Sang Play Boy

Sang Play Boy
Sang Playboy episode 24


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian....................


" Pah... !" panggil Hasta berdiri tepat di belakang sang Ayah yang tengah asik membaca koran.


Sang Ayah sejenak menoleh ke arah Hasta lalu kembali membaca koran tersebut.


" Ada apa Has ?" tanya sang Ayah santai.


" Pah Hasta boleh berbicara sesuatu sama papah."


ucap Hasta seraya berlutut di hadapan sang Ayahnya.


Sang Ayah menghentikan kegiayatan membacanya lalu mengalihkan pandangannya kearah wajah putranya tersebut.


Bram menyimak heran atas ekspresi raut wajah Hasta yang terlihat menatapnya serius.


" Ada apa Has,sepertinya kamu serius banget ?" tanya sang Ayah menatap panjang.


Hasta mendehem pelan,lalu ia terlihat gamang untuk menyampaikan sesuatu.


Sang Ayah mengernyit dengan penuh berbagai pertanyaan.


" Hasta ingin melamar Renata !" ucapnya terbata.


Sontak Bram tercekat di buatnya atas pernyataan sang putranya.


" APA ??" pekik sang Ayah,Bram cukup terkejut,ia pun segera menutup lembaran koran tersebut dan melipatnya,meletakan begitu saja di atas meja.


Bram menatap tajam Hasta,menyorotinya dengan berbagai tuntutan.


" MELAMAR ? Apakah papah tidak salah dengar ??" tanya Bram heran sekaligus tidak senang mendengar permintaan putranya tersebut.


Hasta mengambil napas panjang berusaha untuk bersikap tenang,entah kenapa raut sang Ayah berubah tak menyenangkan ketika dirinya meminta untuk melamar Renata.


" Tidak pah,Hasta serius.?" ucap Hasta terlihat menatap ragu namun berusaha meyankinkan sang Ayah.


" Kenapa kamu ingin melamar Renata ?terus nanti gimana tanggapan Harry jika kamu melar adiknya,bukankan kamu sudah sepakat untuk tidak mendekati Renata,tapi justru kini kamu malah ingin melarnya,lalu bagaimana dengan kontrak kerja kita Has ?" sang Ayah menatap tidak setuju ke arah Hasta yang masih berlutut di sampingnya.


" Hasta akan berbicara soal ini dengan Harry Pah, Hasta akan minta restu dari papah." ujar Hasta dengan penuh keyakinan.


Sejenak Bram terdiam,ada perasaan cemas mulai menyelinap dalam pikirannya.


" Jujur saja,Papah tidak setuju jika Hasta melamar Renata ??" ungkap sang Ayah lirih.


" Jadi Papah tidak suka jika Hasta melamar Renata?" tanya Hasta menegaskan.


Bram menarik napas merasakan sebuah dilema,permintaan putranya membuat dirinya seperti memakan buah simalakama


Antara perasaan putranya dan nasib perusahaannya.


" Papah hanya khawatir ini akan berpengaruh atas kinerja perusahaan kita Has." balas sang Ayah bernadakan penuh kecemasan.


Hasta menghela,ada jurang pemisah yang begitu curam menghadangnya.


" Belajarlah dari kejadian beberapa bulan yang lalu,dimana Harry memutuskan kontrak perusahannya hanya gara-gara kamu mencintai Renata dan sekarang kamu malah ingin melamarnya, Papah tiba-tiba merasa khawatir Has,hal yang sama akan terulang." imbuh Bram menatap cemas.


Sejenak Hasta terdiam ada perasaan resah yang diam- diam menyelinap dalam hatinya,benarkah sang Ayah tidak merestui akan hubungannya tersebut ??


" Tapi pah," Hasta menyela cepat.


" Papah coba pikirkan lagi." ucap sang Ayah seraya beranjak dari duduknya dan meninggalkan Hasta dengan begitu saja.


Hasta menghempaskan napasnya denga kasar,ada perasaan takut yang kini sedang mendominasi hati dan pikirannya,entah cobaan apa lagi yang akan menghadang kisah kasihnya tersebut.


 


Hasta tertegun memikirkan akan sikap sang Ayah yang terlihat enggan untuk memberi restu terhadap perasaan dirinya,dan ia pun teringat kembali akan ke kejadian beberapa bulan kebelakang ketika sang Kakak dari Renata dengan sengaja memutuskan kontrak kerjanya dengan perusahaan sang Ayah,dan itu berdampak besar pada kerugian yang di alami oleh perusahaan sang Ayah.Itu semua hanya karena masalah dirinya dengan Renata.


 


Hasta tercenung memandangi satu-persatu poster musik metalik yang terpajang di dinding kamarnya.


Rasa gelisah tiba-tiba menyergap dalam batinnya


Kreakk.........


Perlahan daun pintu kamarnya terbuka dan sang Mama menyembul dari balik pintu dengan senyuman hangat menghiasi wajahnya.


" Kamu tidak kuliah hari ini ?" tany sang Mama menatap lembut putranya.


" Hasta lagi tidak ada jadwal." jawabnya pelan.


" Tumben hari ini Mama tidak melihat kamu ada keluar kamar ?" tanya sang Mama mendekat.


" Hasta lagi males." ucap Hasta seraya membalikan tubuhnya membelakangi sang Mama.


Sang Mama,Rosa menghela napas,sepertinya ia merasakan apa yang sedang di rasakan oleh putranya tersebut.


" Papah bilang,jika kamu berniat ingin melar Renata,apakah benar ?" tanya Rosa dengan nada halus,ia tak ingin putranya tersebut menyembunyikan masalahnya.


Hasta sejenak terdiam lalu sejurus kemudian ia terbangun mengubah posisinya menjadi duduk dan


menghadap sang Mama.


" Papah udah bilang sama Mama ?" Tanya Hasta menatap penuh harapan.


" Ya." jawab sang Mama singkat.


" Apakah Papah setuju Ma ?" tanya Hasta dengan penuh harap-harap cemas.


Rosa menatap dalam Putranya tersebut,ia tidak ingin membebani perasaan putranya dengan alasan jika dirinya dan sang suami kurang setuju atas permintaan nya untuk melamar Renata.


" Hasta,Mama sama Papah hanya memberi saran,sebaiknya kamu pikirkan kembali ke inginan kamu untuk melamar Renata !" ungkap sang Mama dengan perasaan tak menentu.


Hasta tercekat dengan raut wajah terintimidasi.


" Kenapa Mah ?,Hasta dan Renata saling mencintai Mah,apakah Hasta tidak berhak untuk melamar perempuan yang Hasta cintai." ungkap Hasta terlihat sedih.


" Sama sekali tidak,kamu berhak melamar perempuan mana pun,tapi tidak untuk saat ini,Papah berharap setelah lulus S2 kamu nanti lebih baik fokus di perusahannya Papah dan bisa menggantikan posisinya pak Danu." jelas sang Mama dengan berhati-hati.


" Tapi mah,apa salahnya jika Hasta melamar Renata terlebih dulu,dan setelah lulus nanti Hasta bekerja di perusahaan nya Papah.Jadi untuk saat ini Papah dan Mamah kasih restu atas hubungan Hasta dengan Renata." ujar Hasta menatap penuh permohonan kepada sang Mamanya.


" Mama tahu, kamu berhak untuk memilih masa depanmu seperti apa, tapi tidak untuk melamar Renata secepat ini " balas sang Mama menatap penuh rasa sayang kepada buah hatinya tersebut.


" Maksudnya apa Ma?Mama sama Papah melarang Hasta untuk melamar Renata saat ini ?" tanya Hasta sedikit tidak mengerti akan ucapannya sang Mama.

__ADS_1


Sang Mama menghela begitu dalam,rasanya terlalu berat jika ia harus mengatakan yang sejujurnya jika Bram,suamimya tersebut tidak setuju atas hubungan cinta nya Hasta dengan Renata.


" Has,Papah tidak setuju jika kamu melamar Renata." ungkapnya lirih.


Dekk.....


Ada perasaan yang tak bisa ia terima begitu saja,tentu saja keputusan ini membuatnya sangat kecewa.Tidak mudah baginya ia mendapatkan hati seorng Renata,namun nyatanya kini cinta itu telah di tangan nya,tapi Restu tak ia dapati.


" Kenapa Papah tidak setuju dengan keinginan Hasta ini ?" tanya Hasta menatap nanar sang Mama.


" Papah berusaha lebih profesial,Papah kamu tidak ingin ada masalah kembali mengenai hubungan kerja antara Harry dan Papah kamu.Apa lagi ini menyangkut masalah pribadimu Has,tentunya Harry tidak akan menyetujui permasalahan ini." jelas sang Mama dengan gamplang.


Hasta tertunduk lemas,merasakan seluruh tubuhnya tak bertenaga.


" Sepertinya Papah punya rencana lain untuk pendamping kamu,karena Papah sangat berharap jika kamu bisa sukses terlebih dahulu dalam berkarir." jelas lagi sang Mama dengan penuh intonasi di setiap kalimatnya.


" Rencana apa ? Perjodohan maksudnya ?Hasta sudah dewasa Ma,Hasta berhak memikirkan masa depan Hasta sendiri,masalah mapan atau enggaknya itu bisa terjadi nanti sebelum atau sesudah nikah,lagian Hasta juga masih bisa bekerja meski tidak di perusahaan nya Papah,Hasta masih bisa mengandal kan S2 Hasta nanti." ujar Hasta dengan nada bicara mulai meninggi.


" Tapi Papahmu sudah memberi keputusan Has,bahwa Papah tidak setuju jika kamu melemar Renata." ucap sang mama menatap lembut putranya.


Sontak Hasta tercekat,menatap tak adil ke arah Mamanya.


" Hasta harus bicara dengan papah." ucap Hasta sambil bangkit lalu ia pun bergegas keluar kamarnya,membiarkan Mama yany hanya bisa terdiam.


Rosa menghela melihat sikap putranya tersebut,Hasta adalah anak semata wayangnya,wajar jika ia memiliki sikap keras kepala,apa yang dia mau harus bisa ia dapati,apapun itu kehendaknya.Rosa menatap resah ke arah Hasta yang melenggang keluar kamarnya dan menuju ruangan kerja sang Papah.


Tanpa mengetuk pintu Hasta mendorong kasar daun pintu tersebut,di lihatnya sang Ayah sedang berkutat dengan pekerjaanya.


" Pah !! papah kenapa tidak menyetujui ke inginan untuk melamar Renata ?" tanya Hasta menatap tajam sang Ayah.


Sang Ayah mengangkat kepalanya lalu menghentikan aktivitasnya dan menatap tajam ke arah putranya tersebut.


" Apa hanya karena Hasta belum mapan ?" tanya Hasta dengan suara lantang.


Sang Ayah menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi dengan raut wajah terlihat begitu dingin.


" Papah tidak setuju,karena itu semua demi kebaikan kamu juga Has." ucapnya dengan tenang.


Hasta mengernyit menatap tak mengerti.


" Kebaikan ?? Kebaikan apa yang Papah maksud ?" tanya Hasta penasaran.


" Hasta,Papah sengaja tidak merestui hubungan kalian,karena Papah bersikap profesional.Papa tidak mau kejadian beberapa bulan yang lalu terjadi kembali,dan nanti akibatnya bisa patal ke pekerjaan kita yang sudah berjalan dengan baik." jelas sang Ayah lugas.


" Jadi Papah lebih mentingin kontrak kerja Papah ketimbang dengan perasan Hasta ?" tanya Hasta geram.


" Ini bukan masalah perasaan,tapi loyalitas dalam sebuah hubungan kemitra kerjaan dan profesional dalam sikap pekerjaan.Kita harus konsekwen dengan perjanjian yang di buat oleh kedua belah pihak." ungkap Bram dengan nada suara lebih berat,sorot matanya terlihat begitu kontras.


" Tapi Pah...," Hasta mencoba menyanggah dengan apa yang menjadi keputusan Ayahnya tersebut.


" Lupakan lah niat kamu untuk ngelamar Renata, masih banyak urusan kamu yang lebih penting dari pada ngelamar seorang Renata." ucapnya tandas.


Sontak itu membuat Hasta terlihat tersinggung dengan ucapan Ayahnya tersebut.


" Pah !! Papah bisa-bisanya papah bilang seperti itu sama Hasta,Papah tidak tahu jika Hasta sudah berjuang keras untuk mendapatkan hati Renata,dan setelah Hatsa dapatkan nya papah seenaknya menyuruh Hasta lupain Renata ?? maaf Pah Hasta tidak bisa !!" ujar Hasta geram.


" Papah hanya ingin kamu fokus ke karir kamu Has,jika kamu sukses nanti, terserah kamu akan mau melamar siapapun silahkan." balas sang Ayah mulai terdengar keras.


" Dan sekarang,apa yang bisa Papah andalkan kamu,lulus saja belum,gimana mau karir kamu cemerlang jika kamu kelar kuliah melamar anak orang,jelas Papah menolak akan hal itu.?" jelas sang Ayah menatap tajam putranya tersebut.


" Hasta akan buktikan ke Papah jika Hasta bisa sukses walau harus menikah terlebih dahulu." ujar Hasta berusaha membela diri.


" Sepertinya Papah meragukan akan kinerja mu." ucap sang Ayah mencibir.


Hasta menatap frustasi ke arah sang Ayah.


Sepertinya ia telah kehilangan argumen untuk menyakinkan hati sang Ayah yang tetap pada keputusannya,sedangkan ia pun masih tetap bersi kukuh dengan ke inginannya untuk melamar Renata.


Hasta kecewa atas pemikiran sang Ayah yang jauh lebih mementingkan perusahaanya ketimbang dengan perasaanya sendiri.


" Papah ini tidak adil !!" seru Hasta dengan kecewa.


" Pikirkan kembali keinginanmu itu, Papah hanya memberimu yang terbaik. " ucap sang Ayah pelan,ia terlihat berusaha menetralkan perasaanya.


Hasta tidak berbicara,ia menatap penuh sang Ayah,lalu tanpa sepatah katapun ia beranjak pergi meninggalkan sang Ayah yang masih terlihat menata amarahnya.


Sang Mama yang diam-diam mendengar Putranya berselisih paham dengan suaminya tersebut hanya bisa pasrah tanpa bisa menengahi.


Perlahan ia pun menghampiri sang suaminya tersebut.


" Pah !." Panggilnya Rosa mendekati suaminya dengan raut wajah terlihat sedih.


" Mama rasa jangan terlalu mengekangnya." ucap Rosa dengan lirih,raut wajahnya terlihat begitu ketakutan akan situasi yang tak di inginkan.


Bram menghela napas panjang,ia menatap dalam istrinya tersebut.Ada perasaan berat menggelayuti hatinya.


" Papah tidak mengekang nya,Papah hanya memberi sedikit memberi pelajaran saja,dia pikir dengan keadaan dia seperti ini dia bisa bersikap seenaknya melamar anak orang,dia harus bisa mandiri terlebih dahulu sebelum melakukan hal yang seperti ini,dia tidak bisa mengandalkan kita terus untuk mengabulkan setiap ke inginannya,seharusnya dia bisa bercermin dari nak Harry " ucap sang Ayah seraya beranjak dari kursi tugasnya dan berjalan menuju sopa,lalu menghepaskan tubuhnya dengan pasrah.


" Tapi sebaiknya jangan terlalu keras pah.." ujar sang Mama bernadakan cemas.


" Anak laki-laki sepatutnya harus bisa bersikap mandiri jangan cuman ngandalin nama orang tuanya saja,ketika dia sudah meminta melamar perempuan berati dia sudah tidak main-main lagi dengan urusan hidupnya." ucap Bram menatap dalam sang istri.


 


▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎


Tidak terpikirkan sebelumnya oleh Hasta jika sang Ayah ternyata tidak merestui akan hubungannya dengan Renata.


Hal ini tentu saja akan menjadi masalah yang cukup menyita perhatiannya,dan keputusan sang Ayah cukup sangat berpengaruh dalam hubungannya dengan Renata.


Tentu saja Hasta merasa kecewa bahkan kesal terhadap keputusan sang Ayahnya tersebut,kenapa sang Ayah begitu tidak merestui hubungannya dengan Renata,apa kah hanya semata pekerjaan saja ? atau mungkin memang sang Ayah tidak setuju ?


Berkali-kali Hasta mencoba memutar pikirannya untuk mencerna maksud dari semua ucapannya sang Ayah atas apa yang menjadi alasanya,kenapa dia hingga tidak merestui hubungannya dengan Renata ? Namun sepertinya ia justru semakin pusing di buatnya.


Hasta tersadar dari lamunannya ketika ia merasakan ada getaran halus di saku celananya,ai pun segera merogoh smartphone nya yang berada di dalam saku celananya.


Sebuah pesan ia terima dari Renata,dengan cepat Hasta membalas kembali pesannya Renata.


Tak lama Hasta pun mengirimkan pesan singkat ke nomer whatshapp nya Renata,dan ia meminta untuk bertemu dan membicarakan perihal masalah yang kini tengah di hadapinya.


Tak berapa lama,Renata datang menemui Hasta dengan raut wajah terlihat berbeda.


" Ada apa Has ?" tanya Renata menatap cemas ke arah Hasta.


" Ta,Papah tidak setuju dengan hubungan kita." jelas Hasta dengan suara berat.

__ADS_1


Renata mengernyit dan menatap Hasta dengan penuh ekspresif.


" Papah kamu sudah tau akan hubungan kita ? " Tanya Renata heran.


" Ya !" jawab Hasta singkat.


" Secepat itu Papah kamu mengetahui hubungan kita ?" tanya Renata semakin cemas.


" Yaa,karena gue bilang,jika gue ingin ngelamar lo." ucap Hasta menatap lembut Renata.


Sontak Renata terkejut di buatnya mata belonya terbelak menatap lebar.


Ada perasaan bahagia diam-diam menyelinap di hati kecilnya,ia semakin percaya jika Hasta telah benar-benar berubah serta serius terhadap dirinya.


" Apa,kamu mau melamarku ? sungguh?" tanya Renita dengan penuh rasa haru sekaligus bahagia.


" Ya,makanya gue meminta restu kedua orang tua gue, tapi sayang Papah tidak setuju atas hubungan kita kini." jelas Hasta menatap sendu Renata.


" Tapi secepat itu kamu melamarku,pasti Papah kamu terkejut,dan aku sangat mengerti jika Papah kamu tidak menyetujuinya pasti terkendala dengan kontrak pekerjaan dengan Ka Harry?" ujar Renata menatap sesal.


" Kenapa gue ingin segera melamar elo,karena gue gak mau kehilangan lo Ta, karena gue sudah merasa yakin,jika lo adalah cinta terakhir gue." jelas Hasta dengan berbagai perasaan menatap perempuan yang paling di cintainya itu.


" Tapi Papah kamu tidak merestui kita." ungkap Renata terlihat memendam kesedihan.


" Ya,Papah tidak ingin kontrak perusahaan Kakak lo akan kembali terkedala dengan adanya hubungan kita,karena gue sudah melanggar apa yang telah di sepakati oleh kedua belah pihak,antara perusahan Kakak lo dan bokap gue." jelas Hasta menata Renata dengan penuh arti.


Renata tertunduk,dia menyadari jika di dalam kesepakatan itu dia ikut andil,sebelum akhirnya perasaanya itu sulit ia kuasai.


Renata terdiam,ingatannya tertumpu kembali kepada kejadian beberapa bulan yang lalu,dimana sang Kakak memutuskan kontrak kerjanya dengan perusahaan orang tua Hasta hanya karena permintaan dirinya.


" Has,maafkan aku. " ucap Renata dengan suara parau.


Hasta menoleh ke arah Renata yang terdiam.


" Elo tidak perlu minta maaf. " ucap Hasta seraya meraih tangan Renata yang bertumpu di pangkuannya.


" Aku tau kenapa Papah kamu tidak memberi restu akan hubungan kita ?karena Ka Harry serta Papah kamu sudah sepakat untuk tidak merestui hubungan kita selama kontrak di laksanakan, dan kala itu Papa kamu menyetujuinya. " jelas Renata dengan suara nyaris terbata-bata.


Hasta tercekat menatap tak percaya.


" Maksud kamu apa ?" tanya Hasta tidak paham.


Renata menarik napas panjang dengan menatap dalam pria yang ada di hadapnnya itu.


Akhirnya ia pun menceritakan tentang kesepakatan yang di buat oleh dirinya,dimana sang Kakak membatalkan kembali keputusannya dengan satu syarat,yaitu Renata dan Hasta tidak boleh berpacaran selama kontrak masih berjalan.


Hasta terdiam mencoba menetralkan perasaanya,entah kenapa perasaanya begitu sesak sehingga memenuhi ruang dadanya.


Hasta paham kenapa sang Ayah begitu keras menentang hubungannya,ini semua karna sebuah perjanjian.


Hasta menggelengkan kepalanya seraya menatap kaku ke arah Renata,kenapa harus seperti itu perjanjiannya ??


pertanyaan itu muncul di benaknya.


" Kenapa harus seperti itu Ta perjanjian nya?" tanyanya dengan nada sedih.


Renata menatap Hasta dengan penuh rasa bersalah.


" karena,ketika waktu itu aku merasa yakin akan perasaan ku ini, tidak akan menerimamu dan aku lebih fokus dengan pekerjaanku serta kakrirku. Pokoknya ada banyak faktor yang tidak mendukung akan keadaan waktu itu Has." jelas Renata dengan berbagai perasaan.


" Tapi setidaknya masih ada syarat lain,bukan dengan perjanjian seperti ini." sela Hasta tertekan.


" Maafkan aku Has, " ucap Renata tertunduk.


" Yaa TUHAN !!,jelas saja Papah begitu keras menolak permintaan gue itu." ucap Hasta terlihat pasrah seraya menatap jauh ke arah luar sana.


Dia tidak bisa membayangkan jika restu dari sang Papah itu tidak akan pernah dia dapati hingga beberapa tahun kedepan.


Hasta terdiam seolah-olah pikirannya sedang di rundung permasalahan yang tiada solusi,jika ia harus menunggu,tentunya kontrak perusahaan sang Ayah masih dalam proses yang lama.


Hening.....


Ada berbagai perasaan yang kini tengah menghantui isi hati mereka.


Hasta berharap jika sang Ayah akan berubah pikiran,begitupun dari pihak Renata.


Bagaimana caranya agar restu sang Ayah didapatinya.


Hasta menghela dengan kasar.


" Seharusnya kamu jangan terlalu buru-buru melamarku Has." ungkap Renata pelan.


" Loh emang kenapa ? lo gak suka ya ?" tanya Hasta menatap dengan berbagai tuduhan.



" Sama sekali tidak Has,tapi untuk sekarang ini Kakak ku masih bekerja sama dengan perusahaan Papah kamu,setidaknya kontrak kerja baru saja di mulai." ungkap Renata menjelaskan.



" Terus gue harus nunggu hingga selesai kontrak kerjaan ini selesai, baru gue lamar lo gitu !! bayangin saja lima tahun kedepan itu artinya kita akan menjalani hubungan seperti ini terus Ta ?" ungkap Hasta yang mulai terlihat Bete.



" Kita masih bisa menjalaninya Has,? " ungkap Renata lirih.


" Selama itu ??" sela Hasta sedikit gusar.


Renata terdiam menatap kaku.


Hasta menghela napas, dia menatap penuh rasa ke arah Renata yang sudah terlihat ketakutan,ada raut wajah yang tak biasa yang tersirat di dalam di raut wajah perempuan sederhana tersebut.Dan dia sangat memahami itu.


" Gue gak mau,jika gue harus kecewa lagi dalam penantian itu." ujar Hasta lirih.


Renta terdiam mencoba mengusir jauh rasa bersalahanya.


" Ok....,kita mencoba untuk menyakinkan Kakak lo serta Papah gue akan hubungan kita ini,dan berharap mereka bisa ngerubah kesepakatannya." jelas Hasta mencoba meyakinkan dan menenangkan hatinya Renata.


Renata tidak berbicara dia hanya menganggukan kepalanya dengan perasaan yang tak menentu.


" Gue yakin kita akan melalui proses ini, mudah- mudahan Kakak elo bisa merubah perjanjian ini Ta." ungkap Hasta dengan perasaan haru.


" Semoga " tambah Renata dengan suara lirih,lalu ia pun bersandar di pundaknya Hasta dengan pasrah.


................................ Bersambung

__ADS_1


__ADS_2