.


" Kenapa begitu yakin,jika dia sudah berubah ?" tanya Renata dengan ragu.


" Aku kenal dengan Hasta bukan kali ini saja,tapi lima tahun yang lalu,dan aku bisa melihat ada perubahan yang baik dari diri Hasta ketika aku bertemunya kemarin." ujar Nina semakin memantapkan perasaanya Renata.


Renata terdiam kembali,perkataan Nina dia rasa layak di perhitungkan.


" Entahlah Niin.." sela Renata bimbang.


" Tapi by the way, kok bisa ia mantan Hasta jadi kaka ipar kamu,lucuu sekali aku dengernya bisa muter di situ-situ aja jodoynya," ucap Nina sambil tersenyum simpul.


" Takdir TUHAN itu memang luar biasa." sela lagi Nina lirih,tatapannya menerawang jauh ke arah yang lain.



" Aku juga gak pernah menyangka,jika Mamaku akan menjodohkan ka Harry dengan Tania, karena Almarhum Papa adalah sahabat baiknya orang tua Tania,dan Alhmarhum Papah dengan orang tua Tania sudah berjanji akan menjodohkan anaknya mereka jika sudah pada besar nanti. " jelas Renata tertunduk.



" Tania nama istri kakamu ya ?" tanya Nina sedikit mengangkat alisnya.


" Iya Tania.." jawab Renata singkat.


" Kayanya aku pernah dengar nama itu,tapi aku lupa-lupa ingat." sela Nina sambil mengingat-ngingat sesuatu yang pernah ada di ingatannya.



" Habis mantan dia banyak sih hihihii.." celoteh Nina tertawa kecil Renata melirik manja ke arah Nina.


" Sudalah Ta,kalau kamu memang suka dia juga,kamu tinggal kasih kesempatan bagi Hasta untuk jadi yang terbaik buat kehidupan kamu,aku sih yakin jika Hasta pria baik kok." jelas Nina dengan matanya mulai berkaca-kaca.

__ADS_1


Entah kenapa ketika dia berbicara seperti itu,ada perasaan yang harus ia relakan untuk orang lain.


" Mungkin,kamu adalah pelabuhan terakhirnya Ta, percayalah !" ucap Nina seraya mengengam tangan Renata dengan lembut.


Meskipun di dalam hati Nina ada perasaan yang teriris,namun ia mencoba untuk bersikap biasa saja,baginya perasaanya itu hanya sebagian dari masa lalunya.


Renata tidak menjawab,hanya butiran bening ya mulai menggenangi sudut matanya.


Semua yang di katakan Nina setidaknya sudah membuat hati Renata lebih lega,kata-kata itu percis seperti apa yang di sampaikan Bony sahabatnya Hasta.Renata tersenyum penuh harapan ke arah Nina.


Dan Nina pun hanya membalasnya dengan tersenyum getir atas perasaan yang selama ini di pendamnya,dan sepertinya rasa itu tak akan pernah sampai untuk seorang Hasta.


........................................................


 


HASTA beserta Bony masih terlihat asyik ngobrol bersama,mereka menghabiskan waktu istirahatnya di ruang kantin.


Mereka nampak terlihat seru membahas masalah yang sehari-hari mereka lalui,terkadang mereka tertawa lepas dengan saling melempar candaan satu sama lain.


" Hasta !!" tiba-tiba Nina sudah berada di antara mereka.


Hasta menghentikan tawanya dan menoleh ke arah suara tersebut.


" Nin !! " sahut Hasta menyambutnya dengan senyuman.


" Hmm aku mau bicara sesuatu sama kamu Has.Boleh ?" ujar Nina sambil menoleh ke arah Bony dengan penuh isyarat.


Bony yang di toleh Nina dengan cepat dia merasa paham atas sikap Nina tersebut.


" Ok,baiklah sepertinya ini sangat penting, gue tinggal dulu ya Has." ucap Bony seraya beranjak dari tempat duduknya.


" Sorry ya Bon." sela Hasta dengan mengubah posisi duduknya.


Bony hanya mengangguk seraya mengacungkan jempol tangannya.


" Sorry ya Has aku ganggu waktu istirahat mu." pinta Nina dengan menatap tak enak.


" It's ok Nin,gak apa-apa. " balas Hasta menatap lembut Nina.


Dirasa Nina sudah duduk dengan nyaman Hasta menatap lurus gadis manis tersebut.


" Ada apa Nin ?" tanya Hasta menatap dalam Nina yang memiliu duduk tepat di hadapannya.


" Sebelujmnya aku maaf ya Has,jika aku terlalu ikut campur atas permasalahmu." ucap Nina dengan tersenyum tipis.


Hasta menggangguk pelan dengan penasaran.


" Has Renata udah cerita banyak tentang kamu dan dia bilang juga kalau selama ini ia masih ragu akan perasaan kamu terhadapnya,karna ia masih mempersoalkan masa lalu kamu yang pernah dekat dengan beberapa wanita termasuk Kakak iparnya,Tania.Dan hal itu membuat dia merasa takut untuk menerima mu,dan ia juga sangat takut jika masa lalu dia akan terulang dengan adanya masa lalu kamu yang seperti itu." jelas Nina pelan.


Hasta menarik napas,tanpa di duga jika Renata telah sejauh itu berteman dengan Nina.sepertinya Renata telah bercerita banyak tentang dirinya kepada Nina.


" Alasan dia memang seperti itu ? " guman Hasta dengan sedikit kesal.


Nina menatap dalam perubahan sikap Hasta.


" Nin ! jika ada orang jahat,lalu ia jngin berubah,apa itu salah...? dan jika seorang playboy ingin berubah, salah juga ? gue emang bangsat tapi gue juga masih punya perasaan serta harapan untuk mencintai perempuan yang gue sayangi,dan apakah itu juga tidak berhak buat gue ?" Tanya Hasta dengan suara bergetar.


Hasta menatap tajam Nina.


" Aku tau itu Has, setadinya aku tidak mau ikut campur akan permasalah kamu dan Renata,hanya saja Renata kini sahabatku, jadi mau gak mau aku ikut merasakan apa yang dia rasakan." imbuh Nina dengan intonasi yang berbeda.



" Lo sudah lama temenan sama Renata ?" tanya Hasta penasaran.


" Aku kenal dia pas keluargaku join bisnis baru dengannya, Caffe yang kemarin itu sebagian besar investornya dari Renata, dia over alihkan sama Ayahku,dan ternyata dia orangnya sangat tulus jika membantu seseorang,termasuk Ayahku dia bantu dalam mengembangkan bisninsya.ya itu orang tuaku yang melanjutkan bisnis Caffenya tersebut." jelas Nina lugas.


Hasta mengangguk dengan mengerti.


" Dulu Caffe Renata yang punya." balas Hasta menjmpali.


" Dari situ aku sering bertemu dengan Renata dan belajar tentang dunia perbisnisan sama dia,lumayan lah sudah mau tiga tahun ini aku kenal Renata, dia baik banget orangnya Has gue berani berbisnis karena motifasi dari dia." ucap Nina tersenyum lembut.


" Dia juga pernah cerita,jika dia pernah di tinggalkan pergi oleh tunangannya dengan begitu saja, makanya itu alasanya kenapa dia takut membuka hatinya kembali,ia takut kaya gitu lagi,eh ketemu kamu yang punya cerita masa lalu gak enak,makin takut lah dia." ujar Nina dengan sedikit bercanda.



" Riwayat kamu gak baik." sambung lagi Nina dengan terkekeh.


" Elo Nin ngatain gue ada riwayat gak baik,kaya gue penyakita aja" sela Hasta tertawa garing.


" Tapi gue sudah tidak berharap banyak lagi Nin, jika memang Renata gak bisa nerima gue, yaa gue juga paham ko,dan gue gak akan mengemis atas perasaan ini." ucap Hasta dengan kalem,namun suaranya terdengar sedikit serak.



" Aku paham Has.memang cinta itu tak selamaya harus memiliki Has." sela Nina tersenyum getir,entah kenapa kata-kata itu terasa sedang menyindir dirinya sendiri,karena dirinya juga mencinta namun tidak bisa memilikinya.


Hanya sebatas mimipi saja akan persaannya tersebut kepada Hasta.Dan benar adanya,jika selama ini ia memang menyimpan dalam persaan yang sangat begitu special terhadap Hasta.


" Ya lo benar Nin!! " sambung Hasta tersenyum pahit kearah Nina.


Hasta menarik napas panjang menatap Nina cukup begitu dalam.

__ADS_1


" Sampaikan kepada Renata,orang menanti itu pasti akan ada jenuhnya." lirihnya sambil menatap jauh luar sana,Nina hanya melipat dalam bibirnya seraya mengangguk pelan.


................................Bersambung


__ADS_2