Sang Play Boy

Sang Play Boy
Sang Playboy episode 11


__ADS_3

Dua kemudian


DESIR ombak yang bergemuruh menghantam tepi pantai dengan silih beganti,ombak tersebut menghantam kuat karang di tepi lautan.


Debur ombak besar yang datang dan pergi silih berganti lalu kembali hingga terus-menerus setiap waktu,namun pantai sedikitpun membenci ombak tersebut,pantai tak pernah bosan di terpa ombak, pantai dengan tetap setia menyambut datangnya ombak dengan begitu hangat, walau terkadang ombak besar menerjangnya.


Ombak tersebut berkali-kali menggulung tepian pantai namun sang pantai tidak pernah menyisakan kepedihan terhadap sang ombak.


Bahkan sang pantai tetap tenang walau berkali-kali,hingga berjuta-juta ombak selalu datang secara tiba-tiba mengadangnya.


Hasta terdiam seribu bahasa pandangannya menebar keseluruh lautan,perasaan kasih serta amarah berkecambuk dalam benaknya.


Ada lelehan dingin menyergap batinnya dia tersadar akan hadirnya Renata di kehidupan nya sama sekali tidak berarti apa-apa.


Sesekali Hasta terlihat melempar jauh kerikil-kerikil kecil kelautan lepas sana,dengan sorot mata nanar. Kenapa dia harus mengalami rasa pahitnya sebuah penolakan atas nama cinta.


Cinta di tolak begitu sangat menyakitkan.


kenapa ? apa yang kurang dalam dirinya itu ? berbagai pertanyaan pun datang silih berganti memenuhi isi kepalanya.


Suara nada musik ponselnya berdering keras hingga membuyarkan semua lamunannya.


Dengan cepat dia merogoh ponselnya yang berada di saku celananya ,lalu dilihatnya layar notifikasi ponselnya tersebut.


Bony sang sahabat menelpon dirinya,akan tetapi Hasta memilih untuk tidak menjawab panggilannya Boni,dan dia memilih kembali larut dalam perasaan kekecewaannya.


.................................................


Dikediaman Hasta


" Hasta !" panggil sang Mama setelah melihat putranya melintas di hadapannya dengan wajah lusuh.


" Dari mana saja kamu nak ? Papa dari tadi nelponin Mama terus nanyain kamu loh!" ucapnya pelan.


" Hasta keluar sebentar Ma." jawab Hasta terlihat tidak berselera.


" Kamu baik-baik saja ?" tanya sang Mama menatap cemas akan sikap putranya tersebut.


" Hasta baik-baik saja." balas Hasta seraya berlalu begitu saja.


Sang Mama melongo di dapati putranya seperti patah semangat,ia tidak mengerti dengan sikap putranya tersebut yang berubah tak ceria.


" Has,Papah tadi telpon ,suruh kamu balik ke kantor Papah." seru sang Mama cukup keras.


" Enggak lah Mah ! bilang papah Hasta capek." jawab Hasta sambil menuju kamar tidurnya.


" Papah kamu lagi sibuk sayang,ada beberapa pekerjaan yang harus di urus secepatnya,dan Papah butuh bantuan kamu." ucap lagi sang Mama.


Hasta menghentikan langkahnya lalu menoleh sang Mama dengan perasaan enggan.


" Kan ada pak Dandi,pungsi dia apa di perusahaan Papah,tidak mungkin dia makan gaji buta saja kan ?" balas Hasta dengan enteng.


Sang Mama menghela lalu berujung pada gelengan kepala,ia sangat paham akan karakter putranya tersebut.


Hasta berjalan kembali,tidak memperdulikan sang Mama nya kecewa atas jawabannya tersebut.


Tak lama Hasta merebahkan badanya di atas kasur empuknya.


Entah kenapa begitu terngiang-ngiang setiap kalimat yang telah di ucapkan Renata kepada dirinya,jika Renata benar-benar tidak mencintainya sama sekali.


Hasta mencoba memejamkan kedua matanya untuk mengusir rasa kecewa yang begitu dalam di hatinya, namun semakin ia berusaha untuk mengenhahkan nya,semakin kuat perasaan itu terhadap perempuan tersebut.


Ia sadar jika dirinya belum bisa menerima kenyaataan pahit,bahwa cintanya di tolak.


Tak terpikirkan oleh nya jika ia akan merasakan perasaan yang sama di alami oleh sejumlah banyak perempuan di luar sana yang pernah dia tolak bahkan di patahkan hatinya.


Balasan itu memang ada,dan sekarang balasan itu menjelma bak peluru panas yang menghujam tajam di jantung hatinya.


Apa yang sebenarnya di cari dari sosok Renata,rupa,harta,atau......??


Hasta menggeleng,justru Renata adalah sosok wanita yang istimewa,sangat istimewa.


Ia mencintai cara Renata bersikap,sungguh ia mencintainya,sebuah perasaan yang tidak pernah ia temukan dari perempuan lain, sebuah rasa yang tak pernah ia dapati dari wanita mana pun.


Hasta terhempas dalam perasaanya sendiri,menatap sosok Renata adalah sebuah keteduhan baginya.


Hasta menghela napas panjang,sehancur ini kah ia mencintai gadis seperti Renata,sebegitu gilakah ia bersikap tak wajar atas perasaanya.


sosok Renata telah memporak porandakan seluruh isi hatinya,bak memakan buah simalakama,di tahan sakit,di lepaskan lebih sakit lagi atas sebuah penolakan dirinya.


........................................


" Gila lo Has! susah banget sih ngehubungin lo,udah kaya artis aja luh !!" celoteh Bony seraya menghampiri Hasta yang tengah asik melototin layar laptopnya.

__ADS_1


Hasta menoleh ke arah sahabatnya tersebut yang tiba-tiba sudah berada di dalam kamarnya.


" Elo Bon, kapan masuknya ..?" tanya Hasta menatap heran Bony yang duduk di tepi kasurnya.


" Elo gak engeuh juga gue datang,so sibuk banget sih." balas Bony terlihat jengkel.


" Sorry gue lagi fokus." balas Hasta seraya kembali menatap ke layar laptopnya.


" Gue tadi di suruh masuk kamar elo sama nyokap lo,makanya gue masuk aja.Oya sudah seminggu ini lo gak ada ngampus lo kenapa sih has ?? Mana di telpon gak di angkat lagi,di Wa apa lagi, jangakan di balas di baca aja kagak.Gila kali lo ya !!" ucap Boni seraya melepaskan alas kakinya.


" Sorry boy,gue lagi sibuk." jawab Hasta singkat.


" Sibuk apaan luh,di kampus aja belum ada jadwal ujian,elo so sibuk-sibuk segala." gerutu Bony dengan jengkel.


" Gue sibuk ngelupain cewek yang bernama Renata." jelas hasta singkat ekpresi wajahnya terlihat begitu datar.


Bony terperangah mendengar celotehan sahabatnya tersebut.Dengan perasaan sedikit kaget


ia pun segera bangkit dan mendekat ke arah Hasta.


" Apa gue gak salah denger Has ??lo diapain sama tuh cewek?? Apa jangan-jangan elo di tolak mentah- mentah sama dia.kaya sambal matahhh" tanya Boni dengan cengengesan.


Hasta terlihat mengangkat tinggi pundaknya dengan ekspresi masa bodoh.


" Yaahh seperti itu." selanya acuh.


" ASTAGA seorang Hasta baru kali ini cintanya di tolak,ini bisa jadi hot news,viral bisa jadi man." ucap Bony bersemangat.


" Elo sepertinya seneng baget lihat gue menderita." ujar Hasta dengan mimik kesal.


" Kan dari kemarin gue udah ingetin elo,bahwa itu cewek emang gak ada persaan sama lo ! yaa elonya aja kepala batu,dan pada akhirnya lo kecewa juga kan ?" ujar Bony dengan berapi-api.


" Gue ngerti,sepertinya gue terlalu main persaann." ucap Hasta dengan nada melo.


" Huwaa haha...haha...seorang Hasta main perasaan,selama ini kemana aja man,Helloo !!" tambah Bony semakin lucu melihat sikap sahabatnya tersebut.


" Gue percaya akan balasan itu Bon." balasnya lirih.


Bony menghentikan tawanya setelah melihat raut wajah Hasta begitu tertekan.


" Sudah lah Has,gue sudah ingetin lo dari jauh- jauh hari,hati-hati dengan persaan lo itu,Yaa sekarang lo ketelen dengan omongan lo sendiri. "


" Gue masih penasaran dengan Renata,jangan- jangan Renata memang pacaran lagi sama si Harry." guman Hasta seraya menghentikan kegiatan nya menatap layar laptop.


" Elo lagi ngomongin siapa sih ?" tanya Bony semakin heran.


" Bosnya si Renata,dia lah yang bikin Renata nolak gue,gue rasa mereka udah jadian." ucap Hasta terlihat berbicara sendiri.


" Alibi banget loh,pengalihan isu,udah jelas tuh cewek emang gak demen ama lo,so so nyalahin orang." guman Bony sedikit ngedumel.


" gue rasa seperti itu boy." sergah Hasta mencoba mempertahankan opininya.


" Elo tau dari mana jika mereka jadian ? lo kaya paparazi aja,so tau pribadi orang." batah Bony.


" Ya makanya dia nolak cinta gue."


" Pede aja loh.." ucap Boni seraya melempar tawa kecil.


" Oya Has,kemaren di kampus ada siswi baru pindahan dari bandun, cantik loh orangnya Has." ujar Bony dengan penuh semangat.


" Gue gak peduli." sela Hasta singkat.


" Elo jangan mentang-mentang cinta lo di tolak,lantas lo kapok pacaran,cemen lo !! Biasanya juga lo yang nyakitin,giliran di sakitin lo gak terima." jelas Boni dengan nada kesal.


" Terus lo punya nomor teleponya ?" tanya Hasta yang rupanya diam-diam penasaran dengan cerita Bony sang sahabatnya.


" Nomor telpon siapa ?" tanya Boni heran


" Katanya ada mahasiswi baru,nomor telpon dia lah,masa nomor telpon bu Siswi." ujar Hasta kesal.


" Yee rupanya elo penasaran juga,dasar play boy cakep kabel lo" jawab Boni seraya menjitak pelan pundak Hasta.


Hasta terkekeh melihat kelakuan sahabatnya tersebut.


...............................


Di kampus


" Nih gue bawain minuman segar." ucap Bony seraya menyodorkan sebotol minuman segar ke hadapan Hasta yang tengah asik menikmati angin sepoy-epoy di sekitar taman kampusnya.


" Thank's."


" Elo sudah dapet jadwal ujian nanti Has ?"tanya Bony membuka obrolan.

__ADS_1


Hasta menggeleng.


" Belum ada yang masuk ke email gue." jawab Hasta pelan.


" Coba elo cek dulu has di email lo,siapa tau udah masuk laporannya,pusing lah kita bentar lagi ujian dan bikin skrip.." ujar Bony terlihat semaput.


" Santai aja lagi,gak usah mumet gitu, nanti juga tuh soal akan mengalir begitu saja." sela Hasta sambil menyomot makanan yang sedang Bony makan.


" Air kali ngalir begitu aja." guman Bony pelan.


" Hai Bon ! has !" sapa Tania menghampiri mereka berdua yang sedang duduk santai.


Bony dan Hasta menoleh ke arah kedatangan Tania.


" Hai Tan..." balas Bony dengan ramah.


" Apa kabar Has ?" tanya Tania melirik Hasta yang menatap ke arah lain dengan sengaja.


" Kabar gue baik Tan..?" balas Hasta sedikit acuh.


" Soryy ya,aku ganggu kalian,aku kesini cuman mau anterin undangan untuk kalian berdua,datang yaa nanti." ucap Tania seraya menyodorkan sebuah kartu undang kehadapan Bony dan Hasta.


Bony dan Hasta saling bertatapan satu sama lain,membiarkan tangan Tania masih menggantung di udara dengan kartu undangan nya tersebut.


Bony dengan cepat segera menerima kartu udangan tersebut.


" Tenang aja Tan,gue pasti hadir !" ucap Bony tersenyum simpul.


" Elo Has ?" tanya Tania melirik Hasta yang sedari tadi memilih pura-pura ngecek layar ponselnya.


Bony menyikut perut sahabatnya tersebut sehingga sedikit terkejut.


" Elo hadir gak ?" tanya Bony menatap penuh sahabatnya tersebut.


" Hmm,akan gue usahain." ucap Hasta singkat.


" By the way, lo cepet amat move on dari sahabat gue." celetuk Bony seraya menyikut kembali perut Hasta sehingga sahahatnya itu meringis kesakitan.


Hasta mendelik dengan perasaan sebal.


" Mempertahankan persyaaan yang sudah gak bisa di pertahankan itu adalah kesalahan terbesar yang kulakukan,dan mempertahankan orang yang tak sayang lagi ke kita itu,sama saja kita menghentikan langkah perjalanan kita sendiri,


karena kita tidak pernah tau kita akan bahagia dengan siapa, dan dengan cara apa...? iyakan Has ?" ucap Tania seraya tersenyum sinis ke arah Hasta.


Hasta melengos, seakan-akan ia tahu kemana arah ucapan Tania,dan nyatanya kata-kata Tania tersebut sedikit nya telah menusuk hatinya.


Dirinya menyadari jika Tania telah di buatnya kecewa olehnya,hanya untuk mengejar hati seorang Renata yang sudah jelas tidak membalas perasaan nya tersebut.


" Gue setuju banget dengan ucapan lo,Tania." sahut Bony seraya menepuk-nepuk pundak Hasta seolah-olah sebuah isyarat untuk sahabatnya tersebut.


Hasta menepis tepukannya Bony,ia merasa tersindir dengan perlakuan sahabatnya tersebut.


" Gue ucapkan,selamat buat elo Tan, semoga lo bahagia." ucap Hasta berusaha terlihat baik-baik saja di hadapan Tania.


" Aamiin !makasih banyak do'anya,gue juga doain semoga lo bahagia." balas Tania tersenyum simpul.


" Bahagia dengan siapa ?" sela Bony dengan cepat.


Hasta melirik kesal dengan sikapnya Bony.


" Dengan siapapun itu,dan aku juga berharap kamu lebih bisa menjaga perasaan seorang perempuan untuk tidak membuatnya kecewa." ungkap Tania dengan tersenyum lembut.


" Ucapan lo benar sekali Tania." Bony menambahkan dengan sikap bijaknya.


Hasta mendecih melihat tingkah sahabatnya tersebut.


" Thank's do'anya buat gue." jawab Hasta lirih.


" Baiklah,kalau gitu aku berharap kalian berdua bisa hadir ya di acara pernikahan aku." ucap Tania seraya berpamitan.


Hasta hanya terdiam dengan melipat dalam bibirnya.


" Mempertahankan persaaan yang sudah gak sayang lagi terhadap kita,sama halnya kita menahan langkah untuk bahagia." ucap Bony dengan menirukan gaya berbicara Tania.


Hasta terdiam enggan membalas celotehannya Bony.


" Tuh sedikit ada pencerahan buat lo juga,supaya lebih cepat move on dengan perasaan lo itu." sela lagi Bony dengan menenggak habis minuman segarnya.


Hasta terdiam tak membalas ledekannya Boni dia mulai merasa ucapan Tania ada benarnya untuk dia pertimbangkan.


Menyesali perasaan nya bukan lah hal yang tepat,untuk saatnya ia bangun dari mimipi yang tak bertepi.


...................................Bersambung...................................

__ADS_1


__ADS_2