Sang Play Boy

Sang Play Boy
Sang Playboy episode 06


__ADS_3

...............Harapan Yang terulang


 


HASTA berdiri sempurna di hadapan sebuah cermin,ia menatap penuh ke arah bayangan dirinya yang menggenakan setelan jas formal berwarna biru navy yang di paduin dengan kemeja berwarna biru muda senada dengan dasinya,Ia terlihat begitu maskulin.


Yaa hari ini Ia akan mewakili perusahaan Ayahnya untuk menghadiri sebuah acara pertemuan di kantornya.


Beberapa menit kemudian Ia sudah terlihat rapih,ia pun segera bergegas menghampiri sang Mama yang sudah berada di ruang makan.


" Sudah siap Has ?"tanya sang Mama seraya menyodorkan sarapan pagi untuk dirinya.


" Sudah Ma ! mudah-mudahan pertemuan pertama kalinya ini berjalan lancar." Harap Hasta tersenyum sempurna.


..." Mama berharap seperti itu,setidaknya kamu nanti bisa meneruskan perusahaan Papah kamu,jadi kamu tidak canggung lagi untuk memulainya." ucap sang Mama tersenyum bahagia....


" Iya Mah,sebenarnya Hasta deg-degan juga sih,rasa-rasa gak percaya diri ." ucap Hasta dengan menyuapkan sepotong roti ke mulutnya.


" Kamu harus bisa dong Has,karena di perusahaan nya Papah harus ada orang yang bisa di percaya,gak bisa kita mengandalkan orang lain terus,karena kamu adalah pewaris semua kekayaan Papah kamu ini ." ungkap sang Mama menatap bahagia sang putra tunggalnya yang bersedia membantu di perusahan sang Ayah.


" Iya Mam,Tapi untuk saat ini Hasta belum bisa sepenuhnya bekerja di perusahaan Papah,Hasta masih terlalu muda untuk ngejalaninya.Lagian Papah masih mempercayakan sepenuhnya perusahaan ini terhadap pak Dandi. " Balas Hasta


" Iyaa Mama tahu, kan Mama sudah bilang gak selamanya kita ini akan mengandalkan orang lain terus Has , Ada saatnya kita harus mengandalkan dirikita untuk perusahaan kita sendiri." Jelas kembali sang Mama dengan tersenyum bijak.


" Iya sih..!!, Oya Mam kapan Papah balik ? " tanya Hasta seraya kembali menyuapkan sepotong roti berselai kacang kesukaanya.


" Papah belum ada memberi kabar kapan balik ke jakarta" jawab sang Mama dengan lemah lembut.


" Hasta,Mama senang lihat kamu mau membantu Papah, yaa walaupun itu masih di bantu sama Pak Dandi " ucap sang Mama sambil menatap lembut sang anak.


" Mumpung belum ada banyak kegiatan di Kampus,jadi apa salahnya Hasta mencoba pekerjaan ini. " ujar Hasta sambil sibuk mengunyah makananya.


" Mas Hasta mobilnya sudah siap ." Ucap pak Karim sopir pribadi keluarga besarnya mengahampiri Hasta dengan penuh hormat.


" Ok pak !bapak tunggu saya Beberapa menit lagi ya ! " Jawab Hasta ramah.


" Baik Mas.. !" Ucap pak Karim mengangguk.Lalu sang sopir pun berjalan keluar kembali.


" Mam Hasta pergi dulu ya..!" pamit Hasta seraya mengelap mulutnya dengan tisu,lalu ia mencium tangan wanita terkasihnya tersebut dengan penuh kasih sayang.


" Yaa sayang,hati-hati ya." Balas sang Mama tersenyum simpul.menatap sang anak dengan penuh rasa haru.


.............................


Untuk yang pertama kalinya Hasta bersedia menerima tawaran sang Ayah,untuk mewakili dirinya dalam sebuah acara pertemuan dengan salah satu pemilik perusahan yang akan bekerjasama dengan perusahaan nya tersebut.


Dari Awal Hasta memang tidak tertarik untuk ikut berkecimpung di perusahaan sang Papah nya,ia lebih senang menghabiskan waktunya berkumpul dengan teman-teman kampusnya dan beberapa teman wanitanya.


Ketika Hasta memasuki ruanganan kantor sang Papah nya,ia disambut hangat oleh sekertaris serta beberapa staf penting di perusahaanya tersebut.


Para staf perusahaan itu baru melihat sang putra tunggal dari pemiliki perusahaan itu secara langsung,dan itu cukup membuat segenap staf perusahaan tersebut terpana sekaligus terkagum-kagum dengan ketampanan seorang Hasta.


Yaa selama ini mereka hanya tahu nama putra sang Presiden Direktur tersebut hanya lewat cerita orang dari mulut ke mulut tanpa tau percis aslinya seperti apa.Dan sekarang ini mereka di sedang di buatnya terpukau atas ketampanan putra dari Sang Presiden Direktur tersebut.


Terlebih Hasta memang tidak pernah mau bersedia datang ke kantor sang Papahnya meski itu hanya sekedar bermain atau pun keperluan lain.


Tepat di hadapan Hasta berdiri Seorang perempuan cantik dengan berperawakan sintal Tersenyum manis menatapnya.


" Pagi Pak Hasta !" sapa perempuan itu dengan penuh hormat.


" Pagi !! " balas Hasta terkesan kalem.


" Perkenalkan saya Ratih sekertaris nya Pak Bram!" jelas Ratih dengan ceria dan sedikit agresif.


Hasta cukup tergugu dengan perawakan Ratih yang sedikit menyita perhatiannya, aroma farpumnya menyeruak memenuhi seantereo ruangan tersebut.


Hasta tersenyum liar menatap sekertaris sang Papah,terlebih Ratih terlihat begitu pandai merawat diri.


Wiihhh Papihh punya Sekertaris sebohay ini... gillaa.. ,!! Ucap Hasta di dalam hatinya dengan tersenyum nakal


" Maaf pak Hasta,lima menit lagi pertemuan akan segera di mulai!" Ratih membuyarkan lamunan nakalnya Hasta.


" Oh ya ,ya." jawab Hasta sedikit gugup,ketika ia tersadar sudah membayngkan hal lain tentang sosok Ratih,sepertinya naluri ke laki-lakianya timbul secara spontan.


" Bapak mau saya buatkan teh,kopi atau su...," Ucapan sekertaris itu menggantung.


" Tidak terimakasih !" potong Hasta dengan cepat,ia tidak ingin memberi kesempatan apa pun untuk dirinya bisa akrab dengan perempuan cantik itu. Hasta menarik-narik dasinya yang melingkar erat di lehernya,entah kenapa ia merasa ikatan dasi itu membuatnya terasa pengap.


" Baiklah,kalau begitu bapak silahkan langsung keruang pertemuan saja, kebetulan Mitra kita sudah menunggu." ucap Ratih dengan sikap lincahnya,sekertaris itu memang terkihat luwes dan ramah.


Hasta mengangguk dengan perasaan canggung,entah kenapa naluri itu muncul kembali setelah sekertaris itu mengeluarkan daya pesonanya yang begitu menyegarkan mata.


" Ruang pertemuannya sebelah mana ?" Seloroh Hasta terlihat linglung dan salah tingkah.


"Kalau begitu saya antar saja ya pak,kebetulan pak Dandi sudah menunggu juga pak. " Jelas Ratih semakin terlihat mempesona.


Hasta candu melihat akan senyum manisnya yang penuh gairah,Ia menatap nakal kearah Ratih yang berjalan melenggak lenggok di hadapan nya dengan rok pendeknya.


".............."


Hasta benar-benar terhipnotis dengan pesona kecantikan Sekertaris sang Papahnya tersebut.


Papah pantesan Betah di kantor yang nemenin kaya gini... pech pech gawat,gawat


Guman hati Hasta sembari menggeleng gelengkan kepalanya, dan Ia pun gagal pokus di buatnya.


Seperti bukan dirinya Hasta harus mengenakan pakaian formal lengkap dengan aksesorisnya,Ia merasa tidak begitu nyaman dengan pakaian tersebut,nyaris beberapa kali Ia terlihat menarik serta mengulur kembali dasi yang tergantung manis di lehernya.


bahkan sepertinya Ia benar-benar merasa tidak begitu nyaman dengan pakaian seperti itu, Lagi lagi Ia membenarkan lengan jasnya yang menurutnya terasa begitu mengganggu di pergelangan tangannya.

__ADS_1


" Ribet banget jadi orang kantoran !" Rutuk Hasta kesal.


" Silahkan masuk Pak !" ucap Ratih seusai tiba di ruang pertemuan tersebut.


" Ok maksih banyak a Mba...!!" Balas Hasta dengan tersenyum penuh wibawa.


" Sama-sama pak !Oy pak,bapak panggil saya Ratih saja. " ucap Ratih menatap centil sang putra Bosnya tersebut.


Hasta semakin kepanasan melihat tingkah sang sekertaris tersebut.


" Oh gitu ya,baiklah Ratih ! " balas Hasta dengan terlihat sedikit menjaga wibawanya.


Hasta merasakan jika sikap perempuan cantik itu memang terlihat sedikit berbeda terhadapnya,dimulai dari cara menatap dirinya hingga memperlakukan nya.


Meski sama-sama baru saling mengenal namun perempuan itu bersikap begitu bangat kepadanya.


Hasta menatap kedalam ruangan tersebut yang terlihat masih sepi.


Bukannya tadi Ratih bilang para tamu sudah pada hadir,lalu kenapa di dalam ruagan itu tidak ada siapa-,siapa.


Hasta membatin.


Eksoresi wajah pria ganteng itu seperti sedang kebingungan.


" Hmmm Ratih Tunggu...!! " ucap Hasta sedikit canggung ketika memanggil kembali Ratih yang hendak meninggalkannya.


" Iya Pak " Tanya Ratih dengan memutar kembali badanya,lalu Ia tersenyum begitu manis sehingga menyebabkan diabetes akut.


" Sorry gue kan baru datang ke tempat ini,jadi gue belum hapal dengan beberapa ruangan di perusahaan ini,gue gak tahu ruangan pertemuannya di sebelah mana ? " Ujar Hasta bingung.


Kembali ia terlihat sangat bodoh di hadapan sekertaris cantik tersebut.


" Oh baiklah pak,dengan senang hati saya akan mengantar bapak ke ruangan pertemuan.Ayo pak !." Ajak Ratih terlihat tersenyum lagi seraya menatap genit kearah Hasta.


" Yaa Tuhan !! sekertaris ini penuh dengan godaan !!" Batin Hasta semakin frustasi melihat sikap sekertaris tersebut.


Ratih memasuki ruangan tersebut dengan di ikuti Hasta yang masih terlihat linglung sekaligus frutasi melihat gaya perempuan cantik tersebut.


" Gila aja...!! Kantor bapak sendiri aja kagak ngerti, payah gue malu-maluin bokap gue aja. " Guman Hasta dalam hati mengutuk dirinya.


" Ini pak ruangannya, silahkan masuk pak !" Ucap Ratih setibanya di depan pintu ruangan pertemuan,ia pun dengan cekatan membuka pintu ruangan tersebut, dengan tetap memasang senyuman manis ke arah Hasta.


" Thank's Yaa " jawab Hasta penuh wibawa.


" Sama-sama pak,Kalau begitu saya permisi dulu pak,soalnya ada beberapa pekerjaan yang harus saya selesaikan." pamit Ratih benar-benar membuat kepala Hasta mendadak migran dengan gaya bicara yang halus serta merdu.


Sikap serta gerakan bahasa tubuhnya mengundang pikiran nakal sang pria tampan tersebut.


Hasta hanya mengangguk dengan perasaan campur aduk.


Dengan perasaan yang tidak menentu Hasta mulai melangkah untuk memasuki ruangan pertemuan tersebut,Hasta terlihat menarik napas panjang secara berulang-ulang untuk mengusir perasaan nervouse nya yang datang menyergapnya.


"Selamat pagi pak Dandi ! mohon maaf saya sedikit terlambat. !" balas Hasta tersenyum canggung.


" Tidak apa -apa,acara pertemuan ini santai pak,tidak terburu-buru." ungkap pak Dandi sembari duduk kembali.


" Baiklah." Jawab Hasta singkat lalu dia pun mengambil tempat duduk seraya membagikan pandanganya kesemua orang yang hadir di ruang pertemuan tersebut dan.........


Tapp...............


Hasta terperangah ketika Tatapannya tertuju pada salah satu perempuan yang duduk tepat di sebrang kursinya.


Matanya membulat sempurna,namun seketika tubuhnya terasa kaku,hingga tak sadar ia menekan kuat slavina nya.


"Pak Hasta,kita mulai saja ya acara pertemuan nya." Ucap pak Dandi seraya berdiri memberi hormat kepada Hasta dan beberapa orang yang hadir di ruangan tersebut.


Pandangan Hasta masih tertuju kepada sosok perempuan tersebut.Rasa tidak percaya membuatnya menjadi tidak bisa fokus,atensinya tertuju ke arah sosok perempuan tersebut,entah apa yang sedang di bicarakan oleh pak Dandi, sama sekali Hasta tidak bisa menyimaknya dengan baik.


sementara perempuan yang duduk di sebrangnya hanya terdiam seraya menundukan wajahnya.


" Pak Hasta saya perkenalkan pak Haryy ! Beliau merupakan pemilik perusahhan minuman yang ternama di kota BANDUNG dan ini Sekertarisnya beliau ibu Renata " Jelas pak Dandi dengan lugas memperkenalkan pimpinan perusahaan yang akan menjadi mitra di perusahaan Papahnya.


Renata tersenyum kaku dengan sesekali Ia membalas tatapan Hasta yang masih menatap lekat dirinya dengan sorot mata tidak percaya.


"Pak Hasta !! " panggil pak Dandi berhasil mengejutkannya.


Hasta terkejut bukan main setelah pak Dandi cukup keras memanggil dirinya.


" Eeh iya pak !! mohon maaf,saya sedikit kurang fokus." ujar Hasta seraya mengalihkan pandangan nya ke arah pak Dandi,ia mencoba mengusir perasaan paniknya.


" Baiklah jadi bisa di mulai yah Pak pembahasan pertemuan hari ini, tentang komitmen perusahaan kita yang akan berjoin dengan perusahanya pak Harry." Jelas pak Dandi seraya memulai topik pembicaraan di pertemuan tersebut.


Hasta menggeleng,kehadiran sosok Renata menghancurkan konsentrasinya.


Ia benar-benar terlihat tidak fokus.


SEUSAI pertemuan.......


PIKIRAN Hatsa tiba-tiba Melayang jauh, mendarat kembali keenam bulan yang lalu dimana dirinya kehilangan kabar Dari seorang Renata dan Ia pun harus berpisah dengan nya tanpa kabar yang jelas.


Pertemuan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya,kini justru pertemuan itu terjadi di perusahaan sang Papah.


Ia dapat bertemu kembali dengan seorang Renata si pemilik Caffe yang sering di jadikan tempat tongkrongannya bersama Boni sang sahabat.


Kini waktu telah mengantarkan nya untuk bertemu kembali dengan sosok Renata melalui kerja sama antara perusahan milik sang Papah dengan perusahaan PT RITAIL minuman yang cukup ternama di kota BANDUNG,perusahaan tempat Renata bernaung kini.


Hasta masih menatap jauh keluar jendela ruangan tersebut,sungguh terasa mimpi baginya jika pertemuan nya dengan Renata kini sebagai mitra di perusahan orang tuanya.


Renata muncul secara tiba-tiba di kehidupannya sebagai salah satu Mitra perusahaan yang cukup berpengaruh besar di perusahan sang Papahnya.

__ADS_1


Tentu saja hal ini adalah peluang besar untuk Hatsa bisa lebih sering berjumpa serta berkomunikasi dengan Renata melalui hubungan pekerjaan ini,dan tentunya kesempatan ini tak akan di sia-siakan begitu saja.


Hasta berharap,jika dirinya bisa memulai cerita cintanya di dalam sebuah kemitraan.


Hasta masih tertegun menatapi jauh ke arah luar sana ada persaan yang membuncah di dalam hatinya yang sulit ia kendalikan.


Pertempuan yang membawanya kembali ke sebuah perasaan yang tak kunjung hilang dari hatinya hingga detik ini.


Bahagia bercampur cemas perlahan tapi pasti menyergap di dalam hatinya.


Tok tok tok.....


Terdengan suara pintu di ketuk dengan keras sehingga berhasil membuyarkan semua lamunan nya Hasta.


" Masuk !" Titah Hasta pelan.


Sang seketaris cantik menyembul dari balik pintu.


" Maaf pak Hasta , ada yang ingin bertemu dengan bapak.?" ucap Ratih singkat.


Hasta mengernyit menatap penuh tanya.


" Siapa ?" tanya nya pelan.


" Ibu Renata. " jawab Ratih seraya menoleh ke arah Renata yang berdiri di ambang pintu.


" Oh,suruh dia masuk " ujar Hasta dengan perasaan mulai tak menentu.


"Baik pak " sela Ratih mengangguk,lalu ia pun mempersilahkan Renata untuk masuk ke dalam ruangan tersebut.


Renata berdiri tepat di hadapan meja kerjanya Hasta seraya menatap lurus ke arah wajah pria tampan tersebut,ia terlihat gamang.


sosok Renata tidak pernah berubah dan masih seperti itu, sederhana namun semakin terlihat menawan , berbeda jauh dengan penampilan sang Sekertaris Papahnya yang membuat dia sakit kepala.


Hasta tersenyum lembut ke arah Renata yang masih berdiri menatapnya.


" Silahkan duduk !bu Renata." ucap Hasta tersenyum semeringah seraya mempersilahkan Renata untuk duduk.


" Jangan panggil aku ibu, panggil saja dengan panggilan seperti biasanya " balas Renata terlihat cangung akan sikap Hasta yang begitu menghormatinya.


" Tapi anda adalah bagian dari mitra perusahan orang tua saya,jadi sepantasnya saya menghormati anda." ujar Hasta terlihat lebih sopan.


" Tapi tidak untuk pemanggilan nama di luar pekerjaan Has." Balas Renata seraya terlihat menatap tidak suka kearah Hasta.


" Oh,baiklah jika itu menganggu kenyamanan lo!! lo apa kabar ?" Tanya Hasta menatap lekat Renata, rasa rindunya yang sekian lama terpendam kini terasa terobati.


" Aku baik-baik saja ! aku sempat terkejut melihat kamu di pertemuan tadi itu, aku tidak menyangka jika kita akan bertemu kembali. " ungkap Renata menatap lurus pria tampan tersebut.


" Gue rasa itu jodoh " celoteh Hasta tersenyum,ia kembali menggoda Renata dengan gombalannya.


" Jodoh untuk sebagai mitra perusahaan,," Balas Renata dengan cepat.


" Tidak menutup kemungkinan jika kita berjodoh dalam hal yang lain" balas Hasta tersenyum lembut ke arah Renata.


"Maksudnya...?? " Tanya Renata dengan memicingkan kedua matanya.


"Ohh tidak,lupakan saja,gue cuman bercanda ! " Sela Hasta dengan tersenyum tipis.


" Aku rasa,untuk kali ini kita akan di tuntut untuk bersikap lebih profesional " Ucap Renata dengan menatap penuh ancaman.


"Jika lebih dari itu ??" Tanya Hasta sambil menatap dalam Renata.


" Jika lebih dari itu aku tidak bisa menjamin hubungan kerja ini bisa berkanjut atau tidak " Balas Renata denganbersikap sedikit angkuh.


" Jadi lo mengancam gue. ?" Tanya Hasta dengan tersenyum sinis.


" Sudah aku katakan,jika disini hanya ada hubungan pekerjaan saja dan itu tidak lebih.. " ujar Renata menatap tajam Hasta.


" Elo ini tetap tidak pernah berubah tetap galak, tapi semakin menawan." Celoteh Hasta, mulai bersikap menggoda Renata.


Renata menggeleng,Hasta belum bisa berubah.Pikirnya seraya menatap sinis ke arah pria tersebut.


" Terimakasih atas sanjungannya. " Balas Renata sembari membuang jauh pandangannya.


" Oya untuk masalah Dokumen yang akan di tandatangi oleh pihak perusahaan kamu,nanti aku akan anterin besok siang, karena tadi kebetulan aku lupa membawa Dokumen penandatanganan nya,secara aku pikir untuk hari ini hanya pertemuan saja,tapi ternyata pihak perusahaan kamu langsung menyetujuinya." Jelas Renata terlihat tidak nyaman setelah Hasta terus menatapnya dengan tatapan penuh menggoda.


" Gue rasa Dokumen itu bukan semata-semata hanya tertinggal, tapi hal itu bukti bahwa akan ada pertemuan seterusnya antara gue sama lo " Ucap Hasta semakin tersenyum nakal ke arah Renata.


Renata terdiam Ia hanya memalingkan wajahnya ke arah yang lain,ia tidak ingin terperangkap dalam tatapan Hasta yang mulai mengusik hatinya.


" Yaahh... gue rasa perusahaan elo langsung merasa cocok dengan beberapa hal yang di tawarkan oleh Pak Dandi kepada pak Harry,jadi gue rasa selain akan menjadi mitra kerja sama, siapa tau juga kita akan menjadi mitra di kehidupan heee....heee...." Rayu Hasta dengan memulai meluncurkan kata-kata gombalnya kepada Renata, dan naluri sang Playboynya seperti bangkit kembali dengan sendirinya.


" Tapi alangkah baiknya pak Hasta itu jangan terlalu banyak berharap." Ucap Renata tersenyum manis.


Yaa TUHAN mimipi apa gue semalam sehingga gue bisa melihat senyuman mautnya.


Guman Hasta di dalam hatinya.


Hasta dapat melihat kembali senyuman yang pernah menggentarkan hatinya beberapa bulan yang lalu.


" Jika TUHAN memberi gue kesempatan kembali,kenapa tidak harapan itu akan menjadi sebuah kenyataan " Ucap Hasta dengan setengah berbisik.


Hasta bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan mendekat ke arah tempat Renata duduk dan menatap wajah perempuan itu dengan jarak yang lebih dekat.


Renata mencoba menjaga jaraknya agar tidak terlalu terlalu dekat dengan Hasta, perlahan Ia memundurkan kursi tempat duduknya


" Kita harus tetap profesional ! " Jawab Renata dengan tegas,sorot matanya terlihat menatap dengan tajam.


..........................

__ADS_1


__ADS_2