Sang Play Boy

Sang Play Boy
Sang Playboy episode 37


__ADS_3

 WAKTU sudah menunjukan pukul 22:45 menit,namun Bram beserta Handoko dan Harry masih terlihat mengobrol.


" Sungguh ini di luar dugaanku Bram." Ucap Handoko menatap tak percaya ke arah Harry.


" Selama ini kita tidak pernah membahas masalah keluargamu,kita salalu membahas pekerjaan,ya kan Har?kita bekerja benar-benar totalitas dan kita itu tidak ada kepikiran untuk ngebahas masalah keluarga." Jelas lagi Bram dengan duduk santai di hadapan Harry dan Handoko.


" Yaa...,Dulu almarhum ayah pernah berpesan jika nanti saya bertemu dengan sahabat-sahabat Almarhum Ayah,Ayah meminta tolong untuk melanjutkan kembali talisilaturahmi ini.Cuman saya tidak sempat melihat Dokumentasi pertemanan Ayah saya,karena waktu itu saya langsung pindah ke Jakarta,dan rumah kami di Sumatra sudah terjual entah di kemanain isi dari rumah kami dulu sama keluarga yang di sana." Jelas Harry dengan wajah terlihat sedih.


 


" Tidak apa-apa Nak harry.Sekarang kita di pertemukan kembali dengan sang penerusnya.Jujur saja Ayah kamu itu seperti sahabat rasa sodara." tambah lagi Handoko dengan tersenyum penuh arti.


 


" Oya Harry,om sempat waktu itu mendengar kabar duka atas kepergian Ayahmu beberapa tahun yang lalu,dan Om sempat mendapat berita hal itu dari rekan bisnis Om,Tapi sayang pas waktu itu posisi Om lagi tidak ada di Jakarta.Kira-kira lima tahun yang lalu,dan tahun berapa Ayahmu kembali ke jakrta ?" tanya Handoko menatap lepas.


" Kami sekeluarga pindah sekitar sepuluh tahun yang lalu Om,Setelah membangub perusahaan di JAKARTA maka kami kembali pindah sekelurga dan kebetulan Renata memang memilih kuliah di JAKARTA." jelas Harry.


" Lalu Ayahmu sakit apa Har ?" tanya Bram memandang gantian.


Harry menghela mencoba mengingat kembali kejadian lima tahun yang lalu.


" Ayah terkena serangan jantung Om." balas Harry dengan tertunduk sedih.


Handoko dan Bram terlihat saling menghela dengan perasaan berat.


" Awalnya Ayah baik-baik saja,namun setelah peristiwa memalukan itu menimpa keluarga saya Ayah langsung sakit hingga Drop." jelas Harry dengan suara berat.


" Kalau Om boleh tau,hal memalukan apa yang membuat Ayah kamu terkena serangan jantung ?" tanya Bram menatap nanar.


" Ceritanya panjang Om,dan cukup menyakitkan bagi kami yang di tinggalkan." ungkap Harry dengan penuh duka.


" Maafkan kami Nak Harry,kita tidak bermaksud untuk mengungkit luka lama,tapi om dan Om bram ini hanya ingin tahu saja,Om mendengarnya begitu sangat sedih." ucap Handoko dengan raut wajah tak biasa.


Harry membagikan pandangannya menatap dengan seksama.


Singkat cerita Harry pun menceritakan apa yang telah terjadi kepada sang Ayah yang meninggal secara mendadak akibat serangan jantung,ia pun tak luput menceritakan kejadian malang yang telah menimpa adik perempuannya, Renata.


Berawal dari sebuah pernikahan yang di batalkan secara sepihak membuat sang Ayah shok hingga mengalami serangan jantung.


Mata Harry seketika berkaca-kaca.Ia tak sanggup jika harus mengingat kembali kejadian beberapa tahun yang lalu,cobaan yang sungguh sangat berat ia rasakan bersama keluarga besarnya,ia dan adiknya harus kehilangan Orang tuanya kembali setelah sang ibu meninggal terlebih dahulu ketika Harry dan Renata masih di bangku sekolah di karenakan sang ibu menderita kangker otak stadium empat.


Harry berserta Renata menjalani kehidupan yang begitu rumit,sebagai anak pertama tentunya Harry selalu mengutkan sang adik,Renata sebelum akhirnya dirinya menikah atas perjodohan sang Ayah.


Handoko dan Bram saling berpandangan bertatapan satu sama lain,mereka terlihat ikut merasakan apa yang Harry rasakan.


" Om sangat bangga sama kamu Nak Harry bisa sesukses saat ini, dan bisa meneruskan perusahaan milik mendiang Ayahmu hingga sebesar ini." Ucap Bram dengan penuh rasa bangga.


" Iyaa Om Bram,terlalu banyak perjuangan kami dengan do'a dan air mata." ucap Harry mengangguk pelan.


Bram sejenak terdiam ia menatap dalam ke arah Harry dan ia berpikir hingga menyimpulkan,itulah sebabnya Harry begitu sangat menyayangi Renata hingga menjaganya dengan penuh kasih sayang.


Begitu besar rasa iklas yang di miliki oleh seorang Harry hingga dia kini telah meraih sebuah hasil dari rasa iklas dan sabarnya.


Pikiran Bram kembali tertuju kepada awal permasalahan yang di alami Renata dengan putranya Hasta.


Tak mungkin tanpa alasan jika Renata mengajukan sebuah persyaratan kalau bukan untuk melindungi hatintanya yang pernah terluka,entah kenapa rasa sesal itu tiba-tiba datang menyergapnya,seandainya tak ada perjanjian di antara mereka mungkin kini Renata sudah bersanding dengan Hasta,Namun apalah daya nasi telah menjadi bubur tidak mungkin jika ia menarik semua perjanjiannya,maka kontrak kerjanya akan berakhir begitu saja jika ia memutuskan untuk menolak perjanjian itu.

__ADS_1


Bram menarik napas dengan perasaan berat kenapa seperti ini alur kisahnya.


" Seandainya jika Ayahmu masih ada tentunya kita akan melanjutkan tali silaturahmi ini dengan sebuah perjodohan ." Ucap Pak Handoko menoleh pak Bram yang terlihat sedang menatapnya dengan berbagai pikiran di kepalanya.


" Perjodohan ?" Ucap Harry dengan mengerutkan dahinya.


" Yaa perjodohan,kita bertiga ada keinginan untuk saling menjodohkan putra putry kita,dan kebetulan Anaknya Om Bram akan di jodohkan dengan Nina anaknya Om." Jelas Handoko menatap penuh arti ke arah Bram.


Bram tersenyum tanpa ekspresi.


" Oya ?" Tanya Harry menggantung seraya membagikan pandangannya ke arah Handoko dan Bram,lalu ia berpikir sejenak ia teringat akan perasaan adiknya Renata yang masih menyimpan perasaannya terhadap Hasta.


Ada yang berat dalam setiap hembusan napasnya Harry, entah kenapa kata-kata yang di ucapkan Handoko sedikit melukainya.Kenapa tidak ?Renata hingga saat ini selalu memohon kepadanya untuk mencabut perjanjiannya dengan pak Bram,tapi sayang atas nama demi kepentingan perusahaan nya jutru saat itu dia menolaknya,dan menolak keras permohonan Renata hanya dengan alasan sebuah ke Profesionalan hubungan kerja.


" Tapi,bisa jadi jika kamu belum menikah,putry om akan om jodohkan dengan kamu nak Harry,dan Adik kamu bisa jadi dengan putranya Om Bram Hasta,bukan begitu Bram ?" tanya Handoko menepuk pundak Bram hingga Bram berhasil terkejut.


" Oh ya,,bisa jadi seperti itu,tapi...,tapi sayang nak Harry sudah menikah." balas Bram dengan terbata,ia terlihar tersenyum pasi.


Bram terrefleksi setelah mendengar ucapannya Handoko,dan betapa benarnya yang di ucapkan sahabatnya itu,ada baiknya jika mereka saling di jodohkan,dan putranya bisa leluasa menikah dengan Renata adiknya Harry.


Tapi sayang,kini hanya tinggal sebuah penyesalan yang tidak akan merubah keadaan seperti apapun,perjodohan Nina dan Hasta akan tetap berjalan sesuai yang sudah di rencanakan.


Waktu sudah semakin larut malam akhirnya Bram dan Handoko pun berpamitan pulang,padahal mereka masih ingin bercerita banyak tentang cerita mereka di masa lalu.


..................


RENATA nampak masih sibuk merapihkan barang-barang yang sudah terpakai usai pengajian tadi,padahal waktu sudah begitu larut malam namun ia masih berjibaku dengan pekerjaan nya.


" Renata." panggil Harry menghampirinya lalu duduk di sampingnya.


Renata menoleh lalu kembali fokus ke pekerjaanya.


" Belum,tadi Kakak habis selesaiin dulu urusan catring,soalnya tadi kan ada tambahan menu, ternyata kita gak nyangka tamu yang hadir sangat luar biasa banyaknya Ta,dan Kakak senang ternyata masih banyak yang sayang dan peduli sama Almarhum ayah kita." ucap Harry dengan berkaca-kaca.


Renata menghentikan kegiyatannya lalu terdiam sejenak.


" Ya. Ayah adalah orang yang baik dan Ayah adalah orang tua yang telah sukses mendidik anak-anaknya." Ucap Renata dengan menatap teduh sang Kakak.


Harry menbenarkan semua ucapan adiknya tersebut.


" Oya Kak Tania sudah tidur Kak?" tanya Renata kembali menatap perabotan rumahnya.


" Sudah dari tadi,mungkin dia kecapaean jadi dia pamit tidur duluan." Jelas Harry seraya duduk lebih menghadap ke arah Renata yang masih membenarkan posisi barang- barangnya.


" Oya Ta !tadi Kakak bertemu dengan sahabat-sahabat lamanya Almarhum ayah." ujar Harry menatap intens sang adik.


" Sahabat ayah ? siapa ka ?" tanya Renata mengernyit.


" Kamu masih ingat dengan cerita Ayah,ketika Ayah sering cerita sahabat-sahabat baiknya Ayah ?" Tanya Harry dengan menatap dalam sang adik.Renata menggangguk pelan.


" Dan kamu tau siapa sahabat-sahabat Ayah yang sering Ayah ceritakan sama kita waktu dulu itu ?" Tanya lagi Harry menatap dalam Renata.


Renata menggeleng dengan pasrah.


" Pak Bram ternyata salah satunya sahabat lama ayah yang tiada lain Papahnya Hasta." ungkap Hasta dengan wajah penuh ekspresi.


" Apa ??" Pekik Renata terkejut mulutnya menganga dengan mata terbelalak lebar.

__ADS_1


" Kaka lagi tidak bercanda kan ??" Tanya Renata dengan menatap tak percaya.


" Renata,Kakak tidak sedang bercanda,ini beneran." ujar Harry terlihat bersungguh-sungguh.


" Dan....,satu hal lagi Kakak mau bertanya sesuatu sama kamu." ucap Harry semakin menatap serius.


" Apa ka ?" Jawab Renata berdebar.


" Hmmm....,apakah kamu masih mencintai Hasta ??" tanya Harry menatap dalam ke arah sang adik yang membalas tatapan nya dengan gamang.


Sontak Renata terdiam seraya menatapi satu persatu barang-barang yang ada di hadapannya.


" Kenapa Kakak bertanya seperti itu ?" balas Renata dengan sikap yang terlihat enggan untuk menanggapinya.


" Kaka hanya ingin tau kepastian perasaan kamu saja." Tanya lagi Harry kembali,ia mencoba menyelami perasaan sang adik yang terlihat semakin gamang.


Renata menarik napas panjang lalu kembali menatap wajah sang Kakak dengan berbagai perasaan yang tertahan di hatinya.


" Ka,Walaupun aku masih mencintai Hasta tapi itu percuma saja perasaan ini tidak akan pernah bersatu,dan Kakak Harry pun tidak bisa mencabut perjanjian itu,walau aku memohon kembali sama Kakak pasti kakak akan menolak kembali permohonanku." Ucap Renata dengan mata yang mulai berkaca-kaca dengan tertunduk dalam.


Harry menatap dengan perasaan begitu berat,dan perasaan berubah iba di hatinya.


Mata Renata mulai terlihat berkaca-kaca,ia mencoba menahan buliran air matanya supaya tidak terjatuh.


" Maafkan ke egoisan Kakak,setadinya Kakak hanya ingin melindungi kamu supaya kamu tidak merasakan kecewa untuk yang kedua kalinya Ta,tapi setelah Kakak tau siapa Hasta,Kak Harry berubah pikiran,Kakak akan cabut perjanjian itu tanpa merubah kontrak pekerjaan kita." Jelas Harry dengan tersenyum penuh arti ke arah Renata yang kini sedang menyeka air matanya yang perlahan mulai jatuh menuruni lembah pipinya.


Renata tercengang mendengar penuturan dari sang Kakak.


" Kak Harry??" Pekik Renata dengan menatap tak percaya ke arah sang Kakak.Sungguh ini membuatnya sulit untuk mempercayainya.


Ia berharap ini bukan lah sebuah mimipi yang begitu indah ia alami.


Sungguh ini di luar perkiraanya kata-kata yang terucap dari mulut sang kakak bagaikan angin sengar di tengah gersangnya gurun pasir.


Renata masih menatap tak percaya ke arah wajah sang kakak yang tersenyum lembut ke arahnya,sepenuhnya ia belum bisa mempercayainya,ia benar-benar tak percaya di buatnya bibirnya terlihat bergetar hebat entah harus bagaimana ia melukiskan kebahagiannya yang sedang ia rasakan saat ini.


Hati sang kakak luluh dengan kekuatan do'anya yang selalu ia munajatkan setiap waktu.


Renata selalu berharap dan bermunajat jika memang dia bisa bersatu dengan Hasta maka dia meminta agar di permudahkan segala bentuk rintangan yang menghalangi jalinan cintanya ini,termasuk perasaan sang kakak agar bisa berubah dan bisa mencabut persyaratan dalam kontrak kerjanya itu.


Itu artinya Secara tidak langsung Harry akan merestui hubungannya dengan Hasta,kini jawaban dari segala do'anya telah TUHAN kabulkan.


Renata tak mampu berkata apapun selain hanya tersenyum bahagia di tengah isakan tangisan bahagia. Kakak akan bicarakan kembali permasalahan ini dengan Om Bram, papahnya Hasta dan Kakak akan mencabut perjanjiannya tanpa syarat."Ucap Harry dengan mengulas senyuman bahagia.Renata menatap penuh haru ke arah Harry sang Kakak.


Tentunya ini akan menjadi sebuah kebahagiann yang sangat berarti untuk dirinya.


" Kak Harry tidak sedang bercanda kan ?" Tanya Renata dengan lirih dengan nada suara terharu.


Harry menggeleng dengan pasti.


Berderailah air mata Renata membasahi kedua pipinya.


Harry tersenyum lembut seraya menatapnya dengan penuh rasa bahagia.


" Kakak...!!" ucap Renata lirih,ia menghambur kepelukan Harry dengan begitu riang.


Di peluknya sang Kakak dengan begitu erat, persaan bahagianya nya tak bisa lagi ia ungkapkan dengan kata-kata,ini adalah kebahagiaan yang begitu ia nantikan selama ini,dan kebahagian ini pun sangat sulit di gambarkan dengan apapun.

__ADS_1


Harry tersenyum penuh arti seraya membelai penuh kasih sayang Sang adik, ia tidak ingin melihat adik satu-satunya harus kembali menderita karena keegoisannya, dan tentunya ia lebih baik mengorbankan pekerjaanya ketimbang harus rela melihat sang adik menderita karena cintanya yang tak dapat ia restui.


Bersambung.


__ADS_2