
HASTA masih tertegun memandangi satu- persatu lantai keramik yang berwarna kuning ke coklatan,dia berharap jika sang Papah bisa mengubah segala keputusannya dan merestui hubungannya dengan Renata.
Dalam hati kecilnya tersisip sebuah do'a supaya cinta sucinya akan berakhir di sebuah pelaminan bersama Renata.
Sepertinya ia ingin mengakhiri segala pertualanganya dengan ikatan suci atas nama pernikahan.
" Pahh !! " Panggil Hasta cepat ketika melihat sang Ayah baru tiba.
Sang Ayah menjeda langkahnya lalu menoleh ke arah putranya tersebut.
" Hasta ingin bicara sebentar !" pinta Hasta dengan cepat.
" Ada apa lagi ?" tanya sang Ayah seraya membuka perlahan sampul dasinya.
" Ini masalah aku sama Renata Pah." balas Hasta sedikit ragu.
" Papah istirahat dulu nanti kita bicarakan lagi." ujar sang Ayah datar.
Bram melangkah meninggal Hasta yang masih menatapnya.
" Pah !! " Panggil Hasta dengan nada kesal, namun sang Ayah hanya berlalu tanpa menghiraukan putranya tersebut.
Tentu saja sikap ini membuat Hasta terlihat kecewa, bahkan ia benar-benar kesal dengan sikap yang di tunjukan sang Ayah kepada dirinya.
Dan alhasil perasaannya kini menjadi campur aduk tak karuan.
Dengan perasaan kesal dia pun berlalu menuju keluar,sepertinya ia mencoba untuk tidak terbawa dengan suasana yang diciptakan oleh sang Ayah.
*********
Hasta masih terdiam dengan eksfresi wajah kesal sekaligus kecewa.Ada banyak pikiran yang kini tengah merongrong isi kepalanya.
Bony menghampiri Hasta yang sudah menunggu lama kedatangan nya.
" Sorry gue telat,lo udah nunggu lama ya Has ?" Tanya Bony seraya duduk di samping sahabatnya tersebut.
Hasta tidak menjawab, dia hanya membuang wajah dengan perasaan kesal.
Bony menyoroti ekspresi sahabatnya itu dengan rasa heran.
" Ada apa lagi sih Has ?" Tanya Bony penasaran ketika melihat raut wajah Hasta tertekuk.
Hasta masih diam dengan eksfresi yang tak biasa.
" Lo giliran ada masalah pasti nyariin gue." Cetus Bony ngedumel.
" Gue lagi kesal sama bokap gue.!!" balas Hasta ketus.
" Bokap lo kenapa ?" tanya Bony penasaran.
Hasta menghela napas dengan kasar,lalu memukul-mukul pahanya dengan gusar.
" Bokap gue gak setuju akan hubungan gue dengan Renata !!" cetusnya pelan.
Bony mengernyit lalu menatap tak mengerti.
" Kok bisa !! ada masalah apa lagi ?" tanya Bony semakin penasaran.
" Lo masih ingatkan cerita tentang kontrak kerja perusahaab bokap gue sama perusahaan Harry,Kakak nya Renata ?" tanya Hasta menatap serius ke arah Bony.
Sejenak Bony terlihat mengingat-ngingat kembali akan cerita yang pernah di sampaikan Hasta kepada dirinya beberapa bulan yang lalu.
" Yaa... ya....,gue ingat !! " Ucap Boni setelah berhasil mengingatnya.
" Tapi permasalahan itu bukannya sudah clear Has?" tanya Bony mengernyitkan salah satu alisnya dengan sarkatik.
" Permasalahan itu kini ada hubungannya dengan restu hubungan gue dengan Renata, Bon." balas Hasta dengan raut wajah sedih.
" Maksud lo apa sih ?sumpah gue gak paham !!" tanya Bony menatap polos,Kedua alisnya naik turun dengan ekspresif.
Bony sepertinya mencoba menangkap maksud dari semua ucapan Hasta, dan eksfresi wajahnya kian terlihat lebih konyol.
Hasta menggeleng.
" Aduh Bon !! lo bener-bener ya!!" ucap Hasta terlihat gemas.
" Jadi,di balik keputusannya Harry dalam menarik kembali pembatalan kontraknya itu ada sebuah syarat. Dan syarat itu adalah,bahwa gue tidak boleh berpacaran dengan Renata selama kontrak berjalan,paham kan lo ?" ujar Hasta dengan nada kesal.
" Ohhh..... !!" Ucap Bony singkat,akan tetapi sejurus kemudian ia nampak berpikir ulang, seolah-olah ia sedang berpikir keras untuk mencerna semua ucapan sahabatnya tersebut.
" Terus ? " Tanyanya dengan wajah polos.
" Terus apa lagi?" tanya Hasta menatap sedikit dongkol ke arah Bony.
" Terus, lo berdua emang sudah seserius itu ? " tanya Bony mencoba memperjelas statusnya Hasta dengan Renata.
__ADS_1
" Yaa makanya itu,gue minta restu bokap gue untuk ngelamarin Renata,dan gue rasa gue gak butuh lama untuk berproses karena hati gue udah mantap sama dia." jelas Hasta maksimal.
Bony terlihat tersenyum sinis.
" Baru aja lo jadian, udah langsung minta ngelamar aja Has?? Semantap itukah perasaan lo sama tuh perempuan?" ujar Bony menatap sepele.
Hasta menatap geram.
" Lo nyepelein perasaan gue ?" tanyanya dengan menatap enteng.
" Gue rasa ini terlalu cepat." Bony menyela.
" Gue rasa lebih cepat lebih baik." balas Hasta dengan penuh rasa percaya diri.
Bony mendengus melihat sikap sahabatnya tersebut.
Namun Bony dapat melihat akan niat tulus sahabatnya itu begitu nyata.
" Ya ya...., kali ini semoga saja gue tak keliru." ujarnya dengan tersenyum tanpa pasti.
" Tapi,by the way kenapa bokap lo gak ngebahas ini dari awal,jika ada persyaratan sebelumnya sama Harry,dan kenapa juga mereka harus membuat persyaratan seperti itu??" tanya Bony ikut merasakan apa yang sedang di rasakan oleh sahabatnya tersebut.
" Itu dia yang lagi gue pikirin sekarang." Sela lagi Hasta melirik ke arah Bony.
" Mungkin dulu Renata ketika mengajukan persyaratan ini tidak akan berpikir jika perasaanya bisa berubah kapan saja." Sela Hasta lirih
Bony menarik napas panjang lalu menggeleng-geleng bagai mendengar musik penuh irama.
" Cobaan apa lagi yang lo terima Has,gak abis-abis nya tuh masalah" Ucap Bony terkekeh.
" Gue gak habis pikir Renata membuat persyaratan seperti,dan bokap gue pun menyutujuinya,benar-benar gak punya perasaan." guman Hasta dengan perasaan gusar.
" Gue rasa tuh perempuan so jual mahal,namun pada akhirnya toh perasaan dia berubah terhadap elo." samhung Bony dengan nada penuh cibiran.
Hasta terdiam sepertinya ia membenarkan apa yang di ucapkan sahabatnya tersebut.
" Namanya perasaan pasti kita tidak bisa memprediksikan nya, karna perasaan itu selalu berubah kapan saja,makanya jadi cewek itu jangan so jual mahal,giliran cinta beneran nyangkut deh tuh perasaan di persyaratan,"Ucap Boni nyerocos bak petasan terbakar.
" Gue udah mati-matian memperjuangkan perasaan ini,giliran gue udah dapet,bokap malah gak setuju,perjuangan gue sia-sia." ungkap Hasta kecewa.
" Terus kalau udah begini mau gimana ?" tanya Bony menatap lurus sang sahabatnya.
" Entahlah.. " Ucap Hasta menatap kosong.
" Sekitar lima tahun kurang lebih." jawab Hasta singkat.
Bony terkesiap dengan mata sedikit melotot.
" Gilaa !! selama itu lo akan nunggu ?? itu pacaran apa kredit mobil ?" Sela Boni dengan tertawa kecil menggoda Hasta.
" Aaahh Siiitt !! lo masih bisa-bisanya nyandain gue. " ucap Hasta mulai geram mendengar celotehannya Bonny.
" Huuh !!apa mesti gue pendam perasaan ini selama kontrak kerja ini berjalan ?" seloroh Hasta dengan pasrah.
" Heu,,Kalau gue di suruh nunggu,ogah !! mending nyari yang lain aja lagi yang lebih bening,kan gampang." Celoteh Bony dengan enteng.
Hasta melirik dengan sinis ke arah Bony yang berbicara seenaknya terhadap perasaan hatinya.
" Kalau elo cari yang bening,pacaran aja sono dengan lee mineral." ujar Hasta dengan intonasi cukup galak.
Bony cekikikan melihat sahabatnya mula geram kepadanya.
" Gue rasa Itu sih bukan perjanjian, persyaratan ini jelaas menyalahi aturan perasaan." ujar Bony menambahi seraya menatap serius ke arah Hasta.
" Gue juga bingung,gua gak yakin jika bokap bisa merubah akan keputusannya ini." Hasta terlihat sedih.
" Kalau gak lo coba loby lagi bokap lo Has, dan lo yakinin bahwa hubungan lo ini gak ada sangkut pautnya dengan kontrak pekerjaan perusaan." ucap Bony memberikan saran.
" Harus pakai cara apa lagi gue menyakinkan bokap gue Bon,gue yakin bokap lebih menomor satukan nasib perusahaanya ketimbang nasib perasaan anaknya,benar-benar urusan ini jadi runyam Bon." ungkap Hasta terlihat resah.
Bony terdiam,hanya itu yang bisa Bonya lakukan memberi usulan tanpa tahu dia harus berbuat gimana lagi.
Hasta terlihat gelisah dengan masalah yang tengah di hadapinya kini. serumit ini kah kisah cintanya kali ini ?
mengapa rintangan ini selalu datang silih berganti menghampiri kisah asmaranya dengan Renata.
Dulu tak serumit ini ketika dirinya menjalin kasih dengan beberapa perempuan yang di pacarinnya,dengan mudahnya ia mendapatkan apa yang dia inginkan.
Namun perjuangan ini jelas sangat berbeda dan tak bisa di bandingan begitu saja dengan masalalunya,mengingat ia begitu sulit untuk mendapatkan hati seorang Renata.
Hasta hanya bisa mencoba mengingat kembali akan pengorbanan dan perjuangan demi untuk mendapatkan hati seorang Renata yang begitu pelik.
Bahkan masih ingat di benaknya,dirinya rela menjadi seorang pengemis cinta dalam harapan-harapan yang semu.
Berharap dan terus berharap walau pada kenyataannya ia di buatnya patah hati oleh sosok seorang Renata.Namun setelah rasa itu terbalaskan,justru kini rintangan besar menghadangnya melalui restu sang Ayah yang sama sekali ia tak dapati.
__ADS_1
********
HASTA mencoba untuk tidak gegabah dalam menyelesaikan permasalahannya kali ini, dia yakin jika semua ini hanyalah ujian yang akan menguji seberapa besar cintanya terhadap Renata.
Dan dia pun sadar dari awal jumpa dengan sosok Renata hingga saat ini,cobaan itu selalu datang silih berganti mewarnai kisahnya.
Hasta masih teguh mempertahankan perasaannya walaupun terkadang ego harus di kesampingkan Hasta sadar betul jika perasaannya untuk saat ini bukan hanya sekedar rasa suka, tapi melainkan lebih ke rasa yang begitu dalam hingga sampai pada satu muara kasih yang bertahtakan pelaminan.
Rasa itu ingin dibawanya hingga ia menutup mata, rasa yang ingin menjadi rasa sebuah cinta yang sejati rasa yang ingin dimilikinya hingga selamanya.
Dan sebuah rasa yang mampu membulatkan tekadanya dan menobatkan jika sosok Renata adalah cinta terakhirnya.
Sayang, Hasta tidak menduga jika cintanya kini harus berhadapan dengan restu sang Ayah.
Hasta masih terdiam menatap lekat ke arah Renata yang sedari tadi hanya berdiam diri tanpa bicara apa pun,sekilas sebuah kegelisahan tengah menggelayuti raut wajahnya.
Hasta pun membiarkan perempuan terkasihnya itu larut dalam keheningan,sedangkan hati dan pikirannya pun sedang berjuang mencari cara untuk mendapatkan sebuah solusi bagaimana hubungannya dengan Renata tetap bertahan.
" Aku sudah bicara hal ini dengan Ka Harry Has." ucap Renata memecahkan kesunyian.
Hasta masih terdiam hanya menggeser sedikit bola matanya,dan kini ia menatap penuh ke arah Renata,dia berharap jika Renata memberinya kabar baik dan ada sedikit titik terang untuk permasalahan yang tengah di hadapinya kini.
Namun sejurus kemudian raut wajah Renata terlihat meredup,senyuman itu tergulung rapat tanpa rekayasa,dapat di pastikan jika ia sedang tidak baik-baik saja.
Hasta menunggu dengan harap-harap cemas.
" Ka Harry berpikiran sama seperti Papahmu,ia tetap memilih bersikap profesional dan dia dengan tegas menolak akan hubungan kita." ucap Renata lirih suaranya terdengar begitu bergetar.
Braakk....
Seperti ada yang hancur dari dalam hatinya Hasta, wajah pria tampan itu berubah membara,sehingga tulang rahang pipinya terlihat begitu kontras menyembul keluar menahan sebuah tekanan.
Sesak rasanya ruang dada Hasta mendegar ucapan Renata yang begitu nyata telah memupuskan harapannya.
" ............."
Hasta tertegun menahan segala luapan amarahnya yang tertahan di jiwa.
Perlahan perasaan itu semakin membuncah didalam dadanya,ia nyaris kehilangan energi sekaligus bingung harus berkata apa lagi.
Hilang semua kata-kata yang ada di pikirannya,seiring dengan ucapan yang keluar dari mulut kekasihnya tersebut.
Seketika ia mendadak bisu,hingga ia merasakan kesulitan untuk menggerakan bibirnya,walaupun hanya sekedar berkata " Ah ".
Sempat terlintas dalam benaknya jika ia ingin rasanya berlari dan membawa pergi jauh sosok gadis ini dari permainan cinta yang aneh ini.
" Has !!." panggil Renata pelan Hasta masih terdiam mencoba untuk menetralkan perasaannya tersebut.
" Maaf kan aku hikss.....hikss....," Tiba-tiba Renata terisak seraya menutupi wajahnya dengan kedua telapak tanganya, sejadi-jadi tangisannya pun tumpah ruah.
Hasta menoleh ke arah Renata yang masih terisak rasa iba pun menggelayuti hatinya.
" Ta...." panggil Hasta lembut,dia membukakan tangan Renata yang menutupi wajahnya,lalu di genggam eratnya tangan mungil Renata dengan penuh kasih sayang.
" Jangan menagis sayang !! gue yakin jika masalah ini pasti akan ada jalannya. " ucap Hasta lirih dirinya mencoba menenagkan perasaanya Renata yang masih terisak.
" Aku tidak menyangka,jika akan seperti ini akhirnya,maafkan aku Has,semua ini gara-gara ke egoisan aku." Ucap Renata tersungkur di pelukannya Hasta.
Renata pun menumpahkan kesedihannya di pangkuan Hasta, air matanya tak mampu lagi ia bendung mengalir begitu deras hingga membasahi pipinya.
Hasta merangkul hangat Renata yang masih menangis di pelukannya dan ia pun berusaha untuk tetap membuat Renata semakin tenang.
" Sayang... !!! " panggilnya dengan lembut.
Renata masih tertunduk.
" Lihat aku... !! " seri Hasta melepaskan pelukanya dan menyuruh Renata untuk menatap dirinya.Namun Renata masih belum memperlihatkan wajahnya,ia tetap menunduk dengan tangisab kecilnya.
" Lihat aku,plis." ucap kembali Hasta semakin lembut Renata menatap nanar ke arah wajah Hasta yang terlihat tegar dalam kekalutannya.
Perlahan Renata mengangkat wajahnya lalu menatap sembilu ke arah Hasta.
" Percayalah,kita bisa melalui masalah ini,dan kita yakin,jika kita mampu menghadapinya bersama- sama !" Ucap Hasta dengan menyeka air matanya Renata yang masih mengalir deras di kedua pipinya.
Renata sejenak memejamkan matanya dia cukup meresapi akan sentuhan tangan halus Hasta di kedua pipinya.
" Cinta gue tulus,dan gue yakin pasti ada solusinya untuk permasalahan ini, semoga saja Kakak lo serta Papah gue tidak egois, dan mereka bisa memahami akan perasaan kita." imbuh Hasta berusaha menenagkan hati Renata yang gundah.
Renata tidak berbicara ia hanya menatap dalam wajah pria tampan itu dengan linangan air mata.Ia berusaha untuk tetap tenang walau dalam hati berkecambuk perasaan sedih yang teramat dalam.
Hasta membalas tatapan perempuan sederhana tersebut dengan menatapnya lembut,ia berusaha untuk tetap memberikan rasa nyaman meski lewat tatapanya.
Renata kembali hanyut dalam pelukan pria tampan tersebut,ia berusaha membenamkan segala rasa yang kini tengah mengganggu pikirannya,dan dia pun berlindung dalam pelukan Hasta,sosok pria yang telah mampu membuka kembali persaanya untuk jatuh cinta lagi.
.............................Bersambung
__ADS_1