
#Happy Reading's🌻
.
.
.
🌻Pagi harinya, di universitas jakarta🌻
"Ra, udahan napa baca novelnya! Masa gue dikacangin mulu dari tadi sama lo... Serasa manekin hidup gue!" Viana terlihat kesal melihat sahabatnya yang sibuk sendiri dengan buku novelnya.
"Bentar Vi... Satu bab lagi, oke." Nara masih membulak-balikan buku novelnya dengan santai tanpa menoleh kearah Viana yang sudah terlihat cemberut karna nya.
"Nara... Ayolah! Gue pengen curhat sama lo." Viana kembali merengek pada Nara.
"Oke-oke, gue selesai nih... Sekarang apa?" Nara menutup buku novelnya.
"Ra, gue ditembak sama pak Rian!"
"WHAT?! LO DITEMBAK SAMA PAK RIAN?!" Nara terkejut mendengar penuturan Viana, tanpa sadar ia berteriak kencang. Untungnya saja kelasnya masih sepi.
"Ssttttt... Lo jangan keras-keras ngomong nya!" Viana langsung membungkam mulut Nara.
"Emm..." Nara mengangguk dan Viana pun membuka bekapannya.
"Kok bisa pak Rian nembak lo?" Tanya Nara penasaran.
"Ya bisalah... Secara kan gue cantik. Cowok mana yang gak tergila-gila sama gue." Viana melipat kedua tangannya di dada dengan menyombongkan dirinya.
PLAK
"Gue serius Viana..." Nara memukul lengan Viana cukup keras, sehingga Viana mengaduh kesakitan.
"ADUH! Gue juga serius Ra... Gue kan cantik, ya mesti pak Rian juga klepek-klepek sama gue😎" Sombong Viana kembali.
"Duhh Vi... Mending lo jauhin pak Rian deh. Dia kan buaya darat!"
"Tapi kan ganteng Ra... Kasian kalo di sia-siain! Hehehe..." Cengir Viana.
"Pak Rian gak baik buat lo! Gue tau pak Rian gimana, liat aja tingkah lakunya yang sok keren dan mata keranjang itu! Gue peringatin, mending lo jauhin pak Rian! TITIK." Nara dengan sengaja menekan kan kata Titik.
Siapa yang tak tau dengan pak Rian? Dosen muda yang tampan, tetapi bermata keranjang. Bahkan Nara pun pernah menjadi sasarannya. Maka dari itu, Nara menyuruh Viana agar menjauhi dosen Rian itu.
__ADS_1
"Pffftt hahahaha... Nara-Nara... Lo tenang aja kali, gue kan gini-gini juga bakal pilih-pilih kalo masalah cowok mah." Viana tertawa terbahak-bahak, karna melihat Nara yang begitu sedikit posesif padanya. Viana sangat menyukai sifat Nara yang peduli, dan posesif ini padanya. Ia merasa Nara bukan hanya sekedar sahabatnya saja, melainkan seperti ibunya sendiri.
Ketika Nara dan Viana sedang bercanda gurau, terdengar suara riuhan orang-orang yang berasal dari luar kelas mereka. Begitu nyaring suaranya membuat Nara dan Viana begitu terganggu.
"Ada apaan sih itu! Berisik banget deh!" Kesal Viana.
"Gak tau tuh... Mungkin pak Rian dateng kali. Kan biasanya kayak gitu setiap pak Rian baru dateng kampus, langsung di teriakin." Acuh Nara.
"Nar, tapi ini lebih heboh... Mending kita liat aja yuk, dari pada disini terus mati penasaran gue!" Ajak Viana pada Nara.
"Gak mau ah, males!" Nara kembali membuka buku novelnya dan menolak ajakan Viana.
"Ah lo mah!! Udah ayo...." Viana menarik lengan Nara dengan paksa.
"Viana!! Lepasin... Gue gak mau!!" Nara berteriak pada Viana yang sudah menarik lengannya.
Suara riuh itu semakin nyaring ketika melihat seorang pria tampan turun dari mobil lamborigin nya. Begitu mempesona dan sangatlah tampan. Para mahasiswi berteriak semakin histeris, ketika pria tampan itu membuka kaca mata hitamnya dan mengedipkan sebelah matanya. Hati mereka merasa meleleh melihatnya.
"Wahh pria itu tampan sekali..." Ucap salah satu Mahasiswi.
"Iya... Bagaikan pangeran turun dari kayangan." Ucap teman sebelahnya.
"Ada juga bidadari turun dari kayangan! bukan pangeran yang turun dari kayangan! aneh lo.." Timpal temannya.
"Duh... Saingan gue ada lagi nih." Ucap mahasiswa yang berada disitu. Dan masih banyak lagi ucapan-ucapan yang di lontarkan semua orang.
"Ck... Semua wanita sama saja." Ucap sinis Ansel yang kembali memakai kaca mata hitamnya.
Ya, Ansel sudah mulai masuk di kampus itu. Dan ia melangkah menuju ruang rektor dengan gaya nya yang cool, memasukkan kedua tangan nya di saku celananya menambah ketampananya. Kini, Nara dan Viana sudah berada di kuar kelas. Viana yang melihat sosok Ansel, tak kalah histerisnya dengan mahasiswi-mahasiswi lain. Tetapi Nara? Ia hanya memandang Ansel dengan acuh dan terkesan dingin.
"Wahhhh siapa pria tampan itu😍!" Teriak Viana.
"Entah..." Acuh Nara.
Ansel berjalan menuju kearah Nara dan Viana, dan itu membuat Viana semakin histeris. Ansel tersenyum melihat mereka berdua, dan Ansel pun berhenti dihadapan Nara dan Viana.
"Eh-eh Nar... Kok dia ngedeketin kita sih! Apa jangan-jangan, dia juga terpesona sama kecantikan kita yah?" Bisik Viana pada Nara, dan Nara hanya menaikan kedua bahunya saja.
"Hai nona-nona cantik... Boleh saya bertanya?" Tanya Ansel pada Nara dan Viana.
Ansel ingin menanyakan ruangan rektor pada Nara dan Viana. Semua orang yang berada di situ terlihat iri pada Nara dan Viana, selalu saja mereka menjadi pusat perhatian para pria. Apalagi Angel, yang sedari tadi melihat dan mengagumi Ansel kini mukanya terlihat merah padam Ketika Ansel berbicara pada Nara dan Viana.
"I... Itu..." Gerogi Viana, tetapi belum sempat Viana melanjutkan ucapannya ia disela oleh Angel dan genk nya.
__ADS_1
"Ekhem... Saya tahu dimana ruang rektor tampan." Angel merapihkan anak rambutnya.
Ansel melihat Angel yang tiba-tiba saja menyela, terlihat kesal. Ia melihat Angel, serasa melihat Elsa nya yang berada di london. Memikirkannya pun Ansel muak, apalagi melihat tingkah Angel yang seperti Elsa Ia semakin muak.
"Oh ya?" Tanya Ansel sembari membuka kacamatanya.
"I... Iya... Saya tau." Ucap Angel sengaja melembut-lembutkan suaranya dan terkesan lebay.
"Cih... Nyela aja ni ular piton!" Kesal Viana memutar kedua bola matanya dengan malas.
"Lo bilang apa tadi?" Geram Tania pada Viana, karna berani mengatai Angel dengan sebutan ular piton.
"Gue bilang, lo dan temen-temen lo ULAR PITON!!" Teriak Viana dengan menekankan kata ular piton, dan itu membuat Angel, Tania, dan Chika sangat geram. Tetapi Angel berusaha tetap menahan emosinya karna ia harus menjaga harga dirinya di depan Ansel.
Ansel diam saja melihat pertengkaran itu. Tetapi ia sangat menyukai pertunjukan yang tiba-tiba saja terjadi di depan matanya. Ansel tersenyum kecil. Tetapi Ansel terlihat heran, ketika ia melihat seorang perempuan yang berada di samping Viana yang tak lain Nara hanya diam saja dan terlihat acuh dengan melipatkan kedua tangannya di dada.
Ansel terus memperhatikan Nara. Nara menyadari hal itu, ia terlihat sangat risih dengan tatapan Ansel. Nara pun menatap balik Ansel dengan tatapan yang tak biasa dan tajam, membuat Ansel bergidik ngeri. Ansel pun tersenyum miring melihat Nara yang melihatnya begitu tajam dan tak biasa, hatinya merasa berdegub melihat tatapan itu. Ansel berusaha menetralkan dirinya, ia kini terlihat salah tingkah.
"Ada apa dengan ku? Kenapa hatiku berdegub seperti ini ketika perempuan itu menatapku dengan tajam?!" Lirih Ansel dalam hati.
"Perempuan yang unik." lirih Ansel kembali dengan menampilkan senyum smrik nya.
"Ekhem... Apakah kalian bisa memberitahuku terlebih dahulu sebelum kalian melanjutkan pertengkaran kalian?" Tanya Ansel yang meleraikan Angel dan Viana.
"Biar saya yang beritahu, ruangan..." Angel kembali memotong ucapan Viana.
"Biar saya saja yang memberitahu..." Ucap Angel.
"Eh apaan sih lo! Dia kan nanya nya sama gue, bukan sama lo!" Kesal Viana yang tak terima dengan selaan Angel.
"Ya terserah gue dong! Gua kan..."
"STOP!!" Teriak Nara menghentikan ucapan Angel.
"Kalian bisa gak sih, gak ribut disini! Liat noh... Semua orang liatin kita!! Udah Vi yuk, ke kelas aja... Biar si genk ular piton yang ngasih tau!" Nara menarik lengan Viana dengan paksa. Viana berusaha untuk melepaskannya, tetapi ia kalah tenaga dengan Nara. Ansel tersenyum simpul melihat itu.
.
.
.
TBC
__ADS_1