
HASTA nampak sibuk dengan laptop di hadapannya.Ia terlihat serius mengerjakan tugas perkuliahannya.
Kreakk......
Tiba-tiba pintu kamarnya ada yang membuka Hasta menggeser tatapannya lalu mengarah ke arah pintu kamarnya dengan rasa penasaran.Sang Ayah menyembul dari balik pintu tersebut dengan raut wajah datar,tanpa bereaksi Hasta kembali mengalihkan pandangannya ke arah layar laptopnya kembali.
" Nanti malam keluarga besar Pak Handoko akan mengundang kita untuk makan malam." ujar sang Ayah dengan tegas.
Hasta menggeser bola matanya kembali ke arah sang papah yang berdiri tak jauh darinya,Hasta tak menjawab ia hanya terdiam menatap kembali laptopnya.
" Dan Papah berharap kamu tidak menolak undangan tersebut." ujar kembali sang Ayah.
Hasta menghela lalu menghentikan kegiatannya.
" Pah..!!" Panggil Hasta menatap lurus sang Ayah.
" Kenapa Papah begitu keras ingin menjodohkan Hasta dengan Nina ?,Hasta dengan Nina itu bersahabat Pah, kita tidak mungkin menerima perjodohan ini." ujar Hasta dengan raut wajah terlihat tidak suka.
Sang Ayah menarik napas lalu menghampiri putranya tersebut dan duduk tapat ditepi kasurnya.
" Pak Handoko itu sahabat baik Papah,dulu papah bersahabat tidak hanya dengan dia saja,tapi dengan Almarhum Pak Wisnu juga.Kita bertiga sudah sepakat jika kita mempunyai anak perempuan atau laki-laki kita akan saling menjodohkan,dan termasuk kamu." Jelas Bram dengan menatap dalam putranya tersebut, ia berharap jika putranya tersebut bisa mengerti dengan maksud dan tujuan saling menjodohkan antar putra putrinya.
Hasta menarik napas panjang ia mencoba mengatur laju napasnya yang terasa mulai sesak,ia tidak ingin kembali berseteru dengan orang tuanya.
" Pah.Emang perjodohan itu masih berlaku di jaman modern kaya gini,Gak mungkin juga kan kalau kita tidak melakukan hal itu semua kita akan kena masalah ?, Justru ini akan menjadi permasalahan yang lumayan rumit pah jika di lakukan.Nina sahabat Hasta gak mungkin Hasta nikah sama dia." ujar kembali Hasta mencoba menegaskan penolakannya.
" Tidak ada salahnya jika kamu mencoba menerima perjodohan ini,masalah cinta atau tidak cintanya itu urusan belakangan.Nanti juga cinta akan hadir dengan terbiasa.Setadinya Papah ingin menjodohkan kamu dengan anak Almarhum pak Wisnu,tapi sayang Almarhum pak Wisnu anaknya laki-laki dan tidak mungkin juga kan Papah menjodohkan kamu dengan Anak laki-lakinyan Almarhum pak Wisnu,kan gak lucu Iyaa kan ?" Jelas sang Ayah dengan tersenyum lucu.
Hasta menggeleng,candaan sang Ayah tak berlaku baginya.
" Hasta tau !jika Papah menjodohkan Hasta dengan anak teman Papah itu,semata-mata hanya ke abadian bisniskan ?" tanya Hasta menatap penuh sang Ayah.
Bram tercekat lalu menatap tajam putranya,senyuman itu seketika menyurut.
" Hati-hati jika kamu bicara, Papah sengaja menjodohkan kamu sama Nina hanya ingin mempererat tali persahabatan Papah dengan sahabat Papah."Ucap pak Bram dengan suara meninggi.
Hasta tersenyum kecut mendengar ucapan sang Ayah.
" Ada banyak cara pah,untuk menjaga persahabatan Papah dengan teman-teman Papah itu,tidak dengan cara seperti ini,kami sebagai anak-anaknya memiliki kebebasan untuk memilih jalan hidup kami." ungkap Hasta penuh penekanan.
" Jadi kamu sudah merasa benar sendiri ? Dan tidak ingin ikut aturan orang tua kamu ?" tanya Bram dengan nada kesal.
" Papah dan pak Handoko sama -sama egois nyatanya, tidak memikirkan perasaan anak-anaknya.Seharusnya pemikiran seperti itu tidak di pakai lagi,Persahabat papah sama pak Handoko akan tetap langgeng tanpa harus memaksakan kehendak anak-anaknya Pah." Jelas Hasta dengan sorot mata geram.
" Jadi kamu sekarang sudah berani mengatur keputusan Papah ? Intinya Papah akan tetap menjodohkan kalian,dan kamu tidak usah mengajarkan Papah untuk masalah persahabatan.NGERTI." Ucap Sang Ayah bangkit lalu dengan raut wajah gusar ia melangkah keluar meninggalkan Hasta yang tertegun.
Hasta menarik napas panjanng begitu Berat jika ia harus melawan keras hatinya sang Ayah,dan keputusan nya benar-benar tidak bisa ditentang lagi.
Hasta menatap layar lapotopnya dengan perasaan frustasi,akan kah perjodohan ini tak bisa lagi di negoisasi ?
Hasta semakin terlihat Depresi,baru saja ia bisa kembali berdamai dengan Renata dan perempuan itu bersedia baikan dengan dirinya,tapi lagi-lagi sang Ayah meruntuhkan kembali rasa bahagia tersebut.
Hasta menyandarkan tubuhnya di sandaran kursinya dengan kasar,tak terbayangkan sebelumnya jika dirinya harus terjebak dalam cinta yang serumit ini.
.................
Pertemuan keluarga besar.
Malam ini Nina terlihat begitu anggun dengan menggunakan dres selutut yang bernuansa rosgold,Rambutnya terlihat dibiarkan tergerai begitu saja dengan poni sedikit menyamping.
Pipinya yang merona terkesan semakin memancarkan kecantikannya.
Hasta duduk percis di hadapanya dengan tersenyum hampa ke arah keluarga besar orang tuanya Nina.
Meski antara kedua keluarga besar itu terlihat saling akrab,namun bagi Hasta maupun Nina terasa asing.
Sementara kedua keluarga besar itu masih asik saling bercengkrama dalam acara makan malam yang cukup istimewa.
Namun Nina masih terlihat menatap kaku ke arah Hasta yang duduk bersebrangan dengannya.
Meski mereka telah menolak satu sama lain,tapi ke adaan lah memaksa mereka untuk terus saling bertemu.
Diam-diam Nina memperhatikan wajah gantengnya Hasta yang semakin hari semakin terlihat begitu menawan.Entahlah rasanya kegantengan Hasta semakin menggoda egonya untuk terus ingin memilikinya.
Dan Inilah sosok lelaki yang telah memporak porandakan hatinya,serta sosok lelaki ini lah yang menahan perasaannya sekian lama untuk menjaga hatinya dari para lelaki lainnya selain Hasta.
Kesesempatan ini seharusnya menjadi kesempatan emas bagi dirinya untuk mendapatkan seorang Hasta,dan seharusnya kesempatan ini tak di sia-siakan olehnya untuk mendapatkan sosok lelaki yang sangat ia idam- idamkan selama ini.
Yaa momen inilah seharusnya menjadi momen yang paling menguntungkan bagidirinya,mengingat ia telah berkorban banyak atas perasaanya selama ini.Satu-satunya cara untuk mendapatkan seorang Hasta hanya dengan perjodohan ini,tentunya perjodohan ini akan menelan segala penderitaanya yang terpendam selama ini.
Yaa selama ini Nina memendam perasaan itu hingga waktu mempertemukan dia dengan Hasta melalui perjodohan.Bukankah hal ini merupakan Surpice dari TUHAN ??
Nina terdiam merasakan peperangan yang begitu hebat di dalam batinnya.
__ADS_1
" Nin.." Panggil Hasta setengah berbisik dan itu cukup menginterupsi lamunannya,Nina mengangkat wajahnya lalu mengalihkan pandangannya ke hal yang lain.
" Suutt..." kembali Hasta memanggilnya.Nina terperangah dan segera menatap Hasta yang sedang memandanginya sedari tadi.
" Apa..?" Tanya Nina mendongkakkan dagu runcingnya ke arah Hasta.Seketika Hasta dapat menangkap jelas garis wajah Nina yang malam ini memang terlihat sangat cantik dengan penampilan yang berbeda.
Otak nakalnya berkerja cepat ketika perasaan itu terasa berbeda di hatinya.Bukankah hal yang romantis jika ia mengajak pergi Nina untuk keluar sekedar menikmati dinginnya angin malam.Hasta membatin.
Yaa Nina yang sekarang bukanlah Nina yang dulu ia kenal, kini penampilannya 180° telah berubah.
Dari ujung kaki hingga ujung kepala perempuan ini sungguh terlihat menawan.
Dengan cepat Hasta mendundukan pandangannya ia merasa terhipnotis dengan bibir merah Nina yang begitu merekah seakan-akan menggodanya untuk ********** habis.
Hati kecil dan otak nakalnya saling berperang berlawanan.Otak nakalnya mendorong ia untuk melakukan kembali hal-hal yang tak akan pernah ia ulangi setelah bertemu dengan seoarang Renata.
Hal seperti ini memang sudah lama ia tinggalkan,bayang-bayang kelam itu tak ingin ia jalani kembali,ia hanya ingin setia dan tidak ingin melakukan segala sesuatu di bawah sadarnya.
Jujur saja selama ia berpacaran dengan Renata ia tidak berani untuk melakukan hal-hal yang di luar kebiasaan nya,karena perubahan ini membuatnya lebih bisa menjaga dan menghormati seorang perempuan.
Dalam hubungan kali ini pun Hasta menginginkan Renata sepenuhnya menjadi miliknya ketika ia kelak sudah di sandingkan dengannya.
Hasta terlihat resah,melipat bibir tebalnya dalam-dalam lalu di pandanginya kembali wajah Nina yang masih menatapnya dengan penuh menggoda.
Tatapan nakalnya membuat Hasta menahan laju napasnya yang terlihat naik turun.
Entahlah,kali ini perempuan itu terlihat nakal di matanya,
Hasta menekan kuat slavinanya,Nina terkesan sedang menggodanya.
Hasta kembali berspekulasi,kenapa ada yang berbeda dari cara tatapan sahabatnya tersebut,atau hanya respon yang sesaat saja ?
Hasta menegang,ketika melihat caranya Nina meminum segelas air dengan begitu anggunnya.
Hasta meradang,sadar atau tidak pikiran kini tak lagi bersamanya.
"Yaa TUHAN kenapa gue begitu terpesona melihat kecantikan Nina malam ini."
Hasta membatin.
Demi untuk mengusir perasaanya yang tak jelas,Hasta menggeleng lalu memejamkan matanya ia mencoba mengalihkan semua pikiran nakalnya dengan menghadirkan sosok wajah Renata dalam benaknya,ia tak ingin bertindak di luar kemampuannya.
Nina memutuskan untuk menghampiri Hasta yang terlihat salah tingkah.
" Has !" panggil Nina seraya duduk tepat di hadapannya.
Hasta mendongkak lalu menatap jelas wajah perempuan tsrsebut.
Hasta memias ketika Nina duduk di dekatnya.
" Kedinginan gue.,huh" ujar Hasta dengan membetulkan kacing kemeja putihnya.
Nina mengernyit,lalu tersenyum penuh ledekan.
" Kedinginan ?? sepanas gini JAKARTA kamu bilang kedinginan,kamu memang aneh." ujar Nina dengan menyungginkan senyumannya.
"Oh TUHAN kenapa gue jadi gelisah gini sih,Oh Nina lo bikin gue semaput."
Guman Hasta kembali di dalam hatinya dan pun terlihat semakin salah tingkah di buatnya.
" Gue merasa kedinginan ketika melihat elo berpenampilan seperti ini.Malam ini elo terlihat sangat cantik." puji Hasta dengan tersenyum penuh arti.
Nina mengernyit dengan menatap tak percaya.
" Kurasa kamu sedang meledekku." ucap Nina tersipu.
Entah kenapa pujian Hasta membekas di hatinya.
" Sumpah !! Gue tidak sedang meledek elo,malam ini elo memang berbeda." ujar Hasta dengan bersikap so manis.
" Nah,nah,mulai ya kamu,tapi maaf aku tidak akan tergoda dengan pujianmu Has." ujar Nina tersenyum tipis.
" Gue tidak menggoda elo,hanya saja gue sedang berkata jujur dengan apa yang gue lihat." ucap kembali Hasta dengan gaya khasnya membuat Nina melayang jauh ke awan atas pujian Hasta yang begitu memukau.
" Kamu memang belum berubah seutuhnya,memuji perempuan hingga jatuh hati." ujar Nina tersenyum lebar.
Hasta terkesima ketika perempuan itu tersenyum lebar,memperlihatkan barisan giginya yang rapih.
Hasta tersenyum hampa,perasaanya kian dilema,entahlah perasaanya kian tak karuan ketika melihat senyuman Nina berhasil mengusik hatinya.
" Nin.elo setuju dengan perjodohan ini ?" Tanya Hasta menatap lurus Nina.Sejenak Nina menyurutkan senyumannya lalu terdiam menggigit sedikit bibir wajahnya seraya menatap lepas ke arah keluarganya yang masih asik ngobrol bersama keluarga Hasta.
Hasta menelan air ludahnya tatkala melihat ekspresi wajah Nina yang sontak mengundang slavinanya naik turun.Entahlah sepertinya malam ini Nina benar-benar telah membangkitkan perasaan nakalnya.
" Sejujurnya..," Ucapan Nina menggantung ia mengalihkan pandangannya ke dalam wajah Hasta yang sedari tadi masih memandanginya sekaligus menikmati kecantikannya.
Hasta mengernyitkan kedua alisnya sehingga jaraknya semkin dekat ia menanti kelanjutan dari ucapan nya Nina.
" Has.Sejujurnya buat aku pribadi dengan adanya perjodohan ini aku merasa terbantu." ungkap Nina dengan mengalihkan pandangannya ke hidangan yang ada di meja.
" Maksud lo ?" Tanya Hasta tak paham.
__ADS_1
Nina menghela memberanikan diri untuk berkata yang sebenarnya.
" Sebenarnya ini adalah kesempatan baik untukku, mendapatkan cinta kamu has,Karna... karna aku selama ini mencintaimu." Ucap Nina terbata,wajahnya terlihat menahan perasaan yang tak biasa.
Hasta terdiam mendadak lidahnya menjadi kelu.
Nina terdiam seraya menundukan kepalanya agar Hasta tidak melihat rona wajahnya yang menahan rasa malu.
Hasta menghela mendengar penuturan dari Nina,seperti ada yang berdesir hebat dalam aliran darahnya yang melaju cepat menuju jatungnya.
Kini ia mendengar langsung pengakuan dari sahabatnya tersebut.
Nina menyimpan perasaan besar untuk dirinya.
Ternyata tak mudah bagi seorang Nina untuk melupakan seorang Hasta begitu saja.
" Jadi apa yang dikatakan Bony itu benar.Lo masih menyimpan perasaan lo buat gue.?" Tanya Hasta dengan menatap nanar.
Nina mengangkat pandangannya lalu kembali tertunduk seraya meremas jari jemarinya.
Hasta terlihat memijat pelan dahinya dengan perasaan yang sulit di jelaskan.
" Tapi aku tidak bisa menyakiti hati Renata." Sela Nina semakin terlihat sedih.
" Aku tau,Nina telah banyak menolongku dan dia terlalu baik untukku Has,kebaikan dia tak mungkin aku balas dengan sebuah penghianatan." Ucap Nina dengan perasaan berat.
Hasta mengela napas berat seolah-olah ia merasakan ada sesuatu benda berat menimpanya.
" Gue sayang Renata Nin,dan gue gak mau kehilangan dia."Ucap Hasta dengan suara bergetar.
Nina memejamkan matanya mendengar ucapan yang begitu pahit ia rasakan.
" Gue tidak bisa membagi perasaan ini,gue tetap menganggap elo sebagai sahabat baik gue,sampai kapan pun." ucap Hasta parau.
Hasta sadar semakin ia memberi harapan kepada Nina.Maka peluang besar kemungkinan Nina akan merasakan rasa kecewa yang begitu dalam dari dirinya.
Nina menelan kuat slavinanya,ia kecewa bahkan Kata-kata yang di ucapkan Hasta mampu menghujam hatinya begitu dalam.
Bahkan ucapannya telah mematahkan harapannya untuk bisa berjuang memilikinya.
Nina merutuk dalam batinnya,memaki seluruh perasaanya,hanya buang-buang waktu dia mencintai orang yang tak pernah mencintainya.
Perlahan ada yang merembas di dalam hatinya,setidaknya apa yang di ucapan Hasta mampu berkesan,meninggalkan luka di hatinya.Bak sebuah perisai yang menancap di dalam hatinya.
Ingin rasanya Nina langsung menitikan air matanya tepat di hadapan Hasta.Namun ia merasa hanya akan mempermalukan dirinya saja,betapa begitu Bucin dirinya sehingga harus mengeluarkan air matanya di hadapan lelaki yang sangat ia cintai.
" Aku tau itu." Ucap Nina pelan,ia memalingkan wajahhnya ke arah yang lain.
" Buat kamu Renata adalah segalanya,dan tak mungkin kamu akan berpaling darinya." ungkap Nina tersenyum getir.
" Maaf kan gue Nin,gue tidak bermaksud menyakiti hati lo dengan apa yang gue katakan." ungkap Hasta menatap iba.
" It's oke,aku baik-baik saja." balas Nina tersenyum pahit.
" Aku yakin kalian bisa bersatu apapun itu rintangannya Has." Ucap Nina dengan nada bicara yang begitu berat,sepertinya ia tak mampu untuk menatap kembali wajahnya Hasta.
" Dari itu,gue butuh pertolongan elo untuk menghentikan perjodohan ini." Ucap Hasta dengan berusaha menangkap jelas raut wajah Nina yang terus menghindarinya.
" Nin ,!" panggil Hasta lembut,ia berharap Nina mau menatapnya.
Akhirnya Nina pun memberanikan diri untuk menatap lurus ke wajah Hasta dengan perasaan ragu.
Nina menangkap jelas raut wajah pria tampan itu terlihat sedang mengiba kepadanya.
Entahlah Nina merasa tak bisa menolak akan permintaanya namun betapa tersayat hatinya ketika ia memandangi wajah yang selalu menari-nari di benaknya dengan tegas tidak mencintainya sama sekali.
Nina sadar Hasta tak mungkin bisa berpaling dari seorang Renata.
Lalu apa lah artinya pengorbanan nya selama ini,yang telah merubah segala penampilannya hanya untuk terlihat lain di mata Hasta.
Meski Renata memang hanya berpenampilan sederhana tapi ia mampu menjugkar balikan dunianya seorang Hasta.Ada yang spesial dari diri seorang Renata yang mampu membuat Hasta bertekuk lutut dihadapannya dan itu tidak ada pada dirinya serta wanita-wanita lainnya.
" Kalian asik bener ngobrol berduaan terus ?mulai nyambung kayanya nih." ucap Handoko Ayah Nina tiba-tiba sudah berdiri di hadapan Nina serta Hasta,lalu di susul oleh Bram sang Ayah Hasta ikut berdiri di belakangnya.
" Ayah!" Pekik Nina mendongkak,lalu berusaha untuk tersenyum.
" Gimana kalian sudah nyambung ?" tanya Bram membagi pandangannya kearah keduanya.
Hasta dan Nina hanya saling berpandangan satu sama lain dengan senyuman tak pasti.
" Mudah-mudahan pertemuan nanti,kita akan menentukan tanggal pertunangan,iya kan Bram." Jelas pak Handoko dengan tersenyum lembut menatap putri kesayangannya.
Bram tersenyum hangat seraya mengangguk-anggukan kepalanya tanda setuju dengan apa hang di ucapkan sahabatnya tersebut.
Nina begitu Hasta terperangah mendengar ucapannya Handoko.
Hasta kembali menatap Nina dengan berbagai perasaan.
" Yaa,jika sudah seperti ini,itu artinya sudah ada tanda- tanda akan ada kelanjutannya,secara kalian kan sudah saling mengenal jadi tidak akan merasa canggung lagi,benar kan Han ?" tanya Bram menoleh ke arah Handoko yang merangkul erat pundak putrinya tersebut.
Handoko mengangguk sedangkan Nina tersenyum kaku sekaligus tegang mendengar pernyaraan Ayahnya Hasta.
__ADS_1
Hasta menatap lurus ke arah sang Ayah dengan sorot mata tidak suka,Seolah-olah ia ingin menentang langsung dengan apa yang telah di ucapan sang Ayahnya tersebut.
Sementara para istri dari Handoko dan Bram hanya memandangi dengan tersenyum penuh arti.