Satu Hati Dua Rasa

Satu Hati Dua Rasa
Episode 22


__ADS_3

🌻 Happy Reading's


.


.


.


.


Keesokan harinya, di rumah Dani dan Ranty kedatangan tamu spesial yang tak lain ialah Abraham dan Riani. Mereka tengah mengobrol di ruang tamu.


"Dimana putri mu itu?" Tanya Abraham sembari menyesapkan teh yang sudah di sediakan Ranty.


"Putri ku ada di ibu kota, dia sedang menempuh pendidikannya disana." Jawab Dani dengan nada santai.


"Benarkah? Kenapa kau tak memberitahu ku, jika putri mu ada di ibu kota! Ck..." Ujar Abraham.


"Hei-hei... Bagaimana aku memberitahu mu, kalo sambungan telpon kemarin aja langsung di matikan!" Dani berdecak kesal.


"Ah iya juga, hahaha..." Abraham pun tertawa dengan konyolnya mengingat bahwa ialah yang memutuskan telponnya secara sepihak kemarin.


Mereka mengobrol dan bercerita tentang masa-masa mereka ketika kecil sampai kisah mereka yang saat ini. Walaupun beberapa tahun mereka tak berjumpa, tetapi kelakuan dari sifat masing-masing tetap sama saja seperti dulu. Tak ada yang berubah diantara Dani dan Abraham, hanya usia mereka saja yang semakin tua.


............


Beralih ke Nara dan Viana.


Mereka berdua kini tengah menyelesaikan skripsi dan beberapa hal lainnya, karna mengingat mereka sudah di akhir semester. Mereka berdua mengambil cuti bekerja selama seminggu untuk memfokuskan akhir semester mereka. Dan untung nya saja pak Andre sebagai manager restoran tempat mereka bekerja, sangat baik dan bisa memaklumi alasan cuti Nara dan Viana.


"Ra, skripsi lo udah selesai?" Tanya Viana yang masih berkutat di laptop nya.


"Udah." Jawab singkat Nara yang sedang memainkan handphone nya sambil memakan cemilan.


"Waktu kapan? Cepet banget selesainya."


"Ya pasti cepet lah, kan otak gue pinter." Ujar Nara tanpa mengalihkan handphone nya.


"Yee... Kan gue juga pinter. Lo gak ngajak-ngajak kalo mau bikin skripsi, dasar curang!" Gerutu Viana.


Mendengar gerutuan Viana, Nara menghentikan aktifitasnya dan beralih menatap Viana dengan tajam sehingga Viana yang sedang berkutat di laptopnya merasa aura di sekitarnya terasa dingin.


"Siapa yang suruh lo pulang jam setengah dua belas kemaren ha?!" Ucap Nara yang penuh dengan penekanan.

__ADS_1


"Heheh... Ya maaf. Gue khilaf, pas kemaren malem gue ke bar jadi gue gak inget waktu deh." Ucap Viana yang berterus terang.


"What? Lo ke bar? Katanya lo cuman pergi ke pasar malam sama ke bioskop doang." Nara sangat terkejut mendengar Viana mengatakan bahwa dirinya pergi ke bar bersama Ansel. Bahkan Viana berani membohongi dirinya kemarin malam saat Nara mempergoki Viana saat pulang larut malam.


"Ups gue keceplosan." Viana menutup mulutnya dengan kedua tangannya karna ia keceplosan mengatakan yang sebenarnya pada Nara. Ia mengerutuki dirinya sendiri karna telah berbohong pada Nara.


"Lo berubah Vi. Lo berubah semenjak lo pacaran sama Ansel." Ucap Nara dengan dingin. Wajah Nara berubah menjadi merah padam karna menahan amarahnya. Ia masih mengontrol emosinya agar tidak meluap.


"Maafin gue Ra... Gue yang salah, bukan Ansel. Gue yang ngajak Ansel pergi ke bar." Viana menundukan kepalanya karna merasa bersalah dan berbohong pada Nara.


"Ck, lo masih ngebela Ansel sampe segitunya? Ya ampun Viana... Lo udah di pelet apa sih sama dia ( Ansel )?! Gue udah berkali-kali bilang sama lo, jauhi Ansel! Karna Ansel bukan laki-laki baik, dan dia punya rencana yang gak baik buat lo!!" Kini amarah Nara tak bisa lagi di bendung ia meluap kan emosinya saat ini.


"CUKUP NARA!! Sekali lagi gue bilang, Ansel gak pernah punya niatan buruk sama gue. Dan perlu lo inget, jangan pernah lo urus hidup gue! Urus aja hidup lo itu!!" Viana tak kalah emosinya, ia kesal pada Nara karna selalu menuduh Ansel yang tidak-tidak.


Dan Viana pun melenggang pergi masuk kedalam kamarnya dengan membawa laptopnya dan meninggalkan Nara seorang diri yang terlihat masih mengontrol dirinya. Nara menduduki kursinya kembali dan menghela nafas dengan kasar. Ia sangat bingung, bagaimana caranya agar Viana percaya padanya. Ia mengingat ancaman Ansel yang begitu menggangu pikirannya.


....


Flashback on


Saat Viana memberitahu bahwa dirinya dan Ansel sudah berpacaran, hati Nara sangat gelisah karna merasa bahwa Ansel tak benar-benar mencintai Viana. Nara yang saat itu sedang berada di taman kampus, terlihat bingung dan memikirkan cara untuk mengetahui apa yang sebenarnya Ansel rencanakan pada sahabatnya.


Setelah beberapa saat berkutat dengan pikirannya, akhirnya Nara pun berinisiatif untuk bertemu dan membicarakan masalah ini dengan Ansel tanpa sepengetahuan Viana. Lalu ia pun menelpon Ansel dengan nomor private.


"Halo?" Ucap Ansel disebrang telpon.


"Ini gue Nara, gue mau kita ketemu di cafe prada cheese di depan perpustakaan kota." To the point Nara.


"Mau apa lo ketemu gue di tempat yang lumayan jauh itu?" Tanya Ansel dengan nada yang bingung karna tumben sekali Nara mengajaknya bertemu.


"Ada urusan penting yang harus gue omongin sama lo. Gue tunggu sekarang!"


Nara langsung mematikan telponnya dan bergegas pergi ke cafe prada cheese yang tempatnya lumayan jauh dari kampus mereka. Nara sengaja memilih tempat yang jauh karna ia tak ingin Viana mengetahuinya.


Butuh waktu menempuh setengah jam untuk Ansel sampai di cafe. Tidak untuk Nara, ia hanya butuh waktu sampai ke cafe itu lima belas menit saja. Karna Perbedaan mereka memakai kendaraan.


"Ada apa lo mau ketemu gue? Kangen ya?" Ujar Ansel yang baru saja mendaratkan bokongnya di kursi tepat bersebrangan dengan Nara.


"Cih omong kosong!" Nara kesal dengan ucaaon Ansel yang menurutnya sangat playboy dan mata keranjang.


"Yaelah... Gak usah malu, jujur aja kali kalo lo itu kangen sama gue." Ansel tersenyum dengan mimik yang menggoda Nara.


"Udahlah jangan bac*t lo! Gue ngajak ketemuan sama lo, cuman mau tanya sama lo. Niat lo pacaran sama Viana apa?" Tanya Nara dengan ketus.

__ADS_1


Ansel tak langsung menjawab, ia malah memanggil pelayan cafe dan memesan beberapa minuman dan makanan untuknya. Naraasih menahan kedongkolannya terhadap Ansel yang sangat menguras emosinya dan selalu membuatnya kesal.


"Udah pesennya? Sekarang lo jawab pertanyaan gue!!" Ucap Nara dengan penuh penekanan.


"Kalo gue gak mau jawab gimana?"


Ansel memajukan wajahnya dan menumpu dagunya menghadap kearah wajah Nara. Ansel tak henti-hentinya membuat Nara kesal. Tetapi ini perlu digaris bawahi, jika Ansel sangat suka melihat wajah Nara ketika kesal. Karna wajah Nara sangat menggemaskan saat kesal.


"Lo harus jawab!!" Gertakan Nara kesal.


"Kalo gue jawab, lo kasih imbalan apa ke gue?" Tanya Ansel dengan wajah yang santai.


"Gu... Gue... Gue... Gue bakal kasih imbalan apapun yang lo mau." Ragu Nara.


"Wah benarkah? Termasuk jadi pacar gue?" Ucap Ansel dengan entengnya. Nara membulatkan matanya dengan sempurna, ia tak menyangka bahwa Ansel berani mengucapkan hal itu padanya sedangkan ia masih mempunyai Viana sebagai pacarnya.


"Lo gila ya?! Lo mau khianatin Viana?! Oke sekarang gue tau alasan lo, tanpa lo kasih tau ke gue." Tunjuk Nara ke wajah Ansel.


"Oh ya?"


"Lo mau mainin perasaan Viana doang kan demi kepuasaan lo sendiri?" Ujar Nara dengan emosi.


"Good girl!! Gue gak nyangka lo bisa nebak niat gue tanpa gue kasih tau. Gue jadi semakin tertarik sama lo." Ansel menyeringai dengan penuh arti.


"Dasar cobul gila bin konslet bin buaya buntung!! Gue gak akan biarin lo mainin perasaan sahabat gue!!"


"Silahkan aja kalo lo berhasil." Ucap Ansel dengan santai sambil memakan pesanannya yang sudah datang.


"Dan oh ya, gue juga bakal jadiin lo simpanan gue." Seringai Ansel menatap Nara yang sudah berkalut dengan emosi.


BYURR


"Dasar cobul mata keranjang!!" Nara yang tak tahan lagi dengan Ansel, akhirnya menyiram muka Ansel dengan jus nya. Ansel pun sangat marah dengan perlakuan Nara dan bahkan membuatnya malu karna semua orang tengah memperhatikan dirinya dan Nara dengan tatapan aneh.


BRAK


"Lo berani nyiram gue di tempat umum!" Ansel menggebrak meja dan langsung berdiri menatap Nara tajam.


"Gue bukan hanya mempermainkan perasaan Viana, tapi gue akan hancurkan persahabatan lo juga! lo udah salah melawan bahkan menantang gue Nara!!" Geram Ansel dengan menatap Nara dengan tatapan membunuh. Nara hanya menelan salivanya dengan kasar dan menahan rasa takutnya ketika melihat sorot mata Ansel yang begitu membunuh.


"Dan gue gak akan biarkan itu terjadi!!" Nara pun langsung pergi tanpa memperdulikan dirinya yang tengah menjadi pusat perhatian.


Falshback off

__ADS_1


__ADS_2