
RENATA memandangi secangkir Nescafee hangat yang menemaninya dikala ia sedang menunggu kedatangan nya Hasta.
Ia tak sabar ingin segera menyampaiakan kabar gembira perihal hubungannya yang kini telah mendapat restu dari sang kakak.
Rasanya ia menanti pagi begitu lama,sehingga semalam ia tak bisa tertidur pulas,ia terlena dengan kebahagiaan yang ia rasakan saat ini.
Hingga pada pagi harinya ia pun langsung menghubungi Hasta untuk membicarakan perihal kabar bahagia tersebut.
Hasta terlihat datang dengan langkah gontai mendekat ke arah Renata yang sedari tadi sudah duduk menantinya.
Hasta menatap gadis itu dengan wajah baru bangun dari mimpinya.
" Ta...!,Ada apa bangunin gue sepagi ini ?" tanya pria berparas ganteng itu duduk di hadapan Renata dengan wajah penuh rasa penasaran.
Hasta terlihat mengucek-ngucek matanya yang terasa masih tekantuk-kantuk.
Renata menyambutnya dengan senyuman manis dan menatap penuh cinta ke arah Hasta yang baru saja tiba.
" Kok lo malah senyum-senyum gitu sih?Kangen gua lagi yaa ?Semalam kan kita baru ketemu sayang." Ucap Hasta seraya mengelus kepalanya Renata dengan lembut.
" Kamu dengerin aku dulu dong,main nyerocos aja kaya emak-emak komplek." Ucap Renata seraya mendilak manja.
" Lo yaa ?Masa gue seganteng ini di bilang kayak emak-emak komplek." Ucap Hasta seraya mencubit ujung idungnya Renata.
Renata mengulas senyuman dengan manja.
" Ada apa ?" Tanya Hasta menatap dalam ke wajah Renata yang terlihat berseri seri.Renata menoleh ke arah Hasta dan tersenyum tipis membuat Hasta semakin gemas melihatnya.
" Ada kabar baik untuk hubungan kita." Ucap Renata dengan menatap penuh cinta ke arah Hasta.
Hasta mengernyit dengan penuh isyarat.
" Kabar gembira ??" Tanya Hasta mengernyitkan kedua alisnya seraya memiringkan kepalanya menatap dalam wajahnya Renata.
" Iya Has!Kamu tau ?Ka Harry akan secepatnya mencabut persyaratan kontrak kerjanya dengan Papah kamu."
" APA ???"Pekik Hasta terkejut bukan main dan Sontak membuatnya terlihat terkejut plus bercampur bahagia.
" Seriuss Lo Ta ?" Tanya Hasta kembali dengan ekspresi yang masih tidak percaya lalu di raihnya tangan Renata lalu di genggamnya erat.
" Lo tidak lagi ngeprank gue kan Ta,?" Lagi-lagi Hasta terus membrondong Renata dengan pertanyaannya.
Renata menggeleng dengan menyungginggkan senyuman yang penuh arti.
" Kamu tau,Ka Harry akan membicarakan persoalan ini dengan Papah kamu, hari ini juga." ucap lagi Renata dengan berbinar binar.
Hasta menatap lekat perempuan terkasihnya tersebut dengan terpana,seperti tak percaya mendengar pernyataan wanita terkasihnya tersebut.
" Ta,gue selalu memiliki keyakinan jika kita pasti akan di satukan dengan apapun itu rintangannya,dan kini TUHAN telah menjawab semua do'a-do'a gue.Gue sangat bahagaia mendengar kabar ini." ungkap Hasta dengan menatap penuh cinta ke arah Renata yang menatapnya dengan balutan penuh rasa haru.
" Semoga ini akan menjadi pertanda jika hubungan kita ini akan semakin serius lagi." tambah Hasta dengan terus menggenggam erat tangannya Renata.
Renata tersenyum memperlihatkan kebahagiaan yang tak terhingga.
" Gue sayang banget sama lo Ta." ucap Hasta lirih.
Renata tersenyum,lalu di dekapnya erat tangan mungil Renata sehingga tangan mungil Renata terbenam dalam pelukan ke bahagiaannya.
" Semoga saja Ka Harry bisa berbicara secara baik-baik dengan Papah gue, dan mereka akhirnya bisa menyetujui hubungan kita." imbuh Hasta dengan terus mendekap tangannya Renata di dadanya.
__ADS_1
Entah kenapa seperti ada yang terlepas dari beban yang selama ini mengikatnya.
Kenapa tidak ? kabar baik ini selama ini selalu di nanti- nanti oleh mereka berdua.
Ada secercah harapan bagi mereka untuk memulai kembali harapan-harapan indah dalam merangkai sebuah mimpi indah yang tak lama lagi akan mereka tempuh dalam bentuk kenyataan.
Yaa...,rasanya perjuangan itu membuat mereka semakin kuat untuk mempertahankan hubungannya tersebut,dan mereka pun butuh waktu untuk mendapatkan kata Restu itu dari kedua belah pihak.Tapi kini Restu itu nyaris telah mereka gengam di tangannya.
.........................
Perusaahan pak Bram
Tok tok tok
Suara pintu di ketuk keras,Bram yang tengah sibuk mengecek beberapa Dokumen penting tersita perhatiannya ke arah pintu yang di ketuk.lalu mendongkak dan menatap ke arah pintu.
" Masuk !!" ujar Bram dengan suara berat.
Sang sekertarisnya melongo dari balik pintu dan tak lama ia pun membuka lebar pintunya.
" Permisi pak ! pak Harry ingin bertemu !" ujar Ratih sang sekertaris dengan penuh hormat.
" Ok.Suruh dia masuk !" balas Bram seraya merapihkan beberapa Dokumen pentingnya tersebut.
Tak berapa lama,Harry menyembul dari balik pintu dengan tersenyum hangat.
" Selamat siang Om Bram !" sapa Harry berjalan mendekat.
" Siang nak Harry,silahkan silahkan,duduk!" ucap Bram tersenyum enteng,lalu ia pun bangkit dari kursi kerjanya dan berjalan menuju sopa yang ada di samping kursi tugasnya tersebut.
" Terimakasih Om !" sahut Harry seraya mengeloyor ke arah sopa.
" Tidak usah Om !saya minum air mineral saja.Soalnya tadi saya sudah ngopi juga,takut mag saya kambuh kalau teralu sering ngopi hehe....," sergah Harry dengan terkekeh.
" Oh ya ya,baiklah air mineral saja Rat,kamu ambilkan." titah Bram seraya menoleh ke arah sang sekertarisnya yang masih berdiri di ambang pintu.
" Baik pak !" Balas Ratih seraya pamit keluar.
" Oya ada apa gerangan nih tiba-tiba saja nak Harry datang ke kantor Om,biasanya kalau ada keperluan nak Harry selalu memberi info terlebih dahulu.Jadi sekarang Om rada deg degan nih." ujar Bram dengan tersenyum simpul.
" Mohon maaf Om,jika kedatang saya ini secara tiba-tiba membuat Om Bram merasa terganggu." ungkap Harry penuh rasa hormat.
" Oh tidak,tidak,tidak seperti itu nak Harry,setidaknya jika nak Harry menginformasikan terlebih dahulu mungkin Om bisa memyiapkan sesuatu gitu." ungkap Bram terkekeh penuh candaan.
" Haha...,Haa.., Om ini terlalu berelebihan jika harus menyiapkan seseuatu atas kedatangan saya." Balas Harry dengan tertawa lebar.
Kedua saling tertawa lepas.
" Begini Om,saya datang kesini sengaja ingin membahas seseuatu." ungkap Harry seraya membenarkan posisi duduknya.
Bram mengernyit dengan raut wajah penuh ekspresi.
" Membahasa sesuatu ??" tanyanya menggantung.
" Ya,membahas mengenai permasalahannya antara Hasta dan Renata adik saya." Ucap Harry sedikit ragu.
Bram semakin terlihat penasaran,kulit dahinya mengerut sehingga menampilkan kerutan yang begitu rapat.
" Renata dan Harry ?" Tanya pak Bram dengan heran,entah kenapa ia merasa cemas jika putranya masih berulah.
__ADS_1
Bram menatap panjang Harry dengan perasaan di hantui perasaan gelisah,ia tidak berharap jika Hasra masih berhubungan dengan Renata tanpa sepengetahuannya.
" Ada apa dengan mereka nak Harry ?Apakah mereka masih berpacaran ? Setahu bapak mereka sudah tidak berhungan lagi kan ?" tanya Bram dengan nada cemas.
" Tidak om!,Bukan itu yang mau saya bahas, saya kesini justru ingin mencabut persyaratan dalam perjanjian kontrak pekerjaan kita pak." jelas Harry dengan hati-hati.
" Maksudnya ?" tanya Bram kembali dengan perasaan nya yang tak mengerti.
Lalu dengan tersemyum lembut Harrypun menjelaskan apa yang menjadi alasan sebenarnya dia datang ke kantornya Bram,yang tiada lain untuk mencabut persyaratan dalam perjanjian kontrak kerjanya yang pernah sudah di sepakati bersama-sama.
Bram menatap lepas ke arah Harry dengan perasaan berat.
" Jadi saya mencabut persyaratan dalam kontrak pekerjaan itu dengan tanpa syarat apapun." Jelas Harry dengan lugas.
Bram mengangguk pelan,ia memahami apa yang dimaksud oleh Harry.
" Jadi secara tidak langsung nak Harry akan menyetujui hubungan Hasta dengan Renata ?" Tanya Bram mempertegas.
" Ya begitulah pak." Jawab Harry dengan menggangguk penuh arti.
Raut wajah Bram terlihat bahagia namun itu hanya sesaat, dan raut wajahnya kini kembali biasa-biasa saja sesaat dirinya teringat akan janjinya untuk menjodohkan putranya dengan Nina anak dari sahabatnya.
" Jadi saya kesini ingin memberi restu atas hubungannya mereka berdua pak." Ucap Harry dengan wajah penuh bahagia.
Bram terdiam tanpa ekspresi bagaimana bisa ini terjadi kepada dirinya, di satu sisi dia sudah berjanji akan menjodohkan putranya dengan Nina,namun di satu sisi lain kini putranya sudah mendapat restu dari Kakaknya Renata,seharusnya ini menjadi kesempatan terbaik bagi dirinya selain menyatukan putranta tentunya ia akan semakin panjang kontrak pekerjaanya dengan Harry yang sang putra dari mendiang sahabatanya tersebut,sebut saja ini akan menguntungkan banyak untuk perusahaan dirinya.
Bram menatap kian gamang apa yang harus ia perbuat ?
Harry menatap heran setelah melihat perubahan wajah Bram dengan begitu drastis.
" Om,Om Bram baik-baik saja ?" Tanya Harry heran setelah melihat reaksi wajah Bram terlihat resah.
Bram tersentak dari lamunannya.
" Oh,Om baik-baik saja,hmm...,Ini kabar yang sangat mengejutkan sekaligus menggembirakan nak Harry,dan pasti nya akan Om sampaikan kabar baik ini kepada putra Om, Hasta.dia pasti akan sangat bahagia mendengarnya." ujar Bram dengan perasaan rumit.
" Ya Om,dari itu saya mencabut perjanjian ini, karena saya ingin melihat adik saya kembali bahagia,karena saya selalu ingat akan amanah Ayah saya, untuk menjaga selalu Renata adik saya pak,dan kebetulan juga Om bersama Ayah sudah berteman cukup baik,alangkah bijaknya jika saya menyambung persahabatan Almarhum Ayah dengan pernikahan Renata dan Putra om." ungkap Harry dengan tertunduk penuh rasa haru.
Bram menarik napas panjang lalu menatap dengan berbagai perasaan ke arah Harry,entah bagaimana ia harus bersikap atas perasaan dilemannya ini.
" Itu pasti nak Harry, Om merasa bahagia bisa menyatukan persahabatan Almarhum Ayah kamu dengan Om,karena nak Harry adalah satu-satu yang bertanggung jawab atas segala kehidupnya Renata,sebelum akhirnya adikmu menikah nanti." tambah Bfam dengan suara berat.
" Yaa Om,bagaiamana Om setuju atas keputusan saya ini ?" tanya Harry dengan wajah berseri-seri.
Bram kembali menghela,harus apa yang dia lakukan saat ini,rasanya ia tidak mungkin menyetujui akan permintaan Harry dengan begitu saja,jika dirinya sudah berjanji terhadap sahabatnya Handoko.
" Semoga secepatnya ada kabar baik untuk hubungan Renata dan Hasta Om." Harry kembali menyela tanpa memberi kesempatan Bram untuk berbicara.
"......."
Bram tidak berbicara dia hanya tersenyum kaku dengan berusaha menyembunyikan perasaan yang teramat gelisah.
Keputusan yang harus di pikirkan secara matang,ia tidak mungkin mengingkari janjinya kepada sahabatnya,namun ia juga bukan berarti harus mengorbankan perasaan putranya.
Bram menatap dengan berbagai perasaan,rasa yang tak biasa itu mulai merongrong ke dalam hatinya dan berhasil mengganggu pikirannya.
Bagaimana bisa jika akhirnya Harry berubah pikiran hingga mencabut persyaratan tersebut,yang kini justru akan mengundang konplik baru dalam kehidupannya yang benar-benar nyata.
__ADS_1