
HASTA dan sang Ayah saling diam satu sama lain,suasana berubah menjadi kaku dan canggung.
Itu dapat terlihat dari sikap gestur yang di tunjukan Hasta kepada sang Ayah sedang tidak baik-baik saja.
Dengan wajah telihat suntuk ia hanya terdiam seraya mekainkan cincin berwarna silver di jari tengahnya.
Sementara sang Ayah lebih memilih fokus mengotak-atik smartphonnya mengotak tanpa memperdulikan keberadaan putranya tersebut.
Sang Mama perlahan mendekat lalu ikut serta dalam keheningan mereka,maksudnya ingin menyudahi suasana tak nyaman,akan tetapi suasana semakin membeku.Sikap keduanya saling membisu.
" Kok pada saling diem begini sih,biasanya Papah sibuk bercerita." Ucap sang Mama memecah kesunyian.
Hasta menoleh tanpa ekspresi apapun sedang kan sang Ayah sama sekali tidak menghiraukan ucapan istrinya tersebut.
Hasta melirik sang Mama dan memberi sebuah isyarat agar sang Ayah berbicara,Rosa menggangguk memahami apa yang di isyaratkan oleh putranya tersebut.
" Oya Pah mau Mama bikinin kopi ?" tanya Rosa mendekati suaminya tersebut.
" Tidak !! Papa lagi gak pengen !! " jawab Bram dengan malas.
Rosa melirik ke arah putranya yang berharap sang Ayah mau mengajaknya bicara.
" Pah !! " panggil sang Mama pelan.
" Paah !! papah sudah mempertimbangkan lagi akan masalah restu untuk Hasta. ?" tanya sang Mama dengan sangat berhati-hati.
Sejenak Bram mengalihkan tatapannya ke arah istrinya tersebut, lalu tak lama tatapannya bergeser ke arah Hasta yang sedari tadi menatapnya dengan penuh harapan.
" ........."
Sang Ayah kembali diam dengan bersikap apatis,tatapannya terlihat begitu dingin,dan sepertinya ia tidak terlihat tertarik dengan apa yang di pertanyaan oleh istrinya tersebut.
Hasta menghela napas, dia mulai membaca gelagad sang Ayah yang sepertinya tetap tidak akan merestui hubungannya tersebut.
" Papah tetap tidak akan setuju." Ucap sang Ayah tegas.
Sontak Hasta tercekat mendengar ucapan singkat sang Ayah.
Seketika matanya menatap tajam kepada sang Ayah.
" Pah !! apa Papah tidak bisa membicarakan kembali akan masalah ini dengan Harry ?" tanya Hasta mulai gusar.
" Untuk apa ?ini sudah jadi kesepakatan bersama." ucap kembali sang Ayah lebih tegas.
Hasta menggeleng,merasakan hawa panas mulai menyeruak ke dalam hatinya dan mempompa kuat amarahnya.
" Pah,Papah kenapa lebih mementingkan perusahaan ketimbang perasaan anaknya sendiri,?" Tanya Hasta mulai terlihat nyolot.
Sang Ayah menyimpan ponselnya lalu menatap tajam ke arah putranya tersebut,rupanya ucapan Hasta mulai sedikit menyinggung perasaanya.
" Papah tegaskan,Papah tidak akan merestui hubungan kalian, dan nak Harry juga sudah sepakat untuk tidak menyetujui hubungan kalian ini,demi kelancaran kontrak yang sudah berjalan cukup baik, jadi kamu tidak usah lagi berharap bisa mendapatkan restu dari nak Harry maupun Papah." ungkap sang Ayah dengan nada bicara semakin tegas.
Hasta benar-benar tak menyangka jika sang Ayah nya bisa bersikap diktaktor terhadapnya,sebagai orang tua yang di kenal bijak,Hasta cukup bangga akan sikap di miliki sang Ayahnya tersebut,namun kini Bram terlihat sangat berbeda dari biasanya.
Hasta memandang sang Ayah dengan berbagai perasaan,sesangkan Rosa mulai terlihat cemas atas sikap keras kepala suaminya akan melukai perasaan putranya tersebut.
" Papah sekarang sudah banyak berubah,tapi maaf pah,Papah tidak bisa memaksakan perasaan Hasta untuk berhenti mencintai Renata,kami sudah saling dewasa pah, lagian jika Perusahaan Harry membatalkan kembali kontrak kerjanya, kita masih bisa mencari klien yang lain,simple kan Pah." ujar Hasta terlihat menahan amarahnya.
Sang Ayah menatap tidak suka kepada putranya yang menganggap enteng akan pekerjaanya tersebut.
" Dikira mencari patner kerja itu mudah ?kamu pikir setelah tekan kontrak lalu di batalkan begitu saja lantas kita tidak akan rugi ?" tanya sang Ayah mulai meninggi.
" Jika kita tidak selektif mencari Mitra perusahaan,yang ada kita akan di curangin !!,dan bisa jadi kita akan kehilangan perusahaan kita jika kita sembrono dalam memilih patner perusahaan. Pokonya papah tidak akan merestui hubungan kalian sebelum kontrak kerja Papah ini selesai." jelas sang Ayah tegas,ia bersikeras dengan keputusannya tersebut.
Hasta membuang wajahnya seraya menarik napas panjang,merasakan ruang dadanya semakin panas.
__ADS_1
" Pah, sebegitu buruknya kah pengaruh hubungan Hasta dengan Renata di perusahaan Papah ini,sehingga kami tidak di restui." tanya Hasta mencoba meredam amarahnya,dan kembali berharap jika sang Ayah akan berubah pikiran.
Sang Mama menatap tegang ke arah keduanya.
" Hasta !!intinya Papah tidak mau ambil resiko dengan masalah hubungan kalian ini,Papah akan tetap bersikap profesional,dan ini adalah peluang besar Papah perusahan Papah dalam mendapatkan keuntungan besar dalam project ini , jadi Papah harap kamu bisa mengerti." tungkas sang Ayah tak mengenal kompromi.
" Jadi Papah mengorbankan perasaan Hasta demi mendapatkan keuntungan banyak ?,Hasta tidak menyangka jika papah akan sepicik ini,pemikiran papah terlalu matrealistis,semua di ukur dengan materi." ungkap Hasta benar-benar terlihat kecewa atas sikap sang Ayahnya tersebut.
Sontak sang Ayah tercekat,mendengar penuturan putranya tersebut,tentu saja hal ini membuatnya sangat marah.
" KAMU LANCANG !! kamu tahu apa akan ke adaan kita ini,kamu pikir selama ini pasilitas kamu dan biyaya hidup kamu itu hasil dari cuma-cuma ?hidup tidak akan bisa lepas dari masalah materi,kamu pikir kamu bisa mencukupi hidup kamu dan Mama kamu hanya dengan cinta,semua itu perlu biyaya,kalau bukan materi apa lagi hah ??" ujar Bram terlihat marah besar.
Rosa sang Istri terlihat mulai panik melihat situasi semakin memanas.
" Kalau seandainya kita bangkrut, apa yang akan kamu lakukan,kita realistis saja, hidup bukan sekedar mengandalkan perasaan saja." jelas sang Ayah dengan intonasi yang cukup berat.
Napas sang Ayah terlihat naik turun menahan emosi yang mulai tak terkendalikan,untuk kali ini Bram berani memarahi putranya tersebut.
Jelas ini bagai sebuah pukulan keras bagi seorang Hasta yang tidak pernah mendapatkan perlakuan sekasar ini.
Selama ia dewasa,kali ini lah ia berselisih paham dengan sang Ayah.
" Papah egois !! Kehidupan ini dinilai dengan materi, Hasta pikir Papah lebih bijak,tapi sayang dugan Hasta selama ini salah,Papah tidak ada bedanya dengan penguasa-penguasa luaran sana yang terlalu tamak akan sebuah materi." ungkap Hasta seraya beranjak dari duduknya,lalu tanpa pamit ia pun melangkah pergi meninggalkan sang Ayah dengan kemarahannya.
Rosa tertegun menatap tak kuasa atas kepergian putranya tersebut.
" HASTA !! " panggil sang Ayah dengan suara tinggi.
Rosa ikut berdiri dan berniat untuk mengejarnya.
" Hasta !!" panggil sang Mama hendak berlari.
" Tidak usah di kejar!biarkan saja dia pergi." ujar Bram dengan lantang.
" Pah,jangan bersikap arogan seperti itu,jika nanti anak kita kenapa-napa gimana ?" ucap sang Mama khawatir,raut wajah terlihat begitu sangat cemas melihat kepergian putranya tersebut.
" Dia kan sudah merasa dewasa,makanya dia mulai berani membangkang kita,biarkan saja sesuka hati dia saja." imbuh sang Ayah benar-benar marah.
Sang Mama menarik napas seraya terduduk kembali dengan lemas,menatap lekat sang suami yang masih tetap pada egonya.
" Kenapa pah ? Papah begitu keras tidak merestui hubungan mereka." tanya Rosa lirih.
" Mah,Papah sudah katakan,jjka papah tidak mau ambil resiko dalam hubungan kerja ini,apa lagi ini maslah pribadi,Papah hanya bersikap profesional saja dan Hasta harus paham,jika didalam dunia perbisnisan ini tentunya dia tidak boleh bersikap seenaknya." ungkap sang Ayah mulai rendah akan nada bicaranya.
" Seharusnya Papah bisa memberi pengertian sama dia pah dengan cara lain,bukan seperti ini." ungkap Rosa dengan resah.
" Biarkan saja dia bermain dengan egonya dia sendiri." ucap sang Ayah berusaha untuk menenangkan istrinya tersebut yang terlihatbsangat cemas akan ke adaan putra semata wayangnya.
HASTA tidak tahu harus berbuat apa lagi,keputusan sang Ayah jelas tidak bisa lagi di ganggu gugat.
Dan tak terpikirkan sebelumnya jika kisah kasihnya kini harus terhalang oleh restu orang tuanya.
Akhirnya,ia tak bisa berbuat banyak untuk masalah inu,ia mengalah dengan sikap kerasnya sang Ayah, terlebih sang Ayah diam-diam telah mencabut semua pasilitas yang telah di berikan kepadanya.
Semenjak Hasta pergi dari rumah setelah pertengkarannya dengan sang Ayah,semenjak itulah sang Ayah menutup semua pasilitas untuknya. Padahal Hasta pergi untuk menghindar dari pertengkaran tersebut,tapi apalah daya sang Ayah justru bersikap semakin tegas.
Kartu ATM nya mulai di bekekukan sehingga Hasta kesulitan untuk mengambil uang.Hasta yang bisa meratap kecewa atas sikap tegasnya sang Ayah yang tidak bisa berkompromi lagi atas sikap nekadnya tersebut.
Dengan perasaan yang di paksakan harus rela,mau tak mau Hasta harus kembali ke rumahnya karena dirinya sadar ternyata hidup itu memang perlu materi.
Sebelum ia memutuskan untuk kembali ke rumahnya, ia berusaha berpikir keras untuk tidak mengandalkan kembali bantuan dari Ayahnya tersebut, namun sayang dirinya minim pengalaman sehingga merasa kesulitan untuk mencari pekerjaan yang cocok untuk dirinya.
Kini Hasta tidak bisa lagi mempertahankan egonya setelah semua pasilitasnya di ambil secara paksa oleh sang Ayah.
Hasta terdiam seribu bahasa mencoba mengendalikan perasaan gengsinya.Rasanya ia tak ingin kembali namun rasanya tidak memungkinkan jika ia harus hidup seperti seorang gelandangan.
Dengan perasaan berat ia terpaksa pergi menemui Bony sahabatnya,dan ia berniat untuk tinggal sementara waktu di rumahnya.
__ADS_1
Hasta sadar jika Bony adalah salah satu sahabatnya yang paling bisa di andalkan dalam kondisi apapun.
" Gue tidak akan kembali kerumah sebelum bokap gue menyetujui hubungan gue dengan Renata !" ucap Hasta seraya terduduk lemas di hadapan Bony.
" Ya enggak bisa gitu Has itu namanya lo lari dari tanggung jawa lo.." ujar Bony tidak setuju.
" Papah gue itu udah gak bisa di ajak bicara secara baik-baik lagi Bon,yang ada gue malah berantem lagi sama dia." terang Hasta terlihat menatap kesal.
" Jadi bokap elo kekeh gak setuju dengan hubungan lo itu ?" tanya Bony menatap tegas Hasta.
"Yaa !! dia malah lebih mentingin duitnya ketimbang persaan gue." guman Hasta terlihat tertekan.
" Bokap lo mungkin lebih tau Has mana yang terbaik buat kehidupan lo nantinya." ucap Bony mencoba menengahi permasalahan yang sedang di alami sahabatnya tersebut.
" Kalau dia tau mana yang terbaik buat anaknya, setidaknya dia bisa ngasih solusi yang baik buat gue,bukan ngehukum gue seperti ini."jelas Hasta semakin terlihat marah.
" Bokap elo ngeukum lo ?" tanya Bony heran.
" Ya,semua pasilitas di ambil oleh bokap gue,Atm gue nol," Hasta terlihat kesal atas perbuatan orang tuanya tersebut.
Bony melogo mendengar pernyataan sahahatnya tersebut.
"Kadang pandangan orang tua itu emang susah di tebaknya Has,kadang baik buat kita belum tentu baik bagi mereka , dan baik kata mereka tapi kita gak suka, iya kan ?" tanya Bony menatap lekat sang sahabat.
" Entahlah,, mana sekarang gue gak punya duit sepeser pun lagi.Gembel gue !" ujar Hasta terlihat sedih.
" Has,sebaiknya lo ikutin aja dulu kemauan bokap lu seperti apa untuk sementara waktu ini, jika emang harus nunggu yaa itu pilihan lo yang terbaik,tapi kira- kira Renata bisa gak nungguin lo ?" tanya Bony menatap resah.
" Lima tahun Bon,bukan waktu yang sebentar, iyaa kalau kita sama-sama bisa saling menjaga,kalau tidak....??" ucap Hasta terlihat pasrah.
Sejenak Bony terlihat termenung ikut merasakan apa yang di rasakan oleh sahabatnya tersebut,ini adalah pilihan yang sulit untuk di tentukan.
Untuk yang pertama kalinya Hasta harus berselisih paham dengan sang Ayah,selama ia tumbuh menjadi dewasa ia mengakui jika dirinya cukup terbilang tidak pernah m bertolak belakang dengan sikap sang Ayahnya tersebut.
Mereka selalu kompak apapun itu permasalahannya.
Tapi entah kenapa kali ini justru mereka berselisih paham atas keinginan yang di ajukan Hasta kepada Ayahnya tersebut.
Bram menolak keras Atas hubungannya dengan Renata adik dari Mitra perusahaan sang Ayah.
" Sebenarnya ada apa dengan bokap gue itu,seingga gak bisa sama sekali ngerestuin gue dengan Renata ?" gumab Hasta pelan,pertanyaanya seolah ditujukan untuk dirinya sendiri.
" Lo udah cari tau alesan apa yang membuat bokap elo ga setuju ?" Bony menimpali.
" Bokap gue bilang,ia hanya ingin bersikap lebih profesional saja Bon,ia tidak ingin masalah gue akan berdampak buruk dalam image perusahaanya ! bila terjadi pemutusan kontrak lagi,maka perusahaan bokap gue akan dipastikan menanggung resiko yang cukup fatal." jelas Hasta dengan penuh penekanan di setiap kalimatnya.
" Nah itu alasan yang masuk akal sih bro, jadi saran gue kalau benar si Renata suka sama lo, Doi pasti akan nunggu lo sampai kapan pun." ujar Bony dengan penuh keyakinan.
" Gilaaa Bon !! lima tahun bukan waktu yang singkat,di sana ada 1.800 hari,lo bayangin jika gue harus mejalani sebuah hubungan backstreet,kalau Renata setia , tapi kalau tiba-tiba dia di jodohkan ??" ujar Hasta dengan raut wajah tegang menatap horor ke arah Bony.
Bony menekan kuat slavinanya dengan bola mata melotot,dapat di pastikan sesakit apa yang di rasakan oleh Hasta jika Renata di pinang orang lewat perjodohan.
" Kakanya dia aja di jodohkan, tidak menutup kemungkinan jika ia akan seperti itu. !" Hasta semakin gelisah.
" Jodoh gak akan kemana Has." ucap Bony menenangkan sahabatnya tersebut.
" Tau,jodoh gue gak akan kemana,tapi persaingan ada dimana-mana Bon !!" ucap Hasta terlihat gusar.
" Tapi gue yakin,kisah lo kali ini emang terasa alot,tapi bukan berarti lo akan gagal." ujar Bony kembali.
" Gue harus gimana lagi ?" tanya Hasta terlihat putus asa.
" Has,sebaiknya lo balik dan lo selesaikan masalahnya lo ini dengan bokap lo,karena elo gak bisa uring-uringan kaya gini,tar malah makin panjang urusannya." Bony menyarankan untuk Hasta kembali kerumahnya.
" Lo ngusir gue !!" tanya Hasta dengan sentimen.
Bony terperangah,setelah niat baiknya di salah artikan oleh sahabatnya tersebut.
" Gue mah gak bakalan ngusir lo , lo mau tinggal berapa lama juga di rumah gue, gue gak bakalan gue larang,gue cuman ngasih saran saja ke lo,untuk balik dulu ke rumah elo,yaa ademin dulu lah suananya biar bokap lo gak makin sadis,nanti bisa-bisa semua warteg,nasi padang dia boikot buat elo... Hahaha... " ujar Bony dengan di akhiri tertawa lebar.
__ADS_1
Hasta terdiam seraya menatap lekat ke arah Boni yang begitu baik terhadapanya.
...........................Bersambung