Satu Hati Dua Rasa

Satu Hati Dua Rasa
Episode 11


__ADS_3

#Happy Reading's🌻


.


.


.


"Hey-hey... Kenapa kalian terkejut? Kayak ngeliat hantu aja." Ujar Ansel, berusaha mencairkan suasana.


"Lo ngapain disini?" Tanya Nara dengan ketus, lalu di senggol halus oleh Viana.


"Hohoho... Memangnya kenapa? Bukankah ini tempat umum?" Jawab Ansel dengan senyum smirk nya.


"Haish... Udahlah, lo mau pesen apa?" Tanya Nara kembali dengan menahan emosinya.


"Hei Nara... Kamu sebaiknya menawarkan aku duduk dulu, baru setelah itu menawarkan ku makanan." Ujar Ansel yang sengaja ingin membuat Nara kesal.


"Baiklah, tuan Ansel yang terhormat... Silahkan duduk di meja dan kursi yang anda inginkan, setelah itu aku akan membuatkan pesanan mu tuan." Nara berusaha tersenyum semanis mungkin. Dimata Ansel itu terlihat senyuman dengan paksa, tetapi tetap saja terlihat menggemaskan menurutnya.


"Oke, aku akan duduk di meja kasir ini bersama Viana ku yang cantik." Ucap Ansel dengan menggoda.


Nara dan Viana yang mendengar itu pun sangat terkejut. Nara membulatkan kedua matanya dengan sempurna, begitupun dengan Viana membulatkan mata dan mulutnya karna tak percaya Ansel menyebutnya dengan sebutan Viana ku. Viana terlihat bersemu merah di kedua pipinya, dan itu membuatnya sangat menggemaskan. Ansel yang melihat ekspresi keduanya pun terkekeh geli.


"GAK BOLEH! Lo kan tau ini bukan tempat duduk pengunjung! Tempat pengunjung tuh disana!" Nara menunjukkan meja-meja di sekitar restoran.


"Tapikan gue pengennya disini!" Kekeh Ansel dengan menarik sebuah kursi, dan duduk berhadapan dengan Viana.


( Author ganti kata aku-kamu, jadi gue-lo yah untuk bentukan percakapan Ansel. Kurang etis kalo Ansel tetep pake bahasa Formal aku-kamu😆 )


"Lo ngeyel banget ya cobul gila!" Kesal Nara.


"Kenapa? Lo cemburu yah liat gue deket sama Viana? Gapapa ngaku aja..." Dengan pede nya Ansel berkata seperti itu pada Nara. Membuat darah Nara semakin naik karna kesal.


"WHAT?! CEMBURU?! Lo makin konslet otaknya ya cobul gila! Hah terserah lo aja deh! Mau duduk di meja kasir kek, di kebun binatang kek, ataupun di trotoar kek, terserah lo!" Kesal Nara.

__ADS_1


"Pfftt, baiklah sekarang gue mau pesen coffe latte dua, sama spageti saus tomat dua." Pesan Ansel.


"Gue gak nyangka, ternyata selain lo gila... Lo juga rakus!" Kekehan Nara sembari mencatat pesanan Ansel.


"Satunya bukan pesenan gue. Satunya, gue pesanin buat Viana." Ucap Ansel sembari menatap Viana dengan penuh arti, membuat Viana salah tingkah karnanya.


"Bu... Buat gue? Ah gak usah lah Ansel..." Tolak halus Viana yang merasa tidak enak. Jelas saja tidak enak, ia tidak bisa makan di jam kerjanya.


"Tidak apa-apa Viana... Gak usah takut sama atasan lo. Gue akan bertanggung jawab kalo lo kena marah sama atasan lo." Ujar Ansel yang sudah tahu, mengapa Viana menolak pesanannya. Sedangkan Nara yang melihat adegan itu hanya memutarkan matanya saja dengan malas.


"Udah? Kalo cuma itu pesenan lo, gue kebelakang dulu buat nyerahin pesanan lo." Ketika Nara hendak beranjak pergi, Ansel mencegahnya.


"Tunggu Nara..." Panggil Ansel pada Nara. Dan Nara pun membalikan badannya.


"Iya? Apa ada yang ingin anda butuhkan lagi tuan?" Formal Nara pada Ansel.


"Lo juga bisa buat pesenan untuk diri lo sendiri, biar gue yang bayar. Kita makan bareng-bareng disini bertiga." Ucap Ansel.


"Gak usah! Gue disini kerja bukan buat makan! jadi, gak usah repot-repot!" Nara bertambah kesal dengan penuturan Ansel. Ansel pun terkekeh melihatnya, sedangkan Viana? Ia malah merasa tidak enak hati mendengar ucapan Nara yang seakan-akan menyindirnya, tetapi itu hanya perasaan Viana saja. Nara sebenarnya tidak ada niatan seperti itu. Ia hanya merasa kesal saja pada Ansel, yang berbuat seenaknya saja.


"Eumm... Apa gue salah ya, nerima tawaran lo untuk makan bareng?" Jawab Viana dengan jujur, karna ia masih memikirkan perkataan Nara barusan.


"Lo gak salah Vi... Dianya aja terlalu gengsi buat nerima tawaran gue. Jadi, lo gak usah merasa bersalah yah." Bujuk Ansel sembari mengelus kepala Viana dengan lembut, dan Viana pun tersenyum setelah mendengar penjelasan Ansel. Hatinya merasa tenang ketika Ansel mengelus kepalanya, hati Viana berdegub kencang ketika Ansel mulai mengelus bagian pipi kanannya. Dengan segera Viana menyingkirkan tangan Ansel pada pipinya.


"Ah gue minta maaf..." ucap Ansel dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu.


"Gak apa-apa..." Senyum malu Viana.


Nara yang berada di belakang tepatnya di dapur, melihat semua kejadian itu. Ruang dapur itu memperlihatkan bagian luar dengan jelas layaknya sebuah kaca, sedangkan jika terlihat dari luar itu terlihat gelap. Nara yang melihatnya pun sangat mencurigai Ansel, terlihat hanya mempermainkan sahabat nya itu.


Nara berfikir bagaimana caranya, ia bisa mengetahui apa rencana dan motif Ansel mendekati Viana. Nara sangat tahu betul, jika Ansel terlihat memiliki motif untuk mendekati Viana. Ia ingin memberitahu firasatnya kepada Viana terhadap Ansel, dan Nara pun berencana untuk menjauhkan Viana dari Ansel.


"Gue harus menjauhkan Ansel dari Viana, bagaimana pun juga. Gue gak mau kisah gue terulang, dan itu dirasakan oleh Viana. Tidak-tidak! Gue harus memberitahu Viana secepatnya tentang firasat gue ini, kalau Ansel bukan pria yang baik." Ucap Nara dengan tangguh, dan ia pun kembali untuk memberikan pesenan Ansel.


"Silahkan... Kalian nikmati makanannya." Ujar Nara dengan profesional. Dan Nara pun beranjak dari tempat itu, dan ia menghampiri pengunjung-pengunjung lainnya.

__ADS_1


Setelah selesai di jam kerja, Nara dan Viana pun telah berada di rumah kontrakan mereka. Mereka saling diam satu sama lain, karna kejadian di restoran tadi. Dan Nara pun tak tahan dengan diamnya mereka, ia pun menghampiri Viana di kamarnya.


Tok... Tok... Tok...


"Masuk aja, gak di kunci kok." Ucap Viana yang sedang mengeringkan rambut nya, karna ia terlihat sudah mandi.


"Vi..."


"Ada apa Ra?" Tanya Viana yang melihat Nara sudah duduk di tepi ranjangnya, dan Viana pun duduk disampingnya.


"Lo kenapa?" Tanya Nara.


"Gue? Gue gak kenapa-napa... Memangnya kenapa?" Tanya balik Viana.


"Ya enggak, lo dari tadi diem aja gak biasanya..."


"Bukannya lo yang diemin gue?" Tanya balik Viana kembali.


"Lah... Kok lo nanya balik sih? Huh... Pasti salah paham ini. Coba ceritain ke gue, kenapa lo ngira gue yang diemin lo?" Tanya Nara.


"Ya, gue kira lo marah gara-gara gue nerima tawaran Ansel buat makan bareng." Lirih Viana.


"WHAT? Gue gak salah denger Vi? Gue marah sama lo gara-gara si cobul gila bin konslet itu? Wahh otak lo tercemar konslet juga ini... Gak mungkin lah! Buat ucapan gue tadi itu, gue tujuin ke si Cobul gila itu bukan ke lo Vi..." Jelas Nara.


"Gue kira lo marahnya sama gue juga." Cemberut Viana yang membuat Nara gemas.


"Ya enggak lah... Buat apa gue marah sama sahabat gue yang tersayang ini tanpa alasan!" Nara dengan gemas nya mecubit kedua pipi Viana.


"Aw... Aw... Duh Ra, kebiasaan deh lo cubitin pipi gue ini! Kalo pipi gue longgar kebawah kayak nenek-nenek gimana? Kan berabe urusannya!" Celoteh Viana yang kesal dengan Nara yang selalu mencubit kedua pipinya itu. Dan mereka pun tertawa bersama.


.


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2