Sang Play Boy

Sang Play Boy
Sang Playboy episode 31


__ADS_3

 


HASTA masih termenung seorang diri di ruangan kamarnya,ia menatap dengan perasaan frustasi.


Hasta merasakan jika keputusan Renata itu membuat sebagian fungsi otaknya tidak berjalan dengan baik.


Dengan menyesap sebatang rokok yang ada di antara jari tangannya Hasta masih terus memikirkan Renata.


Entah kesalah apa yang telah di berbuatnya hingga Renata begitu sampai hati memutuskannya tanpa bisa ia tolak.


Dan hal itu menjadi sebuah pukulan keras sekaligus kekecewaan Hasta terhadap Renata.


Ia menatap frustasi ke ruangan kamarnya tersebut,pikiranya semakin kacau ketika ingatannya di hadapkan pada permasalahan perjodohan nya.Sang Ahah begitu bersi keras ingin menjodohkan dirinya dengan anak dari sahabatnya tersebut,hal yang paling sulit ia lakukan untuk menolak perintah sang Ayah.


Hasta menggeleng dengan perasaan yang tertekan,tak terbersitkan jalan kehidupannya akan seperti ini.Rosa,


sang Mama berdiri menatap dalam kearah Hasta yang masih terlihat larut dalam lamunannya.


Lalu dilihatnya beberapa puntung rokok yang berserakan di lantai,bahkan beberapa minuman Coffe dalam kemasan kaleng ikut tergeletak begitu saja.


Sang mama menarik napas panjang seraya menggeleng pasrah.


 


" Hasta !! Kenapa kamarnya jadi berantakan begini ?" tanya dengan menghampiri putranya tersebut.


 Hasta terdiam menikmati kepulan asap yang keluar dari mulutnya.


 


" Hasta....!!" Panggil kembali sang Mama dengan menepuk pundaknya Hasta yang sedari tadi tidak menyadari kehadirannya.


Hasta tersentak kaget tepukan tangan Mamanya cukup kuat di pundaknya.


" Ma ma ..." Ucap Hasta terkejut,lalu ia pun menoleh kearah Mamanya yang berdiri menatapnya.


" Semua kamar kamu kotor,kamu gak lihat apa ?" tanya sang Mama terlihat jengkel.


Hasta melengos dengan kembali menyesap rokoknya tersebut.


" Hasta lagi suntuk !!" jawabnya singkat.


" Apa yang telah terjadi ?, " Tanya sang Mama seraya perlahan membersihkan lantai yang berserakan beberapa puntung rokok.


Rosa benar-benar geram melihat ulah putranya tersebut.


Tenggorokannya terasa gatal ketika asap rokok tersebut masuk kedalam penciumanya.


" Uhukk,ukuhukkk ,"


Rosa terlihat terbatuk-batuk dengan mengibas-ngibaskan tangannya untuk terhindar dari asap rokok.


" Hentikan Has,kamar kamu bau asap rokok." ujarnya dengan terlihat susah bernapas.


Namun Hasta terlihat mengabaikannya.


" Bi tolong ke kamar Hasta.." Panggil sang Mama lewat sebuah tombol panggilan yang terpasang di kamarnya Hasta.


Rosa benar-benar terganggu dengan asap rokok tersebut.


Dan tak menunggu lama sang asisten rumah tangga tersebutpun mengetuk pintu kamar Hasta, sang Mama segera memerintahkan Asisten rumah tangga itu segera membersihkan kamar putranya tersebut.


" Bi tolong rapihin kembali kamarnya Hasta." perintah Rosa.

__ADS_1


" Baik Bu..!" Ucap sang Asisten rumah tangga itu terpogoh-pogoh.


" Kenapa sih Has,bisa berantakan begini ?" Tanya lagi Rosa dengan duduk menemani Hasta yang sedang bersandar dikursi santainya dengan menghadap ke arah pelataran kolam renang.


" Hasta lagi suntuk Ma !!" balas Hasta dengan sikap malas.


" Has !! Mama rasa ada baiknya juga jika kamu mengikuti kemauan nya papah." ucap Rosa menatap lurus putranya tersebut.


Hasta menggeser bola matanya lalu menatap ke arah sang Mama.


" Maksud Mama aku menerima perjodohan ini ?" tanya Hasta dengan menatap tak berdaya.


" Yaa !! " Jawab Rosa menatap lepas ke arah kolam renang.


Hasta menarik napas panjang,perasaanya kian tertekan entah harus berbuat apa lagi persoalnya kini semakin rumit.


" Baiklah." ucap Hasta dengan suara datar dia terlihat pasrah tanpa memberi penolakan apapun lagi terhadap keinginan sang Ayah maupun Mamanya.


Rasanya ia menyerah dengan situasi sekarang ini,sekuat apapun ia menolak ke inginan sang Ayahnya sekuat itu pula peranan sang Ayah dalam kehidupannya.Tentunya ia tak mungkin menjadi durhaka atas penolakannya ini,dan semua perjuangannya akan hanya sia-sia saja jika dia berani menentang keras keputusan sang Ayah.


" ...........???"


Sang Mama mengalihkan pandangannya ke arah raut wajah putranya tersebut,dan ia pun yang melihat perubahan raut wajah yang cukup drastis,Hasta terlihat tidak berselara untuk membalas tatapan Mamanya.


Rosa menghela.


" Mama senang mendengar keputusannmu itu,yaa walaupun sebenarnya perasaan kamu terluka." Jelas sang Mama sembari mengelus pundak putranya dengan penuh kasih sayang.


Hasta terdiam menatap lepas ke arah kolam renang sana,ada yang basah di sudut matanya entah apa yang ada dalam pikiran nya yang terasa kini ia sedang dalam situasi yang tak baik-baik saja.


" Itukan yang Papah mau melihat anaknya menderita." Guman Hasta lirih seraya masih duduk menepi.


Dan gumananya cukup sampai kependengaran nya sang Mamanya.


Tosa tercekat lalu menatap dengan berbagai perasaan. 


 


" Tapi perasaan tidak akan mengenal kebaikan Mam.." sela lagi Hasta berucap pelan nadanya penuh dengan kesan ironis.


Rosa menatap sedih kearah putranya tersebut yang terlihat terintimidasi.


" Mama tau ini tak adil,tapi Papah tidak mungkin mengorbankan perusahaan


 


¤¤¤¤《《《《


Nina masih menatap lurus kearah Hasta yang duduk percis dihadapannya,pria tampan itu terlihat meremas jari-jari tangannya dengan raut wajahnya terlihat membendam kegelisahan yang teramat begitu dalam.


" Ayahku menolak permintaanku Has !" Ucap Nina memecah kesunyian.


Hasta melirik tanpa ekspresi ke arah Nina.


" Apa yang harus kita perbuat ?" tanya lagi Nina dengan perasaan sedih.


Hasta menghela lalu menatap dengan berbagai perasaan ke arah Nina.


" Yaa sudahlah !! lagian Renata sudah tau jika kita akan jodohkan. " Sela Hasta dengan nada pasrah.


Nina terhenyak lalu menatap intens wajah pria tampan tersebut.


" Yang benar Has ??tapi,kok Renata bisa tahu ?Darimana dia tau tentang perjodohan kita ?" tanya Nina dengan mata terbelalak.

__ADS_1


" Dia tak sengaja mendengar semua obrolan gue dan Bony yang sedang membahas masalah perjodohan kita Nin." ucap Hasta terlihat lebih terlihat kaku.


" Lalu ??" tanya Nina semakin penasaran


" Lalu dia memintaku untuk putus !! " jawab Hasta pelan,nada bicaranya terdengar pilu.


Nina menghela dengan perasaan yang sulit di rasakan.


" yaa TUHAN kenapa jadi rumit begini Has ??" tanya Nina dengan perasaan penuh rasa bersalah.


" Rasanya gue ingin menyerah saja Nin, terlalu banyak rintangan yang gue hadapi untuk bersama Renata." keluh Hasta dengan perasaan berat.


Nina menghela merasakan perasaan kian berat.


" Has kamu harus kasih penjelasan terhadap Renata,bahwa kita di jodohkan bukan ke inginan kita,ini semua kemauan orang tua kita atas perjodohan ini.Nyatanya kita engga ada perasaan apa-apa kan Has,kita hanya temenan saja." Jelas Nina sembari menatap dalam Hasta.


" Gue harus ngejelasin apa lagi Nin,Renata saja susah untuk di hubungin Nin,dan dia gak ada ingin ketemu gue." sela Hasta dengan raut wajah kian resah.


" Has,coba telpon lagi saja." Ucap Nina terlihat memelas.


mencoba menyemangati sahabatnya tersebut.


Hasta menggeleng dengan perasaan sedih.


" Gue rass gue harus tenangin hati gue dulu Nin, dia gak bisa kalau kita paksa untuk ketemu, gue tau tipekal Renata seperti apa." ujar Hasta membalas tatapan Nina yang begitu menyentuh hatinya.


" Has, Gimana kalau aku ikut menjelaskan nya,dan aku atur pertemuan dengan Renata untuk menjelaskan semua ini." usul Nina menatap Hasta dengan lekat.


Hasta membalas tatapan Nina dengan menatap penuh harapan,Nina menggangguk pelan mencoba myakinkan seraya tersenyum lembut ke arah Hasta yang terlihat begitu Down.


Hasta tersenyum hampa.


" Thank's ya Nin lo mau nolongin gue.." ucap Hasta seraya menumpukan tangannya di atas tangan Nina.


Nina memandangi wajah pria itu dengan perasaan berdebar.


" Sama-sama Has,selama aku bisa bantu,pasti aku akan mebantu mu." ucap Nina dengan mencuri pandangan ke arah tangan pria tampan itu yang masih bertumpu di tangannya,Nina memandangi jari-jemari pria berparas tampan tersebut yang perlahan merasnya dengan penuh kelembutan.


Ada perasaan iba menepi di hatinya,ada seutas harapan besar menyelinap di hatinya jika ia mampu meraih simpatinya Hasta, namun tidak terpikirkan olehnya jika ia mampu merebut simpati itu dalam situasi seperti ini.


Nina sadar betul,jjka dirinya hanyalah seoarang sahabat


bagi seorang Hasta,dan ia pun sangat yakin jika Hasta tidak bisa merubahnya menjadi seseorang yang spesial didalam hatinya walaupun kesempatan emas di depan matanya melalui sebuah perjodohan.


Nina paham,atas konsekswensi dari merampas hak seseorang,maka ia harus siap mendapatkan balasannya lebih dari itu.


Hasta memandang penuh kearah Nina yang masih menatapnya dengan penuh lamunan,mempertimbangkan semua perasaan yang berkecambuk di hatinya, tatapan mereka saling bertemu satu sama lain, dan sejenak mereka pun saling bertatapan dengan perasaan yang berbeda.


Nina menyadari jik tatapannya tengah di balas oleh Hasta, dengan cepat Nina pun segera tertunduk seraya menarik tangannya dari gengaman Hasta,lalu ia pun membenarkan posisi duduknya dengan bersikap sedikit kikuk.


" Maaf... !! " ucap Nina terlihat salah tingkah.


Lalu ia kembali menatap Hasta dengan terlihat malu-malu. Hasta hanya membalas dengan senyuman manisnya.


Ada perasaan yang tak biasa hadir menyelinap dalam hatinya.


Betapa tidak ?


Tatapan Nina setidaknya membekas di netranya dan itu berhasil mengusik separuh dari perasaan simpatinya,entahlah perasanya kembali dilema. Mungkinkah ia mulai berpaling ataukah hanya perasaan sesaat saja ?


Hasta menggelengkan kepalanya hatinya berguman kecil,


Cinta memang selalu ada cara untuk menguji ketugan hatinya.

__ADS_1


Rasanya ia tak mungkin jika harus seperti dulu lagi mencintai perempuan lebih dari satu,Hasta sadar betul,apa yang dulu ia telah lakukan hanya napsu sesaat saja,dia tidak ingin mengulang kembali rasa sakitnya patah hati dalam meraih sebuah cinta yang tulus.


...........................Bersambung


__ADS_2