
#Happy Reading's🌻
.
.
.
Pagi harinya.
Nara menggeliat ketika matahari menerpa wajahnya. Ia merasakan sakit sebelah di tubuhnya.
"Hoam... Aduh, pegel banget badan sebelah gue!" Nara merenggangkan badan nya.
"Eh tunggu... Ini apa yang empuk-empuk?!" Nara menjatuhkan bokong nya beberapa kali di pangkuan Ansel, sampai-sampai Ansel terbangun merasakan hal aneh di tubuhnya.
"Oh shit! Berhentilah bergerak!" Ucap Ansel meringis. Nara tak sengaja mengenjot-ngenjot bagian sensitif nya.
"AAHHH!!!" Teriak Nara. Ia sadar jika dirinya sedang berada di pangkuan Ansel. Ia pun memutar kembali ingatan semalam. Nara menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Astaga!! Lo ngapain di situ?!" Teriak Nara tetapi ia lupa belum mengubah posisinya.
Ansel tertekan dengan itu. "Bisa gak, turun dulu?!" Ansel menahan nafasnya karna area sensitif nya tertekan Nara.
"Astaga!!" Nara langsung berdiri.
"Huft, yang sabar ya dek... Abis ini kita solo karir!" Lirih Ansel menghela nafasnya.
"Adek?" Bingung Nara mendengar lirihan Ansel.
"Oh ya ampun!!! Kita kan masih di dalam gudang?!" Nara berlari ke pintu gudang dan mencoba membuka pintu nya. Tapi tetap masih tidak terbuka.
Ansel pun bangkit dari duduknya dan merapihkan pakaiannya yang sudah acak-acakan. Ia pun menghampiri Nara yang sedang berusaha membuka pintu dan sekali-kali menggedornya.
"Apa ada orang di luar?! Hello....?" Teriak Nara menggedor-gedor pintu.
"ADA ORANG DI LUAR?!" Teriak Ansel dengan suara baritonnya. Nara sempat kaget mendengar teriak Ansel yang dua kali lipat lebih kencang dari suaranya.
"Ya ampun... Dari tadi kek teriak! Kan kalo gitu teriakannya bisa kedenger sampe lobi depan!" Gerutu Nara.
"Sebenarnya sih aku gak mau teriak-teriak kayak gini. Mending di sini kan bareng kamu berduaan." Ansel menaikkan alisnya seraya tersenyum devil, membuat Nara bergidik ngeri.
"Hih!" Bergidik Nara. Lalu ia kembali teriak di ikuti oleh Ansel.
Tak selang beberapa lama dari itu, suara langkah dari luar terdengar. Nara tak ingin kesempatan itu berakhir, ia pun berteriak sekencang-kencangnya. Dan akhirnya pintu itu di buka kan oleh seorang satpam yang bertugas.
"Kalian ngapain di gudang?" Tanya satpam itu setelah membukakan pintu.
"Kita ke kunci pak dari semalam." Jelas Nara.
"Ke kunci? Pintunya rusak ya?" Tanya pak satpam itu sembari mengecek-ngecek pintunya.
"Wah ini sih bener rusak... Ya sudah, nanti saya akan perbaiki ini." Ujar pak satpam itu.
"Terimakasih pak, saya permisi dulu." Nara langsung ke luar.
"Terimakasih pak..." Ucap Ansel juga. Ia mengikuti Nara dari belakang.
Nara berjalan menuju ruangannya. Ia pun mengambil barang-barangnya disana. Sesudah mengambil barang-barang nya, ia di kejutkan dengan adanya Ansel yang sedang menyenderkan punggung nya di ambang pintu ruangannya.
"Ngapain lo di sini?" Tanya Nara menghampiri Ansel.
"Nunggu kamu." Ujar Ansel serah tersenyum.
"Cih, ngapain pake nunggu segala. Gue bisa kok pulang sendiri!" Nara melewati Ansel.
Ansel mengejar Nara. Ia memegang tangan Nara dan menuntunnya dengan paksa ke basemant parkiran dimana mobilnya terparkir disana.
"Hey-hey... Lepasin tangan gue! Gue gak mau ikut sama lo!" Teriak Nara.
"Lo harus pulang sama gue!" Sergah Ansel memaksa.
"Dasar cobul gila! Pemaksa! Kalo lo gak mau lepasin gue, gue bakal teriak!" Ancam Nara. Ia masih mengikuti Ansel yng menarik tangannya. Sampai masuk ke sebuah lift.
"Teriak aja, aku gak takut! Percuma juga teriak, kan kantor hari ini libur. Jadi gak ada siapun yang akan dengerin teriakan mu! Pak satpam kan tidak ada di sekitar sini." Ujar Ansel yang sudah sampai di lantai basemant.
__ADS_1
"Huft, sabar Nara... Sabar! Anggap aja gue dapet tumpangan gratis." Hela Nara. Ia pun mengikuti keinginan Ansel untuk pulang bersama.
Di perjalanan, Nara dan Ansel saling diam. Tidak ada obrolan apapun di antara keduanya.
Drrttt... Drrtt...
Nara merasakan ponselnya bergetar di dalam tas nya. Ia pun membuka tasnya dan mengambil ponsel nya.
"Astaga! Aku lupa ngabarin Bayu!" Nara terkejut melihat nama yang tertera di notifikasi ponselnya. Ada seratus lebih telpon dari Bayu, dan dua ratus pesan notifikasi dari Bayu.
Nara membalas pesan notifikasi dari Bayu. Ia mengatakan jika dirinya akan menjelaskan kejadian semalam pada Bayu. Nara juga meminta Bayu untuk menemuinya di rumah nya.
"Apa hubungan kamu dengan Bayu?" Ucap Ansel yang tak sengaja mendengar lirihan Nara.
"Gak usah kepo!" Ketus Nara.
"Dasar pelit!" Kesal Ansel.
"Terserah!" Nara memalingkan wajahnya ke arah jendela mobil.
"Awas aja kalo benar-benar ada hubungan spesial!" Batin Ansel kesal seraya melirik Nara dari samping.
Sesampainya di rumah Nara, ia langsung turun dari mobil Ansel. Ia juga tak lupa untuk berterimakasih pada Ansel. Walaupun hatinya selalu dongkol dengan Ansel, tapi Nara masih punya rasa empati untuk berterimakasih.
Ansel pun melajukan mobilnya menuju rumahnya. Baru saja Nara duduk di sofanya untuk merehatkan tubuhnya, tiba-tiba saja suara ketukan pintu berbunyi. Nara dengan malas membukanya.
"Bayu?" Ujar Nara melihat Bayu yang sudah di depannya.
"Nara..." Bayu langsung memeluk Nara.
"Kamu gak apa-apa kan?" Bayu membulak-balikkan tubuh Nara mengecek setiap sela tubuh Nara untuk memastikan jika Nara baik-baik saja.
"Aku gak apa-apa kok Bay..." Senyum Nara melihat kekhawatiran di wajah Bayu.
"Syukurlah... Apa yang terjadi semalam? Kenapa kamu gak balas telpon sama sms aku?" Cecar Bayu menanyai Nara.
"Duduk dulu..."
Nara mempersilahkan Bayu duduk di kursi teras terlebih dahulu sebelum Nara menceritakan kejadian. Setalh keduanya duduk, Nara memulai cerita. Ia menceritakan semua kejadian itu pada Bayu. Tetapi Nara tak menyebutkan bahwa Ansel sempat memeluknya, bahkan tidur di pelukannya sampai pagi hari.
"Aku juga gak tau. Mungkin dia ada urusan sama pak Tian. Tapi kalo di pikir-pikir... Pak Tian kan gak ada jadwal lembur. Aku gak tau, apa motif Ansel ke perusahaan ku." Jawab Nara.
"Yasudahlah... Jangan di pikirkan lagi. Yang terpenting, kamu tak apa-apa." Ucap lembut Bayu.
"Iya, terimakasih sudah mengkhawatirkan aku."
"Itu sudah kewajiban ku sebagai kekasihmu... Dan juga, rasa cinta aku ke kamu." Ucap Bayu kembali. Nara hanya tersenyum mendengar itu.
"Oh ya, malam ini kamu ada acara gak?" Tanya Bayu.
"Emm, gak ada deh. Memangnya ada apa?"
"Aku mau ngajak kamu nonton. Anggap aja, itu kencan pertama kita." Ujn Bayu.
"Ide bagus! Oke, nanti malam kita nonton." Senyum manis Nara.
"Jangan tersenyum." Ucap Bayu melihat Nara tersenyum begitu manisnya.
"Hah? Kenapa?" Tanya Nara bingung menghentikan senyumannya.
"Senyum mu terlalu manis... Aku takut terkena diabetes." Gurau Bayu.
"Haish... Dasar!" Nara dan Bayu pun tersenyum ria.
"Yaudah, aku pulang dulu ya... Aku akan kesini lagi nanti malam. Kamu harus dandan yang cantik." Bayu mengedipkan sebelah matanya menggoda Nara.
"Baiklah..." Senyum Nara.
Malam harinya
Ansel kini sedang menikmati udara malam di balkon kamarnya. Ia tak pulang ke apartemen nya, melainkan ia pulang ke mansion utama karna mom Riani memintanya untuk ke mansion.
"Ansel..." Panggil Riani mengetuk pintu kamar Ansel.
"Iya mom?" Jawab Ansel menghampiri pintu dan membukanya.
__ADS_1
"Ans, antar mommy yuk ke mall..." Pinta Riani.
"Males ah mom! Mending sama daddy aja." Tolak Ansel.
"Daddy mu sedang di luar kota! Jadi kamu yang harus temani mommy ke mall. Pokoknya kamu harus antar mom! Gak ada bantahan! Cepat ganti pakaian mu, mommy tunggu di bawah." Perintah Riani tanpa di ganggu gugat.
"Haeh... Gini nih, nasib punya mommy pemaksa!" Lirih Ansel mengeluh. Tanpa sadar, jika dirinya pun seorang pemaksa.
"ANSEL CEPETAN! GAK USAH NGELUH TERUS!" Teriak Riani dari bawah.
"Hah? Gimana mommy bisa tau aku ngeluh?! Ah mending cepet-cepet ganti baju... Dari pada kena lempar sepatu!" Ansel pun menutup pintunya dan berganti pakaian.
......
Nara sudah berdandan dengan sangat cantik. Ia memakai dress selutut berwarna tosca. Rambutnya sengaja ia gerai hanya memakaikan jepit kecil di sebelah rambutnya. Nara hanya memoleskan wajahnya tipis saja, tidak menor-menor karna ia sangat tak suka dengan itu.
"Selesai..." Ujar Nara setelah selesai sedikit memoleskan bibirnya dengan lipstik.
Tin... Tin...
Bayu membunyikan klakson motornya, dan Nara menghampiri nya kedepan. Bayu melihat Nara begitu terpukau dengan kecantikannya yang sungguh mempesona. Bayu yak berkedip sekalipun, melihat sosok ciptaan tuhan di depan matanya yang begitu indah.
"Bagaimana?" Tanya Nara.
"Perfect!!" Bayu membulatkan jari nya (👌).
"Benarkah?" Tanya Nara memastikan.
"Benar... Kamu sangat cantik malam ini. Sampai-sampai, aku ingin sekali menyembunyikan mu di sebuah tempat agar hanya aku yang bisa melihat kecantikan mu saja..." Gombal Bayu.
"Dasar gombal!" Nara memukul pelan lengan Bayu karna gemas.
"Hahaha... Yasudah, ayo." Pinta Bayu.
"Tapi, gimana naiknya? Kan aku pakaian dress pendek."
"Pakai ini." Bayu membuka jaketnya dan memberikannya pada Nara untuk menutupi pahanya.
Mereka pun pergi menuju mall. Setelah sampai di mall, Bayu dan Nara segera memesan tiket nonton mereka. Sambil menunggu giliran mereka masuk, Bayu dan Nara terlebih dahulu ke sebuah cafe mall untuk mengisi perut mereka.
"Mom!! Udah dong... Ans capek nih! Belanjaan mom kan udah banyak banget..." Keluh Ansel seraya menjinjing beberapa belanjaan mom nya Riani.
"Bentar... Mommy mau beli sepatu dulu. Cuman sepatu doang kok ini." Riani memandu di depan, sedangkan Ansel tergopoh-gopoh membawa belanjaan Riani dari belakang.
"Cuman sepatu doang kok ini... Terus aja kayak gitu! Dari tadi sebentar-sebentar mulu... Hadeuhh!!" Ansel memperagakan mommy nya berbicara sembari menggerutu kesal. Ansel terus mengikuti mommy nya berbelanja.
Sedangkan Nara dan Bayu, mereka sedang memilih menu makanan.
"Pesan apa?" Tanya Bayu.
"Aku mau lemon tea, sama spageti cheese." Ucap Nara.
"Samakan saja..." Ujar Bayu pada pelayan.
Sembari menunggu pesanan, Nara dan Bayu saling mengobrol satu sama lain.
"Mom, aku lapar... Mending kita makan dulu." Pinta Ansel.
"Baiklah, mommy juga sudah lapar."
Riani dan Ansel pun menuju cafe mall yang sama dengan Bayu dan Nara. Awalnya Ansel tak menyadari keberadaan mereka, tetapi di saat ia semakin masuk kedalam cafe ia melihat seseorang yang tak asing baginya.
"Bukankah itu Nara dan Bayu?" Lirih Ansel dalam hati seraya memperhatikan Nara dan Bayu dari kejauhan.
"Mom, tunggu disini..." Pinta Ansel. Lalu ia pun menghampiri Nara dan Bayu yang tengah asik mengobrol seraya menikmati makanan mereka yang sudah di antar.
"Kenapa mereka terlihat sangat bahagia? apa benar dugaan ku, jika mereka itu ada hubungan khusus?! Tidak bisa di biarkan! Nara hanya milikku!" Batin Ansel kesal. Ia mengepalkan kedua tangannya, melangkah menghampiri dua sejoli yang sedang kasmaran.
.
.
.
TBC
__ADS_1