
ENAM BULAN kemudian
~Perubahan
HARI telah berganti hari,mingu,hingga bulan berlalu begitu saja.
Berbagai peristiwa telah terjadi mewarnai setiap perjalanan seluruh manusia,tak terkeculi Hasta,sosok pria yang memiliki wajah nan rupawan telah mengalami berbagai peristiwa yang telah membawa nya ke sebuah perubahan yang sangat berarti.
Perubahan kecil itu telah membawanya dalam kehidupannya yang lebih baik.
Namun image sebagai seorang Playboy rupanya masih melekat kuat di dalam dirinya,meski perubahan itu telah membawanya pergi dari sebuah masa lalu yang tidak menyenangkan.
Pria yang memiliki faras tampan itu kini sedang menikmati kesendiriannya.Setidanya cinta yang tak tersampaikan itu menjadi sebuah pembelajaran yang sangat berharga dalam kehidupan nya.Pelajaran sekaligus ganjaran dari apa yang selama ini ia tanam hingga ia menuainya dengan kekecewaan yang begitu dalam.
Ya,perasaan yang tak akan pernah Ia lupakan terhadap sosok seorang Renata ,yang mampu memporak porandakan pertahanan hati seorang petualang cinta.
Dan hanya seorang Renatalah yang mampu membuatnya merasakan kecewa sekaligus patah hati yang cukup berkesan di kehidupan nya.
Perubahan yang cukup mengagumkan bagi seorang Hasta,kebiasaan sikap gilanya terhadap cewek-cewek cantik kini nyaris terlupaka.
Aksinya yang tak pernah bisa menahan diri ketika melihat perempuan berparas cantik yang memicu akal bulusnya sehingga bekerja dengan cepat,kini nyaris menghilang,dan itu artinya perubahan itu cukup berharga.
Kini Hasta menjadi sosok pribadi yang lebih tertutup, Bahkan kini dirinya berusaha menahan diri untuk tidak mengikuti nafsu liarnya,agar tidak kembali mempermainkan perasaan perempuan manapun dan menahan diri untuk tidak mudah jatuh cinta terhadap perempuan mana pun.
Hasta memandangi liontin yang sudah lama ia simpan,setelah pertemuannya dengan seorang Renata Hasta tak banyak tingkah.
Liontin yang telah pudar warna nya itu di pandangi begitu lekat,entah apa yang ada didalam benaknya namun yang pasti ada rasa yang tersimpan begitu dalam yang tak bisa hilang begitu saja dari pangkal hatinya.
Dia sadar dengan apa yang sedang di alaminya saat ini,belum bisa melupakan sosok Renata di hatinya.
" Lo adalah perempuan pertama kali nya yang telah membuat gue patah hati,dan elo adalah perempuan terakhir yang buat gue jatuh cinta pandangan pertama hingga pandangan hayat gue. " Lirihnya sambil menggam erat liontin itu,berguman dalam lamunan panjangnya.
Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam,ia berharap besar jika dirinya bisa mendapatkan kesempatan kembali untuk sebuah pertemuan dengan Renata, walau hanya sekali saja hanya untuk sekedar mengatakan ,bahwa Ia telah berubah untuk cinta nya yang di perjuangkan nya dengan setulus hati.
Hasta bangkit dari tempat duduk nya, lalu netranya memandangi satu-persatu pasangan kekasih yang berada di sekitar taman tersebut,dengan tatapan begitu tak rela Banny membuang muka merasakan jika pasangan sejoli itu membuatnya iri,Banny pun berjalan meninggalkan tempat tersebut,tempat dimana ia mengingat akan sosok Renata.
Langkahnya yang tak pasti membuatnya semakin larut dalam sebuah perasaan yang tak pasti.
Banny terus berjalan menyusuri sepinya malam.
Cinta memang tak selamanya harus memiliki dan cerita cinta tak selamanya pula akan indah.
Dan seperti inilah,cerita cinta Hasta yang merupakan pertama kalinya ia merasakan sakitnya patah hati, tidak mudah memang baginya untuk melepaskan bayang-bayang Renata dengan begitu saja dari otak besarnya, karena sesungguhnya nama Renata telah terukir jelas dalam ingatannya.
...............................
" Hasta !" Bony memanggil sahabatnya itu dengan suara cukup keras,sehingga Hasta menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah Bony yang berlari kecil menghampirinya.
" Gue pikir lo ada di tempat tongkrongan biasa eh, ternyata lo disini !" Ucap Boni sembari terlihat ngos-ngosan.
" Elo ada perlu apa nyariin gue ?" tanya Hasta acuh.
" Ada yang mau gue omongin." Balas Bony dengan berusaha mengatur laju napasnya.
" Penting ?" tanya Hasta menoleh pria tambun tersebut.
" Nggak juga sih,tapi ngomong-ngomong lo ngapain di sini ? Tumben-tumbenan lo ada di tempat seperti ini ?" Tanya Boni sembari membagikan pandangannya kesekeliling ruangan yang di kelilingi penuh oleh rak-rak buku.
" Ini namanya perpustakaan Bon." balas Hasta santai.
" Iya tau! gue tau lah ini perpustakaan,bukan pasar senen ?" Ucap Bony dengan gaya kocaknya.
" Gue lagi iseng aja mau cari buku." ujar Hasta sambil memilih beberapa buku yang tersusun rapi di rak.
" Ada angin apa lo,so so an cari buku." Ejek Bony menatap remeh sahabatnya.
" Punya sahabat gini amat,orang mau pintar di bilang so so !" guman Hasta seraya menuju meja yang kosong setelah menemukan buku yang di cari nya.
" Biasanya lo paling malas nginjekin kaki di ruangan ini,yaa makanya gue heran." Sambung Bony mengikutinya.
" Orang kan bisa berubah kapan saja Bon." Balas Hasta dengan santai.
" Seterah lo dah." Guman Bony menggaruk kepalanya.
" Lo ada apa nyariin gue ?katanya ada yang mau di omongin !" ujar Hasta dengan mengamati sampul buku tersebut,lalu membuka perlembar buku tersebut.
" Gue tadi ketemu Cindy !" ucap Bony dengan semeringah.
Hasta menghentikan kegiayan nya lalu menoleh Bonny.
" Cindy ??" Hasta terlihat mengerutkan dahinya.
" Lo masih ingat sama Cindy gak?" Tanya Boni dengan penuh antusias dan duduk di hadapan Hasta.
Hasta pun mencoba mengingat-ngingat kembali sosok perempuan yang bernama Cindy.
" Kelamaan deh loh !! secara di otak lo terlalu kebanyakan nama cewek jadinya gini nih susah ngingatnya ." Gerutu Bony terlihat kesal.
Hasta masih terlihat berusaha mengingat nama gadis tersebut..
" Anak kedokteran ya?" Sela Hasta singkat.
" Naaah itu lo ingat !" ucap Bony nampak bahagia.
" Teruss ?" Tanya Hasta acuh,ia kembali melajutkan aksinya membaca.
" Tadi gue ketemu dia di jalan,dan tumben banget dia ada nanyain lo.Terus lo masih ingat gak waktu lo naksir Cindy dia kan masih bokinnya si Baja? nahh sekarang doi udah bubaran tu Has sama bokin nya. " Jelas Boni dengan penuh semangat.
" Terus apa hubungannya sama gue ?" Tanya Hasta mengalihkan pandangannya ke wajah Bony yang tersenyum-senyum sendiri.
" Ya kali aja ada kesempatan buat lo broo,Cindi sekarang makin cantik seksi lagi." Puji Bony dengan membayangkan kembali sosok perempuan yang di maksudnya.
Hasta hanya mengangguk-angguk,sepertinya ia tidak tertarik dengan apa yang di sampaikan Bony kepadanya.Justru ia malah asyik membolak balikan lembaran buku yang sedang di bacanya.
Senyuman Bony menyurut,ketika melihat respon sang sahabat yang terkesan masa bodoh.
" Has,elo dengerin gue gak ?" tanya Bony heran ketika ia melihat Hasta tidak begitu tertarik dengan ceritanya tersebut.
Hasta mengangguk pela,perhatian nya masih ke buku.
" Haas,,, !" panggil Bony searaya mencolek tangan sahabatnya tersebut.
Hasta menoleh ke arah Bony, kedua alisnya terangkat tinggi,ia menatap sahabatnya tanpa ekspresi.
" Kenapa lo ?" Tanya Hasta Datar.
" Kok elo gak tertarik sih sama cerita gue" Tanya Bony dengan sikap heran.
" Biasanya elo kan kalo denger masalah cewek,jangankan liat wajahnya elo baru denger namanya aja elo udah semangat 76." ujar Bony dengan wajah pull heran.
" Gue udah gak tertarik lagi dengan cerita-cerita lo ! " ungkap Hasta dengan cuek lalu ia pun kembali melanjutkan membacanya.
Bony terkesiap mendengar jawaban sahabatnya tersebut.
" ASTAGA !! " Pekik Bony syok.
__ADS_1
" Ini benar Hasta sahabat gue bukan sih..??" tanya Boni sambil menarik paksa wajah Hasta untuk menghadap ke wajahnya.
Sontak aksi Bony membuat Hasta terkejut.
" Lo lebay !!" ujar Hasta melengos.
Namun kembali Bony menangkup wajahnya dengan ekspresi engga banget.
" Gue rasa ini bukan sahabat gue !" Ujarnya dengan ekpresi lebaynya.
" .......... !!"
Hasta menatap lucu sahabatnya yang sedang menatapnya penuh selidik.
Sejenak hening,mereka mulai bersikap konyol.
Hasta maupun Boni saling bertatapan satu sama lain,mereka merupakan tim nyeleneh yang sering mengundang tawa.
" Lo sudah banyak berubahh !!" ujar Bony dengan gaya hiperbola,seakan-akan dia tak terima sahabatnya itu berubah.
Tanpa di sadari, ada sepasang mata tengah memperhatikan aksi mereka,menatapnya dengan tatapan jijik.
Hasta melirik penuh isyarat ke arah kedua tangan bony yang masih menangkup wajahnya.Bony pun mengikuti arah tatapan Hasta dan...,-
" Eetss....!!!!" Ucap Bony dengan spontan Ia pun segera menjauhkan tangannya yang masih menempel di pipinya Hasta.
Mereka baru tersadar jika seseorang tengah menyaksikan tingkah konyolnya tersebut sedari tadi.
Orang tersebut menatap panjang ke arah mereka dengan ekspresi wajah yang sulit di artikan.
Bony paham betul arti dari tatapan orang tersebut,secara tidak langsung tatapan orang tersebut menuduhnya berkelakuan lain dari laki-laki lainya.
Orang tersebut menatap kaku seraya menahan napasnya,ia tak percaya dengan apa yang sedang di lihatnya tersebut.
Seketika suasana hening,Hasta dan Bony pun mendadak kaku,mereka tidak berkutik sedikit pun setelah melihat ekpresi tatapan orang tersebut,
Tatapan yang sulit di artikan.
Demi menghindari kesalah pahaman atas sikapnya tersebut,Hasta beserta Boni tersenyum lebar memperlihatkan semua bentuk giginya dengan penuh isyarat,bahwa apa yang di lihatnya tidak seburuk dengan apa yang di pikirkan nya oleh orang tersebut.
Hasta berharap orang tersebut tidak menuduhnya buruk atas lelucon yang di ciptakan Bony sahabatnya tersebut.
Namun sayang,reaksi orang tersebut justru bertolak belakang dengan kenyataanya.Orang tsrsebut bergidik dengan ekspresi wajah yang sulit di artikan,dan tak lama kemudian orang tersebut pun segera berlalu dari hadapan Hasta dan Bony dengan terlihat eunek sendiri.
" ........"
Hasta melongo menatap zonk orang tersebut.
sudah kuduga orang itu merasa risih atas tingkah konyolnya Bony.
Hasta melirik Bony dengan tatapan snewen.
Di elusnya kedua pipinya tersebut dengan perasaan frustasi.
" Sepertinya doi mual lihat sikap kita Bon." Ucap Hasta pelan.
" Dia pikir kita gay kali ya Has." celoteh Bony setengah berbisik.Mereka pun terkekeh setelah melihat sikap nya salah satu pengujung perpustakaan tersebut menganggap dirinya tak normal.
" Gue yakin jika orang itu sudah berpikiran buruk tentang kita." ujar lagi Bony menegaskan.
" Bisa jadi doi berpikir sikap kita menyimpang!" Ucap Hasta sambil mengusap-ngusap pipi yang bekas di raup oleh Bony.
" Ada-ada aja tuh orang !" Guman Bony menggeleng.
" Salah lo juga,kenapa pake gaya gituan jadi kita di kira Gay,,najis deh lo." Ungkap lagi Hasta dengan kemayu.
" Eh Bon,besok gue ada acara,bokap ngajak gue untuk ke kantornya,Bokap gue mau ngenalin gue ke beberapa mitra perusahan. " ucap Hasta sembari menutup buku yang tak sama sekali sempat di bacanya, hanya di bolak balik saja seperti sedang menggoreng seseuatu supaya tidak gosong.
" Lo di suruh gantiin posisi Bokap lo ?" tanya Bony heran.
" Gak lah, gue cuman disuruh nemenin doang,kata bokap gue, kalau sewaktu-waktu bokap gue gak bisa hadir di pertemuan, gue bisa gantiin." jelas Hasta datar.
Tak lama Hasta menyimpan kembali buku tersebut di rak,ke inginannya untuk membaca sirna.
" Tumben lo mau,biasanya kalau bokap lo minta bantuan lo selalu ngasih seribu alasan buat nolaknya" Ucap Boni seraya mengikuti langkan Hasta yang menuju keluar ruangan perpustakaan tersebut.
" Sialan lo,!!." Guman Hasta dengan kesal.
" Ada angin apa lo mau ikut acara gituan ? " tanya Bony mensejajajarkan langkahnya.
" Hidup itu harus ada perubahan dong Bon !" Ucap Hasta dengan penuh percaya diri.
Bony melirik sahabatanya itu dengan lirikan sinis.
" Kagak salah ngomong ni ? tumben-tumbenan ni orang ngomongnya lempeng kesambet apaan nih..? " Tanya Bony pelan namun cukup sampe ke telinganya Hasta.
" Kesambet hantu cantik !,Buruan Bon gue udah telat nii." ajak Hasta seraya berjalan cepat.
" ya ya ya.....!!" Jawab Bony dengan mempercepat langkahnya.
" Hasta....!"
Tiba-tiba seseorang memanggil dirinya.
Hasta serta Bony sama-sama menghentikan langkahnya lalu menoleh secara bersamaan ke arah suara tersebut.
Seorang gadis cantik tersenyum manis ke arahnya.
" Cindy Has !" Bisik Boni semeringah.
Hasta terlihat kaku menatapnya.
" Sapa dong Has,lo jangan diem aja." Ucap Bony setengah berbisik dengan menyikut perut sahabatnya tersebut.
Entah kenapa sikap Hasta kali ini terlihat canggung,sikapnya yang perlente dan so ganteng nya itu seketika lenyap dari dirinya.
" Ha hai Cin !apa kabar ?Kanyanya kita baru ketemu lagi nii ya." Ucap Hasta ramah seraya tersenyum simpul.
" Kabarku baik-baik saja.Kamu Apa kabar Has ?" tanya Cindy menatap lembut ke arah Hasta.
" Hmm gue juga baik-baik saja Cin." jawab Hasta terlihat kaku.
" Hei Bon,masih setia aja nih ngebuntutin pangeran carles." Gurau Cindy ke arah Bony.
" Iya nih,gue ngeri dia kesawah orang hee hee..-" Bony terkekeh seraya melirik Hasta dengan bercanda.
" Sialan !! dikira gue bebek !" Gerutu Hasta terlihat sebal.
Bony terkekeh.
" Mm ngomong-ngomong kamu tar malam ada acara ga ??" tanya Cindy menatap penuh harapan kearah Hasta.
Hasta dan Bony saling memandang satu sama lain lalu Boni terlihat tersenyum menggoda Hasta dengan mengedip-ngedipkan matanya.
" Gue gak ada acara Cin," Celetuk Bony dengan cepat.
Cindy tersenyum seolah di paksakan.
__ADS_1
" Gue nanya Hasta,bukan kamu Bon." ujar Cindy dengan suara pelan.
" Ohh,lo nanya dia,sorry kirain nanya gue! berharap banget ya gue di ajak jalan lo." ucap Bony cengengesan.
" Gimana Has,kamu ada acara ?" tanya lagi Cindy menanti jawaban.
" Hmmm...." Hasta berpikir sejenak namun ketika Ia hendak menjawab Bony sudah terlebih dahulu menyela.
" Kita gak ada acara kok Cin " Potong Bony kembali sehingga Hasta membulatkan matanya ke arah sahabatnya tersebut.
Cindy menggeleng melihat sikap Bony yang justru semangat menanggapinya.
" Hasta emang gak ada acara kok Cin." sela Bony kembali.Hasta menoleh Bony dengan menatap tidak suka namun Bony tak kalah melotot kearah Hasta dengan penuh isyarat.
" Bon,yang aku tanya Hasta bukan kamu! kamu mulu sih yang jawab." Sela Cindy mulai kesal,ia pun memasang ekprsi judes ke arah Boni yang sedang cengengesan.
" Gimana Has kamu ada acara ?" Tanya lagi Cindy mengulang pertanyaanya.
Hasta menoleh kembali ke arah sahabatnya,dengan sigap Bony menggerak-gerakan kedua alisnya dengan penuh isyarat.
" Sorry Cin kayanya gue gak bisa,soalnya gue sudah ada janji. " Sela Hasta tersenyum.
Bony berusaha memberi sebuah kode ke arah Hasta berupa mengedip-ngedipkan matanya dengan sekuat tenaga,supaya Hasta mau jalan dengan gadis cantik tersebut.
" Yahh,kok gak bisa sih,kamu ada janji ama cewek ya ?" Tanya Cindy dengan penuh selidik.
" Enggak juga !" balas Hasta datar.
Cindy terlihat merengut manja.
" Tadinya aku pengen ngajak kamu jalan Has." Ucap cindy merayu Hasta.
" Gimana kalau lo Bony yang nemenin lo jalan?." Usul Hasta sambil tersenyum meledek ke arah Bony yang sedari tadi terus mengerecep gerecepkan matanya seperti orang kekurangan cairan.
Bony tercekat dengan mulut mengaga.
" Kok jadi gue " Ucap Bony terlihat gelagapan setelah Hasta meminta Cindy jalan bareng dia.
" Ikhhhh gimana sih Has,aku itu ngajak kamu bukan Bony." Ucap Cindy cembetut,ia pun memberanikan diri mendekati Hasta lalu menatapnya dengan penuh pesona.
" Gue kan gak bisa nemenin elo Cin,jadi lain kali aja ya cin.Oya sorry nih gue lagi buru-buru." Pamit Hasta berusaha menghindar dari gadis cantik tersebut.
" Eeh eh Has tunggu gue dong!! " Seru Bony mengejar langkah Hasta yang berjalan cepat.
Gadis cantik itu melongo,menatap panjang langkah pria ganteng tersebut,ia berpikir jika ada yang berubah dari sikap seorang Hasta.
" Ikhh kok dia jadi so jual mahal gitu sih ?" Guman Cindy terlihat kesal.
Ia tak habis pikir jika Hasta menolak ajakanya,Gadis cantik itu menggeleng dengan penuh misteri.
"Has,,Hasta !" Panggil Bony dengan terpogoh- pogoh mengejar sahabatnya tersebut.
Hasta menoleh namun sesaat kemudian ia terlihat acuh.
" Lo gak salah ? nolak ajakan si Cindy ?" Tanya Bony semakin penasaran atas sikap Hasta.
"Gue lagi gak berminat Bon " Balas Hasta singkat.
" GILA !!!, cewek secantik Cindy lo anggurin,efek kebanyakan bengong mulu jadi gini." Gerutu Bony semakin tak mengerti.
"Gue bukan Hasta yang dulu lagi, elo paham kan ?" Ujar Hasta sambil berlalu meninggalkan Bony yang masih terheran-heran atas sikapnya tersebut.
" Gilaa,seorang Renata mampu menyadarkan dia." Guman Bony menggeleng.
.................................
Hasta memang sudah sudah banyak berubah, tidak seperti Hasta yang dulu lagi, entah apa yang membuat Hasta merasa tidak tertarik lagi untuk meladenin cewek-cewek yang sering menggodanya.
Dia sekarang lebih sering menyibukan dirinya
dengan berbagai aktivitasnya.
Hari ini Hasta masih asyik dengan laptop yang ada di hadapannya,namun tiba-tiba ponselnya berdering nyaring hingga mengejutkannya,di tolehnya layar Ponsel tersebut dengan rasa malas.
TANIA is calling
Sebuah panggilan yang membuatnya sedikit heran.
" Tania ?"
Tanyanya dengan heran, sejenak Ia berpikir namun sesaat kemudian ia terlihat tidak mau ambil peduli atas panggilaj tersebut.
Atensinya kembali ke layar laptopnya dan ia pun berusaha untuk mengabaikan panggilan dari Tania.
Tak lama kemudian,ponselnya kembali berdering begitu nyaring,kembali Hasta menoleh dengan tanpa semakin tak berselera.
TANIA is calling
Hasta menggeleng,dengan perasaan kesal akhirnya ia pun menyambar poselnya tersebut.
" Hallo Tania " Sapa Hasta dengan malas.
[ "Ternyata kamu masih menyimpan nomorku ya? "] Jawab Tania dari sebrang telpon dengan suara ceria.
" Ada apa ? " Tanya Hasta terlihat enggan menjawab pertanyaan Tania.
[" Apa kabarnya kamu ?"]Tanya lagi Tania lembut.
" Gue baik baik saja." balas Hasta singkat
["Aku pengen ketemu sama kamu Has, Boleh?"] Tanya Tania dari sebrang telpon dengan suara memelas.
Hasta terdiam,enggan untuk mengabulkan permintaan mantan pacarnya teresebut.
" Sorry Tan,untuk saat ni gue lagi sibuk !" Jawab Hasta enteng.
[" Gak sekarang juga gak papa,dan lain kali juga bole Has,Aku pengen ketemu aja sama kamu, yaa kita sudah lama gak ngobrol-ngobrol. "] ujar Tania di sebrang telepon dengan nada merengek.
" Gue gak bisa janji ya,tar gue kabarin kalau ada waktu buat lo,sorry ya Tan gue lagi sibuk." Balas Hasta seraya mengakhiri panggilannya tersebut.
ntUUT...........
Teleponya di putus dengan begitu saja oleh Hasta dan Ia pun kembali sibuk dengan laptopnya.
..........................Bersambung
jangaan lupa kawan..
Klik jempolnya
Klik hatinya
N Klil Bintangnya
__ADS_1
simak terus yaa kisah selanjutnya