Satu Hati Dua Rasa

Satu Hati Dua Rasa
Episode 82


__ADS_3

🌻Happy Reading's


.


.


.


Setelah selesai mandi dan memakai pakaian tidur, Nara membaringkan tubuhnya dikasur. Ia tak bisa tidur karna mengingat kejadian di rumah sakit. Apalagi ia mengingat perkataannya sendiri bahwa dirinya sudah mencintai Ansel.


"Apa aku benar-benar sudah mencintai Ansel?" Gumamnya.


Ketika Nara sedang memikirkan kejadian tadi, Ansel pun masuk kedalam kamar. Nara melihat itu langsung menutup matanya. Jantungnya berdebar sangat kencang disaat Ansel menaiki ranjang dan memanggilnya dengan lembut.


"Kenapa ni jantung? Perasaan tadi gak lari maraton deh, kenapa deg-degan gini?" Batin Nara.


Ansel tidur menghadap kearah Nara yang kebetulan juga Nara tidur menghadapnya. Ia mengamati wajah Nara dari dekat, ia tau bahwa istrinya ini belum tidur. Saat Ansel mengamati wajah Nara, ia tak sengaja melihat pipinya sedikit bengkak dan di ujung bibirnya ada sedikit luka.


Ansel memegang pipi Nara. "Kenapa pipi kamu?" Tanyanya. Nara tidak menjawabnya, ia tetap pura-pura tidur.


Melihat Nara tetap pura-pura tidur, dengan sengaja Ansel menekan pipinya keras dan membuat Nara menggaduh kesakitan.


"Kenapa kamu tekan sih!" Marah Nara memegangi pipinya yang sakit akibat tamparan ibu Bayu di rumah sakit.


"Pipi kamu kenapa? Siapa yang berani memukulmu? Apa Bayu?" Cecar Ansel.


"Bu... Bukan Bayu."


"Lalu siapa?"


"Ibunya Bayu." Jawab Nara seraya menundukan kepalanya. Rasanya ia ingin menangis kembali mengingat kejadian dirumah sakit tadi.


"Ibunya Bayu? Ck... Wanita tua itu benar-benar! Sebentar, aku akan ambilkan kompres." Ujar Ansel.


Setelah mengambil kompres, dengan telaten Ansel mengobati luka di pipi Nara.


"Aku akan memberikan pelajaran padanya agar dia tidak berulah lagi!" Geram Ansel yang masih mengompres luka Nara.


Nara memegang tangan Ansel. "Ini bukan sepenuhnya salah ibu Bayu. Ini salahku yang sangat ceroboh."


"Sama saja! Dia sudah memukulmu!"


"Aku yang salah Ans... Jangan berbuat apapun."


"Tidak Nara! Aku tetap akan membuat perhitungan padanya!"


"Ansel! Aku bilang bukan salahnya! Ini semua salahku, yang membuat Bayu sakit lagi!" Tegas Nara lalu menangis.


"Ceritakan semuanya padaku." Datar Ansel.


"A... Aku... Aku membuatnya sakit lagi karna perkataanku hiks. Aku... Aku bilang, aku akan menyudahi hubungannya denganku karna aku sudah menikah denganmu. Aku tak menyangka Bayu akan syok dan sakit. Aku jahat bukan? hiks..." Nara menutup seluruh wajahnya dengan tangannya.


Ansel memeluknya. "Kamu tidak jahat. Kamu hanya memberitahu kenyataannya saja..." Ucap Ansel menenangkan seraya mengecup pucuk kepalanya.


"Hiks... Aku jahat! Aku jahat Ans!" Isak Nara mencengkram kuat baju Ansel.


"Tidak! Kamu tidak jahat sayang..."


Ansel pun perlahan membaringkan Nara. "Tidurlah... Besok kita akan kesana lagi dan meminta maaf." Lirih Ansel pada Nara seraya mengelus rambutnya.


"Jangan! Aku akan menunggu keadaan Bayu membaik dulu" Balas lirih Nara.


"Baiklah..."


Ansel memeluk tubuh Nara.


"Maafkan aku sayang... Aku sudah berpikiran buruk sama kamu. Aku pikir, kamu masih mencintainya dan tetap melanjutkan hubunganmu dengannya. Ternyata kamu tetap memilih disana hanya untuk membicarakan hal itu. Aku tidak akan membiarkan kamu menangis seperti ini lagi..." Batin Ansel lalu mencium kening Nara.


......................


Pagi harinya, Tony sudah berada di apartemen Viana. Mereka ingin pergi ke Bandung, kerumah orang tua Viana yang hendak membicarakan pernikahan mereka.


"Oh ya Ton, gimana kalo kita ajak Nara sama Ansel?" Ucap Viana.


"Buat apa ngajak mereka?"

__ADS_1


"Ya itung-itung kita weekend-an lah sama mereka. Soalnya udah satu minggu ini aku gak ketemu Nara." Jelas Viana.


"Baru seminggu belum setahun..."


PLAK


Viana memukul lengan Tony. "Pokoknya aku mau Nara sama Ansel ikut!" Ucap Viana yang ingin menangis.


"Eh-eh... Jangan nangis dong... Oke kita ajak mereka." Bujuk Tony.


Viana mengembangkan senyumnya. "Makasih..." Diakhir ucapan, Viana mencium pipi Tony yang membuatnya membeku. Lalu Viana pun melanjutkan membereskan baju-bajunya kedalam koper.


"Vi, minta tambah lagi boleh?" Ujar Tony.


"Minta tambah apaan?" Tanya tak mengerti Viana.


"Ciumnya..."


"Ogah!" Tolak Viana.


"Yaudah kalo kamu gak mau, biar aku aja yang cium kamu! Sini..." Tony memonyongkan bibirnya.


"Cium nih ketek!!" Viana memajukan ketiak nya kearah mulut Tony.


"Ish jorok! Kamu kan belum mandi!!" Tony langsung memundurkan kepalanya dan memencet hidungnya.


Viana mencium ketiaknya sendiri. "Wangi kok! Nih cium aja..." Viana kembali menyodorkan ketiak nya.


"Jorok Viana!!!" Tony berlari menghindari Viana. Viana pun mengejarnya. Terjadilah saling kejar mengejar diantara keduanya.


"Hahahaha..." Ketawa Viana mengejar Tony.


Tony membalikan tubuhnya dan menangkap tubuh Viana. Viana yang sedari tadi mengejar Tony dengan mengangkat tangannya pun, Tony menyimpan tangan itu kebahunya.


"Kena kau!" Ucap Tony menyeringai lalu mencium pipi Viana berkali-kali.


Viana memukul bahu Tony. "Curang!!" Kesal Viana.


"Ini bukan curang... Ini trik namanya sayang." Ucap Tony mengedipkan sebelah matanya.


"Aduh... Aduh... Ampun-ampun... Aku minta maaf oke..."


Viana tersenyum lalu ia pun pergi kedalam kamar mandi.


Tony ikut tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Aku tidak menyangka akan menikah denganmu Viana..."


Nara membuka matanya. Ia melihat dari dekat wajah Ansel yang masih terlelap. Tanpa sadar, tangannya menyentuh setiap inci wajah Ansel. Satu kata yang bisa di deskripsikan olehnya yaitu sangat tampan.


"Aku melanggar prinsipku sendiri untuk tidak mengenal cinta lagi." Batin Nara yang masih memandangi wajah Ansel.


Di saat Nara sedang berkutat dengan batinnya, Ansel bangun dan langsung memegang tangan Nara yang masih berada di wajahnya.


"Apa aku setampan itu?" Ucap Ansel dengan suara khas bangun tidur.


Nara terkejut, ia menarik tangannya tetapi Ansel menahannya dan mencium tangannya. Wajah Nara memerah dibuatnya.


"Selamat pagi sayang..." Ucap Ansel.


"Se... Selamat pagi juga." Gugup Nara.


"Kamu demam ya?" Ansel menaruh telapak tangannya di jidat Nara.


"Ng... Nggak!" Nara menyingkiran tangan Ansel. Wajahnya semakin memerah.


"Tapi kenapa muka kamu merah?" Tutur Ansel mengamati wajah Nara.


Nara memegang wajahnya. "Ng... Nggak apa-apa. A... Aku mandi dulu." Nara langsung bangun dan lari kearah kamar mandi. Ia benar-benar salah tingkah.


"Ada apa dengannya?" Ucap bingung Ansel.


Beberapa menit kemudian Ansel, Nara dan kedua orang tua Ansel sedang sarapan pagi.


"Nara, apa kamu sudah mengecek kedokter kandungan?" Tanya Riani.


"Belum mom, Memangnya kenapa?" Tanya Nara.

__ADS_1


"Gak apa-apa... Mommy rasa, kamu sudah waktunya untuk hamil. Kenapa sampai saat ini belum ya? Kamu perlu ke dokter untuk mengeceknya." Tutur Riani kembali.


Nara dan Ansel diam. Bagaimana bisa Nara hamil? Untuk saling bersentuhan pun mereka belum sampai tahap itu.


"Mom, mungkin tuhan belum memberikannya... Kita tunggu aja, mereka kan baru beberapa bulan menikah jadi wajar aja." Sela Abraham.


"Iya juga ya." Ucap Riani.


"Mommy tenang aja... Kita akan berusaha kok agar Nara secepatnya hamil. Benarkan sayang?" Ucap Ansel seraya memegang tangan Nara.


"I... Iya... Kita akan berusaha kok mom." Canggung Nara.


"Iya... Mommy juga berharap kalian tetap menjadi keluarga yang harmonis."


"Amin... Oh ya mom, Ansel dan Nara akan pindah dari sini. Ansel sudah membeli rumah untuk kami berdua." Ucap Ansel. Nara yang berada di sampingnya spontan saja menoleh kearahnya. Ia cukup terkejut karna Ansel tidak membicarakan hal ini terlebih dahulu dengannya.


"Kenapa gak disini aja? Mansion ini sangat besar untuk kita tinggali." Tanggap Riani.


"Mom, kami hanya ingin mandiri..." Ucap Ansel kembali.


"Tapi Mommy bakal sendirian disini. Daddy mu tidak setiap hari di mansion."


"Untuk sementara waktu, kalian tinggal di mansion saja dulu. Kasian Mommy mu..." Sergah Abraham.


"Baiklah..." Ansel mengalah.


Mereka pun melanjutkan sarapan. Setelah sarapan, Nara dan Ansel bersantai di taman belakang. Disaat mereka sedang berbincang-bincang, Viana dan Tony datang.


"Nara...." Panggil Viana sedikit berteriak dan berlari kearah Nara.


"Eh jangan berlari... Nanti kamu jatuh." Ucap Tony yang tak dihiraukan Viana.


Ansel dan Nara menoleh kearah Viana dan Tony. "Nara... Gue kangen banget sama lo." Viana memeluk Nara.


"Gue juga..." Nara membalas pelukan Viana.


"Tapi kenapa tiba-tiba lo kesini? Ada apaan?" Tanya Nara heran.


"Gue mau ajak lo sama Ansel ke Bandung." Jawab Viana.


"Mau ngapain ke Bandung?" Sela Ansel.


"Mau kerumah Bundanya Viana." Ujar Tony membalas pertanyaan Ansel.


"Kenapa tiba-tiba dadakan gini mau ke Bandung?" Tanya Nara kembali.


"Kita mau majuin hari pernikahan kita." Ucap Tony.


"Apa? Bener Vi?"


"Iya..." Angguk Viana.


"Kok tiba-tiba banget kalian majuin hari pernikahan?" Heran Ansel.


Viana dan Tony tampak diam sejenak. "Nanti kita ceritain di mobil... Udah sana kalian ganti baju dulu. Jangan lupa, bawa beberapa pakaian kalian karna kita bakalan seneng-seneng di Bandung." Jelas Tony.


"Oke... Awas aja lo kalo gak ceritain! Bakal gue jait anus lo pake jarum baju!" Ancam Ansel lalu menggandeng Nara kedalam untuk bersiap-siap.


"COBA AJA KALO BERANI! GUE MASIH ADA VIANA YANG MAU BUKAIN JAITAN LO DI ANUS GUE!" Teriak Tony pada Ansel.


"Kamu mau kan buka jaitannya, kalo Ansel bener-bener jait anus aku?" Goda Tony.


"Tenang sayang... Gunting pemotong rumput tersedia untukmu." Seringai Viana yang menggoda balik Tony.


Tony melebarkan matanya. "Sebesar itu? Bakal robek anusku kalo dibukain pake gunting pemotong rumput."


"Hahahaha...." Tawa Viana pecah mendengar hal itu.


.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2